Silent

Silent
Suami Dora



Suara ketukan pintu masih terdengar, Yoka hendak berjalan mendekati pintu. Namun langkahnya terhenti sesaat, menghela napas kasar. Dirinya tidak dapat muncul di hadapan orang lain.


Matanya menelisik menatap ke arah istrinya."Aku akan bersembunyi di kamar mandi. Jangan nakal..." ucapnya tersenyum, mengacak-acak rambut Dora.


"Dia mengejarku, ingin kita bercerai. Kamu tidak cemburu?" tanya wanita itu penuh harap, ingin melihat sifat posesif suaminya.


Yoka menatap tajam, mendekatkan wajahnya, sedikit berbisik, hembusan napas yang benar-benar terasa di lehernya."Apa kamu memiliki keberanian untuk berselingkuh?"


Dengan cepat Dora menggeleng, terkadang suaminya sangat manis, terkadang bersikap lembut, namun ada kalanya dingin, begitu mengerikan. Namun rasa keraguan masih ada di benaknya, tentang perasaan Yoka padanya.


Hingga pemuda itu berjalan ke kamar mandi. Memilih mengalah untuk bersembunyi, tidak mengetahui yang mana kawan yang mana lawan. Dirinya benar-benar harus menahan diri, memendam rasa kesalnya.


Cemburu? Suami mana yang tidak akan cemburu? Terdiam dalam kamar mandi, mendengarkan segalanya.


Suara pintu terbuka, pertanda Dora tengah menemui orang yang berada di luar sana.


"Kenapa pintunya terkunci? Kamu dapat kunci darimana?" tanya Tantra menatap ke arah Dora.


"Aku mencurinya, beberapa perawat seenaknya masuk. Terkadang saat aku mengganti pakaian," alasan dari Dora penuh senyuman menatap ke arah dosennya.


"Dasar! Katanya kamu digigit ular. Tapi laporan medismu hanya syok?" Tantra masuk tanpa permisi duduk di sofa penuh senyuman.


"Aku syok melihat ular yang aku bunuh. Bayangkan aku membunuh makhluk hidup secara sengaja, benar-benar perbuatan keji," suara tawa Dora terdengar. Wanita yang memang mudah akrab dengan orang lain.


Tantra terdiam sesaat, wajahnya tersenyum namun jemari tangannya mengepal. Beberapa bekas keunguan terlihat di leher sang calon dokter muda, bagaikan sang pelakunya ingin terang-terangan mengatakan wanita ini adalah miliknya.


Tapi istri yang tidak diperhatikan? Siapa sebenarnya suami Dora?


"Tawaranku masih berlaku, kamu menikah dengan suamimu salah satu alasannya karena biaya kuliah kan? Kamu dapat bercerai, aku akan membantu biaya kuliahmu hingga menjadi dokter bedah. Nanti pelan-pelan kita dapat mendirikan rumah sakit bersama..." tawaran itu kembali diucapkannya.


Tantra? Sejatinya tidak berasal dari keluarga yang berada. Namun, pemuda yang cukup gigih, memiliki bakat bisnis. Hingga saat ini memiliki beberapa ruko yang menjual alat-alat elektronik. Memiliki pemikiran yang sama dengan Dora? Mungkin itulah yang membuatnya tertarik, bagaikan dua orang yang berasal dari dunia yang sama.


Yoka terdiam menunggu jawaban istrinya. Tidak dapat menjaga Dora dengan baik. Satu tahun, mungkin kurang, dirinya akan kembali lebih awal. Menjaga istrinya, memberi perhatian yang 2 tahun ini tidak dapat ditunjukkannya.


Tangan pemuda itu gemetar. Ketakutan akan ditinggalkan lagi, air matanya mengalir tidak dapat dihentikan olehnya. Semua orang seperti itu bukan? Menganggapnya tidak berguna, kemudian meninggalkannya.


Bahkan ibunya meninggal karena dirinya yang tidak memiliki keberanian menghadapi para perampok yang melecehkan sang ibu. Anggeline? Wanita yang mengatakan mencintainya apa adanya, berakhir pergi setelah menemukan Malik.


Hanya Dora yang dimilikinya, menyimpan ambisi untuk memiliki keturunan darinya. Membahagiakan istri dan anaknya, hanya itu. Memimpikan seorang anak yang berada di pangkuannya dengan Dora yang membawakan makanan ringan untuk mereka. Apakah bisa?


Atau pria yang lebih sempurna ini akan membuat istrinya pergi meninggalkannya?


"Dora hanya milikku..." gumamnya mengepalkan tangannya. Dengan rasa obsesi dan amarah semakin mencoba ditekannya.


"Entah bagaimana anggapan orang, tapi bagiku cinta itu saling memberi tanpa meminta balasan. Selama dia memberi hatinya, aku akan menyimpan perasaanku hanya untuknya. Tapi jika dia berpaling, maka aku akan melangkah pergi. Sampai sekarang dia masih memberi, tidak memalingkan wajahnya. Jadi aku akan tetap disampingnya," jawaban dari Dora.


Yoka terdiam, wajahnya perlahan tersenyum. Dirinya tidak akan ditinggalkan, selama memberikan hatinya. Tegar? Tidak, pemuda itu hanya seseorang yang rapuh dan kesepian. Menemukan satu tujuan sebagai penyemangat dalam hidupnya.


...Aku tidak akan membiarkanmu terluka seperti ibuku....


...Aku tidak akan membiarkan anak yang akan kamu lahirkan terabaikan, sama sepertiku....


...Mengapa? Tidak ada alasan, bagaikan seekor kura-kura dan cangkangnya. Itulah aku, menjadikan kalian sebagai pelindungku....


...Dari dasar laut yang gelap, hanya kalian yang akan melekat padaku....


Yoka.


*


"Aku akan menunggumu berubah fikiran," Tantra menghela napas kasar, tersenyum di hadapan Dora.


"Br*ngsek!" gumam Yoka yang masih berada dalam kamar mandi. Tidak dapat melangkah keluar sama sekali.


"Omong-omong, nanti malam kamu harus ke kampus. Ada mata kuliah yang mengadakan evaluasi." Tantra mengacak-acak rambut Dora, walaupun wanita itu menepisnya.


Namun di luar dugaan, Narendra tiba-tiba masuk, membawa beberapa makanan untuk menantunya. Menghela napas kasar, inikah saingan putranya?


Matanya menelisik dari atas sampai bawah, dari fisik pemuda ini memang kalah. Tapi dari perhatian, berasal dari bidang yang sama. Mungkin suatu hari nanti menantunya akan bercerai dengan putranya.


Ini tidak boleh terjadi, benar-benar tidak boleh terjadi. Mata Narendra menelisik, mengamati leher menantunya yang terlihat mengenaskan.


"Apa mereka melakukannya? Menantuku berselingkuh?" batinnya tidak yakin.


"Maaf mengganggu waktu kalian," ucap Tantra penuh penekanan, menganggap yang ada di hadapannya saat ini merupakan suami Dora.


Narendra mulai tersenyum, meletakkan beberapa jenis makanan yang dibawanya di atas meja. Menatap ke arah menantunya yang manis mulai membuka bungkus makanan tidak sabaran.


"Dora apa dia sudah lama disini?" tanya Narendra, berusaha keras untuk tersenyum.


"Dokter Tantra baru datang," jawab Dora dengan mulut penuh. Memakan seporsi sushi, yang dibawakan sugar Daddy. Maaf salah, ayah mertuanya.


"Berhubungan dengan pasien di rumah sakit? Anda seharusnya, lebih memikirkan kondisi psikologisnya. Sebagai suami lebih baik anda lebih perhatian pada istri Anda," sindiran dari Tantra, yang sejatinya menahan rasa kesalnya. Rasa cemburu, membayangkan apa yang dilakukan pasangan mertua dan menantu yang disangkanya pasangan suami-istri di ranjang rumah sakit semalam.


Narendra mengenyitkan keningnya. Ini artinya pria ini bukan selingkuhan menantunya. Tapi tanda itu jelas-jelas Dora sudah mengkhianati putranya. Pria itu mencoba tenang, menghirup napasnya dalam-dalam. Yang terpenting saat ini membuat Tantra pergi. Baru menyelidiki segalanya, tidak ingin kecolongan. Menantu yang sudah dianggapnya seperti putrinya sendiri mengajukan perceraian dengan putranya.


"Maaf, sebagai seorang dosen, tolong jaga batasan anda dengan wanita yang telah bersuami," ucap Narendra, perlahan mendekat ke arah Tantra.


"Kamu mengenalku? Putraku memiliki setengah yayasan kampus. Uang dan kekuasaan, semuanya aku miliki, memang apa yang kamu miliki..." cibir Narendra tersenyum.


"Dora aku pulang. Nanti malam jangan lupa, kamu harus ke kampus." Bagaikan tidak takut, Tantra menatap tajam ke arah pria yang lebih tua darinya.


Sedangkan Dora mulai membuka mie ayam, setelah sushi tandas."Pulang sana! Nanti kalau perlu asisten lagi hubungi aku!" jawab Dora dengan mulut penuh. Benar-benar menganggap dosennya sebagai teman sebaya.


"Oke, nanti kita akan membedah bagian otak," ucap Tantra mengedipkan sebelah matanya. Namun Dora terlalu sibuk makan, tidak mempedulikan. Mungkin karena tenaganya sudah terkuras habis akibat bertani, menyemai benih berulang kali semalam.


Tantra melangkah pergi, bersamaan dengan raut wajah cemas dari Narendra. Mencari keberadaan selingkuhan menantunya. Benar-benar tidak ingin putranya diceraikan karena pria lain. Sudah terlanjur menyayangi pinguin kecil yang selalu bersembunyi di balik punggungnya.


Perlahan Narendra mencari jejak yang tertinggal. Menghela napas kasar, benar-benar tidak ada sama sekali, setelah 15 menit mencari.


"Ayah ingin ke kamar mandi," ucap Narendra. Namun tidak mendapatkan jawaban. Dora bagaikan tidak peduli. Mengapa? Mereka ayah dan anak, walaupun bertemu mungkin tidak akan ada yang terjadi. Sudah saatnya Yoka dan Narendra berhenti berkelahi seperti anak kecil.


Mendengar Narendra akan masuk, Yoka segera bersembunyi di balik tirai kamar mandi, satu-satunya tempat persembunyian yang ada disana.


Pintu kamar mandi dibukanya, matanya menelisik. Wajah Narendra tersenyum, hanya tirai ini yang belum diperiksanya. Kamar mandi yang terbuka, kecuali tirai yang menutupi bath tub.


"Berani meniduri menantuku? Nyawamu ada berapa?" batinnya menyeringai, tangannya terangkat ingin menyibak tirai. Jantung sepasang ayah dan anak yang berdegup cepat.