Silent

Silent
Segalanya



Menyerah? Itulah yang terjadi pada akhirnya. Chery bersedia bicara dengan Samy di sebuah cafe dekat bandara.


"Jangan salah paham! Aku menciummu lagi, hanya menghukummu, karena sudah berpura-pura masih pingsan..." alasan Samy, menjaga citranya sebagai pemuda dingin. Benar-benar persamaan antara kakak, ayah dan adik yang gengsian.


"Aku tahu, aku sekarang mau pulang menjemput adikku!" Chery menghela napas kasar mulai bangkit.


"Apa adikmu bernama Dora?" tanya Samy pada Chery. Dengan cepat Chery mengangguk.


"Kamu mengenal adikku?" tanyanya.


"Aku asisten dari suami adikmu. Karena itu jangan pergi, biarkan mereka menghabiskan waktu berdua saja," ucap Samy menghela napas kasar.


"Dengar! Tidak ada satu pria pun yang pantas bersanding dengan adikku! Semua pria sama br*ngeseknya!" tegas Chery.


"Kamu tahu rasanya melakukannya? Itu sangat nikmat. Sepasang tubuh yang berbeda jenis saling mendekap, menyatu perlahan, menyalurkan napsu atau kasih sayang mereka. Mereka sudah pernah melakukannya dan bahkan akan memiliki anak. Dua kata untukmu yang iri, perawan tua..." cibir Samy penuh senyuman.


"Dasar playboy maniak! Mungkin ratusan wanita sudah kamu tiduri! Tidak takut tertular penyakit?!" komat-kamit mulut pedas Chery mengomel.


"Jangan sembarangan aku masih perjaka..." Samy menghentikan kata-katanya, melihat ke arah lain merasa salah bicara.


Senyuman terlihat di mulut Chery."Kamu masih perjaka. Tapi berkata berhubungan nikmat. Inilah calon seorang perjaka tua," cibirnya balik, mengedipkan sebelah matanya, kemudian berjalan meninggalkan Samy.


Sedangkan pemuda itu menatap ke arah punggung Chery yang perlahan meninggalkan cafe.


"Kamu tidak tahu rasanya. Aku juga tidak tahu rasanya. Bagaimana jika kita merasakannya bersama?" gumamnya menghela napas berkali-kali. Pemuda yang tidak mengerti dengan dirinya sendiri, menatap jemari tangannya yang gemetaran.


"Aku harus menghubungi psikiater..." lanjutnya.


*


Sudah beberapa bulan pemuda ini mengurungnya. Entah apa tujuannya, seringai wajah yang tersenyum, membawa makanan untuknya. Mencekoki dirinya, memaksanya untuk tetap hidup.


Menangis? Hanya itu yang bisa Siti lakukan. Benar-benar seekor monster, pemuda yang tersenyum menyeringai.


"Aku salah!" jeritannya.


"Apa dengan mengatakan aku salah ayahku bisa hidup kembali? Tidak kan?" Bibir pemuda itu masih terlihat tersenyum bagaikan iblis.


"Aku tidak tahu tentang Warka! Aku bersumpah!" dustanya sesegukan.


Pemuda yang mulai mengangkat kepalanya. Wajahnya terlihat jelas di bawah lampu remang-remang yang terpasang. Senyuman tidak terlihat lagi di wajah sang dosen muda.


Hudson mengambil se ember air garam, kemudian mulai memandikan tubuh Siti yang telah renta perlahan. Tubuh yang kini dipenuhi bekas luka.


"Aku baik bukan? Aku bahkan bukan anakmu tapi aku bersedia memberimu makan dan memandikanmu," ucapnya mendengar jeritan sang wanita tua yang merasakan perih di sekujur tubuhnya.


Ini belum apa-apa. Mengingat kematian ayahnya. Sebuah peselingkuhan, perceraian, segalanya terjadi dalam bulan yang sama. Satu bulan yang merubah hidupnya.


Apa yang sebenarnya terjadi? Uang yang diberikan Salsa pada Warka cukup banyak. Istri Warka sendiri bekerja sebagai seorang TKW di Singapura. Keluarga yang cukup harmonis sebenarnya. Walaupun ayah dan ibunya menjalani hubungan jarak jauh.


Hingga dirinya pulang dari sekolah menengah atas. Mendengar jeritan seorang wanita, ayahnya melakukannya dengan seorang wanita.


Siti? Itulah nama yang sempat terdengar olehnya. Air matanya mengalir, namun berusaha memaklumi, sebab lima tahun ibunya hanya mengirimkan surat dan uang.


Bau minuman beralkohol juga menyeruak. Remaja yang tidak mengetahui apapun, tepatnya terlalu dini untuk menyadari ayahnya melakukannya dalam keadaan setengah sadar.


Hingga beberapa hari setelahnya, Warka terlihat dalam keadaan depresi. Membaca surat yang dikirimkan istrinya, surat yang menyatakan sang istri ingin berpisah.


Ibunya pulang? Beberapa minggu setelahnya ibunya memang pulang. Menampar ayahnya memberikan bukti-bukti tentang peselingkuhan sang ayah dengan Siti. Bukti yang entah didapatkannya dari mana.


Hudson hanya dapat menghela napas kasar, berusaha bersabar. Masalah rumah tangga kedua orang tuanya pasti akan menemukan solusi. Itulah harapannya, hingga suatu malam dirinya kembali mendengar pertengkaran kedua orang tuanya.


"Ayah mau kemana?" tanya Hudson.


"Maaf..." Hanya itulah kata yang diucapkan Warka. Air matanya mengalir terdiam sesaat. Kemudian melangkah pergi.


Hudson menghela napas kasar, pada akhirnya berjalan mengikuti sang ayah diam-diam. Meninggalkan ibunya yang menangis seorang diri di kamar.


Benar-benar pemuda yang tidak mengetahui apapun. Hingga sebuah mobil terbuka di dekat ayahnya. Sang ayah tiba-tiba ditarik paksa. Jantungnya berdegup cepat, berusaha berlari mengikuti arah laju mobil. Namun, sebuah mobil yang tidak berhasil terkejar olehnya.


Phonecell? Dirinya tidak memiliki phonecell kala itu untuk menghubungi kepolisian. Satu-satunya hal yang dilakukannya dengan putus asa adalah mengejar mobil dengan sekuat tenaganya.


Namun, hal samar dilihatnya dari jauh. Beberapa pria ada di sana mencekoki ayahnya dengan minuman keras, kemudian memukul kepalanya dengan batu besar. Melempar sang ayah yang sudah tidak berdaya ke dasar jurang.


Siti terlihat ada disana tersenyum, memasuki mobil. Membawa amplop coklat yang sebelumnya dibawa ayahnya. Kejadian yang begitu cepat. Mungkin tidak ingin terlihat oleh satupun saksi mata. Hingga mobil hitam melaju meninggalkan bibir jurang.


Kaki Hudson gemetar, benar-benar untuk pertama kalinya melihat perbuatan biadab yang dilakukan manusia. Dan itu dialami ayahnya sendiri? Air matanya mengalir, tidak peduli dirinya tergelincir beberapa kali. Dirinya berusaha keras menuruni jurang. Berharap sang ayah masih hidup. Ayah yang menemaninya kala sang ibu bekerja keras untuk kehidupan mereka yang lebih baik.


Seorang perawat yang begitu menyayangi keluarganya.


Pakaian yang dipenuhi dengan lumpur. Pada akhirnya tubuh Warka di temukan olehnya. Berusaha mengangkat tubuh ayahnya yang lebih besar dari tubuhnya.


"Hentikan..." perintah sang ayah.


"Ayah akan selamat. Pasti ayah akan selamat," dirinya berusaha menyakinkan Warka, dengan air mata yang tidak henti-hentinya mengalir. Membelai pipi Warka yang berlumuran darah segar.


Warka menggeleng."Maaf, sebaiknya kamu pergi. Jangan menyimpan dendam,"


Hudson menghela napas kasar."Aku tidak akan pergi, apa yang terjadi?" pintanya ingin mengetahui segalanya.


"11 tahun lalu ayah bekerja untuk seseorang bernama Narendra. Menjaga dua orang lansia, tapi terjadi kebakaran, kedua lansia itu meninggal. Ayah tidak tahu apapun..." Warka tiba-tiba menitikkan air matanya, membelai pipi putranya. Membuat pipi putih itu ternodai darah.


"Beberapa bulan lalu, ada yang meminta ayah bersaksi tentang peristiwa kebakaran. Memberikan imbalan yang besar. Ayah tidak tahu apa maksudnya, ayah hanya bersaksi sesuai apa yang ayah ketahui. Tapi..." kata-kata pria itu terhenti memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Percayalah ayah mencintai ibumu. Siti menjerat ayah, meminta semua uang yang ayah miliki... Tolong bantu ayah, tolong selidiki kasus 11 tahun lalu, karena orang yang meminta ayah bersaksi, hari ini mengirim Siti untuk membu..." kata-kata dalam isakan tangis itu terhenti tiba-tiba. Mata yang terbuka, tidak terlihat sinar kehidupan di sana.


Hudson memeluk tubuh Warka dalam tangisan. Mengecup dahi sang ayah berkali-kali."Ayah bangun!" pintanya.


Namun tidak ada nyawa yang tersisa. Tubuhnya gemetar, dirinya akan menutup segalanya. Akan bungkam, membiarkan kematian Warka dianggap sebagai jatuh dari jurang dalam keadaan mabuk.


Jemari tangannya mengepal, wajahnya perlahan tersenyum. Tidak ada lagi guratan kebahagiaan disana. Hanya tersenyum pahit.


"Ayah, jika aku menemukan mereka. Aku akan membuat hidup mereka lebih buruk daripada kematian. Ayah tidak bersalah, tidurlah dalam damai," pintanya menutup mata sang ayah yang masih terbuka.


...Ayah adalah laut? Bukan, ayah adalah air....


...Ayah seperti air, mengalir hingga ke hulu. Mengajariku tidak ada jalan yang mudah....


...Ayah seperti air, tidak pernah lelah menempuh perjalanan, tersengat panas. Hanya untuk melindungiku dari dahaga....


...Ayah seperti air, seluruh tubuhku terbuat darimu....


...Pernahkah punggung itu lelah untuk menggendongku? Pernahkah punggung itu lelah mengumpulkan sesuap makanan untukku? ...


...Hanya, mengeluh, tapi tetap tersenyum untuk mencintaiku....


...Ayah, tenanglah disana......


Hudson.