Silent

Silent
30 # Pulang



Assalamualaikum, Alhamdulillah bisa up lagi. Yukk scroll kebawah.


.


.


Happy Reading ♥️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Semua nggota keluarga kini berkumpul di sebuah masjid. Kayla dan allard memantapkan hatinya ingin mengikuti agama Leon. Islam, Kayla awalnya menolak masuk Islam namun Leon bertekad akan membawa istrinya ke jalan yang benar. Walau butuh waktu yang sangat lama.


Anak pertamanya allard, Leon tidak berhasil membawa allard ke agamanya karena permintaan Kayla.


Alhamdulillah, dengan semua usaha dan perjuangannya. Leon bisa membawa anak dan istrinya masuk Islam.


Semua orang yang hadir sholat Dhuhur di masjid ini, menjadi saksi ke Islaman Kayla dan allard. Raluna menitikan air mata hidayah Allah mampu turun kapan saja bahkan saat orang itu menolak keras masuk Islam.


Perjuangan Leon tak sia sia, sekarang anak dan istrinya masuk Islam. Kecemasan hatinya seketika sirna berganti dengan rasa bahagia tiada Tara.


Kayla dan allard berjalan mendekati Leon, dengan bulir air mata yang hendak menetes, pelukan hangat keluarga itu menjatuhkan air mata yang terbendung. Tangis haru antara Leon, Kayla dan allard menyatu.


Kisah cinta yang dihalang perbedaan agama, tak pupus. Leon yang meminta Kayla untuk menjadi mualaf sebelum menikah dengannya, menolak.


Pernikahan mereka pun dilakukan, Leon dia berusaha akan membawa Kayla menjadi seorang muslimah sekaligus istri yang Sholehah. Walau waktu yang dibutuhkan tak sekejap, 26 tahun bukan waktu yang sebentar bagi Leon untuk membimbing anak dan istrinya.


Dalam hati Kayla, murni ia terdorong untuk menjadi seorang mualaf.


"Daddy, Kayla berjanji. Kayla akan memulai hidup baru, menjadi muslimah yang baik, Sholehah, taat dan istri yang baik untuk Daddy. Sekaligus menjadi bunda yang baik untuk allard dan Ranaa. Tolong bimbing Kayla."


Tangan Leon mengusap pucuk kepala Kayla, "in syaa Allah. Daddy akan bimbing bunda menjadi seperti keinginan bunda. Terimakasih, sudah mendidik Ranaa dan Leon dengan kebaikan hati bunda."


"Maafin Kayla, dulu Kayla menolak untuk menjadi mualaf sebelum menikah. Kalau saja sejak saat itu Kayla-" belum sempat menyelesaikan kalimatnya jari Leon menghentikan Kayla.


"Shutt. Semua sudah terjadi, yang terpenting saat ini kita mulai lagi dari awal, Daddy akan tuntun Kayla untuk jadi istri Sholehah."


"Terimakasih dad."


"Allardo, maafin Daddy. Daddy bersikap keras terhadapmu dulu, tapi Daddy janji mulai saat ini Daddy akan lebih lembut mengajarimu."


"yes Daddy, Allardo minta maaf. belum bisa menjadi anak yang Daddy harapkan."


"no, seperti ini Daddy sudah sangat bahagia."


Pelukan hangat antara suami istri, dan kedua anaknya berlangsung lama. Raluna menitikan air mata haru, ia baru tau kalau umi nya mempunyai saudara lelaki yang tinggal di luar negeri. Ditambah lagi fakta mengejutkan kalau Leon menikah dengan perempuan beragama Kristen.






Hari ini Raluna akan terbang ke Indonesia, dia telah menyelesaikan kuliahnya. Dia diantar ke bandara, Leon, Kayla, Ranaa dan allard juga ikut mengantar nya.


Akhirnya setelah sekian lama menempuh pendidikan, tahun demi tahun dia lewati tanpa orang tua kini ia akan pulang dengan menyandar gelar dokter spesialis bedah.


"Ayah, Raluna pulang dulu ya. Jangan lupa nanti ke Indonesia, bawa Ranaa soalnya dia ada rencana mau pindah ke Indonesia."


"Iya sayang, ayah pasti kesana. Kalau kamu mau nikah jangan lupa undang ayah ya."


"Insyaallah, Raluna berharap kalian semua nanti hadir."


Raluna memeluk Kayla, dia sangat bahagia Minggu lalu ia menyaksikan Bunda Kayla dan allard menjadi seorang mualaf. Itu artinya Kayla yang awalnya Kristen berpindah ke agama Islam, dan allard yang awalnya non religius sekarang ber agama Islam.


"Bunda, makasih udah jagain Raluna seperti anak bunda." Kayla, mengusap pelan punggung Raluna. Raluna anak yang baik, penurut namun dia suka menyendiri. Kadang dirinya menyuruh Ranaa untuk menemani Raluna dikala dia sendiri.


"Sudah sudah, katanya udah gak sabar ketemu umi kamu. Insyaallah, bunda ayah Ranaa sama allard kesana tidak lama lagi."


Perlahan Raluna melepaskan pelukannya, "beneran ya bunda."


"Insyaallah."


"Raluna pamit dulu, ayah, bunda, Ranaa, kak allard. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Salam sama Abi umi ya nakk!" ucap leon.


"Pasti ayah."


Dengan perlahan langkah Raluna semakin mendekat ke pesawat, didalam pesawat Raluna hanya memperhatikan awan dan pemandangan sepanjang perjalanan.


Gunung, awan, sungai, dan hutan terlihat jelas dan sangat indah. Raluna menguarkan kamera kecil dari tas, memfoto pemandangan indah itu. Sungguh kebetulan saat itu juga burung burung berterbangan cukup banyak, sepertinya akan melakukan migrasi.


...Di Indonesia, Kediaman Usman. ...


"Abi, ayo nanti Raluna nungguin." Saidah dengan tak sabar berjalan menuju pintu utama.


Usman yang masih stay didepan TV hendak mematikannya.


"Berita terkini, Pesawat dengan tujuan Bandara Internasional Indonesia.--" mendengar itu, Usman tak jadi mematikan televisinya.


"Yang melakukan penerbangan dari____mengalami kecelakaan, pesawat jatuh di______menurut tim Evakuasi ada 14 Korban meninggal dunia. Delapan wanita dan enam pria. Sampai saat ini, penyebab jatuhnya pesawat masih belum diketahui."


Usman menjatuhkan remot tv yang digenggamnya. Nafasnya tercekat, kakinya bergetar tak mampu menompa badannya.


"Astaghfirullah.." lirih nya pelah. Beberapa detik yang lalu kabar jatuhnya pesawat, sama persis dengan pesawat yang akan Raluna naiki.


Keringat dengan cepat bercucuran, rasa khawatir menyeruak dalam dirinya. Sejurus kemudian dia bangkit menyusul Saidah.


Usman menarik tangan Saidah menuju mobil, dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju bandara. Saidah yang bingung kenapa suaminya seperti ini masih belum berani untuk bertanya.


Tak lama mereka sampai di bandara, keingintahuan Saidah meronta. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya. Tangan Saidah menghentikan Usman yang berjalam tergesa, "Abi, kenapa Abi cemas?"


Usman berhenti, berbalik menatap manik Saidah. Usman menutup matanya, mengambil nafas pelan dan kemudian menghembuskannya. "Umi, pesawat yang di naiki Raluna kecelakaan."


Terasa sesak Saidah mendengar jawaban Usman, lama tidak bertemu dan sekarang? Saidah menggeleng tak percaya bulir air mata dengan cepat berkumpul di sudut matanya.


"tidak abi, Abi pasti salah.. tidak."


Tess.


Air mata seorang ibu yang merindukan sosok putrinya itu jatuh ke tangan Usman yang meneradahinya. "Abii, Raluna. Itu gak mungkin Raluna...." Usman memeluk Saidah membiarkan istrinya menangis dan menenangkan hatinya terlebih dahulu.


Hp Usman berdering, tangannya masuk ke saku mengambil benda pipih yang berdering tadi. Melihat layar benda itu nomer tak dikenal. Usman pun menjawab panggilan itu.


"Assalamualaikum, dengan siapa ya?" tanya usman.


"Wassalamu'alaikum, kami dari pihak kepolisian____. Apakah benar ini dengan saudara Usman?"


"Benar, saya Usman."


"Penumpang______. Sekarang sudah dievakuasi dan di bawa menuju rumah sakit____. Mohon segera kunjungi korban, karena korban sedang kritis."


"B-baik pak." Usman ambruk, tangisnya tak bisa dibendung lagi. Dia kemudian membawa Saidah menuju rumah sakit yang disebut polisi tadi.


Saidah dan Usman berlari menuju ruang ICU dimana Raluna berada. Dengan pakaian steril, Usman dan Saidah masuk. Hati kecilnya sakit melihat putri semata wayangnya terbaring lemas diatas ranjang rumah sakit.


Selang, kabel, dan alat bantu pernapasan dipasangkan ke badan Raluna. Saidah berjalan gontai dengan air mata yang terus mengalir.


Matanya tertutup rapat, perban di kepalanya yang dibaluti kerudung menggoyahkan Saidah. Dia tak bisa melihat putrinya seperti ini, putri yang dinanti selama bertahun tahun menempuh pendidikan. Kini terbaring lemas.


Dengan sigap Usman menompa badan Saidah yang hampir ambruk, "nakk. Bangunn." Lirih Saidah. Mata nya sendu, melihat kearah putrinya.


Mata itu, mata yang selalu menatap kagum akan sosok ibu (Saidah), mata yang selalu berbinar saat mencium Saidah, mata yang menitikan tangis karena Saidah terluka bahkan sekecil jarum saja. Kini, mata yang selalu berbinar itu terpejam. Tak ada niatan untuk terbuka.


"Nak, umi ada disini ayo bangun." Saidah menggenggam tangan putih yang dipasang infus, dingin itu yang Saidah rasakan. Seumur hidupnya Saidah tidak pernah menggenggam tangan Raluna dalam keadaan dingin seperti ini, pasti selalu hangat.


"ayo bangun nak.. umi sama Abi percaya kamu kuat....”


"Kamu harus kuat, jangan lemah. Anak umi gak pernah lemah, umi percaya itu."


"Kamu harus kuat, dan bangun untuk jaga umi sama Abi.."


Setelah beberapa kalimat yang Saidah ucapkan, dia menunduk menyeka air matanya. Kemudian tangan Saidah mengusap pucuk kepala Raluna, membisikkan sesuatu.


Usman segera memanggil dokter, setelah diperiksa ternyata masa kritis Raluna sudah berakhir namun Raluna mengalami koma.


Dokter qaila, Usman dan Saidah kini berada di ambang pintu ICU. "Pak, Buk-" dokter itu tak tega memberi tahu sesuatu kepada mereka.


"Kenapa dok?" tanya Saidah lirih.


"Pasien mengalami koma."


Saidah terdiam, nafasnya tercekat, semua organnya serasa terhenti. "K-om-a?"


"Benar, Namun pasien akan sadar saat kalian mencoba berinteraksi dengan pasien, misal sering mengajak bicara pasien." ucap dokter itu. (Note : ini Nana dapet saat liat film. Dari semua dunia per film man yang Nana lihat rata rata, kalau orang koma itu bisa sadar juga kalo sering diajak bicara.)


"Kapan anak saya bisa sadar dok?" tanya Usman.


"Pasien akan sadar apabila pasien mengalami pemulihan dengan cepat."


"Kalau begitu saya permisi.."


Saidah kembali mendekati Raluna, Usman dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk kuat. Kalau dia lemah, siapa yang akan menguatkan dan meyakinkan istrinya kalau Raluna akan kuat melewati semua ini.


Akhirnya mereka keluar, karena Raluna akan dipindahkan ke kamar rawat inap.


Saat menutup pintu, mereka menemukan Zara dan Zhafran tengah duduk diluar ruang ICU. Saidah terkejut mereka bisa disini padahal ia tidak memberitahu mereka berdua.


"Umii...." Zara memeluk Saidah, dengan derai air mata.


"Umi yang sabar. Semua ini sudah ditakdirkan, kita berdoa saja ya umi. Ada Zara disini, umi jangan sedih lagi ya."


"Iya nak terimakasih. Kamu tau dari mana Raluna kecelakaan?"


"Aku sekarang tau jadwal Raluna pulang, tapi aku liat di TV ada kecelakaan pesawat terus aku inget kalau pesawat itu yang mau di naiki Raluna."


"Umi kok gak ngasih tau Zara?"


"Itu karena kamu program hamil, umi takut kamu kepikiran."


"Umi, kalau aku belum dikasih anak berarti, belum rezeki. Aku udah usaha, dan minta sama Allah. Balik lagi, semua ini ujian dari Allah untuk lihat seberapa sabar Zara dan suami Zara."


Saidah tersenyum, dia kemudian mengajak Zara untuk duduk. Tangan Saidah menyentuh tangan Zara sembari tersenyum hangat, "sabar ya nak, semua sudah Allah atur yang terbaik untuk hambanya. Umi doakan yang terbaik untuk kamu."


Zara memeluk Saidah sayang, "Terimakasih umi."




Keesokan Harinya


Kondisi Raluna masih belum ada kemajuan, dia masih terbaring menutup mata. Setiap saat Saidah selalu berada disamping putrinya, Usman dia juga menemani anak dan istrinya.


Dulu, saat Raluna kecelakaan dan membutuhkan donor darah. Usman tak bisa mendonorkan darahnya, karena sesuatu yang membuatnya tak bisa melakukan hal itu.


Dulu, Usman tidak memenuhi syarat untuk mendonor darah. Namun darah Usman cocok dengan raluna akan tetapi syarat syarat donor darah yang lainnya tidak terpenuhi.


Cklekkk..


Suara pintu dibuka menampilkan ibu Saidah dan ayah Saidah yang datang.


"Assalamualaikum. Yaallah naakkk!, kamu memang keras kepala yah dari dulu. Paassti gak kasih tau mamih soal apapun yang kamu alamin, cucu mamih juga gak kamu kasih tau!" omel ibu Saidah.


Saidah memang sengaja tidak memberi tahu mamihnya, karena dia tipe orang yang gampang cemas dan kepikiran. Jadi Saidah memang tidak memberitahu mamihnya dulu.


"Waalaikumsalam, maaf mih. Aku cuma gak mau mamih khawatir." jawabnya pelan.


"Alasan saja, mamih tambah cemas dan khawatir kalau begini."


"Gimana sekarang keadaan cucu mamih? Kok masih belum sadar?" tanyanya.


Saidah terdiam, apa ia harus memberitahu kabar ini?


"Kebiasaan, diam Mulu. Nak Usman, gimana kondisi cucu mamih? Apa dia sudah baik baik saja?"


Usman yang menunduk mengangkat pandangannya, kemudian melirik Saidah yang kebetulan sedang meliriknya. Usman paham kalau saidah memberi isyarat untuk diam.


"Astaghfirullah, kenapa kalian berdua diam semua?"


Saidah menarik nafasnya pelan, "mamih, duduk dulu. Nanti Saidah beri tau ya."


Akhirnya, Saidah membawa papih dan mamihnya duduk disofa yang ada didalam sana. Saidah menuangkan air dan ia berikan ke mamih dan papihnya.


Papihnya mendekat dan menggenggam tangan Saidah "Nak, kenapa kamu belum menjawab pertanyaan mamih kamu?"


"Tidak perlu takut, sampaikan saja."


Saidah berusaha mengutarakan sesuatu namun tertahan, "Raluna---"


Sedih yang ia rasakan sebagai seorang ibu, yang hanya bisa menyaksikan anaknya terbaring lemah dan tak sadarkan diri diatas kasur sana tak bisa ia bendung lagi.


Bahu Saidah bergetar dan langsung memeluk papihnya, "Pih, mih. Saidah takut tidak bisa melewati semua ini."


Tangan papihnya terangkat mengelus putrinya, se besar apa dia sekarang. Saidah tetap putri kecilnya yang selalu ia gendong mengejar pesawat saat masih kecilnya.


"Nakk, semua masalah, dan ujian. sudah Allah takar untuk masing masing hambanya. Allah tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan hambanya."


"Papih percaya kamu bisa lewati semua ini, dan cucu papih Raluna dia anak yang kuat."


Kalimat papihnya menenangkan hati Saidah, dia mendongak menatap mata sendu papihnya. "Aamiin, makasih pih."


Dengan perlahan Saidah melepaskan pelukannya, tak lupa ia juga menyeka air matanya yang tertinggal di pipinya. "Katakan kenapa cucu papih?"


"Ra-luna, k-koma."


"Yaallah, cucu papih."


"Cucu mamih k-koma?" Saidah mengangguk pelan. Ini alasan Saidah memilih berbicara dengan papihnya, mamih dia orangnya gampang cemas dan suka ceplas ceplos. Larilah Saidah ke papihnya yang dari dulu ektra sabar menghadapi sifat dan sikapnya yang keras kepala.


"Kenapa bisa koma nak?" tanya Reza (papih Saidah.) [Nama lengkapnya, Julian Reza Bagaskara.]


"Iya kenapa bisa cucu mamih koma?" tambah Nada (mamih Saidah.) [Nama lengkapnya, Nadalia Zivanna Aulia.]


"Kemarin, Raluna kecelakaan pesawat saat menuju Indonesia." jawab Saidah.


"Lain kali, jangan takut menghubungi kami kalau ada apa apa. Kalau terjadi sesuatu dengan cucu papih bagaimana? Yasudah. Pertanyaan mamih kamu sudah terjawab. Sekarang kita doakan semoga Raluna cepat siuman."


Saidah mengangguk pelan. Sepasang insan paruh baya itu mendekat ke kasur Raluna. Dimana cucu mereka tertidur tak sadarkan diri.


"Assalamualaikum Cu.. kakek disini, terakhir kali kakek liat kamu, sudah bertahun tahun yang lalu. Sekarang kamu pulang, masa enggak mau liat kakek kamu yang sudah tua ini?" tangan keriput itu terangkat mengusap pelan jari tangan raluna.


"Kakek percaya kamu pasti kuat lewati ini cu."


"Kamu harus bangun, liat umi kamu dia tidak sekuat yang kamu pikirkan cu. Dia putri kakek yang selalu butuh pelukan kakek, kalau kakek pulang ke Rahmatullah kamu yang harus gantikan kakek. Peluk umi kamu, tenangkan dia dan jangan biarkan dia berenang dalam pikiran negatifnya."


"Dia terlalu takut untuk menghadapi jalan selanjutnya, tapi kakek lah yang selalu menompa tangannya untuk terus berjalan meniti jalan yang berlobang bahkan jalan yang mengharuskan dia melompat jauh. Kakek yang mengangkat tangannya untuk terus melangkah maju."


"Kamu tau cu? Bahkan umi kamu pernah kabur saat kakek jodohkan dengan Abi kamu. Abi kamu sampai larut malam mencari umi kamu. Alhamdulillah Abi kamu menemukan putri Abi yang keras kepala itu."


"Setelah itu, kakek bawa umi kamu. Kakek bicara langsung dengan umi kamu, kakek tanya kenapa dia sampai kabur."


"Kamu tau cu apa jawaban umi kamu? Alasannya sangatlah tidak masuk diakal, dia takut akan pernikahan. Karena setaunya menikah adalah mengurung dirinya dan tidak akan bebas seperti sebelum menikah. karena harus melakukan banyak hal."


"Terus kakek jelaskan apa arti pernikahan. Setelah itu, mungkin hidayah Allah menerpa umi kamu. Dia akhirnya mau dan saat dia bersama Usman, dia berubah drastis. Saidah yang awalnya keras kepala menjadi lembut, patuh dan tidak manja lagi."


"Kamu cu, harus gantikan kakek saat kakek nanti berpulang. Hikss.."


"Kamu harus kuat cu..."


.


.


.


.


.


Assalamualaikum temen temen, udah diujung. Next gak nih??


.


.


Udh dulu ya see you next bab..


.


.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh.