Silent

Silent
Protect



...Aku mencintaimu? Apakah benar? Rasa takut yang akan menjadi ingatan indah, kala aku terbangun....


...Mengingat segalanya, dalam kegelapan dan deru suara petir, bukan ingatan buruk tentang mata ibuku yang terbuka, tubuhnya yang pucat pasi, mendingin....


...Namun, pagi ini bukan ingatan itu yang akan terbayang, saat gelap menghampiri. Sebuah ingatan dimana aku menyerahkan nyawaku padamu....


...Meletakkan hatiku dalam dirimu. Aku mencintaimu Dora....


Yoka.


Matahari kini telah meninggi, cahaya terang yang menembus jendela tertutup, tanpa tirai. Beberapa dedaunan masih setengah kering, angin yang hangat terasa.


Beberapa helai pakaian masih berceceran di lantai dan tempat tidur. Setetes air mengalir dari kelopak bunga mawar, yang seolah tersenyum, menemukan tetesan air hujan.


Hangat, dirinya merasakan kehangatan kala memeluk tubuh itu lagi. Matanya seakan tidak ingin terbuka. Mencintainya? Dirinya benar-benar ditaklukkan oleh tissuenya. Yang mana sejatinya selembar tissue? Entahlah namun, dirinya tidak dapat tanpanya. Nyawa? Bahkan beberapa kali dirinya menggunakan tubuhnya untuk melindungi gadis ini.


"Dia milikku..." batin sang pemuda, masih berpura-pura tertidur dalam senyuman. Memeluk tubuh yang tidak mengenakkan sehelai benangpun, hanya tertutup selimut tebal.


Perasaan yang benar-benar aneh, dari sinilah segalanya akan berubah. Tidak akan sama seperti dahulu.


"Nyaman," gumam Dora tanpa membuka matanya, masih memeluk tubuh Yoka, bahkan lebih erat.


Namun sejenak dirinya mulai membuka mata, menonggakkan kepalanya. Wajah pemuda yang tengah menutup mata terlihat. Benar, dirinya bermimpi melakukannya dengan Yoka. Ini hanya mimpi mesumnya, si bisu tidak dapat bicara. Tidak mungkin mengatakan mencintai dirinya. Dengan bodohnya Dora kembali memejamkan matanya.


"Ingin lagi?" suara dari sang pemuda, tepat di telinganya, membuat Dora membulatkan matanya.


"Ini bukan mimpi?!" teriaknya, menendang Yoka hingga jatuh dari tempat tidur dengan sekuat tenaganya.


Benar-benar tidak memakai pakaian, Dora menelan ludahnya, menatap ke arah lain. Menutup matanya sendiri, dirinya benar-benar sudah melakukannya.


Yoka menghela napas kasar, bangkit dari lantai, meraih piyama berbentuk kimono di lemarinya, kemudian mengenakannya.


"Dasar bisu! Bagaimana jika aku hamil?! Aku tidak mau menikah denganmu!" teriak Dora dalam tangisan, dirinya benar-benar melakukannya. Seolah-olah melupakan semalam tidak ada perlawanan darinya. Membiarkan Yoka melakukan segalanya.


Yoka menghentikan jemari tangannya yang tengah mengikat tali piyama sejenak. Kemudian tersenyum, kembali mengenakan piyamanya dengan baik. Pemuda yang berbalik berjalan mendekatinya.


Semalam entah berapa kata bujukan yang telah diucapkannya. Untuk membuat Dora diam kala dirinya memberikan benihnya. Sekali? Tidak, itu tidak cukup, bukan hanya karena pengaruh obat. Tapi karena gadis ini selalu mengganggu fikirannya, bagaikan seekor kelinci kecil yang bermain dengan singa muda. Seekor singa yang tidak dapat mengeluarkan cakar dan taringnya.


Begitu cakar dan taring itu keluar, maka sang singa muda menghabisi kelinci tanpa ampun.


"Tidak mau?" Yoka mendekat ke arahnya, detak jantung Dora saat ini benar-benar tidak stabil. Wajah yang begitu dekat mungkin berjarak beberapa centimeter darinya. Bukan nada suara pria yang putus asa lagi terdengar, seperti semalam. Tapi benar-benar mendominasi, ketakutan? Mungkin itulah yang tiba-tiba dirasakannya.


"Iya! Tidak mau! Kamu hanya pria lembek yang terlalu baik! Tidak akan dapat melindungiku! Kita lupakan saja yang terjadi malam ini!" ucapnya berusaha menyembunyikan rasa takutnya.


"Melupakannya? Dengar, aku akan melindungimu dan anakku nanti. Walaupun aku harus menjadi iblis..." bisik Yoka di telinganya. Nada suara yang terdengar berat, tersenyum tepat di lehernya.


Ketakutan? Bagaikan dua orang yang berbeda. Ini bukan si bisu, atau lebih tepatnya sifatnya benar-benar berubah. Tidak main-main dengan kata-katanya.


Yoka berjalan meraih gagang telepon, menghubungi pelayan yang berada di lantai satu. Guna membereskan kamarnya dan membawakan pakaian ganti untuk Dora.


Sedangkan Dora meringis, menggulung dirinya ke dalam selimut berusaha bergerak ke kamar mandi. Entah berapa kali pemuda itu melakukannya, menggodanya untuk mengikuti keinginannya.


Benar-benar wanita aneh. Tidak romantis? Itulah Yoka bukan? Tubuh Dora diangkat paksa seperti pikulan beras, diturunkan di atas bathtub, keran air mulai dinyalakannya.


"Kamu keluar! Aku bisa sendiri!" ucap Dora mencoba mendorong sang pemuda. Dengan cepat Yoka menarik selimut Dora, menatap wanita itu berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya. Benar-benar brutal, entah berapa cetakan keunguan terlihat disana dengan Yoka sebagai pelakunya.


Mati-matian pemuda itu menahan tawanya, tidak menyadari tubuhnya sendiri dipenuhi tanda serupa, bahkan cakaran kuku seorang gadis. Benar-benar dua orang yang sama brutalnya.


"Jika terus melawan aku akan melecehkanmu lagi." Kata-kata Yoka membuat Dora seketika tertunduk diam. Membiarkan tubuhnya dibersihkan, bahkan pemuda itu mulai mencuci rambutnya.


"Kita lupakan yang terjadi malam ini, lagi pula ada kemungkinan tidak hamil." Wajah Dora tertunduk. Masih meyakini Yoka menyukainya hanya karena wajahnya yang mirip dengan Anggeline. Dapat membuangnya suatu hari nanti saat Anggeline kembali.


Pemuda itu menghela napas kasar, benar-benar tidak menyukai situasi saat ini.


"Aku akan menghancurkan orang-orang yang menghinamu." Kata-kata tidak dapat dibantah darinya.


"Aku tidak menyukaimu! Kamu tidak akan dapat melindungiku! Keluargamu terlalu mengerikan!" bentak Dora mengepalkan tangannya.


"Kita akan menikah, jangan membantah." Yoka menatap tajam padanya sesaat, bagaikan seorang pemuda yang dapat menelannya bulat-bulat. Takut? Tentu saja, nyalinya tiba-tiba ciut.


Wajah itu ditatapnya lagi, pemuda yang masih konsentrasi membersihkan tubuhnya.


"Apa dia si bisu? Kenapa setelah mulai bicara malah menjadi mengerikan?!" batinnya, terus mengamati pemuda yang membersihkan setiap lekuk tubuhnya. Dirinya sama sekali tidak dapat melawan atau membantahnya.


"Aku memang terlahir dengan ketampanan yang tidak dapat dielakkan. Wajah rupawan maksimal, terlalu lama melihatnya, kamu akan semakin menyukaiku..." Kata-kata dari bibir Yoka, membuat Dora membulatkan matanya.


Bukan hanya mengerikan, tapi juga narsis. Sekarang terlihat jelas, bagaimana ini akan terjadi. Perubahan drastis dari sifat Yoka hanya dalam semalam, setelah melepaskan keperjakaannya. Ini benar-benar aneh bagi Dora, pemuda yang dapat bicara dalam semalam. Apa pemicunya? Entahlah, namun lebih baik pemuda ini tetap diam saja.


*


Kamar yang telah rapi, Yoka telah membersikan diri, sprei juga sudah diganti, noda darah yang mungkin membuat para pelayan akan membicarakannya. Dirinya benar-benar malu, sangat amat sangat malu.


"Aku akan mengantarmu kuliah siang ini," ucap sang pemuda memakan makanan di hadapannya dengan tenang.


"Tapi kamu jarang keluar rumah kan?! Menghindari keramaian!" bentak Dora, tidak ingin bersama lebih lama dengan pemuda yang sulit untuk ditebaknya, tidak ingin pemuda itu membuat masalah untuknya lagi.


Masalah? Mungkin masalah seperti semalam. Sebuah kesalahan yang membuatnya harus berhadapan dengan seekor monster.


Yoka meletakkan garpunya, menatap dingin padanya.


"Kamu berani mempunyai kekasih di kampus?" tanyanya.


"Tidak, tapi..." kata-kata Dora kembali disela.


"Aku yang akan mengantarmu. Aku juga harus mulai meninjau usaha warisan ibuku," jawaban dari Yoka.


Apa yang membuatnya berubah? Kini kenangan rasa traumanya mulai menghilang. Bukan malam gelap dimana tetesan darah ibunya yang mengalir terbayang. Namun tangan hangat Dora yang ada bersamanya dalam kegelapan, memeluk tubuhnya.


Sesuatu yang harus dilindunginya, saat ini.