
Seorang wanita mengendarai motor sport miliknya, memacunya dalam kecepatan tinggi. Sudah beberapa hari dirinya mencari informasi tentang keberadaan Dora saat ini. Namun, penjagaan villa terlalu ketat. Mencoba ke kampusnya pun, dirinya hanya dapat berbicara beberapa menit dengan adiknya.
Hingga motor miliknya berhenti di area parkir mall. Wanita yang hendak membeli beberapa keperluannya.
Berjalan menggunakan celana jeans pendek dengan tang top dan jaket jeans hitam. Rambutnya masih pendek hingga kini, wanita yang menghela napas kasar.
Bibirnya tersenyum mengingat wajah rupawan adiknya. Wanita yang menatap ke arah etalase, minidress dengan warna biru langit terlihat disana. Jemari tangannya mulai meraba kaca etalase.
"Ingin membelinya? Atau ingin mengotori kacanya?" suara seorang pemuda terdengar. Membuatnya mengalihkan pandangannya.
"Kamu? Suruh majikanmu, mengembalikan adikku!" bentak Chery.
Samy tersenyum kemudian mendekat."Tapi ada syaratnya, lakukan sesuatu untukku. Maka aku akan memberikan Dora padamu,"
Chery beringsut mundur selangkah."Apa?!" bentaknya yang sejatinya menyembunyikan kegugupannya.
"Bantu aku, renggut keperjakaanku. Maka aku akan mengembalikan adikmu," bisik Samy tersenyum menyeringai.
Plak!
Kepala Samy dipukulnya, memang sifat kakak beradik yang mirip."Merenggut keperjakaanmu? Lihat umurmu, tidak mungkin kamu masih perjaka, kan?"
"Kamu takut merenggut keperjakaanku karena kamu masih perawan? Apa akan sakit?" Kata-kata tanpa filter keluar dari mulut Samy. Benar-benar wanita yang sulit ditaklukkan.
"A...aku sudah tidak perawan! Kamu tahu kan gaya hidup di luar negeri! Pacarku ada banyak, aku bahkan lebih senang berada di atas, daripada dibawah!" dusta Chery tidak mau kalah.
Samy tertawa kecil, kemudian tersenyum."Ini hari yang indah, bagaimana jika kita menghibur diri?!" ucapnya menarik tangan Chery.
Entah kenapa wanita itu menghela napas kemudian tersenyum. Apa dirinya harus kembali ke Las Vegas seorang diri? Lagipula adiknya sudah bahagia. Mungkin menunggu hingga keponakannya lahir, maka dirinya akan pergi, seorang diri. Bersenang-senang beberapa bulan ini mungkin tidak ada salahnya.
*
Pemuda yang duduk di ruang ganti VIP, menghubungi seseorang, sesekali melihat ke arah tab-nya. Hingga tirai mulai terbuka.
Benar-benar bodoh? Mungkin itulah yang ada di benaknya. Mengapa dirinya tidak dapat bergerak, jemari tangannya gemetaran.
"Benar-benar cantik," batinnya.
"Jelek!" itulah kata yang keluar dari mulutnya, menatap ke arah Chery. Memakai minidress pitch, wajah yang terlihat cantik alami.
"Dasar! Kamu sendiri jelek!" teriak Chery murka, melepaskan sepatu olahraganya melempar ke arah Samy. Namun dengan cepat pemuda itu menghindar.
Pemuda yang sejatinya menelan ludahnya berkali-kali. Berpura-pura menjadi pria dingin yang tidak tertarik pada wanita yang lebih tua tiga tahun darinya.
Fantasi liarnya berkeliaran, bangkit memilih beberapa gaun. Membayangkan tubuh Chery jika memakainya."Coba pakai ini!" bentaknya memberikan beberapa gaun dan minidress pada Chery.
Bibir wanita itu tidak henti-hentinya mengomel. Namun tetap berjalan ke ruang ganti. Mengapa? Mungkin ini hiburan untuknya. Bertahun-tahun menekan keinginannya untuk berdandan, guna mengumpulkan banyak uang untuk menjemput adiknya.
"Jelek!"
"Dasar pendek!"
"Seperti ayam Katai!"
Berbagai hinaan dilontarkan Samy. Hinaan yang sejatinya bertujuan menekan napsunya sebagai pria normal. Lekuk tubuh yang indah, ukuran bagian depan dan belakang yang sempurna. Ini benar-benar membuat keringat dinginnya keluar. Tapi tetap ingin menyaksikan pemandangan indah di hadapannya.
"Aku muak!" benar Chery melempar semua pakaian tepat di wajah Samy.
"Cantik," Samy tiba-tiba tersenyum."Bungkus semua yang sempat dicobanya,"
"Tidak, aku beli dua pakaian saja, yang aku pakai dan yang berwarna toska." Chery merogoh sakunya mengeluarkan kartu kreditnya.
Dengan cepat Samy meraih dan mengembalikannya. Memberikan kartu kredit miliknya pada pegawai butik."Hari ini aku yang mentraktirmu. Bungkus semuanya,"
"Mau bertemu adikmu. Aku akan mengantarmu kekediaman utama. Dia akan berada di sana malam ini. Jadi kamu harus secantik mungkin," ucapnya, menarik tangan Chery.
"Tentu saja harus secantik mungkin. Kamu akan bertemu dengan calon mertuamu (Martin)," batin Samy dengan senyuman tertahan.
*
Beberapa penata rias, membersihkan wajahnya, mulai membubuhkan makeup tipis. Memilihkan rambut palsu lurus panjang dengan poni menyamping. Sosok kakak si kembar bagikan terlihat lagi, anak manis yang rapuh. Benar-benar feminim, menggantikan sang ibu yang telah tiada untuk menjaga kedua adiknya.
Sepatu dengan hak yang tidak begitu tinggi dikenakannya. Cantik? Benar-benar kesan yang berbeda dari beberapa jam lalu.
Berpenampilan dari atas hingga bawah sebagai gadis feminim.
Samy menahan senyumnya, memberikan kartu kreditnya pada kasir. Menarik tangan Chery setelah transaksi usai. Inilah wanita impiannya, benar-benar wanita impiannya.
Tidak ada celah sama sekali, begitu cantik dan lembut seperti ibunya."Tunggu disini," ucap Samy mengambil mobil miliknya.
Chery menghela napas kasar, menatap ke arah kaca hitam. Pantulan dirinya terlihat di sana, sebuah masa yang indah kala Anggeline dan Dorothy saling mengasihi, tinggal bersama ayah mereka.
Seorang pria penyayang yang selalu mencintai ketiga putrinya."Ayah..." gumamnya, masih mengingat segalanya. Kala, sang ayah terkadang menyisir rambut panjangnya saat Anggeline dan Dorothy tertidur.
"Terimakasih, sudah menggantikan ibumu menjaga mereka," ucap sang ayah saat itu, mengecup keningnya.
Air mata yang tertahan, wanita yang berusaha setegar mungkin dari usianya yang masih terlalu muda. Dan kini sudah saatnya dirinya melepaskan Dorothy bahagia.
"Cantik," panggil seorang pria yang baru memarkirkan mobilnya menggoda. Wanita cantik nan lemah itulah yang terlihat, berdiri menunggu di tempat parkir dengan sabar.
Hingga akhirnya beberapa pria keluar dari dalam mobil. Mendekat ke arah Chery.
"Boleh kenalan?" tanya salah seorang dari mereka.
"Tidak," Chery tersenyum, mengalihkan pandangannya.
"Sombong," cibir salah seorang pemuda yang berjumlah 3 orang.
"Aku mau jadi pacarmu. Kamu pernah minum cocktail? Nanti aku traktir, kita jalan-jalan bersama. Omong-ngomong namamu siapa?" tanya seorang pria yang mungkin usianya lebih tua 10 tahun dibandingkan Chery.
"Namaku... mobil!" teriak Chery berlari menghindar.
Sementara ke-tiga pria itu baru menyadari sebuah mobil mengincar nyawa mereka, segera melompat menghindar. Pria berbaju merah berlari ke arah kanan, diikuti pria berbaju biru dan hitam.
"A...aaa... tolong!" teriak mereka berlari ke satu arah. Tepat kala akan keluar dari gedung parkir, mobil sport berwarna hijau tua menyalip mereka yang berlari kemudian menghadang jalan mereka.
Seorang pemuda keluar dari mobilnya, mengenyitkan keningnya berjalan mendekat."Kalian menggoda pacarku..." cibirnya, merasa benar-benar muak.
"Br*ngsek!" sang pria berbaju merah yang merasa menang jumlah menyerang Samy.
Namun, pemuda itu melangkah dengan cepat membanting tubuhnya dengan tangan kosong. Pemuda berbaju biru berlari melompat hendak menendangnya. Samy berjongkok, bergerak cepat, memukul sang pria menggunakan sikunya kala telah mendarat di lantai. Membuatnya tidak sadarkan diri dengan mudah.
"Satu lagi..." gumam Samy
"Maaf!" ucap sang pria berpakaian hitam berlari pergi.
"Iblis..." batin Chery. Benar-benar bukan tipikal pria idamannya. Pemuda yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Mengadulah jika mereka menggodamu lagi! Karena aku akan menabrak mereka lain kali," ucap Samy mengangkat tubuh Chery ala bridal style. Wanita yang tidak mengeluh sama sekali, saat terkilir ketika terjatuh menghindari mobil Samy.
"Kamu! Aku hanya ingin bertemu Dora," gumam Chery.
"Aku hanya ingin setiap saat bertemu denganmu," Kata-kata yang tidak terucap dari bibir Samy. Masih mengangkat tubuh Chery menuju ke mobilnya.