Silent

Silent
Untukmu



...Air hujan yang membasahi bunga liar kecil, akan membuatnya layu....


...Matahari terik yang memberi kehangatan pada bunga liar kecil, juga akan membuatnya layu....


...Namun, bunga liar kecil masih tetap mencintai mereka. Tersenyum kala hujan tiba menghapus rasa lelahnya....


...Tersenyum kala matahari menyengat, menghangatkan hatinya....


...Hingga dapat memaafkan mereka kala membuat dirinya layu dan mati....


...Memaafkanmu, berpihak padamu, karena aku mencintaimu....


Yoka.


Apa yang sebenarnya terjadi malam itu? Yoka melangkah menuju kamar, menatap Dora dan Arsen yang belum juga datang. Membersihkan dirinya di kamar mandi.


Matanya menatap penampilannya di cermin, tersenyum kala mengingat istrinya yang biasanya acuh memperhatikan dirinya. Haruskah ini berlanjut? Tapi bukankah memang begitu rencananya?


Berkata pada Samy akan menjemput dan mengantar Dora, membuatnya hampir 24 jam bersama dirinya hanya berpisah saat istrinya kuliah. Jadi, mungkin ini harus berlanjut.


Senyuman menyeringai kala mendengar pintu kamar terbuka. Pertanda istrinya telah tiba, mengukur waktu yang tepat untuk keluar dari kamar mandi.


Mempermainkan hatinya? Mungkin iya, tapi ini harus dilakukannya, untuk mendisiplinkan istrinya, agar tidak mengulanginya lagi.


Matanya menelisik mengamati Dora yang pura-pura tertidur mengenakan piyama berbentuk kimono. Menelan ludahnya berkali-kali. Walau bagaimanapun dirinya adalah pengantin baru yang hanya beberapa kali merasakan sesuatu yang sering disebut-sebut surga dunia.


Surga dunia? Hal itu memang membuat dirinya meracau bukan? Seringai jahat terlihat di wajah Yoka, membuka laci tanpa disadari istrinya. Mengambil sebutir obat tidur yang dulu terkadang di konsumsinya. Kala hujan petir melanda, ketakutan dengan bayangan kematian ibunya. Ketakutan yang kini telah terobati.


Tunggu dulu, lalu untuk apa sebutir obat tidur itu? Tentu saja untuk meminta jatah jika beruntung. Benar-benar pria bisu, lugu, baik hati, yang berubah kala dirinya dapat bicara.


Segelas air putih yang terletak di atas meja dicampurkannya. Mungkin, mungkin saja jika beruntung Dora akan meminumnya.


Hingga Yoka berbaring, memunggungi istrinya. Barulah mata Dora terbuka, memeluk Yoka dari belakang. Pemuda yang mengepalkan tangannya berusaha bersabar, jika beruntung, dirinya akan mendapatkan jatah, lebih tepatnya mencuri jatah.


Tangan Dora menyelusup ke dalam piyamanya, meraba otot-otot perut dan dadanya. Jakun pemuda itu naik turun, menahan diri.


"Aku mencintaimu, jangan marah ya?" Suara Dora terdengar.


Pernyataan cinta? Sangat jarang, hampir tidak pernah. Kini dengan mudah diucapkan Dora, kesempatan yang tidak akan dilewatkan olehnya. Sejauh mana Dora akan lebih jujur akan perasaannya, mengejarnya, menginginkannya, sama seperti dirinya yang menginginkan wanita yang diawal pertemuannya hanya dianggapnya sebagai sehelai tissue. Wanita yang kini telah menjadi keluarganya.


Sekitar 30 menit dirinya hanya terdiam, menelan ludahnya berkali-kali, berpura-pura acuh. Hingga hal tidak diduga dilakukan Dora, meminum air putih yang ada di atas meja, seringai keji terlihat di wajah suaminya.


Dan benar saja, tidak sampai 10 menit wanita itu telah tertidur. Benar-benar bukan mimpi, pemuda yang membelai wajah istrinya. Melucuti pakaian mereka, benar-benar tidak beretika. Suami yang mencintai istrinya dengan cara yang aneh. Memberi pendidikan dan pengajaran, tapi tidak mau rugi.


Tapi siapa sangka, mata Dora sedikit terbuka, akibat buaian tiada henti di tubuhnya.


"Aku mencintaimu..." hanya itulah kata-kata yang didengarnya dari bibir Yoka yang menguasai tubuhnya sepenuhnya. Berusaha menciptakan malaikat kecil yang akan meramaikan hari mereka.


Itu bukan mimpi gila Dora. Sesuatu yang sejatinya benar-benar terjadi. Namun, suaminya membersikan tubuh istrinya menggunakan handuk dan air hangat. Tertawa sendiri mengingat ulahnya hari ini. Mengenakan pakaian Dora kembali, benar-benar pemuda picik.


Sifat yang serupa dengan Samy, sulit untuk dijelaskan. Tapi itulah mereka.


Yoka menghela napas kasar, menyentil dahi istrinya.


"Makanya jangan nakal lagi! Mulai hari ini, kamu yang akan mengejarku! Hanya mengikuti dan mencintaiku. Memikirkanku, bahkan disaat dosen menjelaskan," cibir suaminya.


Pemuda yang telah memakai pakaian lengkap, usai mengajari istrinya tentang praktek biologi. Praktek yang sejatinya hanya boleh dilakukan pasangan suami istri.


*


Hingga pagi menjelang, Yoka terbangun lebih awal, menatap istrinya yang masih tertidur akibat obat tidur dosis rendah yang diberikannya. Pemuda yang segera berjalan ke dapur, tidak membiarkan pelayan menyentuh bekal untuk istri dan calon anaknya.


Sebagai pria normal, siapa yang tidak akan tergoda oleh sosok Amanda? Namun, senyuman terlihat sekilas di wajahnya. Di otaknya hanya tergambar sosok istrinya. Benar-benar bodoh, tapi itulah kenyataannya, bagaikan Amanda tidak ada sama sekali. Membayangkan istrinya melahirkan anak yang manis untuknya. Villa yang benar-benar ramai dengan suara tawa dari keluarga kecilnya.


Hingga suara istrinya terdengar berjalan menuruni tangga.


"Sayang! Aku ikut berangkat denganmu!" Kata-kata menggelikan keluar dari mulut Dora. Membuat tangan Yoka gemetar menahan tawanya.


Sayang? Sejak kapan mulut cabai istrinya bisa begitu luwes mengucapkan kata sayang? Entahlah, tapi ini cara menjerat yang menyenangkan baginya.


Perdebatan mulai terjadi antara Amanda dan Dora. Wanita yang selalu tertunduk tidak percaya diri, kini menjadi ganas tidak ingin suaminya direbut. Bukankah ini perkembangan yang baik? Yoka memakan sarapannya dengan tenang menonton pertengkaran istrinya yang berujung kekalahan Amanda. Kelinci kecil yang mengamuk mengalahkan ular besar, menggunakan gigi dan cakar tajamnya tanpa kenal takut.


Benar-benar sebuah tontonan yang jarang disaksikannya.


*


Yoka menghela napas kasar, melewati Dora disaat yang tepat. Ingin mengantar istrinya tapi tidak akan memohon atau memaksa. Namun, kali ini istrinya sendiri yang harus mengemis padanya untuk dikekang.


"Aku ikut, nanti pulangnya jemput aku ya?" pinta Dora memelas.


"Benarkan?" batin pemuda itu, merasa ini semakin menyenangkan saja.


"Sudah aku bilang, kamu bebas melakukan apapun, pergi dengan siapapun. Arsen akan mengantarmu..." kata-kata yang keluar dari mulutnya. Menginginkan Dora lebih banyak lagi mengatakan perasaannya.


"Aku mencintaimu, mulai sekarang 24 jam waktuku hanya untukmu," ucap Dora, menghentikan langkah suaminya. Menatap mata pemuda di hadapannya, penuh harap, berusaha mengeluarkan aura manis tingkat tinggi.


Mungkin sudah cukup membuat dirinya ingin menerkam istrinya. Yoka menghela napas kasar.


"Masuk!" hanya itulah kata yang terucap.


Perjalanan dilanjutkan dengan beberapa kata-kata memuja. Sayang, Yang Mulia Suami, benar-benar hal yang membuat Yoka merinding, sekaligus ingin melompat dan tertawa berguling-guling. Segalanya dijelaskan oleh Dora, sedangkan dirinya hanya mendengarkan berusaha setenang mungkin, menjawab sedatar mungkin.


Hingga mobil sampai di depan kampus. Mata Yoka menelisik, melirik bekal yang dibuatkannya. Bingung harus bagaimana, dirinya dapat mengatakan ini buatan Arsen. Tapi jika dirinya memberikan sebelum mobil meninggalkan villa mungkin akan lebih masuk akal.


Daripada saat ini, sangat terlihat Yoka memang berencana mengantar Dora. Hingga tidak memberikan bekal sebelum berangkat dari villa. Benar-benar celah kebohongan besar.


"Dia bodoh, jadi tidak akan menyadari ada hal yang janggal," batin Yoka, meyakinkan dirinya.


Dan benar saja, fokus Dora hanya pada kata-kata Yoka yang mengatakan ini adalah buatan Arsen. Melupakan celah kejanggalan terbesar tentang kebohongan perubahan sifat suaminya.


Benar-benar suami yang tega memberi pukulan telak ke istrinya.


Hari berganti sore, sudah 15 menit sebelum jam pulang Dora. Sejatinya Yoka mengunggu kedatangan istrinya. Kemudian tepat pada waktu yang dijanjikan Dora berdiri disana menunggunya.


Tidak langsung datang, Yoka menunggu sedikit lebih lama. Tidak ingin perhatiannya dan kasih sayangnya, terlihat di mata istrinya.


Menjemput Dora, kembali mengendalikan hati istrinya.


*


Mengendalikannya? Apa yang didapatkannya saat ini? Tubuh mereka hanya berselimut, selimut tenunan tebal berukuran dobel. Selimut yang sering digunakan Arsen jika harus mengemudikan mobil dalam jarak tempuh yang jauh. Mengingat dirinya sering mengambil beberapa dokumen dari beberapa aset almarhum Melda yang ada di luar kota. Selimut yang sering digunakannya untuk tidur dan istirahat di rest area.


Kini digunakan pasangan suami istri untuk menghangatkan diri, di dalam mobil dengan beberapa pakaian pria dan wanita yang basah berceceran.


"Aku mencintaimu, kamu tidak dengar?" kata Dora lagi setelah hal memalukan yang dilakukannya dalam mobil.


Suara petir terdengar di luar sana, hujan deras masih melanda. Tidak ada satu orangpun yang melewati jalanan sepi tersebut.


"Ingat kata-kataku, aku akan menjagamu, hanya akan berpihak padamu, selepas kamu benar atau pun salah. Menjadi iblis untuk mencintaimu..." kata-kata mengerikan menyeringai penuh senyuman dari bibir Yoka.