
Belajar? Itulah yang selama ini dilakukannya. Hingga dapat menjadi seorang dosen, perlahan menemukan celah untuk mendekati anggota keluarga Narendra. Bukan anggota keluarga yang tinggal di rumah utama.
Namun, menjadi guru pribadi seorang pemuda bisu bernama Yoka. Selama itu juga dirinya menyelidiki segalanya. Kasus kebakaran yang terjadi di rumah almarhum Viona.
Menjadi orang baik, mendekati Arsen, bahkan beberapa pelayan di kediaman utama. Bibirnya yang tersenyum, menemukan satu persatu fakta.
Mengapa dirinya dapat menemukan bukti terlebih dahulu dari Narendra? Tentu saja karena almarhum ayahnya. Uang suap berkedok rasa terimakasih dari Salsa. Serta fakta Salsa lah yang mengirim orang untuk membunuh ayahnya.
Mata Hudson dari awal memang hanya tertuju pada satu tersangka. Lalu mengapa tidak menyertakan semua bukti yang didapatnya pada Yoka atau Narendra?
Ingin melihat sendiri kematian menyakitkan dari Salsa dan Siti. Itulah tujuannya.
Bukan bagaikan pahlawan pembela kebenaran dan keadilan. Namun sebagai seorang anak yang memperbaiki kesalahan ayahnya. Menganggap sang ayah mungkin akan tenang, jika mengetahui tidak satupun dari Salsa atau Siti yang akan selamat.
*
Hujan deras turun di luar sana. Dora tersenyum di balik selimut putih tebal menatap ke arah suaminya. Tidak mengenakan sehelai benangpun, hanya sebuah selimut yang membuat mereka merasa hangat.
"Jalan lahir?" Yoka mengenyitkan keningnya berusaha untuk tidak tertawa. Setelah melakukan titah yang mulia istri.
"Iya!" Dora menutup dirinya dengan selimut. Benar-benar merasa malu.
"Tidak perlu malu. Katakan yang sebenarnya, aku juga menginginkannya." Yoka menarik tubuh istrinya, membawa Dora dalam dekapannya.
"Tidak berselingkuh? Kak Chery mengatakan kalau pria perlu pelampiasan. Kita berpisah hampir tiga tahun jadi, entah sudah berapa wanita yang..." kata-kata Dora terhenti, dahinya tiba-tiba dicium.
"Aku hanya pernah tidur dan melakukannya denganmu. Bahkan dengan Anggeline juga tidak pernah." Kata-kata manis dari mulut Yoka, mulut yang bagaikan dilumuri gula tebu pilihan.
Tidak pernah? Apa benar tidak? Mungkin itulah yang ada di benak sang pinguin kecil pencemburu. Memeluk tubuh suaminya. Bagikan tidak ingin kehilangannya.
"Anggeline ingin kembali bersamamu dia..." kata-kata Dora disela.
"Aku mencintaimu..." hanya itulah kata yang keluar dari mulut Yoka sebelum akhirnya menutup matanya. Tertidur akibat perjalanan jauh yang ditempuhnya.
"Aku juga..." Dora tersenyum, enggan bertanya lagi. Wajah yang terlihat tidur dengan tenang itu di tatapnya. Ini adalah suaminya, Yoka.
Apa Anggeline akan merebutnya? Alasan Yoka mengejarnya dulu karena wajahnya yang mirip dengan Anggeline. Lalu bagaimana dengan sekarang ketika Anggeline kembali mencintainya. Apa suaminya akan goyah?
Tangannya bergerak ke bawah selimut, mengelus pelan perutnya sendiri. Air matanya mengalir, sebuah air mata kebahagiaan. Sepasang anak kembar? Itulah yang akan dimiliki olehnya.
Hingga tangan suaminya kembali melingkar di pinggangnya."Aku lelah, tapi jika hanya sekali lagi aku ingin..." ucap Yoka yang sempat tertidur sekitar tiga menit.
Mungkin harus sekali lagi. Dirinya benar-benar merindukan istrinya.
"Aku..." kata-kata wanita hamil itu disela, bibirnya diraba perlahan.
"Kamu tahu bagaimana aku melewati hampir tiga tahun ini?" tanyanya pada Dora. Wanita yang menggeleng dengan cepat.
"Aku memajang fotomu. Menjadikan sensasi tersendiri, ketika di kamar mandi..." mulut tanpa filter dari Yoka ditutupnya.
Iba? Memalukkan? Tapi ini lebih baik daripada mendengar suaminya menyewa wanita penghibur.
Yoka menepis tangan istrinya."Aku ingin lagi, aku akan melakukannya dengan pelan. Aku janji, karena ada dua penghuni baru disana,"
Dora menutup matanya, menonggakkan kepalanya, bahkan mencengkeram sprei dengan kuat. Membiarkan tubuhnya dinikmati dari atas hingga terhenti.
"Yoka..." panggilnya tidak dapat menahan diri, wajah pemuda yang masih menikmati tubuhnya. Rambut sang pemuda yang kini berada di dagunya dirematnya.
Hingga tidak terasa, tubuhnya digerakkan perlahan. Menjerit memanggil namanya. Embun di jendela terlihat diiringi suara petir. Yoka tidak ketakutan sama sekali, hanya mencengkeram jemari tangan istrinya.
Menatap wajah istri yang memanggil-manggil namanya.
"Jangan pernah meninggalkanku..." pinta Yoka, tidak ingin hidup seorang diri lagi. Permintaan yang mungkin sulit didengar istrinya, kala tubuh mereka tengah menyatu.
*
Hari sudah mulai siang, tempat tidur kini telah rapi. Suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring keramik terdengar. Yoka meletakkan beberapa jenis makanan ke atas piring istrinya.
"Makanlah..." ucapnya.
Dora hanya mengangguk, memakannya dengan cepat mengingat jadwal kuliahnya siang ini."Nanti malam aku akan makan malam di rumah ayah (kediaman utama)."
Wanita itu hanya terdiam kembali makan dengan tenang. Tidak dipungkiri kali ini dirinya benar-benar takut, takut jika suaminya kembali mencintai wanita yang memiliki wajah serupa dengannya.
"Aku hanya akan mampir untuk mengambil koper dan barang-barangmu saja. Kamu cemburu?" Yoka mengenyitkan keningnya berharap mendapatkan jawaban iya.
Namun Dora hanya terdiam, tidak menjawab sama sekali, sesekali mengelus pelan perutnya.
"Aku mungkin akan bertemu dengan Anggeline. Kamu tidak ikut?" tanya Yoka lagi.
"Aku ikut!" pada akhirnya Dora menunjukkan sisi kecemburuannya. Menatap ke arah suaminya."Aku mencintaimu! Tapi apa kamu mencintaiku?! Membiarkanku hidup di sarang penyamun seorang diri. Tempat yang benar-benar mengerikan. Kamu masih mencintai Anggeline?! Langkahi dulu mayatku baru dapat menikahinya!"
Benar-benar berteriak bagaikan seekor naga menyemburkan api. Yoka tersenyum, mengingat masa kecilnya bagaimana Melda selalu mengomel padanya.
"Mungkin ini salah satu sebab, aku hanya dapat mencintaimu," batin Yoka.
*
Mengetahui kepulangan Yoka? Tentu saja, dirinya mengetahui dari Narenda. Segalanya telah disiapkan olehnya bahkan makan malam spesial yang dipesannya dari restauran berbintang.
Gaun terbaik dikenakannya, menganggap saat ini adalah pertunjukan akhir dimana Dora akan diusir. Dipermalukan karena telah berselingkuh.
Zou melangkah dengan cepat, menatap meja makan yang dipenuhi berbagai hidangan. Satu persatu dicicipi sedikit olehnya. Menghindari adanya racun yang tercampur ke dalam makanan.
Gaun biru tua yang indah melekat di tubuhnya yang indah. Benar-benar mirip dengan Dora, namun cara melangkah dan bicara benar-benar berbeda.
"Zou, aku ingin dessert kali ini tiramisu," ucap Anggeline.
"Tidak, tuan muda menyukai banana split," jawaban tegas dari Zou.
"Apa yang disukaiku akan menjadi apa yang disukai Yoka. Sebentar lagi Yoka akan sadar untuk menceraikan si wanita tukang selingkuh. Kenapa harus membahas semua yang disukai Yoka?! Dan jangan lupa mulai saat ini panggil aku nyonya besar." Kata-kata yang keluar dari mulutnya, mengingat kehidupannya yang dulu akan kembali.
Hidup yang bagaikan mimpi semua wanita. Kekasih yang benar-benar pengertian, memberikan seluruh pelayannya hanya untuk melayaninya.
"Bodoh," gumam Martin yang baru saja tiba, mendekat ke arah sofa.