Silent

Silent
16 # Zara Pengen Imam Seperti Dia!!



Assalamualaikum temen temen, gimana kabar kalian semua??, Semoga sehat selalu yaaa.. gimana reaksi kalian liat notif dari Nana??


.


.


Absen dulu dong yang udah buka notif dari Nana, seneng gak??. Yaudah langsung baca aja ya, semoga kalian suka sama cerita Nana disetiap part nya.


.


.


Happy Reading ♥️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Assalamualaikum." Salam Fendi.


Abram dan Sholeh menolehkan kepalanya, terkejut melihat siapa yang mengucap salam padanya.


"Waalaikumsalam. Fendi?" Abram dan Sholeh masih tak percaya, kenapa Fendi bisa ada disini.


"Gimana kabar kamu?" Tanya Sholeh.


"Alhamdulillah bak, kamu dan pak Abram gimana?"


"Alhamdulillah baik juga." Jawab Abram dan Sholeh.


"Kamu kesini sama siapa?" Tanya Abram.


"Sama mereka pak." Abram menolehkan dan menyorotkan pandangannya kearah beberapa laki laki yang diketahui sebagai karyawan nya itu, memakai peci, Koko dan sarung.


"Saya sudah diundang sama pak Abram. Tidak mungkin saya menolak dan tidak mendatangi undangan pak Abram." Ucap Fendi. Laki laki itu sangat pemalu namun ia sangat sopan kepada semua orang.


"Kamu sudah dapat makanan?" Tanya Abram, selaku panitia dia harus memastikan semua orang mendapatkan makanan.


"Sudah pak, tapi saya lihat tadi wanita sama perempuan yang membagikan makanan untuk jamaah wanita tidak kebagian. Mereka memberikan jatah mereka untuk orang lain." Jujur Fendi, dia sangat jujur untuk hal sekecil apapun. Oleh karena itu Abram memilihnya sebagai penggantinya untuk mengurus cafe Abram.


Abram melihat kearah makanan miliknya, milik Fendi dan Sholeh. Ia berniat akan memberikannya, biar walaupun ia tidak kebagian. Asalkan semua orang mendapatkan makanan.


"Berapa yang tidak kebagian?" Tanya Abram.


"Kayaknya tiga orang pak. Kebetulan tadi saya masuk lihat mereka tidak memegang makanan." Jawab Fendi.


"Apa kalian ikhlas jika saya minta makanan kalian Sholeh, Fendi untuk diberikan kepada mereka?" Tanya Abram.


"Saya senang jika harus memberi maka saya ikhlas." Jawab Sholeh.


"Saya juga pak." Jawab Fendi.


"Baiklah, kita berikan kepada mereka." Abram, Sholeh dan Fendi berjalan ke orang yang dimaksud.


Raluna yang duduk mendengar ceramah, merasa ada yang mendekati. Raluna menoleh dan benar ketiga laki laki berpeci hitam dengan gamis putih mendekat kearah mereka duduk.


"Assalamualaikum. Kami kesini mengantarkan makanan untuk kalian." Abram menaruh tiga kotak putih didekat mereka kemudian pergi bersama sahabatnya.


Raluna salam menjawab dalam hati, ia melihat kearah makanan yang diberikan Abram. Ia bertanya tanya, kenapa bisa tiba tiba ia mengantarkan makanan apa ia tau jika ia Zara dan uminya tidak kebagian? Akhhh Raluna yang benar saja jangan gr!.


"Masyaallah, Allahuakbar. Yaallah berikanlah setidaknya salah satu seperti mereka tadi yaallah." Pekik Zara pelan.


Raluna menepuk paha Zara, "ish Zara."


"Yaallah Raluna, kamu bilang Abram itu menyebalkan?. Kalau aku sih udah buang kekesalan itu kalau Abram nya itu Sholeh, sopan, baik, pengertian bonus tampan." Kata Zara pelan.


Zara menyatukan tangannya, seperti orang berdoa. "Yaallah, semoga aku sama Raluna dapet jodoh suami seperti salah satu dari mereka aminn. Kalau salah satu dari mereka juga gak papa."


"Aminnn." Raluna hanya menjawab saja. Memang impiannya mempunyai suami sholeh, baik, sederhana dan ia akan menjadi istri yang baik dan Sholehah.


.


.


.


Keesokan harinya, Zara dan Raluna sudah bangun dari jam 3 pagi untuk sholat tahajjud. Setelah membantu saidah memasak mereka pun makan bersama dan akan melakukan perjalanan untuk ikut Zara ke suatu tempat seperti yang Zara bilang kemaren kemaren.


"Hati hati ya nak, Zara jangan nyetir sendiri ya. Umur kamu masing kurang, jadi lebih baik jaga jaga saja." Peringat Saidah.


Zara mengangguk, "Iya umi, beneran nih umi gak mau ikut?"


"Enggak usah, kalian berdua saja. Tapi kalian janji ya, saling menjaga satu sama lain. Pelan pelan saja jalannya, asalkan selamat sampai tujuan." Pesan Saidah.


"Oh iya, Abi kamu sudah umi kasih tau dan Abi kamu kasih izin."


"Makasih umi." Raluna dan Zara memeluk Saidah, tujuan Zara mengajak Raluna adalah untuk mengajak sahabatnya ini pergi ke pantai.


Raluna mencium pipi Saidah, dan manyalami punggung tangan Saidah, "Raluna sama Zara berangkat dulu ya umi. Assalamualaikum.'


"Waalaikumsalam. Hati hati."


"Iya umi." Mereka berdua memakai baju yang sama, gamis warna navy, dengan kerudung dan masker yang senada. Tanpa make up Raluna dan Zara sudah putih bersih alami.


Dengan paras yang memang keduanya sama sama sangat cantik, walaupun Raluna dan Zara tidak memakai cadar, mereka menutupi kecantikan mereka jika dihadapan banyak orang dengan memakai masker.


Zara mencolek lengan Raluna, "Raluna."


Raluna menolehkan kepalanya, "apa?"


"Eummm, aku mau ngomong" cicit Zara.


"Ngomong apa?"


"Eummm, enggak jadi deh." Raluna menggeleng geleng kan kepalanya, Raluna tau ada yang mau Zara sampaikan namun ia mengerti bahwa Zara belum siap menyampaikannya.


Setengah jam perjalanan mereka sampai di pantai, hamparan laut biru yang sangat indah. Juga teriknya matahari pagi, hembusan angin menambah sensasi indah di pantai ini.


"Raluna, mau main pasir?" tanya Zara, Raluna mengangguk semangat.


Mereka berdua bermain pasir dengan sekop kecil yang Zara bawa. Berlari lari didekat bibir pantai. Gelak tawa menghiasi wajah mereka.


Raluna dan Zara kini sudah lelah bermain, mereka duduk diatas kayu besar, dibawah rindangnya pohon. Susana sejuk menerpa wajah mereka.


Mata Raluna tak sengaja menangkap batu bening yang sangat indah, "mau kemana Raluna?" Panggil Zara.


Raluna meraih batu itu, membawanya kembali dan duduk disamping Zara. "Bagus ya Zara." Raluna menunjukkan batu itu.


"Waawww bagus, kamu dapat dari mana?"


"Tadi Raluna ambil dari situ."


"Owhhh, bagus. Bawa pulang aja." Usul Zara.


"Gaboleh, nanti Raluna kembali in batu ini kesana."


"Kenapa gak dibawa aja?"


"Gak tau, tapi kata umi gaboleh ambil barang atau apapun di sembarang tempat." Mendengar hal itu Zara ber oh mengerti.


"Udah panas nih, balik yuk." Ajak Zara.


"Ayo."


Mereka pergi dari pantai, melajukan mobil mereka ke sebuah cafe.


Raluna dan Zara memasuki cafe itu, bak putri yang masuk semua atensi tertuju pada mereka. Raluna mencolek lengan Zara, "Zara, cari cafe lain Zara. atau nanti makan dirumah raluna aja."


"Tanggung udah masuk, kita dipojok sana saja." Zara menarik tentang Raluna


Raluna dan Zara duduk dipojok, mereka didatangi seorang pelayan. Zara mengenali wajah itu, 'ini kan salah satu laki laki berpeci yang tadi malam ngasih makanan bersama kak Abram' batin Zara.


"Ini menu nya." Zara mengambil menu itu dan menunjukkan nya kepada Raluna.


"Tiramisu 1, jus alpukat plus ice-cream. Makanannya nasi bakar ayam bumbu 2." Ucap Zara, pelayan itu menulis pesanan Zara dan Raluna dan pergi untuk membuatkan pesanan mereka.


.


.


Selesai makan, mereka berdua pulang kerumah Raluna. Disana sudah ada Saidah dan Usman.


"Assalamualaikum Abi, umi."


"Waalaikumsalam."


Raluna dan Zara menyalami punggung tangan mereka berdua Usman dan Saidah. Kini sudah jam 3 sore. Mereka tadi sholat dhuhur di masjid.


.


.


Pagi hari, Zara dan Raluna pergi kesekolah. Manaiki sepeda kayuh bersama senyum dan tawa menghiasi perjalanan mereka berdua, sampai disekolah raluna dan Zara berjalanan dikoridor menuju kelas mereka berdua.


"Heh, Lo kemarin bawa kucing kesekolah?!" Tak ada angin tak ada hujan, satu siswi perempuan menghadang mereka berdua.


"Kemarin kan libur." Koreksi Zara dengan senyum miringnya, bicara sudah salah.


"M-maksud gue hari Sabtu." Koreksi gadis itu.


"Iya kenapa?" Tanya Raluna.


"Lo tanya kenapa! Sudah tau itu gaboleh disekolah ini. Kenapa Lo bawa?"


"Lo!" Tekan Zara.


"Gaada kerjaan banget. Ngurusin orang, urus diri Lo dulu. Nilai orang lain pinter banget, nilai diri sendiri gak bisa." Lanjut Zara sambil memperhatikan pakaian cewek didepannya ini.


"Kurang ajar Lo ya!" Tunjuk cewek itu.


"Denger ya, yang paling salah itu Lo. Pakai seragam udah diatas lutut. Ketat lagi. Mana dasi gaada. Itu yang harusnya gaboleh karena peraturan disekolah, seragam harus dibawah lutut! Dan baju gaboleh ketat." Balas Zara.


"Hello!, Yang cari gara gara siapa dulu!?, Lo kan!, Jadi apa salahnya gue koreksi juga kesalahan Lo."


"Udah Zara. Memang Raluna yang salah." Bisik Raluna.


"Ckk." Cewek itu kemudian pergi dengan rasa dongkolnya. Mengoceh tak karuan. Suruh siapa berdebat dengan Zara.


.


.


Bel berbunyi, semua siswa dan siswi dengan cepat mengosongi koridor dan masuk kedalam kelasnya masing masing. Disisi lain kini kelima cowok sedang berlari menuju gerbang yang hendak ditutup.


Pertanyaannya kemana motor dan mobil mereka?, Tapi jawabannya disita berjamaah. Salahkan Brendan dan Bryan, Mereka melihat Vidio biru dan tanpa mereka sadari adik Edgar, Deanno dan Ryan tak sengaja melihat aktivitas mereka berdua nobar.


Alhasil Brendan dan Bryan kena semprot Edgar, Deanno, dan Ryan. Dan parahnya masalah ini bocor ke orang tua mereka, karena tak sengaja adik Ryan mengadukan ke maminya kalau, kak Bryan dan Brendan melihat orang tidak pakai baju. Mami Ryan bertanya pada adiknya, apa dia juga lihat dengan polosnya adik Ryan mengangguk.


Berhubung orang tua lima cowok itu berteman bahkan bersahabat, ibu Ryan langsung menghubungi semua orang tua teman anaknya. Siapa lagi jika bukan Edgar, Deanno, Bryan, dan Brendan. Mengadukan semua hal kepada mami mereka.


Alhasil, mereka berdua kena semprot dua hari dua malam. Dan semua fasilitas mereka disita dalam waktu satu bulan. Dah jadinya mereka seperti saat ini, naik angkot dan turun berlari menuju gerbang yang hendak ditutup.


"Pak! pak! pak! Bukak dong pak, cuma telat lima menit doang pak!" Bujuk Brendan.


"Gak boleh!, Sekali telat tetap telat!" Tolak satpam itu.


"Yaelah, pak satpam gundul pelit amat si pak!"


"Iya pak, nanti saya traktir deh pak satu Minggu full." Bujuk Bryan.


"Satu Minggu dengkul Lo! Jajan sehari aja gue dikasih lima puluh rebu sama mami!" Ryan menoyor kepala Bryan.


"Goflokk! Gue sama mami dikasih tiga puluh rebu!" Saut Brendan.


"Oh iya, gimana jajan Lo gar, no?" Tanya Brendan.


"Kita gak semenyedihkan kalian." Balas Edgar.


"Whatt, berarti uang jajan Lo gak dipotong dong?" Tanya Ryan.


"Dua puluh ribu." Jawab Deanno.


"Anjay, si sultan jajan 20 rebu. Kalo Edgar si gue gak yakin uang jajannya di potong. Soalnya kan mami Regan gak tegaan." Selidik Brendan.


"Nahh, bener. Mami mami kita tidak kasihan." Ucap Bryan dramatis.


"Eh eh, Napa bahas uang jajan. Gak jadi mohon mohon dibukain gerbang lagi?" Ucapan satpam itu membuat kelima cowok itu menoleh.


"Gak jadi, kami sudah kere. Mending loncat tembok. Dada pak gendul pelit!" Kelima cowok itu ngacir, pergi ke tempat mereka masuk ke sekolah jika sedang bolos. Jalan buaya.


Dengan lihainya kelima cowok itu maniku tembok tinggi itu, turun dengan tumpuan kaki mereka. dibayangkan saja sudah pasti kaki ngilu duluan.


"Anj-hmppp" hampir saja Brendan mengumpat, jika tidak ditutupi mulutnya oleh Deanno.


"Diem, kena batu doang."


Dengan pasrah, mereka berlima berjalan mengendap ngendap ke kelas mereka. Brendan yang kakinya masih nyut nyutan terpaksa berjalan mengikuti mereka.


"Woy, ngantin dulu gak? Haus nih." Tanya Bryan.


"Gasss!" Kelima cowok itu mampir ke kantin terlebih dahulu. Para penjaga kantin dibuat menganga oleh ulah mereka.


"Bukk! Bryan ganteng mau pesen es jambu 5, nanti yang bayar Ryan!" Setelah mengatakan itu, dengan bangganya Bryan duduk bersama ke empat sahabatnya.


Ryan yang disuruh membayar melotot, yakali harganya lima ribuan dikali 5 jadi dua puluh lima rebu dong. Emang bener bener di anak minta buang ke got.


"Emang ngajak gelud Lo Bryan! Uang jajan gue 50.000 rebu nyet!" Balas Ryan tak terima, uang jajannya sudah 50.000 rebu sehari full, harus dipotong setengah.


"Ya lokan sultan."


"Itu sebelum kita dihukum, sekarang gue gembel. Tapi berhubung gue baik hati gak papa."


"Elah, basa basi Lo." Balas Brendan.


"Gue masih mampu bayar sendiri." Ucap Edgar.


"Berapapun uang yang dikasih mami, gue syukurin." Lanjut Edgar.


"Tuh. Tiru pak ketu Edgar, denger ryann?" Sindir Bryan.


"Iya deh, gue bersyukur." Ucap Ryan pasrah.


Tak lama kemudian, Buk Yuni datang membawa pesanan mereka, "Hebat kalian udah mau jam setengah delapan masih kesini." Ucap ibuk kantin itu tak percaya.


Bryan menyugar rambutnya sombong, "kita gitu loh buk."


Penjaga kantin yang diketahui namanya buk Yuni itu pergi sambil menggeleng geleng kan kepalanya.


Kelima cowok itu langsung meminum haus minuman mereka, setelah selesai mereka langsung ngacir ke kelas. Dilihatnya jam tangan Deanno sudah jam 8 mereka langsung ngacir pergi ke kelas.


Penampakan horor tengah mereka lihat, dimana Bu gendut yang garang, sedang mengisi mata pelajarannya ahhh! kenapa mereka bisa lupa kalau saat ini mata pelajaran Bu gendut.


"Kacau kacau, gimana ni. Bu gendut udah ngisi."


"Masuk aja. Nitip absen, ntar kalau dihukum keluar."


"Woke."


Dengan seluruh keberanian Edgar mengetuk pintu kelas, "siapa?!" suara lantang Bu gendut membuat nyali mereka ciut.


Dibukanya pintu kelas, Bu gendut sudah ada didepan mereka menatap mereka dengan penuh introgasi.


"Bela!, Tulis mereka masuk. Edgar, Deanno, Bryan, Brendan dan Ryan! Teriak Bu gendut itu."


"B-baik Bu." Balas bela.


Guru gendut itu menolehkan kepalanya, "dan kalian berlima, lari lapangan sepuluh kali! Dan jangan kesini sampai pelajaran saya selesai." Sudah mereka duga. Dengan kesenangan mereka pergi, karena sudah diabsen plus mereka akan bersantai di markas.


"Baik Bu." Kelima cowok itu ngacir, hukuman mengelilingi lapangan saja kecil bagi mereka yang sudah berulang ulang kali melakukannya.


.


Dikelas Raluna


.


"Raluna, ini gimana aksara aksara ini." Bisik Zara kepada Raluna.


"Raluna juga gak terlalu inget kalau yang aksara Zara." Balas Raluna.


"Bentar bentar kalau dilihat kok kayak tulisan Thailand ya?" Raluna menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.


"Iya, nih kalau gak percaya tulisan Thailand." Zara memberikan sebuah buku yang ada tulisan Thailand nya. Tepatnya buku novel Zara.


"Iya kok mirip mirip ya." Mata pelajaran yang menurut Raluna menyeramkan ini ternyata punya keunikan. Aksara Jawa nya jika sekilas mirip tulisan Thailand.


"Apa nenek moyang dulu colab sama orang Thailand ya." gurau Zara.


"Iya mungkin."


"Ekhem.. dikerjakan tugasnya." Suara guru bahasa Jawa, membuat mereka berdua memfokuskan lagi pada buku mereka.


"Oh iya, saya mau bahas soal ulangan waktu itu." Suara guru itu membuat Raluna dan Zara mendongakkan pandangannya.


'kacau kacau, kalau pak guru kasih tau isi jawaban aku gimana?' batin Zara.


'astaghfirullah gimana kalau pak guru bahas isi jawaban ulangan waktu itu, kenapa lagi aku isi sama bahasa inggris.' batin Raluna.


"Saya cuma mau bahas nilainya, saya sebutkan satu satu." Hahhh ucapan guru tadi itu membuat Raluna dan Zara menghembuskan nafas lega.


"......80, .....75, .....90, .....70, .....80, .....85, ......90, .....67, .....50, .....65, .....72, ......64, ......83, .....64, .....57, .....61, ......69, ......87, ......74, .....76, .....92, .....77, .....90, Raluna 80, ......78, ......65, ......87, dan Zara 80."


"Saya heran, nilai kalian kenapa ada yang dibawah KKM padahal kelas ini kelas faforit. Pemegang KKM bertahan. Giliran mata pelajaran saya ada yang dibawah KKM. Herannya kalian itu pencetak diatas 80 keatas kalau bukan pelajaran saya, tapi kalau mata pelajaran saya seperti ini?" Ucap guru itu agak kecewa.


"Pak, boleh berkomentar?" Zara mengangkat tangannya tanda tidak setuju akan omongan guru itu.


"Ya, boleh."


"Bapak seharusnya hargai semua siswa dapat nilai berapapun itu, karena semua orang pasti punya kelemahan. Hargai nilai itu juga bentuk usaha kita, besar kecilnya." Ucap Zara. Guru itu tertegun dan diam.


"Zara udah jangan gitu." Bisik Raluna. Zara dan Raluna kembali mengerjakan tugas. Zara masih tak percaya, dirinya yang sangat lemah bahasa Jawa kenapa nilainya 80 oh oh oh mungkin ini yang namanya usaha tidak menghianati hasil.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Assalamualaikum temen temen, gak kerasa udah nyampe di penghujung aja. Terus ikutin cerita Raluna ya. Nanti aku kasih banyak kejutan sama kalian.


.


.


Jangan lupa happy selalu, Nana tinggal dulu.


Sampai ketemu di bab selanjutnya babayyyyyy!!!!!!!!


.


.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏


.


.


.


26 Maret 2022