
Sebulan berlalu, kini kota lembah angin menjadi salah satu kota yang sangat sejahtera di kerajaan Cronos, para penduduk kota juga sangat senang dengan kepemimpinan Lily karena dia sangat baik dan pengertian terhadap para penduduk kota.
Masalah ekonomi dan yang lainnya juga sudah terpecahkan sejak di temukanya tambah batu permata di salah satu bukit yang mengelilingi kota Lembah angin, para petani juga sudah bisa menjual hasil kebun mereka ke luar kota karena tidak ada lagi ancaman dari para bandit.
Sedangkan masalah para monster juga sudah di selesaikan karena memang dari awal itu hanyalah berita palsu yang di sebarkan oleh para bandit agar penduduk kota tidak meninggalkan kota.
"Ryuzen bagaimana keadaan kota saat ini?" tanya Lily
"Keadaan kota sangat baik Lily, selama aku yang menjaga kota maka tidak ada satupun pencuri ataupun penjahat yang berani bertingkah" kata Ryuzen.
"Baguslah kalau begitu, oh ya bisakah kau merekrut beberapa orang untuk menjadi pelayan di mansion kita?, aku tidak ingin merepotkan Lina terus" kata Lily.
"Tenanglah Lily aku masih bisa mengurus semuanya" ujar Lina.
"Tidak Lina, kau sudah memiliki tugas sendiri jadi sebaiknya ada pelayanan yang mengurus mansion kita, serta ada koki yang memasak makanan untuk kita" jawab Lily.
"Baiklah aku akan segera ke kota dan memberitahukan pada seluruh penduduk, nanti akan aku pilih sendiri mereka" ujar Ryuzen.
"Terimakasih Ryuzen" ucap Lily.
"Oke, kalau begitu aku pergi dulu" kata Ryuzen kemudian lansung meninggalkan mereka berdua.
"Lina, dimana Leo sejak pagi aku tidak melihatnya" tanya Lily.
"Kakak sedang mengikuti pertemuan di istana, mungkin sebentar lagi akan pulang" jawab Lina.
"Halo semua!" sapa Leo.
"Nah itu dia" ujar Lina.
"Ada apa?" tanya Leo penasaran.
"Kau darimana Leo?" tanya Lily
"Raja mengadakan pertemuan, dia membahas tentang pembangunan sebuah akademi di kota kerajaan untuk anak-anak agar bisa belajar sihir dan teknik pedang" jawab Leo.
"Kedengarannya bagus, jika kerajaan memiliki akademi anak-anak bisa mempelajari sihir dan teknik bertarung untuk mempertahankan diri serta menambah wawasan mereka" kata Lina.
"Yah begitulah, dan satu lagi kita semua di undang ke istana dan harus datang tiga hari lagi" kata Leo.
"Untuk apa?" tanya Lily.
"Entahlah, yang aku tau raja hanya mengundang semua bangsawan dan tidak memberitahukan maksudnya apa" jawab Leo.
"Baiklah kalau begitu kita akan pergi ke sana besok" ucap Lily.
"Oh ya tadi aku bertemu Ryuzen di depan, dia mau kemana?" tanya Leo.
"Lily memintanya mencari pelayanan untuk bekerja di mansion ini" ujar Lina.
"Itu ide yang bagus, jadi kita hanya perlu fokus pada pekerjaan kita masing-masing" ucap Leo.
"Baiklah aku mau ke kamarku dulu" kata Lina kemudian pergi menuju kamarnya.
Leo juga lansung pergi menuju kamarnya sementara Lily berjalan keluar mansion, Lily kemudian duduk di kursi yang terletak di bawah pohon di depan mansion kemudian melihat kearah langit yang biru.
Ketika ia menatap birunya langit yang terlintas di pikirannya adalah sosok Shin yang sampai saat ini masih belum di ketahui keberadaannya, yang ia tau hanyalah energi dari api abadi masih bisa ia rasakan yang artinya Shin masih hidup.
"Sabarlah Lily aku akan segera menemuimu"
Lily terbangun dari lamunannya ketika ia mendengar suara Shin meskipun hanya samar-samar, ketika itu jantungnya berdetak kencang dan ia dapat merasakan bahwa energi dari api abadi semakin membesar.
"Shin, aku tau kau akan baik-baik saja" kata Lily pelan sambil tersenyum.
Setelah mendengar suara Shin hatinya menjadi sangat tenang dan tidak lagi khawatir, wajah yang biasanya terlihat murung kini kembali ceria seperti biasanya, setelah itu Lily lansung masuk ke mansion dan menuju kamarnya untuk istirahat.
Setelah dua hari perjalanan dengan kereta kuda akhinya mereka sampai di ibukota kerajaan, ketika mereka memasuki kota semua orang bertanya-tanya serta sangat kagum saat melihat kereta kuda yang sangat indah dengan warna biru dan perak yang menghiasi kereta tersebut, serta di bagian samping kereta ada lambang burung Phoenix yang berwarna merah.
"Wah, lihat kereta kuda siapa ini aku baru pertama kali melihat lambang itu".
"Hey apa kau tidak tau itu adalah kereta kuda milik Duchess Lily".
"Benarkah?, aku dengar sejak dia memimpin kota Lembah angin, kota tersebut menjadi sangat makmur"
"Itu benar selain dia sangat baik dia juga sangat kuat, bahkan kekuatannya jaug di atas bangsawan lainnya"
"Tentu saja, coba kalian lihat pengawalnya, armor yang mereka gunakan sangat bagus"
Ketika mereka melintasi kota menuju istana sangat ramai orang-orang membicarakan tentang Lily, meskipun Lily bisa mendengar ucapan mereka semua namun ia tidak menghiraukan hal itu sama sekali.
Setelah sampai di istana mereka lansung di sambut oleh raja dan hal itu membuat salah seorang bangsawan menjadi sangat iri padanya.
"Cihh, aku tidak menyangka raja akan menyambut lansung kedatangannya" kata bangsawan tersebut dalam hatinya.
"Maaf atas keterlambatan kami yang mulia" ucap Lily.
"Tidak, tidak, kalian tidak terlambat malahan kalian yang terlalu cepat datang, padahal acaranya akan dimulai besok" kata raja.
"Kalau boleh saya tau ada acara apa yang mulia?" tanya Lily.
"Hahaha aku hanya ingin merayakan ulang tahun putra pertamaku" jawab raja.
"Kalau begitu saya minta maaf yang mulia, karena kami sama sekali tidak membawa hadiah" ujar Leo.
"Kurang ajar sekali kalian berani tidak membawakan hadiah untuk pangeran" kata salah satu bangsawan.
"Maaf tuan, saya tidak bicara dengan anda dan siapa anda ini berani memotong pembicaraan kami" kata Leo kesal.
"Aku adalah Duke Daniel" kata orang tersebut singkat.
"Maaf Duke Daniel, tapi apa hak anda untuk memotong pembicaraan kami" kata Leo.
"Hey apa kau berani menentang ku pelayanan, seharusnya Duchess Lily di hukum karena tidak membawa hadiah untuk pangeran" kata Duke Daniel.
"Duke Daniel jaga ucapan mu, raja bahkan tidak mempermasalahkan hal itu" ujar Leo.
"Diam kau pelayan, atau akan aku potong lidahmu" ucap Duke Daniel.
"Kau bilang aku apa?" tanya Leo kesal.
"Dasar bodoh, apa kau tuli?, Duchess Lily untuk apa kau merekrut pelayan bodoh dan tuli seperti dia" ucap Duke Daniel.
"Hey pak tua, sebaiknya kau diam atau aku yang akan memotong lidahmu" ujar Ryuzen.
"Hahaha, hebat, hebat, ternyata semua pelayanmu sangat lancang Duchess Lily" kata Duke Daniel mengejek.
"Wah, wah, ternyata ada pak tua yang sudah tidak sadar akan posisinya" kata Ryuzen.
"Sialan kau!!" ujar Duke Daniel kesal.
"Hey sudahlah, jika kalian memang memiliki masalah sebaiknya kalian selesaikan di arena jangan di sini" kata raja marah.
"Saran yang bagus yang mulia, aku setuju dan jika kalian kalan kalian harus bersujud padaku, serta nona Lily harus menjadi pelayanku" kata Duke Daniel sombong.
"Buktikan dulu kekuatanmu, baru bicara" jawab Lily santai.
"Dan jika kau kalah, kau yang harus bersujud serta menjadi pelayan kami selama kami disini" ujar Ryuzen.