Silent

Silent
Andai Aku



...Aku mencintaimu, seperti matahari sore. Karena sinarnya membuat hatiku hangat....


...Aku mencintaimu, seperti matahari sore. Karena mengingatkan ku akan rumah, tempatku berlindung, menghapus lelah....


...Aku mencintaimu, seperti matahari sore. Bagikan kala sinar itu menghilang, perlahan. Maka kegelapan akan menghampiriku....


...Aku mencintaimu, seperti matahari sore. Berharap dapat menahanmu, namun tidak dapat memilikimu....


...Masihkah kamu mencintainya? Aku hanya dapat menunggu, sinar itu redup. Berganti bintang, berharap dapat melihat jutaan sinar kecil bersamamu....


Yoka.



Makan malam telah disiapkan pelayan, Dora tertunduk duduk di samping Yoka, pemuda yang makan dengan tenang. Mata Amanda tidak dapat lepas dari pemuda itu. Terlihat jelas, sangat jelas, Amanda menyukainya.


Tapi sekali lagi, misinya ada menikah dengan Yoka. Kemudian mencari cara membunuhnya setelah dua tahun pernikahan.


Pemuda itu masih mengiris daging tidak bicara sedikitpun. Mengiriskan daging untuk Dora kemudian meletakkan di atas piring milik wanita itu.


Jemari tangan Amanda mengepal, andai saja Yoka tidak mengunci kamarnya. Mengetahui cara menetralkan obat, mungkin kini dirinya dapat meminta pertanggungjawaban.


Amanda menghela napas kasar, bagaimana cara pemuda itu menetralkan obat yang dikonsumsinya? Apa Samy memanggilkan dokter untuknya?


Dirinya benar-benar penasaran, ingin tau yang sebenarnya.


Hingga, suara asing didengarnya, suara lembut seorang pemuda.


"Makan yang banyak, aku ingin usahaku semalam tidak sia-sia. Aku ingin dia tumbuh dengan baik," ucapnya tersenyum, mengacak-acak rambut Dora, setelah memberikan tumpukan daging dan sayuran pada piring wanita itu.


"Ka... kamu bisa bicara?" tanya Amanda tertegun sesaat.


Yoka hanya tersenyum, memilih tidak menjawabnya. Seorang pelayan tiba, membawakan mix juice, menyuguhkan di hadapan Dora.


Adakah janin di kandungannya? Masa bodoh, yang jelas menahan wanita ini adalah tujuannya. Obsesi dan cinta yang mungkin sejalan menjadi sesuatu yang mengerikan di kemudian hari.


"Tuan muda, besok adalah acara pernikahan anda. Perlukah saya memberitahukan pada tuan dan nyonya?" tanya Arsen.


"Tidak, namaku sudah lama dikeluarkan oleh Martin dari kartu keluarga. Kita tidak memiliki kepentingan administrasi dengan mereka. Lagipula Amanda akan dengan senang hati melaporkan segalanya," jawab Yoka masih konsentrasi pada makanan di hadapannya.


"Be...besok? Aku masih kuliah, lagi pula," kata-kata Dora terhenti, pemuda itu masih saja tersenyum, namun terlihat menakutkan baginya.


"Tidak ingin menikah denganku? Kamu mempunyai pria lain?" pertanyaan dari Yoka, pertanyaan yang tidak dapat dibantah olehnya.


"Aku...aku kita anggap kejadian semalam angin lalu saja. Lagi pula, ada mungkinan aku tidak hamil, jadi..." kata-kata Dora terhenti, pemuda itu menyuapinya dengan sepotong daging.


"Kamu adalah nyonya di villa ini, ini juga rumahmu," Yoka berucap dengan lembut kali ini, mengusap sudut bibir wanita di hadapannya dengan sehelai tissue.


Tissue atau saputangan? Tidak, Dora adalah keluarganya. Tidak ada tissue atau saputangan, sesuatu yang menjadi bagian dari hidupnya.


Dora menghela napas kasar, mungkin perubahan sifat Yoka tidak terlalu buruk. Cukup baik juga, wajah rupawan, dan bersedia melindunginya.


"Arsen, pasang sekat kaca besar pada kolam renang belakang rumah, pasang tembok dengan kawat berduri yang lebih tinggi lagi, satu lagi pastikan jemput Dora tepat waktu. Jangan biarkan dia mengenal pria lain," tegasnya dengan meminum air putih, kembali melanjutkan makannya.


Dora mengenyitkan keningnya, dirinya benar-benar seperti dalam penjara. Apa Anggeline juga mengalaminya hingga berhasil melarikan diri?


"Yoka! Kita dijodohkan! Kamu tidak memandangku sama sekali!" bentak Amanda tiba-tiba.


"Tidak, kamu hanya menumpang hidup padaku, tinggal di villa milikku tanpa membayar uang sewa, sebaiknya hormati nyonya pemilik villa ini, jika urat malumu masih ada..." cibirnya, benar-benar kata-kata menusuk dari mulutnya.


Siapa yang sangka pemuda yang tidak mengeluarkan suara, sekali berkicau dapat mengerikan seperti ini. Amanda terdiam sejenak, bingung harus menjawab bagaimana.


"Yoka! Kejar dia!" Dora menarik lengan kemeja yang dipakai pemuda yang duduk di sampingnya.


"Makan! Kemudian bersihkan diri! Mulai sekarang kamu tidur di kamarku, agar tidak melarikan diri tengah malam." Kata-kata dari Yoka membuat Dora semakin ketakutan, pemuda yang tiba-tiba menjadi posesif.


Mengapa dapat menjadi seperti ini? Yoka tidak ingin kehilangan apapun lagi, seperti kala dirinya berusia 11 tahun. Menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, tubuh ibunya yang berlumuran darah. Pakaian yang tidak sempurna melekat di tubuhnya.


Dendam? Dirinya hanya memiliki Narendra sebagai ayahnya. Namun kini berbeda, dirinya memiliki Dora. Menentang Narendra? Itulah yang akan dilakukannya. Tidak ingin Dora kehilangan nyawanya seperti yang dialami Melda.


*


Martin memarkirkan mobilnya, menghela napas kasar menatap villa di hadapannya. Semua kejadian sudah dikatakan oleh putranya. Pria yang menghela napas kasar, mengingat segalanya kala Melda akan dijodohkan dengan Narendra.


Mengingat wajah rupawan yang menyisir rambut panjangnya, menatap ke arah cermin. Sejenak meletakkan sisirnya dengan cepat. Mengatakan aku tidak ingin menikah, menangis terisak. Tidak mengenal Narendra, tidak mungkin mencintainya. Jemari tangan Martin mengepal saat itu, dirinya hanya anak dari seorang pelayan. Menggenggam jemari tangan Melda, meyakinkannya untuk mengikuti keinginan orang tuanya.


Benar-benar bodoh, mencintai Melda sejak lama. Seharusnya dirinya tidak membiarkan pernikahan itu terjadi, pernikahan yang hanya melukai Melda dari awal hingga akhir.


"Andai bukan Narendra, andai itu aku..." gumamnya, menahan rasa sakit di hatinya, mengingat saat dirinya menemukan Melda bersimbah darah dengan pakaian yang terkoyak. Hampir semua pakaiannya tanggal, tubuh yang mengenaskan, beberapa luka lebam bahkan terlihat.


Gadis cantik yang tumbuh dewasa bersamanya, berakhir mengenaskan. Bahkan Yoka hanya merangkak dari bawah tempat tidur, menyadari keberadaan Martin. Anak yang tidak bicara sama sekali, mengikutinya dalam tangisan.


Martin melepaskan kacamatanya sejenak, hanya untuk menghapus air matanya.


"Andai yang menikah denganmu adalah aku..." gumamnya, tidak dapat merubah takdir. Berjalan masuk ke dalam villa.


Perlahan wajah itu terlihat tersenyum padanya, mendekati ayahnya.


"Kakak sudah bisa bicara, aku benar bukan? Aku bisa," Samy menyambut kedatangan ayahnya, tersenyum menunggu pujian.


"Tentu saja, ibumu akan senang..." jawab Martin, merangkul pundak putranya.


Putra kebanggaannya, anak yang memiliki ambisi, dendam, serta hati yang rapuh.


"Aku akan memanggil Yoka di ruang makan, ayah tunggu disini dulu!" ucapnya berlari dengan cepat tidak memikirkan apapun.


"Dasar!" gumam Martin tertawa kecil, hanya Samy yang dimilikinya. Karena itu, apapun yang diinginkan putranya akan dikabulkannya.


Wajah Martin tetap tersenyum, sedikit melirik ke arah foto besar pernikahan Narendra dan Melda.


"Nona..." gumamnya tersenyum lirih.


*


Dengan cepat Samy berlari, menatap suasana tegang di meja makan. Ini benar-benar keterlaluan, apa begini caranya mendekati wanita dengan mengekangnya?


Sudah terlihat dari gerak-geriknya Dora merasa tidak nyaman. Seharusnya Yoka belajar dari dirinya.


"Yoka, aku mempunyai video tutorial adegan dewasa di kolam renang. Kamu mau mencobanya, setelah acara pernikahan..." ucapnya pada Yoka sedikit melirik ke arah Dora.


Dora membulatkan matanya. Sampai sekarang dirinya masih berusaha tidak berjalan seperti pinguin, menahan rasa perih. Dan sekarang tutorial kolam renang?!


Plak!


Kepala Samy kembali dipukul.


"Karenamu aku tidak perawan lagi! Terjebak menikah dengan Yoka! Seumur hidup aku akan membencimu!" teriakannya penuh angkara murka, menjambak rambut Samy dengan kencang.


"Kirimkan video tutorialnya, aku ingin mencobanya." Dengan tenang Yoka menjawabnya, membiarkan dua makhluk tengil itu berkelahi.