
Assalamualaikum temen temen, Nana balik lagi nih. Seperti biasa Nana gak pernah bosen sapa temen online Nana. Gimana kabarnya kalian semua?? Semoga sehat selalu ya.
.
.
Oh iya, kalian boleh racunin temen temen kalian sama cerita Raluna. Ramein juga cerita silent love gak papa hehehehe.
.
.
Buat yang udah baca, terus suka itu hukumnya harus vote sama komen nextt.
.
.
Oke gitu aja, gausah lama lama lagi. Yukk!! Scroll kebawah.
.
.
Happy Reading ♥️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pengambilan darah selesai, kini dokter dengan suster bergegas menuju ruang ICU tempat Raluna berada, sedangkan Usman David juga mengikuti dokter itu.
Abram tidak ikut karena usman telah memberitahukan bahwa Saidah tidak boleh tau kalau bukan dirinyalah yang mendonorkan darah untuk raluna.
Abram paham, dia kemudian pergi setelah Usman mengucapkan banyak sekali terimakasih. Bagaimana Usman harus membalasnya.
Abram pergi dari rumah sakit, dirinya sangat khawatir padahal tidak ada ikatan apapun dirinya dengan keluarga itu. Namun hati kecilnya memberontak agar dirinya tetap berada dirumah sakit.
Abram memutuskan untuk pergi ke kafenya, Abram mendapatkan list imbalan dari David melalui pesan di hp nya. Luar biasa sangat banyak sekali.
Pak David
Assalamualaikum Abram, saya akan memberikan uang senilai 250.000.000 dalam bentuk cek, nanti kita bertemu lagi. Untuk saat ini saya masih harus mendampingi Usman.
^^^Masyaallah pak, banyak sekali saya tidak bisa menerima nya pak. ^^^
Tidak papa, itu sebagai rasa terimakasih saya dan Usman.
^^^Yaallah pak, saya tidak bisa menerimanya. Saya ikhlas bantu bapak dan pak Usman.^^^
Setelah kamu membantu kami, kami Wajid berterimakasih. Kalau kamu tidak mau ajukan apa saja, insyaallah kalau saya mampu akan saya kabulkan.
^^^Tidak usah pak, saya sudah bilang waktu dirumah sakit. Kalau saya ikhlas bantu bapak.^^^
Saya ingat, tapi kewajiban orang setelah ditolong adalah berterimakasih. Mungkin ada sesuatu yang ingin kamu lakukan boleh bicarakan ke saya.
^^^Tidak perlu pak. Insyaallah tidak ada.^^^
Nak abram, saya akan sangat sedih kalau kamu tidak meminta sesuatu.
^^^Pak saya senang, bisa menolong itu sudah cukup.^^^
Astaghfirullah Abram, kalau kamu tidak mau. Biar saya yang menentukan.
Saya akan bangunkan tempat dipesantren tempat kamu mengajar dan menimba ilmu dulu. Apa saja, saya akan kesana dan akan mengatas namakan kamu.
^^^Yaallah pak, saya tidak menolak kalau mengenai pesantren, terserah bapak. Saya akan mendampingi bapak. Menemui pak kyai saya.^^^
**Baiklah terimakasih nak Abram.
^^^iya pak sama sama**.^^^
Saidah baru saja keluar mendapati dokter, suster dan suaminya menuju kearahnya bersama beberapa orang.
"Dokter, apa anak saya akan segera sadar?" Tanya Saidah mengehentikan dokter itu.
"Insyaallah Bu, kami akan melakukan transfusi darah."
"B-baik dok. Terimakasih."
"Buk, administrasi nya sudah harus lunas setelah ini selesai." Saidah terdiam, ia lupa bagaimana cara dia dan Usman membayar uang rumah sakit.
"B-baik sus."
Mereka melihat Dokter keluar dari ruang ICU, Saidah, Usman, Zara, dan David kini berdiri.
"Dok, gimana keadaan anak saya?" Tanya Usman.
"Masih belum siuman Bu. Insyaallah beberapa jam kedepan anak ibu akan siuman. Permisi." Dokter itu pergi, kemudian seorang suster menghampiri mereka.
"Buk, administrasi nya boleh dibayar sekarang batas waktunya sampai nanti malam."
"Baik sus."
Saidah duduk lemas, ia menoleh kearah Usman. "Abi, bagaimana kita bayar uang rumah sakitnya?" Tanya Saidah. Usman terdiam menimbang apa saat ini waktu yang tepat mengungkapkan segalanya kepada Saidah? Apa ini sudah waktunya membawa mereka kembali ke kota seperti dulu?
"Ada sesuatu yang mau Abi sampaikan nanti. Berdua." Jawab Usman. Mereka menunggu Raluna sadar, Usman dan David sudah melihat keadaan Raluna.
Adzan magrib berkumandang, rumah sakit ini memang ada didekat Masjid. Saidah membuka matanya, ia tertidur disamping Raluna saat selesai sholat ashar.
Saidah seakan teriris hatinya, melihat Raluna yang masih terbaring dan matanya masih tertutup. Kemudian saat Saidah memandang Raluna jari jari Raluna bergerak. Saidah yang melihat itu matanya berbinar, dan membangunkan Zara.
"Ibu, anak anda sudah siuman. Keadaannya sudah membaik. Tapi dia masih perlu diawasi dokter, dalam kata lain masih harus dirawat inap." Kata dokter yang selesai memeriksa keadaan Raluna.
"I-ya dok, terimakasih."
"Baiklah saya permisi." Dokter itu pergi keluar, kini Saidah menatap Raluna. Raluna melirik kearah umi nya.
"U-umi. Raluna kenapa? Raluna ada dimana?" Tanya Raluna, seperti orang kebingungan.
"Kamu kecelakaan nak, tadi saat mau berangkat sekolah." Jelas Saidah, wajah Anaya masih seperti orang kebingungan. Ia tak ingat apa apa.
"Kamu sudah siuman nak, Alhamdulillah." Kata Usman, mengusap pucuk kepala Raluna yang terbalut kerudung.
"Abi." Balas Raluna.
"Dia siapa umi?" Tanya Raluna mengarah ke Zara.
"Dia Zara, sahabat kamu nak. Kamu gak ingat?"
"Zara?"
"Iya." Balas Saidah. Kini Zara mendekat, dan menggenggam tangan Raluna.
"Raluna, ini aku Zara. masa sih kamu lupa."
Raluna mencoba mengingat, tapi ia tak mengingat apapun. "Raluna gak ingat." Senyum dibibir Zara luntur perlahan. Menoleh kearah Saidah.
"Umi, apa Raluna hilang ingatan?" Tanya Zara.
"Umi juga gak tau."
"Umi, aku panggil dokter dulu ya. Raluna hilang ingatan atau cuma lupa."
"Iya, hati hati ya."
"Iya umi, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Raluna masih mengingat keras, kejadian kejadian yang pernah ia lalui. Hingga gadis cantik yang tadi menyapanya. Tapi ia tak mengingat apapun, yang ia ingat hanya sosok umi dan abinya.
Tak lama kemudian Zara datang membawa dokter, dan segera memeriksa Raluna.
"Anak bapak dan ibu, mengalami lupa ingatan." Ucap dokter itu, menjauh dari Raluna. Kini dokter itu berbicara kepada Saidah dan Usman.
"Yaallah, apa anak saya bisa kembali ingatannya?" Tanya Saidah.
"Insyaallah, kalau orang yang dia lupa terus mengingatkannya, namun itu akan membuat sakit kepalanya. tapi saya tidak bisa pastikan itu bisa berhasil." Jelas dokter itu.
Notice : (BTW Nana tau, orang yang lupa ingatan bisa ingat lagi ke orang yang dia lupa kalau orang yang dia lupa bisa ngelakuin hal hal yang berkaitan dengan sifat perilaku orang itu dulu. Tau dari film, dan sinetron yang pernah Nana lihat. Atau mungkin orang itu lupa ingatan karena kejedot pintu nah Nana pernah lihat tapi lupa apa judulnya itu kalau di jedot in lagi bisa ingat.)
"Iya Bu, saya permisi." Kini hanya tinggal Saidah dan Usman. Duduk diluar dan membicarakan pembicaraan yang Usman bilang tadi siang.
Saidah mengumpulkan seluruh keberaniannya. Dan menoleh, "Abi, gimana kita bisa bayar uang rumah sakit?"
"Umi, sebenarnya. Administrasi nya sudah papah Zara bayarkan. Tapi umi tenang, Abi akan ganti uang itu umi."
"Astaghfirullah Abi, kenapa Abi gak bilang. Umi takut ngerepotin papah Zara."
"Abi udah gak mau, tapi David maksa. Dan dia mohon sama Abi, Abi terima dengan syarat Abi akan ganti uangnya." Jelas Usman, kini Saidah merasa lega. Putrinya sudah siuman tapi hilang ingatan.
Usman tadinya ingin mengajak Saidah dan Raluna untuk pindah setelah Raluna pulih. Namun niatnya ia urungkan karena Raluna hilang ingatan ia tak tega kenangan indah putrinya hilang begitu saja. Ia harus mengembalikannya.
Saidah dan Usman memasuki ruangan Raluna, kini ia akan dipindahkan keruang inap.
****
Hari demi hari berlalu, kini Raluna sudah diperbolehkan pulang. Usman, Saidah dan Raluna menyewa becak untuk pulang kerumah. Dimana Usman yang menjadi supirnya, Saidah dan Raluna sebagai penumpangnya.
Disepanjang perjalanan mereka bercanda ria, walau dengan hal seperti ini Saidah dan Raluna sangat bersyukur. Usman menyimpulkan senyuman di bibirnya.
Raluna menolehkan kepalanya kearah Usman dibelakang, "Abi gak capek? Dari tadi Abi kayuh loh. Raluna sama umi berat loh Bi. Gak mau berhenti istirahat dulu?" Tanya Raluna, gadis berkerudung hitam itu menanyai Abi nya.
Sungguh menurut Raluna, Usman adalah sosok Abi yang hebat. Banyak peluh bercucuran namun ia tetap semangat demi dirinya dan umi. Raluna bangga menjadi anak Usman.
Beberapa saat kemudian mereka sampai didepan rumah sederhana, sudah berhari hari rumah itu tidak ada yang menempati. Raluna turun perlahan dibantu oleh Saidah.
Memasuki kamar, Raluna merasakan kepalanya sakit kilasan balik tentang kamar ini tersirat cepat. Tapi mungkin perlahan ia akan mengingat sesuatu yang sempat ia lupakan.
Saidah menidurkan Raluna diatas ranjang, menyelimuti nya dan menyuruh Raluna untuk istirahat suapaya lekas sembuh.
.
.
Malam hari Raluna terbangun, melihat hp nya jam 3 dini hari. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk buang air kecil. Juga mengambil wudhu untuk sholat tahajjud.
Saidah mendengar air kran berbunyi membuka matanya, apa Raluna yang mengambil wudhu? Saidah berjalan menuju kamar Raluna. Benar saja gadis itu tidak ada di kamarnya. Saidah menunggu Raluna kembali dari kamar mandi.
"Umi? Kok bangun?"
"Umi mau sholat. Kamu ambil wudhu nak?"
"Iya umi, Raluna tadi kebangun jadi sholat aja." Saidah tersenyum, meski lupa ingatan anak nya ini masih saja mengerjakan kebiasaannya. Terbangun saat jam 3 dini hari dan sholat tahajjud.
Saidah menempelkan tangannya ke dahi Raluna, "Yasudah, sholat. Umi mau ambil wudhu."
Selesai sholat Raluna berdzikir dan membaca Alqur'an. Suara orang mengaji tanda mau subuh terdengar. Raluna menaruh Al-Qur'an nya tak kala pandangan matanya tertuju pada buku diary berwarna pink miliknya.
Raluna tersenyum, ada gambar Flaminggo di cover itu. Membuka halaman perhalaman membaca isi tulisan yang ia tulis sendiri, namun sekarang ia lupa kapan ia menulisnya.
Tepat pada saat membaca tentang seseorang lelaki yang entah kapan ia tulis, Raluna sama sekali tidak ingat. Membaca baris baris kalimat yang berjejer dihalaman itu.
"Raluna gak tau, kenapa setiap raluna bahagia Raluna mengingatmu. Dan saat raluna sedih raluna mengingatmu. Entah ada apa dengan raluna. Tapi apa ini yang dinamakan cinta? Astaghfirullah, Raluna kamu masih belum menikah, tapi apa Raluna boleh mencintaimu? Tapi kamu menyebalkan. Kalaupun ini perasaan yang dinamakan cinta apa boleh Raluna menaruh cinta untukmu? Hehehehe raluna bertanya seolah kamu akan menjawabnya, raluna malu jika seseorang tau kalau Raluna cinta sama kamu. Cukup Allah saja yang tau bagaimana raluna akan berjuang dilangit untuk dirimu."
Raluna tersenyum getir, walau ia tak ingat siapa lelaki yang ia maksud dalam tulisan ini. Kemudian ia membalik lagi halaman buku itu.
"Kamu, suka ya buat Raluna semakin jatuh sama kamu. Jujur kamu adalah laki laki kedua yang Raluna sayang setelah Abi. Mau tau apa yang buat Raluna jatuh sama kamu? Akhlak kamu, hanya satu alasan akhlak kamu yang baik, sopan, ramah tapi jangan ya kalau ke perempuan Raluna gak suka. Raluna sebenarnya ingin sekali liat kamu tapi Raluna takut liat kamu, kalau tidak sengaja mungkin itu yang namanya tidak sengaja jatuh cinta."
"Untuk sekarang Raluna mau lupain kamu dulu, Abi sama umi masih harus Raluna banggain. Jadi Raluna ikhlas tinggalin kamu, kalau kamu kembali berarti kamu milik Raluna." Raluna tersenyum membaca lanjutan tulisan nya.
"Siapa orang yang dimaksud Raluna dalam tulisan ini?" Batin Raluna.
"Allahuakbar... Allahuakbar." Suara azan subuh berkumandang. Raluna segera menutup buku diary nya dan mendengarkan azan yang berkumandang.
Raluna segera sholat shubuh, setelah selesai ia pergi menuju dapur. Ia berniat akan membantu umi nya untuk menyiapkan sarapan.
"Raluna, kenapa kesini nak. Istirahat saja." Saidah melihat kedatangan Raluna, dengan membawa pisau ditangannya.
"Raluna mau bantu umi kupas bawang."
"Jangan nak, kamu masih belum sepenuhnya sembuh. Nanti kalau kamu sudah sembuh total kamu boleh bantu umi lagi."
"Lagi?" Raluna mengulang kata lagi yang dikatakan Saidah, apa dirinya sering membantu umi nya memasak? Tiba tiba kepalanya sakit. Ingatan yang tergambar cepat menampilkan dirinya sering membantu umi nya memasak.
Saidah yang melihat Raluna memegang kepalanya langsung mendekat kearah Raluna, "nak, istirahat aja. Umi bentar lagi selesai kok. Cuma kupas bawang."
"Tapi umi Raluna cuma pusing dikit-"
"Enggak boleh, kamu harus istirahat. Ayo umi antar."
****
Kini Zara berada di perpustakaan SMA Bunga Bangsa, bermain dengan lihainya bersama laptop dihadapan nya. Dia tengah menyelidiki siapa orang yang telah menabrak Raluna.
Beberapa hari yang lalu, ia sempat menyelidiki dan bertanya kepada seseorang yang menjadi saksi mata waktu itu. Ciri mobil yang menabrak Raluna cukup sederhana mobil itu warna hitam, tanpa nomer plat dibelakangnya. Oleh karena itu Zara cukup kesulitan menemukan pemilik mobil itu.
Kasus kecelakaan Raluna masih belum terpecahkan motifnya apa, namun pihak kepolisian masih mendalami dan menelusuri kasus ini. Zara hanya ingin membantu dan nanti akan menyerahkan bukti kepada pihak berwajib.
Zara berjalan melewati parkiran mobil, karena ia ingin menuju gudang untuk melakukan sesuatu.
Tak sengaja ekor matanya melihat sebuah mobil yang cirinya sama dengan kesaksian orang yang tempo hari ia tanyakan. Zara mendekat, memeriksa keadaan mobil itu. Tepat pada saat berada didepan kepala mobil itu Zara meneliti seluruh badan mobil itu.
Ada goresan besar, yang sudah ditutupi oleh cat. Zara menyipitkan matanya, melihat benda kecil seperti permata yang sangat kecil tersangkut disela sela depan mobil.
Zara mendekatkan penglihatan nya kearah benda seperti berlian itu. Itu bukan berlian namun kaca, Zara ingat cincin kayu yang dipakai Raluna ada hiasan kaca seperti berlian yang ia lihat saat ini. Zara ingat satu permata di cincin yang berjumlah 3 permata itu hilang satu, tapi apakah ini benar?
Zara memfoto mobil ini, dan memfoto mata cincin yang terselip di sela sela mobil itu. Zara heran kenapa itu tidak jatuh? Kini ia masih harus mengumpulkan bukti lagi, siapa pemilik mobil ini dan mencari bukti baru.
****
Malam hari, Raluna duduk diatas kasur berseprei warna abu abu miliknya. Membaca kembali seluruh isi buku diary nya. Ternyata gadis cantik yang bernama Zara itu adalah sahabat baiknya.
Raluna sedih, apa dia telah menyakiti hati gadis bernama Zara itu? Raluna sedih karena telah melupakan sahabat baiknya. Pandangan Raluna terangkat menatap keluar jendela menampilkan bulan yang sangat terang, cahaya bulan menerpa wajah cantiknya.
Raluna memejamkan matanya, kepalanya terasa sakit, kilasan ingatan tentang seorang lelaki muncul dikepalanya. Raluna menggelengkan kepalanya, kenapa ingatan itu selalu muncul. Padahal Raluna tidak ingin.
Hati Raluna sedih, dan membaca lagi kata demi kata yang tersusun rapih di buku diarynya. Selesai membaca Raluna mengambil pen bermotif Flaminggo yang diselipkan dibuku diary kecilnya.
"Siapa kamu? Kenapa kamu selalu tergambar dalam kepala Raluna. Padahal Raluna tidak ingat siapa yang Raluna maksud. Raluna sedih karena Raluna melupakan Zara sahabat baik Raluna. Tapi kenapa malah kamu yang muncul, padahal Raluna ingin mengingat Zara."
"Zara, maafin Raluna ya. Maaf kalau Raluna lupa sama Zara, tapi Raluna mohon tetap jadi sahabat Raluna ya. Walau Raluna lupa, ingatin Raluna lagi ya. Zara sahabat Raluna jangan tinggalin Raluna. Raluna sayang sama Zara."
****
Beberapa hari kemudian, polisi sudah menemukan pelaku yang menabrak Raluna. Usman lega putrinya sudah mendapatkan keadilan.
Kini Raluna sudah dibolehkan masuk sekolah oleh Saidah, Zara menjemput Raluna mengendarai mobilnya. Raluna merasa bersalah karena melupakan Zara.
Diperjalanan, Zara terus saja mengajak bicara Raluna. Mengingatkan masa masa saat mereka bermain bersama. Dan masih banyak lagi yang Zara ceritakan kepada Raluna. Sesekali Raluna memegang kepalanya yang sakit karena mendapat kilas balik tentang cerita yang Zara ceritakan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum temen temen, udah dipenghujung aja nihhh. Gimana nihhh bab ini???
.
.
Bab selanjutnya bakal Nana buat lebih seru, pantengin terus notif dari Nana. Sehat selalu buat temen temen online Nana, makasi udah baca cerita Nana. Jangan bosen nungguin Nana up ya.
.
.
Vote sama komen Nana terima dengan senang hati, sampai ketemu di bab selanjutnya babayyyyyy!!!!
.
.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏
.
.
.
2 April 2022