Silent

Silent
Siluman



Sama seperti sebelumnya, para pelayan sibuk mempersiapkan nonanya. Bagaikan boneka mainan mereka yang harus di dandani. Sedangkan Para pelayan pria lebih antusias lagi, memilihkan pakaian untuk Yoka.


Mengapa? Rata-rata dari mereka menyimpan dendam yang besar pada Anggeline. Diperlakukan bagaikan budak, ditampar jika terlambat mengantarkan makanan. Bahkan pernah ada juga pelayan yang didorong hingga jatuh dari tangga, mengalami cidera serius hingga harus dirawat di rumah sakit selama dua minggu.


Apa mungkin Yoka sudah buta dulu memilih pasangan seperti Anggeline? Sejatinya tidak, Anggeline yang pandai bermain piano mengingatkan Yoka pada Melda. Walaupun sifatnya bertolak belakang dengan sang ibu yang dianggapnya sudah meninggal.


Karena itulah, Yoka berusaha mendapatkan hatinya, menerima prilaku buruknya. Hanya karena pernyataan cinta dari sang guru piano. Angeline yang memang awalnya hanya berambisi menjadi nyonya di villa ini.


Tapi berbeda dengan saat ini, wajah pemuda itu tersenyum. Sifat dan prilaku yang mungkin benar-benar mirip dengan ibunya, itulah Dora. Wanita yang senang berdebat, terkadang ketakutan dan gelagapan.


Pengganti? Pada awalnya dirinya ingin menjadikan Dora sebagai pengganti Anggeline. Tapi sifat dan prilaku anehnya meluluhkan, merebut hati Yoka. Pemuda yang belum mengetahui Dora-lah wanita yang menyelamatkannya dari percobaan bunuh diri saat hari pernikahan Anggeline dan Malik.


Jika mengetahuinya? Mungkin pemuda itu akan semakin mencintainya lagi.


Mini dress hitam selutut, dengan rambut digerai menyamping, rambut lurus yang dibuat sedikit bergelombang di bagian ujungnya. Hiasan rambut kecil berbentuk sulur, menjaga rambutnya agar tetap tertata menyamping.


Set perhiasan berwarna biru laut terlihat bersinar, kala bertemu dengan kulit putihnya dan minidress hitamnya.


"Aku cantik..." batinnya memuji dirinya sendiri.


"Kamu lebih cantik dari Anggeline. Terutama karena lebih sering tersenyum. Ingat! Jaga tuan muda baik-baik! Jangan biarkan Anggeline mendekat! Nasib kami tergantung padamu! Kami tidak ingin menjadi budak ratu Cleopatra lagi!" Seorang pelayan wanita yang dulu menjadi langganan kue Dora memberikan instruksi keras.


Tidak ada satupun dari mereka yang menyukai Anggeline. Lebih memilih Dora yang menjadi nyonya muda. Tapi hati manusia tidak ada yang bisa menebak.


Menjadikan Dora seorang pengganti. Pengganti tetaplah pengganti, karena itulah Dora harus benar-benar mengikat kuat hati tuan muda mereka. Tidak ingin suatu hari nanti Yoka kembali menerima Anggeline. Wanita angkuh yang mungkin akan kembali untuk menguasai villa ini.


Jika kembali maka, hari-hari mereka yang seperti berada di neraka juga akan kembali.


Seperti di neraka? Anggeline bagaikan ingin diistimewakan di segala tempat. Berjalan menggunakan karpet merah, bahkan ke mall ditemani semua pelayan. Makanan harus siap dalam waktu 15 menit, setiap meminta juice, harus dari buah manis yang baru matang.


Jika sedikit saja terasa asam atau makanan tidak siap tepat waktu, maka harus bersiap-siap menerima amukan Godzila yang menyemburkan api ke semua arah. Benar-benar mengerikan, monster jelek yang mereka benci, itulah Anggeline di mata para pelayan.


Jadi jika tidak ingin monster itu kembali, mungkin harus mengandalkan Dora si anak ber-ransel. Maaf salah, Dora gadis cantik yang memiliki rupa sama persis dengan Anggeline.


Hingga Yoka tiba-tiba memasuki ruang ganti, memberi instruksi agar semua pelayan keluar. Pemuda yang kini berdiri di belakang Dora.


"Yoka," ucapnya menatap pantulan wajah suaminya di cermin.


Pemuda yang memakai setelan tuxedo hitam, terlihat modern, memiliki banyak detail yang rumit. Tersenyum menatap pantulan wajah istrinya di cermin, di hadapan mereka.


Yoka menghela napas kasar, tiba-tiba duduk di atas meja rias, berhadapan langsung dengan istrinya.


"Aku gemas..." ucapnya sedikit membungkuk, meraih tengkuk istrinya. Perlahan dua pasang mata itu terpejam. Sepasang lidah yang bermain-main, menyatu dalam mulut mereka. Terasa hangat, benar-benar terasa hangat.


Hingga ciuman itu terlepas, diakhiri dengan kecupan-kecupan kecil.


Yoka tersenyum, mengusap sudut bibirnya sendiri yang terkena sedikit lipstik.


"Ingat, saat kamu masuk ke sana statusmu lebih tinggi dari mereka." Kata-kata dari mulut Yoka.


"Kenapa kamu menyukaiku? Dan sejak kapan?" pertanyaan dari Yoka tiba-tiba.


"A...aku..." Dora menunduk sesaat terlalu malu baginya untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Sejak kapan?!" bentak Yoka tiba-tiba, membuat Dora refleks menjawab.


"Sejak kejadian di sungai!" Sang wanita yang kembali menunduk menahan malunya.


"Kenapa?" Yoka mengenyitkan keningnya menahan tawanya.


"Karena kamu...aku..." ucap Dora hanya menunduk enggan untuk mengatakannya.


"Karena kamu menolongku yang hampir mati, memelukku hingga punggungmu terluka. Karena...." batin Dora, banyak perasaan aneh yang tidak dapat diungkapkannya. Bahkan kala bibir mereka bersentuhan, kala Yoka bermain piano saat pertama kali bertemu dengannya.


Kapan? Bagaimana? Semuanya tidak dapat dijawab olehnya. Entah sejak kapan dirinya mencintai si bisu. Apa saat Yoka menginap di rumahnya? Sebuah perasaan yang tumbuh tanpa alasan, entah sejak kapan. Namun wajah pemuda itu yang meraih tangannya, memeluknya dalam derasnya air sungai masih benar-benar teringat di benaknya.


Yoka tersenyum, mengecup kening istrinya.


"Arsen pasti sudah menceritakan semuanya padamu. Tapi ini lebih rumit dari itu. Selama ini aku hidup dari aset bergerak milik almarhum ibuku. Perusahaan yang selama ini dijalankan ayahku, setengah sahamnya juga milik almarhum ibuku. Kamu adalah istriku, orang yang akan melahirkan generasi selanjutnya. Jadi statusmu lebih tinggi dari mereka. Jika kamu marah kamu boleh menampar bahkan memukuli mereka. Jangan ragu! Dan jangan rendah diri!" ucapnya penuh senyuman, turun dari meja rias, berjalan meninggalkan kamar. Bersamaan dengan para pelayan yang kembali masuk.


"Agresif! Anggeline tidak akan mendapatkan kesempatan kalau begini!" Teriak salah satu pelayan, menatap ke arah lipstik Dora yang berantakan.


"Jangan pakai lipstik! Pakai lip gloss saja. Siapa tau tuan muda akan menciumnya di dalam mobil. Akan tidak begitu terlihat jika sedikit berantakan!" pelayan lainnya, nampak bersemangat, membersihkan sisa lipstik di bibir Dora.


Dora tertunduk diam, menghela napas kasar, ini untuk yang kedua kalinya dirinya akan bertemu dengan wanita yang dulu dicintai Yoka. Jemari tangannya mengepal, apa Yoka akan kembali mencintai Anggeline jika Anggeline kembali?


Namun, Yoka kini adalah suaminya, sesuatu yang harus dipertahankannya. Seperti kata ibunya asalkan kecebong. Maaf salah, asalkan suaminya puas di ranjang maka tidak akan berpaling.


Jemari tangannya meraih phonecellnya, membuka situs-situs terlarang. Mencari beberapa tutorial praktek PKK, untuk di praktekkannya setelah datang bulannya berakhir.


Tidak menyadari suaminya yang hanya dapat tersenyum, mengingat prilaku istrinya yang belakangan ini lebih agresif. Namun, pemuda yang juga khawatir mengingat kepergiannya beberapa bulan untuk kepentingan investasi.


*


Beberapa jam berlalu, pintu pagar rumah yang cukup besar terbuka. Rumah utama yang ditinggalkan Yoka 16 tahun lalu, semenjak kematian ibunya. Martin lah yang membawanya pergi, tidak ingin keselamatan Yoka yang masih terlalu muda terancam.


Segalanya masih sama seperti dulu. Halaman dengan beberapa mainan, bahkan lapangan basket tempat Narendra dulu selalu bermain dengannya. Serta Melda yang tersenyum, membawakan juice dan potongan buah segar. Mengatai dirinya dan sang ayah yang belum mandi bau. Sepasang ayah dan anak yang berkilah tidak mau mandi, ingin melanjutkan permainan mereka.


Mulut cerewet Melda mulai mengomel, mengambil selang lalu menyemprotkan air ke arah mereka. Keluarga bahagia yang telah hancur karena sang ayah.


Tangan Yoka mengepal, masih ingin mengetahui alasan sebenarnya dari kematian ibunya. Namun yang terpenting saat ini, merebut semua miliknya untuk kecebong, maaf salah untuk anaknya nanti.


Sedangkan Samy ada di mobil terpisah, mengikuti mereka dari belakang.


"Baik! Malam ini kita akan bertemu siluman yang sebenarnya..." gumamnya tersenyum menyeringai. Mengikuti mobil Yoka memasuki gerbang besar di hadapannya.