
Sebuah keluarga yang bahagia? Apakah demikian? Seorang wanita yang telah mengenakan pakaian ala wanita kariernya tersenyum. Memakaikan dasi pada suaminya. Sangat romantis bukan?
"Jika proyek kali ini gagal, aku sendiri yang menemui kliennya. Mengatakan kamu CEO yang tidak kompeten..." geram Melda tetap berusaha tersenyum.
"Apa pernah ada proyek yang aku pegang gagal? Aku Narendra tidak akan kalah darimu!" tegas Narendra.
"Menunduk!" perintah suaminya. Melda menurut sedikit menunduk, kemudian dahinya dikecup Narendra.
"Membungkuk!" perintah Melda. Narendra sedikit membungkuk, kemudian Melda mengecup bibir suaminya sekilas.
Itulah persiapan dua orang aneh setiap hari sebelum berangkat ke perusahaan. Jabatan Melda saat ini? Wakil CEO, Narendra benar-benar menepati janjinya setelah kematian orang tua mereka. Tapi sayangnya, pemuda br*ngsek itu, kini mengambil jabatan CEO. Sama saja, benar-benar tidak mau mengalah dengan istrinya.
"Ayah, ibu..." Yoka tersenyum, menunjukkan partitur lagu milik ibunya.
"Mau ibu mengajariku main piano akhir pekan ini?" tanya sang anak. Piano klasik masih berada di ruang tengah. Sebuah piano yang terkadang dimainkan ibunya.
"Ibu akan mengajarimu," jawaban dari Melda, menyentuh rambut putranya. Seorang anak yang selalu mendapatkan ranking pertama. Peringkat pertama yang selalu ganda, apa penyebabnya? Tentu saja karena Samy satu kelas dengannya.
Penilaian guru? Bidang musik, olahraga, bahkan akademik kedua anak itu mendapatkan nilai sempurna. Benar-benar sulit untuk menilai yang mana lebih baik.
Pemuda yang sudah lengkap mengenakan stelan jasnya itu berjongkok di hadapan putranya.
"Naik! Biar ayah gendong! Kamu tidak boleh kalah dengan anak Martin," ucap Narendra, tanpa ragu Yoka naik ke punggung ayahnya. Seorang ayah yang tersenyum menggendong putranya yang telah lengkap memakai seragam sekolah menuju ke dalam mobil.
"Samy? Dia berisik, selalu ingin bermain denganku. Dia baik..." ucap Yoka, masih berada di atas punggung Narendra.
"Benarkah? Kamu ingin berteman dengannya?" tanya Narendra, dijawab dengan anggukan oleh Yoka.
Sedangkan Melda menghela napas kasar, menggendong ransel putranya beserta dua tas kerja miliknya dan Narendra. Tersenyum sendiri, setidaknya almarhum kedua orang tuanya akan bahagia melihat kelurga mereka dapat bangkit perlahan dari rasa duka.
*
Hanya sebuah lilin kecil, jika tertiup maka akan padam. Itulah sinar terang di hati Melda.
Keberadaan Salsa saat ini? Wanita itu tengah memberikan sejumlah uang, hasil dari penjualan mobilnya pada Warka, sang perawat yang 11 tahun lalu tidak sadarkan diri di warung, saat kematian Viona.
"Kenapa memberikan saya uang? Saya ikhlas melakukannya, saya memang sakit kepala dan ketiduran di warung, setelah memakan nasi kotak pemberian nyonya Melda." Ucap sang perawat, masih mengingat segalanya saat Siti, sang ART yang ditugaskan Melda untuk menjaga Viona memberikan nasi bungkus untuknya. Mengatakan itu adalah pemberian Melda.
Siti, sang ART kini juga ada di sana. Duduk di samping Salsa. Siti, sejatinya bekerja untuk Melda pada awalnya. Namun, tergiur dengan pekerjaan mudah dengan bayaran tinggi yang diberikan Salsa hingga bersedia membakar rumah dan memberikan obat untuk mempercepat persalinan pada Viona. Obat tidur yang dikonsumsi Warka? Itu juga ulahnya.
"Ini hanya sebagai rasa terimakasih. Aku hanya ingin menyelidiki yang sebenarnya terjadi. Ini bukan kesalahan kakakku sepenuhnya, ayah kami Reksa yang merencanakannya. Tolong bantu kami mengungkapkan kebenarannya," pinta Salsa menggenggam jari tangan Warka.
Warka mengangguk ragu, masih mengira Melda yang dengan sengaja memberikan obat tidur dalam makanannya, meraih amplop coklat di hadapannya. Dirinya tidak berbuat kesalahan, akan berkata apa adanya pada Narendra yang dulu menugaskannya menjaga almarhum orang tua Viona.
Salsa tertunduk diam-diam tersenyum. Hanya sedikit lagi, menemui Melda menyebar rasa bersalah dalam dirinya hingga bersedia mengakui kejahatan yang tidak dilakukannya.
*
Satu lagi, bukti rekam medis dimana almarhum Viona mengkonsumsi obat yang mempercepat kelahirannya. Benar-benar rencana yang tersusun rapi.
Ruangan wakil CEO menjadi tujuannya. Membuka pintu tanpa permisi.
"Salsa?" Melda bangkit menatap kedatangan adiknya dengan dua orang yang dikenalnya.
"Kakak, maaf..." ucapnya tertunduk dalam tangisan."Aku tidak tau ayah akan berbuat seperti ini,"
Salsa melangkah memberikan beberapa bukti almarhum Reksa menyuap oknum petugas kepolisian untuk mempercepat proses penyidikan. Menjadikan kasus kebakaran, murni akibat konsleting listrik.
"Apa maksudnya?" tanya Melda, belum dapat menerka, membaca sekilas bukti yang diberikan Salsa.
"Ayah melakukannya untukmu. Aku selama ini menutupinya, karena ancaman dari ayah. Ayah membunuh Viona beserta keluarganya, agar kamu dan Yoka dapat hidup bahagia tanpa perlu berbagi kasih sayang dari Narendra," jawaban dari Salsa tertunduk. Mengetahui betapa baik hatinya sang nona muda.
"Ayah tidak mungkin..." kata-kata Melda dengan mata memerah, disela.
"Ayah memang melakukannya dengan bantuanmu. Makanan yang kamu bawa untuk perawat berasal dari rumah kan? Warka tidak sadarkan diri di warung setelah memakan, makanan yang kamu berikan. Siti juga sudah bersumpah di hadapanku, dia dipaksa keluar dari rumah. Kemudian rumah dibakar dan dikunci oleh beberapa pengawal ayah. Ayah melakukan ini untukmu. Aku hanya ingin meminta ijinmu untuk mengatakan kebenarannya pada Narendra..." ucapnya tertunduk di hadapan Melda bagaikan seseorang yang tidak bersalah.
Air mata Melda mengalir, dirinya tidak menyangka ayahnya akan berbuat seburuk ini. Jemari tangannya mengepal, terlalu baik? Itulah sifatnya.
"Ini kesalahanku, bukan kesalahan ayah..." gumamnya bersimpuh di lantai dengan air mata mengalir tiada henti. Ini memang kesalahannya, setidaknya itulah yang ada di fikirannya. Semuanya masih terbayang di benaknya.
Seandainya dirinya menolak keinginan almarhum kakeknya dahulu, mungkin ini tidak akan terjadi. Viona akan hidup, tidak akan ada dirinya dan Yoka diantara mereka. Reksa juga tidak perlu bertindak sekeji itu.
Kakinya benar-benar lemas, hanya air mata yang mengalir bercampur rasa sesal dan bersalah.
"Kakak, empat orang yang meninggal dalam kebakaran. Jika ini salahmu, bukankah seharusnya kakak meminta maaf pada Narendra. Istri dan anaknya meninggal karena ayah yang ingin kebahagiaan kakak..." ucapnya bagaikan menasehati Melda.
Melda menatap jemari tangannya."Aku pantas mati..." gumamnya dengan tangan gemetar.
Rasa bersalah yang teramat sangat. Seorang ayah yang mengasihinya membunuh Viona, yang bagaikan seperti satu-satunya sahabat baiknya setelah bertahun-tahun hidup dalam kekangan kakeknya.
Naif? Berhati malaikat? Tidak keduanya, hanya saja Melda selalu hidup dalam bayangan prinsip kebaikan yang diajarkan almarhum kakeknya. Menjadi pengusaha harus mengambil keuntungan demi kehidupan karyawan.
Namun sebagai manusia harus berwelas-asih, merasakan penderitaan orang lain. Itulah yang kini dirasakannya, tangan ayahnya yang membunuh, namun yang dirasakannya saat ini, tangannya sendiri yang membunuh.
"A...aku pembunuh?" gumamnya dalam derai air mata yang tidak kunjung berhenti. Mungkin inilah sebab almarhum Reksa tidak menjebloskan Salsa ke penjara. Mengetahui watak Melda, putrinya yang bahkan selalu tersenyum, membuang sisa makanan ke rumah semut yang ditemuinya. Menyebar kebaikan pada setiap hal kecil yang ditemuinya.
Seorang wanita yang tidak akan dapat melawan hati nuraninya. Tertunduk dalam penyesalan hingga mengakui kejahatan yang tidak dilakukannya. Itulah harapan dari Salsa.