
Senang bercampur kesal, itulah yang ada dalam hati Anggeline saat ini. Kesal karena Yoka tidak ada disini saat ini untuk menyaksikan pengkhianatan istrinya.
Sedangkan senang, karena Yoka akan menceraikan istrinya setelah pulang nanti. Satu-satunya yang berkemungkinan bersama Yoka adalah dirinya.
"Kamu berani berselingkuh dari tuan muda?" bentak Arsen memastikan. Dora kembali mengangguk.
"Arsen, usir dia pergi! Dia sudah mengkhianati Yoka!" Angeline terdengar antusias.
"Kenapa aku harus pergi?" Dora mengenyitkan keningnya.
"Karena kamu sudah hamil dengan pria lain! Arsen! Usir wanita murahan ini!" Angeline mengepalkan tangannya, menahan kekesalannya.
"Arsen, jika Yoka tuan mudamu. Berarti selama belum bercerai, aku masih nyonya mudamu kan?" tanya Dora dengan mulut masih memakan yogurt.
"Iya..." Arsen terlihat bagaikan memaksakan dirinya tersenyum. Seperti memendam kekesalannya. Sejatinya, dirinya ingin segera masuk ke dalam kamar. Kemudian tertawa sekencang-kencangnya.
"Dora siapapun yang menghamilimu aku tidak peduli. Keluar dari rumah ini!" bentak Anggeline kembali.
"Jangan iri, tapi yang menghamiliku pintar, tampan, jago beladiri wushu, mulutnya tidak henti-hentinya pandai merayu, kaya sejak dilahirkan..." kata-kata dari Dora yang menyombong disela. Sejatinya benar-benar memberi petunjuk yang jelas jika yang menghamilinya adalah Yoka.
"Siapa yang iri! Dengar! Jika Yoka tahu dia akan menceraikanmu!" teriakan menggelegar dari Anggeline.
"Aku tinggal menikah dengan ayah dari anakku," ucap Dora masih setia tersenyum tidak tahu malu.
"Pergi!" bentak Anggeline lagi.
"Ayah..." Dora segera berlari, mencari perlindungannya satu-satunya. Bersembunyi di balik punggung Narendra.
"Ada apa?" tanya Narendra yang baru saja pulang bekerja. Mengusap-usap rambut menantunya.
"Ayah, Dora hamil! Entah pria liar tidak jelas mana yang menghamilinya. Ayah tolong usir dia segera!" pinta Anggeline.
Narendra memijit pelipisnya sendiri. Ini sudah diduga olehnya cepat atau lambat akan terjadi. Dora tidak akan dapat bertahan menunggu Yoka yang bahkan tidak memberikan kabar sama sekali.
Pria itu menatap lekat ke wajah menantunya. Kembali menghela napas kasar."Dora apa benar kamu hamil? Dan siapa yang menghamilimu?"
Dora tersenyum menyeringai."Aku memang hamil, orang yang menghamiliku mempunyai tanda lahir di punggungnya, wajahnya tampan, kaya sejak di lahirkan, dia benar-benar mahir di ranjang, selalu memakai gelang giok putih di pergelangan tangannya,"
"Dora, bagaimanapun tidak seharusnya kamu berselingkuh. Yoka sebenarnya orang yang baik dia..." Narendra tiba-tiba menghentikan kata-katanya.
"Tanda lahir di punggung? Gelang giok putih sialan? Putraku yang tengil menghamilinya?" batin Narendra baru saja menyadari, putranya lah yang dipuji setinggi langit oleh menantunya.
"Berapa usia kandunganmu?" tanya Narendra menahan rasa bahagianya. Sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang kakek.
"Tiga bulan," jawaban dari mulut Dora masih membawa sebungkus yogurt, kemudian kembali memakannya.
Narendra menatap tajam, menaikan satu alisnya. Bagaikan bertanya apa si bisu yang menghamilinya?
Dora yang bagaikan memiliki sambungan telepati, koneksi WiFi otak yang kuat mengangguk. Mertua dan mematunya itu tiba-tiba tersenyum menyeringai jahat tanpa sebab.
"Ayah! Cepat usir dia! Rumah ini milik ayah, jadi ayah berhak mengusirnya!" Angeline tersenyum, ingin melihat sendiri bagaimana kehancuran Dora.
"Tapi Dora! Dia berselingkuh dari Yoka!" ucap Anggeline kembali.
"Lalu kenapa? Kamu tahu sendiri, aku membenci Yoka walaupun dia putraku. Jika Dora hamil anak dari pria lain, itu bagus. Semakin terluka Yoka semakin aku menghargainya..." sinis sang ayah keji. Membela mematunya sang wanita murahan.
Kini adegan FTV pun dimulai dengan suara Rossa sebagai pengisi ost. Mungkin akan lebih sedikit dramatis jika ada guyuran hujan, kemudian, ku menangis, membayangkan.
"Dia berselingkuh?" ucap Anggeline hampir menangis untuk menjelaskannya pada Narendra.
"Aku berpihak pada orang yang menyakiti Yoka. Jadi aku berpihak pada Dora, dan aku membencimu yang sudah menyakiti Malik anak kesayanganku," tegas sang pria keji, menyeringai, mengacak-acak rambut menantunya tersayang. Sang pinguin lucu yang tengah mengerami telur, sambil makan yogurt dengan lahap.
"Arsen! Pindahkan barang-barang Anggeline ke kamar belakang. Dekat kamar pelayan. Masih menumpang berani-beraninya selama dua tahun tinggal di kamar tamu," cibir Narendra dengan tatapan dingin, melangkah pergi diikuti Dora. Wanita yang diam-diam sedikit menengok menjulurkan lidahnya, bagikan mengejek Anggeline.
Pada akhirnya air mata Anggeline mengalir. Apa kesalahannya? Dora yang berkhianat, mengapa malah dirinya yang dikucilkan Narendra?
Perlahan dirinya bangkit, bagaikan tokoh protagonis baik hati yang tersakiti. Yoka akan kembali dari luar negeri, mengetahui pengkhianatan Dora. Kemudian saat-saat bahagianya akan dimulai. Dimana dirinya meninggalkan Yoka. Pemuda yang menyusulnya, merasa sudah menyesal dan mengatakan mencintainya.
Dora sendiri akan membusuk menjadi orang miskin, mungkin mati kecelakaan. Itulah yang ada di imajinasi Anggeline. Mungkin dia telah menjadi korban sinetron.
Wanita yang menghapus air matanya, bersiap-siap menyongsong kebahagiaannya yang entah kapan terjadi.
Sedangkan Zou, berjalan melewati mereka.
"Dora berselingkuh, hingga hamil!" sebuah kalimat aduan dari Anggeline.
"Apa benar? Itu bagus, berarti tuan muda akan menceraikannya ketika pulang nanti. Menyadari untuk lebih mencari wanita yang sederajat dengannya. Bukan dengan wanita murahan yang menjajakan dirinya di pinggir jalan..." kata-kata Zou yang sebenarnya tertuju pada Anggeline. Ingin menghinanya dengan pisau tidak terlihat.
"Kamu benar, tunggu saat Yoka pulang. Dia akan murka mendengar penghinaan yang aku dapatkan. Menyadari yang asli lebih baik dari sekedar pengganti..." ucapnya melangkah pergi, diikuti seorang pelayan yang ditugaskan Arsen untuk memindahkan barang-barang Anggeline ke kamar belakang.
"Dora bilang apa?" Zou mengenyitkan keningnya. Tidak mendengarkan pertengkaran dari awal.
"Tuan muda mahir di ranjang, tubuhnya seperti model iklan pakaian dalam pria, nilai dari wajahnya 100..." jawaban dari Arsen, membuat Zou menatap padanya.
Dua orang yang segera berjalan ke kamar masing-masing. Entah apa yang mereka lakukan, masih dengan ekspresi wajah datar.
Namun, suara tawa yang cukup kencang terdengar dari kamar mereka masing-masing.
*
Sedangkan di tempat lain, Dora mulai duduk. Berhadapan langsung dengan Narendra.
"Apa kamu yakin itu anak Yoka? Maaf aku hanya ingin memastikan," ucapnya.
Dora mengangguk."Ayah melihat sendiri kan? Tiga bulan yang lalu anak kesayangan ayah bersembunyi di balik tirai kamar mandi?"
"Kamu melihatnya?" Narendra hanya tersenyum menatap ke arah Dora yang sudah bagaikan putrinya sendiri.
Wanita itu kembali mengangguk."Ayah, kenapa kalian tidak baikan saja? Berhentilah main perang-perangan seperti Avenger melawan Tanos."