
Menggunakan pesawat jet pribadi dirinya diantar ke sebuah pulau di negara lain. Dirinya benar-benar takut saat ini, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Walaupun semua orang menunduk memberi hormat padanya, namun senjata api masih ditodongkan pada tubuhnya.
Hingga dirinya dibimbing menuju rumah yang cukup besar. Memasuki satu persatu lorong. Pada akhirnya pintu terbesar di tempat itu terlihat juga. Dua orang pengawal membukakan pintu untuknya.
Hanya ada seorang pria berkebangsaan asing disana. Pria yang tiba-tiba memeluk tubuhnya."Putraku..." ucapnya.
"Aku? Aku bukan..." kata-kata Malik disela.
Pria itu hanya tersenyum, menghela napas kasar."Ibumu belum mengatakan apapun setelah dua tahun? Dua tahun yang lalu aku baru mengetahui ibumu memiliki seorang putra. Salsa pada malam wisudaku bergabung di pesta, meminum minuman keras. Saat itu dia sendiri yang mabuk bersedia melakukannya dengan beberapa orang termasuk aku. Tidak disangka dia hamil dan melahirkanmu," jelasnya.
Pada awalnya pria itu juga tidak yakin itu anaknya. Karena bukan hanya dirinya yang melakukannya dengan Salsa. Namun, segala kemungkinan dicoba olehnya. Mengingat penyakit kanker yang dideritanya. Dirinya tidak memiliki keturunan sama sekali, kecuali seorang putri angkat. Pada akhirnya tes DNA menyatakan Malik adalah putra kandungnya.
"Jadi kamu adalah ayahku?" tanya Malik menyimpulkan. Dengan cepat pria itu mengangguk, kemudian tersenyum.
Seorang wanita tiba-tiba memasuki ruangan, wanita cantik dengan pakaian ketat. Membawa nampan berisikan makanan dan obat."Ayah, makan dulu ini sudah siang," ucapnya.
"Malik, perkenalkan ini Kaori dia anak angkat ayah. Orang yang akan melatihmu untuk menggantikan posisi ayah nanti. Sekaligus calon istri yang ayah pilihkan," ucap sang pria ingin lebih mengikat keberadaan putranya.
"Tapi aku ingin pulang, ibu..." kata-kata Malik disela.
"Kamu lebih menyayanginya? Ayah tidak akan memaksamu. Tapi, ayah sudah mengirimkan sejumlah uang pada Salsa agar dapat membawamu." Pria berwajah pucat yang sakit-sakitan itu meraih tabnya, kemudian memberikannya pada Malik.
Rekaman kamera khusus yang menang diletakkannya di ruangan ini. Semuanya ada disana sang ibu yang dengan mudah menerima cek yang diberikan ayahnya, serta permintaan Salsa untuk membunuh Yoka. Sebagai syarat lain untuk memberikan Malik.
Malik terdiam air matanya mengalir, segera di hapus olehnya. Memang ibunya seperti itu bukan? Itulah sifat Salsa menukar dirinya seolah-olah barang tidak berguna. Bahkan dimasa kecilnya dirinya bagaikan aib yang disembunyikannya.
Karena itulah Malik menumpahkan segala dengan gaya hidupnya yang hedon. Tidak ingin dianggap rendah dengan status anak tiri, berpura-pura menjadi anak kandung Narendra.
"Aku tahu, aku belum dapat membunuh Yoka. Tapi aku ingin bertemu denganmu, akhir hidupku mungkin sudah dekat jadi..." kata-kata pria itu dipotong.
"Aku setuju, aku akan tinggal disini. Mungkin menjadi anak kandung memakai lebih baik," jawab Malik pada akhirnya, terdiam dalam pelukan hangat sang ayah.
Mungkin ini yang terbaik untuknya. Kembali? Jika rencana ibunya gagal atau pun berhasil, dirinya hanya akan tetap menyandang status anak tiri. Hidup di bawah bayang-bayang keluarga almarhum Reksa menjadi gunjingan banyak orang.
Tidak, dirinya tidak menginginkan milik orang lain lagi. Dirinya menginginkan seseorang yang menghargainya. Perlahan tangannya terangkat membalas pelukan sang ayah.
"Aku akan memulai kehidupanku yang baru," batinnya, tidak akan melanjutkan buku hariannya lagi. Mengincar segalanya yang dimiliki Yoka? Dirinya kini memiliki hal yang lebih berharga, ayahnya.
*
Sementara itu di tempat lain, Dora membuka matanya perlahan, menyadari beberapa notifikasi di handphonenya. Menghela napas kasar, beberapa foto dirinya sedang berbicara dengan Jovan di depan kampus tersebar. Dengan keterangan yang tertulis suaminya bekerja di luar negeri, namun istrinya di hamili pria lain.
Banyak kutukan serta komentar negatif pada dirinya."Masa bodoh..." gumam Dora kembali berbaring memeluk tubuh suaminya yang juga masih tertidur lelap.
Namun Yoka tiba-tiba membuka matanya, meraih handphone milik istrinya. Kesal? Tentu saja, bahkan ada orang yang mengutuk calon anaknya yang belum lahir.
"Yoka?" Dora mengenyitkan keningnya.
"Aku akan menjadi suami yang baik," ucapnya tiba-tiba tersenyum bagaikan malaikat.
*
"Sudah siap?" tanyanya. Dengan cepat Dora mengangguk.
Perlahan berjalan mengikuti suaminya, namun kali ini anehnya Yoka tidak menggandeng tangannya sama sekali. Kala dirinya menuruni tangga, kala itulah sosok itu terlihat.
Meira tengah duduk, dengan pakaian yang terkesan minim.
"Ini...?" gumam Dora tidak mengerti.
"Kamu ingin aku mengakui anakku dan menjadi ayah yang kan?" tanya Yoka, dijawab dengan anggukan kepala oleh Dora.
"Maka aku akan menjadi ayah yang baik..." lanjut suaminya.
"Yoka..." Meira tersenyum ke arah sang pemuda. Perlahan wanita itu mendekati Yoka kemudian bergelayut manja di lengan tangan kanannya.
Tidak berniat menepis sama sekali, itulah yang dilakukan Yoka. Aneh bukan? Jemari tangan Dora mengepal, benar-benar kesal pada suaminya.
"Kamu mau ikut kemudian melihat kencan kami?" tanyanya.
Benar-benar suami sialan, Dora hanya dapat tersenyum dan mengikuti langkah kaki mereka. Hingga pada akhirnya dirinya duduk di kursi penumpang bagian belakang, sedangkan suaminya di kursi pengemudi dengan Meira yang duduk di sampingnya.
Apa sebenarnya yang ada di fikiran suaminya? Entahlah, tidak ada yang dapat dilakukannya. Hanya mengikuti arus, mati-matian menahan rasa kesalnya.
Mobil pada akhirnya terhenti di depan area sebuah tempat perjudian ilegal. Pemuda yang berjalan merangkul pinggang Meira, diikuti Dora yang tengah hamil tua.
"Sayang, kapan kamu akan bercerai dengan Dora dan menikahiku?" tanya Meira, sedikit melirik ke arah Dora. Merasa telah berhasil merebut kasih sayang Yoka.
Namun Yoka hanya terdiam, hanya dengan sedikit bujuk rayu telah berhasil membawa Meira pergi? Benar-benar sangat mudah tanpa usaha sedikitpun.
Tempat perjudian yang cukup elite, bau minuman beralkohol dan tembakau menyeruak. Beberapa wanita malam berpakaian minim berada di sana. Menemani para bos besar bermain judi.
Mata Yoka menelisik, mendekati tempat bermain poker dengan taruhan besar. Berjalan cepat masih dengan Meira yang melekat di lengannya.
"Aku boleh bergabung? Aku mempertaruhkan menghabiskan satu minggu penuh dengan wanita ini," ucap Yoka penuh senyuman.
"Itulah balasan untuk istri yang berselingkuh!" cibir Meira mengira Dora-lah yang dipertaruhkan.
"Aku mempertaruhkanmu," Yoka tersenyum, namun benar-benar terlihat dingin.
"Aku?" Meira mengenyitkan keningnya.
Yoka mengangguk, memegang tangan Meira lalu membanting tubuhnya ke meja perjudian."Aku mempertaruhkanmu,"
"Tapi kamu bilang kamu mencintaiku. Jadi..." kata-kata Meira disela.
"Kamu menghina istri dan anakku yang bahkan belum lahir. Apa kamu fikir aku akan mengampunimu?" tanya Yoka tersenyum namun terlihat begitu mengerikan bagi Meira.
Sedangkan Dora mengelus perutnya sendiri menatap ke arah lain."Nak, jangan meniru perbuatan ayahmu ya?" gumamnya.