
Pada akhirnya Yoka melangkah, berjalan ke arahnya, duduk berhadapan dengannya tanpa papan putih dan spidol di tangannya.
"Kamu benar-benar sudah kembali bicara?" tanya Martin antusias.
Yoka mengangguk, mengepalkan tangannya, dirinya tidak boleh kehilangan Dora, seperti kehilangan ibunya.
"Paman, apa paman dapat menolongku. Aku ingin muncul di hadapan publik. Bukan sebagai anak yang memalukan lagi, tapi sebagai putra tunggal Narendra dan almarhum Melda," ucapnya membuat keputusan.
Martin menghela napas kasar. Pria itu merogoh sakunya, memberikan permen asam yang direkatkan dengan gula.
"Anggap ini hadiah dari ibumu. Makanlah, ibumu pernah mengatakan kamu menyukainya." Kata-kata penuh senyuman keluar dari bibirnya.
Yoka mengangguk, memakannya, membalas senyuman Martin. Namun, air matanya mengalir, tidak mengerti alasan ayah yang begitu mencintai ibunya, merencanakan pembunuhannya. Tidak pantas melihat mayat ibunya? Ayahnya memang tidak pantas sama sekali.
Matanya menatap ke arah foto besar dengan bingkai kayu yang kokoh. Foto pernikahan kedua orang tuanya.
Pemuda yang menyeka air matanya.
"Aku bukanlah orang yang bodoh sepertimu. Mencelakai istri dan putranya, aku akan melindungi istriku, tidak peduli dia salah atau benar, tidak peduli aku akan menjadi iblis. Karena aku bukan dirimu, tidak akan aku biarkan satu orang pun, menyakiti istriku..." kata-kata dari bibir Yoka seolah bicara pada foto ayahnya.
Foto yang tidak bergeming, terdiam dalam senyuman. Menentang ayahnya? Itulah yang akan dilakukannya. Tidak perduli, apapun alasan ayahnya lagi. Mungkin hanya imajinasinya, melihat ayahnya kembali dari bandara ke rumah. Menangis di pintu belakang, kemudian kembali pergi.
Ayahnya mencintai ibunya? Mungkin hanya imajinasinya. Sang ayah pergi ke bandara, membiarkan ibunya dilecehkan dan dibunuh. Tidak ada satupun celah, ibunya tidak pernah berbuat kesalahan.
Mencintai dirinya dan ayahnya, sebuah cinta yang dibalas dengan kematian. Tapi kenapa harus dilecehkan? Jemari tangannya mengepal, mengingat ibunya menangis berkata jangan, meminta pertolongan, berusaha melarikan diri dari kamar. Tidak ingin putranya yang bersembunyi di bawah tempat tidur menyaksikan segalanya.
"Paman, apa alasan ayahku membunuh ibuku?" tanyanya, dengan air mata yang mengalir. Benar-benar wanita yang setia, mengurus dirinya dengan baik, walaupun menjadi wanita karier, bahkan pakaian Narendra selalu sempat disiapkannya setiap pagi.
Satu luka tikaman di bagian perut, menembus pembuluh darah. Ceceran darah yang menyebar di lantai. Sekitar empat orang pria, baru sekitar dua orang yang berhasil melecehkan ibunya. Sebelum akhirnya mereka pergi, meninggalkan Melda bersimbah darah.
Seorang ayah yang keji, itulah Narendra di matanya. Tidak akan ada orang yang setega itu, membiarkan istrinya mati dalam penderitaan dan rasa malu. Istri yang telah menemaninya menjalani 12 tahun pernikahan.
Apa kesalahan ibunya? Kesalahan yang bahkan harus ditebus lebih buruk dari kematian?
Martin menunduk terdiam, hanya menepuk pundak Yoka.
"Nona muda adalah orang yang baik, dia tidak memiliki satu celah kesalahan pun. Dia benar-benar wanita yang baik, bahkan menangis saat ayahmu kecelakaan dulu. Kamu melupakannya? Ibumu bukan orang jahat..." jawaban dari Martin, pria yang juga menahan air matanya.
"Melda..." batinnya, segala kebaikan wanita itu terbayang. Memang seperti itulah Melda, wanita yang baik hati. Mengikuti keinginan kedua orang tuanya, tanpa membantah. Berusaha yang terbaik, walaupun rasa sakit menghujam dirinya di awal pernikahan.
Suami yang kerap meninggalkannya dalam keadaan hamil. Namun, tidaklah mengapa, menjaga janin yang diberikan suaminya dengan baik. Hingga Narendra perlahan mencintainya, hanya kenangan yang bahagia selama 11 tahun.
"Ibumu akan bangga padamu. Jadilah suami yang baik, cintai istrimu dengan tulus. Jangan menganggapnya sebagai pengganti," sebuah pesan dari Martin. Yoka hanya tersenyum, menghapus air matanya, kemudian mengangguk.
"Apa paman dapat mempersiapkan segalanya besok?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh Martin. Memeluk erat tubuh Yoka.
Sejenak senyumannya berubah dingin, sesuatu yang tidak disadari Yoka. Hal yang dilakukan Narendra pada Melda masih membekas di ingatannya.
Bekas jejak cairan putih di lantai. Benar-benar tubuh yang tidak memakai pakaiannya dengan sempurna. Apa pantas Melda mendapatkannya? Nona muda yang bermartabat, bahkan tidak pernah memiliki kekasih, bersedia menikah dengan Narendra.
Dilecehkan? Rasa sakit hati menggerogoti diri Martin.
"Samy akan membantumu, jangan sungkan meminta pertolongan padanya. Karena dia akan ada untukmu," kata-kata dari Martin, entah apa tujuannya.
*
Takut? Dirinya benar-benar takut, tangannya gemetar, meringkuk di sofa, berpura-pura tertidur. Fikiran mesum itu kembali terbayang. Tidak mungkin Yoka akan mengulangi kesalahannya bukan?
Tempatnya berada saat ini adalah kamar Yoka. Mengingat semua barang-barangnya telah dipindahkan.
Suara pintu terbuka terdengar, bulu kuduknya berdiri, bagaikan yang datang adalah pembunuh berantai atau hantu mengerikan. Ketakutan Yoka akan meminta hal itu lagi.
Pintu tertutup dikunci dari dalam. Suara pintu kamar mandi terbuka terdengar, diiringi dengan deru suara derasnya air shower.
"Apa dia mandi dulu, kemudian melakukannya lagi? Tidak aku tidak boleh lemah, jika dia melakukannya lawan, jangan hanya pasrah," batin Dora, masih meringkuk pura-pura tidur di sofa.
Hingga suara pintu kamar mandi terbuka terdengar, matanya sedikit mengintip. Jubah mandi yang terjatuh, menampakan tubuh pemuda itu lagi, tanpa sehelai benangpun.
Dora kembali menutup matanya, pemuda yang hanya berganti mengenakan setelan piyama.
Jantung wanita itu berdegup cepat, apa pemuda ini akan menggodanya lagi? Tubuhnya tiba-tiba terasa terangkat.
Dora yang hanya berpura-pura tertidur membuka matanya.
"Lepas!" pekik wanita yang tengah berada dalam dekapan Yoka, pemuda yang menggendongnya ala bridal style.
"Aku akan diletakkan di atas tempat tidur, lalu kami melakukannya lagi. Aku tidak boleh terkena bujuk rayunya..." isi fikiran Dora mengepalkan tangannya.
Dan benar saja, tubuhnya diletakkan di atas tempat tidur. Dora masih mengepalkan tangannya, matanya terpejam, bersiap melawan kali ini. Hari ini hatinya teguh, dirinya bukan wanita murahan.
Namun, tidak ada sentuhan, hanya satu kecupan di keningnya.
"Tidurlah! Aku hanya tidak ingin anakku terlahir cacat, karena kamu menekuk perutmu ketika tidur," kata-kata tidak romantis kembali keluar dari bibir Yoka. Menyembunyikan kasih sayangnya, menyayangi dan menjaga istrinya. Atau lebih tepatnya calon istrinya.
Pemuda yang kembali membuka lemari, mengeluarkan dua selimut tebal, meraih salah satu bantal di tempat tidur.
Satu selimut dijadikan alas di lantai olehnya. Sedangkan satu selimut lagi menyelimuti tubuhnya. Memilih untuk tidur di lantai, di samping Dora yang tengah berada di atas tempat tidur.
"Apa kamu menyukaiku, hanya karena aku mungkin mengandung anakmu?" tanya Dora ragu, menatap langit-langit ruangan. Hari ini dirinya melihat di televisi. Wawancara eksklusif dengan bintang tamu Anggeline, dirinya benar-benar tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan wanita berambut panjang, diwarnai kecoklatan itu.
Bahkan jika suatu hari nanti berhasil menjadi seorang dokter pun. Dirinya hanya seseorang tidak dikenal yang bekerja di rumah sakit. Benar-benar berbeda dengan Anggeline.
Jika Anggeline tahu Yoka dapat bicara, mungkin hati wanita itu akan berubah. Mengambil Yoka dari hidupnya, benar-benar pasangan yang serasi.
"Aku menikahimu, kamu adalah istriku, akan mengandung anakku. Bahkan jika tidak ada anak, kamu tetap istriku. Itulah jawabanku." Kata-kata tegas tidak romantis dari mulut Yoka, memejamkan matanya.
"Jika bercerai aku akan menyandang status janda. Lebih baik menjadi gadis tapi tidak perawan. Aku berubah fikiran, kita jangan menikah saja. Tunggu bulan depan, aku hamil atau tidak," ucap Dora tiba-tiba, masih menatap langit-langit ruangan.
Yoka tiba-tiba membuka matanya.
"Kamu berani menyukai pria lain? Apa aku harus mengundang stasiun televisi, kemudian mencium mu di depan umum, agar tidak ada pria yang akan mendekatimu?" tanyanya, benar-benar terdengar tidak bercanda. Pemuda pencemburu yang masih mengingat wajah Jovan, mantan pacar dari wanita yang akan dinikahinya.
"Tidak! Kita menikah saja!" jawaban dari Dora ketakutan. Hanya dapat memilih status janda, saat Anggeline kembali nanti, berhasil merebut Yoka darinya.