
Keesokan harinya, Shin yang baru saja membuka matanya agak sedikit kaget ketika ia tidak menemukan Lily berada di sebelahnya, karena penasaran Shin lansung berjalan meninggalkan kamarnya.
"Kemana dia sepagi ini" gumam Shin.
Setelah Shin sampai di bawah dia tidak menemukan siapapun kecuali ruangan kosong, ketika ia hendak menuju ke atas lagi tanpa sengaja hidungnya mencium bau yang sangat harum sehingga membuatnya merasa lapar.
Shin lansung mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar dan lansung menuju ke dapur, ketika sampai di dapur ia sedikit terkejut melihat Lily yang sedang sibuk memasak sendirian.
"Apa di mansion ini tidak ada pelayan?" tanya Shin.
"Eh... sudah bangun ya?!" ucapan Shin mengejutkan Lily.
"Ya baru saja bangun" jawab Shin.
"Di mansion ini banyak pelayan, namun hari ini aku meminta mereka melakukan hal lain jadi khusus hari ini aku yang akan masak?" ucap Lily.
"Kenapa begitu?" tanya Shin.
"Suamiku baru saja pulang setelah sepuluh tahun, jadi tidak mungkin aku membiarkan kau memakan makanan buatan pelayan" kata Lily menjelaskan.
"Hahahaha, baiklah kalau begitu aku akan keluar sebentar, panggil aku jika sudah selesai" kata Shin kemudian beranjak pergi dari dapur.
Shin kemudian berjalan keluar mansion, saat keluar dari mansion yang pertama kali di lihatnya adalah pemandangan indah di kota saat pagi hari yang di tutupi oleh kabut putih yang tidak terlalu tebal, dan hanya akan nampak atap bangunannya saja, sehingga terlihat seperti kota yang di selimuti oleh awan.
"Kota yang indah" gumam Shin.
Ketika dia memandang kota tersebut, rasa sejuk dan nyaman perlahan mulai muncul di hatinya dan tanpa sadar Shin menjadi sangat menyukai kota kecil tersebut, beberapa saat kemudian Leo datang menghampiri Shin yang sedang menikmati pemandangan kota.
"Selamat pagi pemimpin" sapa Leo.
"Hahahaha kau selalu saja begitu Leo, sudah kubilang untuk tidak terlalu formal" ucap Shin.
"Meskipun sudah lama, namun bagiku kau tetaplah pemimpin kami" kata Leo pelan.
"Terserah kau saja, aku ingin berterimakasih padamu, karena telah menjaga Lily dan juga anakku" kata Shin tulus.
"Apa yang kau katakan pemimpin, kita adalah sahabat baik, jadi sudah pastinya kita akan saling menjaga" kata Leo.
"Hahahaha baiklah, suatu saat nanti aku akan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik kita" ucap Shin.
"Dan kami akan selalu bersamamu pemimpin" jawab Leo tegas.
Saat mereka tengah berbincang-bincang, salah seorang pelayan datang menghampiri mereka, pelayan tersebut mengatakan bahwa makanan yang di siapkan Lily sudah selesai dan Lily meminta mereka untuk segera ke ruang makan.
Shin dan Leo kemudian berjalan menuju ke ruang makan, walaupun sebenarnya Leo tidak ingin mengganggu waktu Shin dan Lily namun Shin selalu memaksanya untuk ikut makan bersama-sama.
Sesampainya mereka berdua ke ruang makan mereka telah di tunggu oleh Ryuzen dan yang lainnya yang terlihat sudah tidak sabar ingin segera makan.
"Kenapa lama sekali, kalian tau ini adalah momen yang spesial" kata Ryuzen.
"Benarkah, kenapa?" tanya Shin
"Karena setelah sepuluh tahun lamanya, akhirnya aku bisa memakan masakan Lily lagi, aku sudah sangat rindu rasa masakannya" jawab Ryuzen.
"Hahaha, baiklah kalau begitu mari kita makan" Shin tertawa senang mendengar penjelasan Ryuzen, ia tidak menyangka bahwa selama ia pergi Lily tidak pernah lagi memasak.
Mereka berlima makan dengan sangat lahap terutama Ryuzen, tidak ada yang berbicara semuanya hanya fokus pada makanan yang ada di piring masing-masing, karena memang mereka sudah lama merindukan rasa masakan Lily yang sangat enak, setelah selesai makan mereka berlima kemudian berkumpul di ruang tamu.
"Ya kau benar, bahkan selama ini kami sangat jarang berkumpul" ucap Lily.
"Itu karena kita selalu sibuk mengurus urusan kota" ujar Lina.
"Hanya kau saja yang sibuk!" kata Ryuzen.
"Hey kenapa kau selalu seperti itu, kenapa kau selalu memulai mencari masalah denganku?" tanya Lina kesal.
"Siapa yang mencari masalah, aku mengatakan hal yang sebenarnya karena memang kau terlalu sibuk" jawab Ryuzen.
"Kau..."
"Sudah hentikan, atau akan aku nikahkan kalian berdua" ujar Leo kesal.
Mereka berdua kemudian terdiam dengan wajah menunduk dan sedikit memerah, Shin mencoba mengamati mereka berdua dia kemudian menganggukkan kepalanya pelan seakan mengerti situasi yang terjadi.
"Hahahaha baiklah aku faham sekarang, kalian berdua memang saling menyukai" kata Shin sambil tertawa senang.
"Apa...!"
"Siapa yang menyukai dia" jawab mereka serempak sambil saling menunjuk.
"Hahaha lihat saja, kalian berdua bahkan sangat kompak, aku curiga jangan-jangan kalian telah menjalin hubungan di belakang kami" kata Shin.
"Sudahlah, jangan menggoda mereka berdua lagi" ujar Lily membela.
"Tidak Lily, aku justru sependapat dengan pemimpin jangan-jangan memang benar apa yang di katakan pemimpin" ucap Leo.
Ryuzen dan Lina hanya bisa mematung dengan wajah yang sedikit memerah, mereka akan saling memalingkan pandangan apabila saling bertatap muka, sehingga mereka terlihat seperti anak muda yang sedang malu-malu saat bertemu orang yang dia sukai.
"Kalian berdua ini seperti anak kecil saja, jika memang kalian saling suka kenapa tidak jujur saja satu sama lain, dengan begitu kalian akan merasa lebih baik, jika kalian begini malah kelihatan aneh" ucap Lily.
"Hahahaha baiklah begini saja, bagaimana jika kita beri mereka waktu untuk berdua" kata Shin.
"Ta-tapi kapten aku rasa itu tidak perlu" jawab Ryuzen.
"Be-benar, aku juga merasa itu tidak perlu" ucap Lily.
"Terserah kalian saja, Leo, Lily ayo ikut aku" ucap Shin kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut bersama Lily dan Leo.
Shin, Lily dan Leo kemudian duduk di kursi yang ada di bawah pohon di depan mansion, mereka kembali berbincang-bincang mengenai Ryuzen dan Lina, hingga akhirnya mereka setuju untuk menjodohkan kedua orang tersebut.
"Aku rasa itu pilihan terbaik untuk mereka berdua, tapi ingat jika mereka tidak setuju jangan pernah di paksa, dan tugas kalian berdua adalah mengatakannya pada mereka, Leo kau akan mengatakannya pada Lina, dan Lily akan mengatakannya pada Ryuzen" kata Shin.
"Eh kenapa aku sayang?" tanya Lily keberatan.
"Pertama aku tidak pandai bicara masalah ini, yang kedua Ryuzen sudah pasti akan lebih mendengarkan ucapanmu, dan yang terakhir aku ingin menemui anak kita" kata Shin menjelaskan.
"Baiklah, kalau begitu akan aku sampaikan pada Ryuzen" kata Lily pelan.
"Hahahaha, baiklah kalau begitu aku akan pergi ke kota kerajaan terlebih dahulu, untuk menemui anak kita" kata Shin.
"Baiklah hati-hati, dan ingat untuk cepat kembali" ucap Lily.
"Tentu saja setelah menemui anak kita aku akan lansung pulang" jawab Shin kemudian terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke kota kerajaan.