
Sebuah berita terdengar pada akhirnya, berita di televisi tentang seorang pemuda yang melakukan tindak penculikan dan penyiksaan. Pemuda yang tertunduk tidak menyesal sama sekali. Wajahnya perlahan tersenyum, hingga sekarang Salsa tidak berani menampakkan dirinya seorang diri di pedalaman hutan. Setidaknya itulah yang ada di fikirannya, dirinya telah memberikan copy rekaman pengakuan Salsa pada pihak kepolisian.
Tapi apa benar demikian?
Brak!
Ini hari ketujuh wanita itu bersembunyi di hutan. Luka tembakan pada kaki kanannya membuatnya kesulitan berjalan. Peluru yang tidak dikeluarkannya, pendarahan yang terus terjadi, mengeluarkan nanah.
Tubuhnya terasa lemas bagaikan mengalami demam. Wanita yang kini terperosok ke dasar jurang."Sakit," keluhnya menahan suhu tubuh yang mungkin mencapai 40 derajat Celcius akibat inveksi lukanya.
Hari memang telah gelap hanya suara jangkrik yang terdengar, kehausan, kelaparan, itulah yang dialaminya.
Hingga mungkin sebuah fatamorgana muncul. Ayah angkatnya berada di sana."Ayah..." panggilnya meminta pertolongan pada Reksa.
Namun sang ayah angkat terlihat tersenyum, menatap penderitaannya. Suara harimau hutan mulai terdengar bagaikan bau darah mengundang kedatangannya.
"Ayah tolong," panggil Salsa lirih.
Fatamorgana Reksa masih berdiri di sana menatapnya. Tidak mempedulikan dirinya. Mungkin begitu banyak dosa yang telah dilakukannya hingga sang harimau tiba. Tubuhnya mulai dikoyak.
"Tolong," tapi tidak ada yang menjawab sama sekali di pedalaman hutan yang sepi.
"Tolong, aa...aa... panas, tolong..." Suara jeritan dan teriakan yang bercampur terdengar, suara orang-orang yang mati karena keegoisannya. Hanya fatamorgana karena demamnya.
Darah terus mengalir, hewan yang semakin ganas menyerangnya."Aku salah..." gumamnya di napas terakhirnya, merasakan sensasi kematian yang menyakitkan. Siksaan selama 7 hari dengan perut yang lapar. Dan kini akankah ada bagian tubuhnya yang tersisa.
Raga yang telah tidak bernyawa masih dikoyak oleh sang hewan. Orang mati memang tidak dapat membalas, tidak dapat menyeret ke neraka. Namun karma akan menjadi beban seumur hidupnya.
Mengira akan bahagia, namun tidak akan puas dengan satu kebahagiaan. Hingga pada akhirnya saat detak jantung itu terhenti dirinya akan menyadari. Tangan lain yang akan membalas bukan tangan orang mati.
Terdiam seorang diri, tidak ada yang mengetahui dan menyadari keberadaannya. Mungkin hanya beberapa puluh tahun lagi, jika beruntung kerangka itu akan dimakamkan orang-orang yang tidak dikenalnya. Jika beruntung...
*
Narendra mengambil cutter, dirinya sudah mengetahui dari kepolisian tentang Salsa yang kini menjadi buronan. Kotak kardus yang dikirim atas namanya dibukanya. Ada alat perekam di sana, beberapa bukti yang dikumpulkan Hudson dan surat permintaan maafnya atas nama ayahnya.
Pria itu tersenyum menghela napas kasar."Kamu bukan orang jahat," gumamnya dengan air mata mengalir.
Narendra menonggakkan kepalanya, ini terasa lebih damai untuknya. Bagaimana pun Melda sudah mati di tangannya.
Pria yang berjalan menuju tempat tidur. Dirinya ternyata yang bersalah dan itu membuatnya bahagia. Beberapa butir obat tidur ada di tangannya. Pria yang hanya tersenyum dengan air mata mengalir.
"Yoka sudah bahagia, dia tumbuh menjadi anak yang mandiri. Karena itu walaupun kamu membenciku, aku tidak dapat melanjutkan segalanya lagi..." Kalimat yang diucapkannya penuh senyuman.
Dirinya sudah lelah berpura-pura bahagia belasan tahun ini. Obat ditenggaknya, kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Tidak pantas memijak dunia ini? Itulah yang ada di benaknya.
*
Perlahan Narendra membuka matanya, sinar lampu terang terlihat. Suara jeritan terdengar."Ayah... bodoh!" suara teriakan diselingi tangisan.
Samy ada disana air matanya mengalir. Menatap mata Narendra yang terbuka namun tidak satupun kata terucap di mulutnya."Ayah tetap hidup, aku mohon. Aku akan mempertemukanmu dengan ibu jika kamu tetap hidup!" teriaknya bersamaan dengan dokter yang melarangnya memasuki UGD.
Narendra hanya terdiam hanya setengah kesadarannya yang tersisa. Perlahan menutup matanya kembali kala dokter menangininya.
"Persiapkan untuk bilas lambung (penanganan untuk pasien dalam kondisi khusus seperti dalam kondisi keracunan)," itulah kata-kata terakhir dari sang dokter yang didengarnya.
Hingga kesadarannya kembali menghilang. Tidak ada yang tersisa bukan? Kembali menjalani hari yang menyakitkan.
*
Suara jarum jam terdengar, hal pertama yang dilihatnya adalah selang infus. Bibirnya terlihat memutih, selang oksigen terpasang di hidungnya. Air matanya kembali mengalir.
"Gagal," batinnya, kembali menjalani hari yang setiap detiknya bagaikan berjalan di atas belahan kaca tajam. Menyusul Melda? Bukan itulah tujuannya, karena dirinya mengetahui Melda tidak akan pernah memaafkannya.
Pandangan matanya beralih, putra bungsunya berada di sana tengah tertidur dengan kepala berada di tempat tidur, sedangkan tubuhnya masih duduk di kursi.
Apa sebenarnya yang terjadi? Hari itu Samy ingin mencemooh ayah kandungnya. Mencibir tentang bukti yang diberikan Hudson pada pihak kepolisian. Sebuah pengakuan dari mulut Salsa.
Namun hal yang mengerikan ditemuinya. Wajah sang ayah terlihat pucat pasi dalam tidurnya, kotak kardus kecil berisikan bukti-bukti dan permintaan maaf dari Hudson atas nama almarhum Warka tentang sebuah kesaksian yang salah. Ditambah dengan botol obat tidur yang terbuka.
Mencoba mengguncang-guncang tubuh ayahnya agar terbangun dilakukannya. Pemuda yang benar-benar putus asa, air mata Samy mengalir saat itu. Dendam? Dirinya benar-benar membenci ayahnya, namun juga mencintainya.
Tubuh Narendra berusaha digendong di punggungnya. Walaupun terasa sulit, meminta bantuan para pelayan untuk membuka pintu mobil. Melajukan mobilnya dengan putus asa, pada akhirnya Samy tidak dapat membunuh ayahnya sendiri.
Wajah yang tengah tertidur setelah semalaman menjaga Narendra. Sang pria paruh baya yang hanya tersenyum."Aku ingin mati," gumamnya berselimut rasa bersalah. Tidak memiliki tujuan di hidupnya lagi.
Mata Samy tiba-tiba terbuka, menatap ke arah ayahnya."Kamu memang pantas mati," ucapnya dengan air mata mengalir, menggenggam tangan Narendra.
"Aku sudah berjanji jika kamu hidup aku akan mempertemukanmu dengan ibu. Karena kamu hanya pria br*ngsek! Seharusnya Martin saja yang menjadi ayahku! Dasar ibu keras kepala!" umpat Samy dalam tangisannya.
Narendra hanya terdiam menatap ke arah satu titik. Tidak mengerti dengan kata-kata putranya."Melda..." satu kata yang dirindukannya, juga terpendam banyak duri penuh rasa bersalah.
*
Tidak banyak bicara? Narendra memang hanya diam saja setelah keadaannya jauh lebih stabil. Pria yang diam-diam telah menandatangani kepemilikan dan kepemimpinan perusahaannya pada kedua putranya.
Dirinya telah tidak memiliki tujuan. Lebih tepatnya sudah tidak memiliki beban untuk meninggalkan segalanya.
Hingga mobil dihentikan putranya pada sebuah villa yang tidak begitu luas. Hamparan bunga mawar terlihat di kebunnya.
Tak!
Seorang wanita memotong batang mawar, memetik beberapa bunga guna akan dirangkainya nanti.
Narendra membulatkan matanya tertegun, begitu mobil Samy terparkir."Melda?"
"Jelaskan padanya, bukan dia yang membunuh Viona! Dia tidak mempercayaiku, jadi mungkin akan mempercayaimu! Pria br*ngsek!" ucap Samy yang masih duduk di kursi pengemudi.