
Assalamualaikum temen temen, Alhamdulillah aku bisa up lagi huhuuu.
.
.
Kalian tim mana nihhh???
A. Konflikk kecil
B. Konflik sedang
C. Konflik besarr!!??
.
.
Jawab yaa, semoga kalian suka sama konflik yang nantu mau aku buat. Udah siap bacanya?? Tarik nafas dulu ya.
.
.
Happy Reading ♥️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Raluna kini tengah berada dikamar, sibuk dengan buku diary nya. ia tengah menuangkan sesuatu didalam buku diary kesayangannya.
"Raluna, keluar ayo nak. Ikut umi sebentar." Saidah mengetuk pintu kamar Raluna.
"Iya umi, Raluna siap siap dulu." Tak pusing akan penampilan, Raluna hanya mengambil gamis hitam, dan mengambil kerudung pashmina kemudian mengenakannya hingga menutupi seluruh lekuk tubuhnya. Simple namun indah Dimata Raluna.
"Ayo umi." Saidah tersenyum kemudian mereka berdua berjalan kaki menuju tempat yang Saidah maksud. Mereka berdua berjalan sekitar 15 menit, dengan Saidah yang menenteng tempat makan.
"Mau ke Abi umi?" Tanya Raluna.
"Iya, soalnya Abi tadi Abi gak pulang makanya umi anterin nasi."
"Kalau Abi gak pulang, Abi gak sholat umi?" Tanya Raluna.
Saidah tersenyum. "Tadi Abi bawa baju ganti, musholla banyak sayang."
"Owhh, hehehe Raluna kan gak tau."
Mereka berdua sampai, menampilkan hamparan sawah hijau yang begitu luas.
"Abi!" Panggil Raluna, mendengar ada yang memanggilnya Usman pun mendekati seseorang yang memanggil nya ternyata itu adalah putri semata wayangnya, dan istri tercintanya.
*Gini gini Usman dan Saidah juga bucin loh, entar Nana kasih tau. Soalnya dari dulu mereka malu malu. Wkwkkwkwk.*
"Assalamualaikum Abi."
"Waalaikumsalam."
"Masyaallah anak Abi, dan istri Abi. Kenapa kesini?"
"Nganterin makanan buat Abi." Jawab Raluna sumringah, melihat sang Abi yang nampak sangat bahagia walau hanya dengan kejutan kecil seperti ini.
Saidah dan Raluna kemudian sama sama menyalami punggung tangan Usman, eitss untuk Saidah Usman mencium keningnya. Huu tidak tau tempat sekali, Raluna yang jomblo pun salut akan bucin nya kedua orang tuannya ini. Untung tidak ada orang sama sekali, karena hari ini memang sangat panas, dan Usman saat ini tengah mengairi sawahnya itu sebabnya ia harus menjaganya.
"Masyaallah Abi, romantis amat. Raluna jadi pengen deh." Goda Raluna.
"Nikah dulu, apa mau Abi Carikan?, Kalau mau sekarang juga Abi sudah punya buat kamu." Balas Usman.
"Ihh Abi, maksud Raluna bukan gitu. Maksudnya, kalau Raluna dan suami Raluna udah tua nanti kayak Abi sama umi Raluna pengen romantis nya awet sampai tua. Kayak Abi sama umi."
"Ohh kirain kamu pengen kayak Abi sama umi sekarang, kan harus nikah dulu." Mereka semua tertawa kecil.
"Yasudah, kita cari tempat teduh dulu." Ajak Saidah.
"Ayoo." Saidah berjalan didepan sedangkan Raluna setia menggandeng Usman, tidak ada suami ayah boleh kan. Karena Usman adalah cinta pertama Raluna selama ia hidup sampai saat ini.
Mereka bertiga duduk disebuah gubuk yang terletak tak jauh dari tempat mereka tadi, Saidah membuka kotak makannya dan memberikan nya pada Usman.
"Tangan Abi keram nih." Usman mengkode Saidah untuk menyuapinya.
"Tangan Abi kram? Yang sebelah mana?. Sini Raluna pijitin. Nanti baru bisa makan." Panik Raluna.
"Yahh, gagal romantis." Usman gagal untuk minta disuapi istrinya.
"Maksud Abi, kram nya Abi romantis kalau Raluna pijitin?" Tanya Raluna polos.
"Astaghfirullah, kamu sangat pintar dan brilian soal pelajaran kenapa soal kode meng kode kamu tidak peka sayang." Usman kemudian mengunyel pipi Raluna.
"Raluna kan gak ngerti maksud Abi."
"Saidah sayang jelaskan maksud Abi, biar nanti kamu bisa peka kalau suami kamu kasih kode." Canda Usman.
"Abi kamu pura pura kram, agar umi nyuapin Abi kamu." Kata Saidah.
"Ohhh, gitu. Kenapa gak langsung minta aja?" Tanya Raluna polos.
"Ini tuh tes kepekaan, kalau umi langsung suapin Abi kamu berarti umi peka gitu." Jelas Saidah.
"Ohh, kok umi tau?"
"Umi belajar dari Mr. Bucin, mulai dari kode pengkodean, maksud tatapan dan masih banyak lagi." Jawab Saidah.
"Terus Abi belajar dari siapa?"
"Abi tidak belajar cuma ngikutin keromantisan Rasulullah aja sayang, salah satunya. Rasul suka minum dari gelas bekas Aisyah tepat dibekas bibir Aisyah minum. Kalau Abi bukan gitu."
"Gimana Abi?"
"Langsung cium bibir umi, biar lebih romantis."
"Ohh. Emang gak papa yah?"
"Iya gak papa."
"Setau Raluna cium itu cuma di pipi, kening sama hidung."
"Bibir gak papa sayang malah dapat pahala kalau sudah menikah, kalau belum jangankan cium bersentuhan saja tidak boleh."
"Ohh."
"Ekhemm, ini mau makan atau lanjut?" Saking asiknya ngobrol makanan yang tadinya ingin disuapi Saidah kini terlupakan.
"Maaf umi, umi suapin Abi." Pinta Usman. Saidah menurutinya. Menyuapi Usman hingga nasinya habis.
"Aaaa, Abi tanggung udah tinggal dua suapan lagii." Saidah menyodorkan tangan berisi nasi yang ia pegang untuk menyuapi suaminya.
"Perut Abi kapasitas nya gak banyak umi, lagian umi bekalnya banyak sekali." Perut Usman kini membuncit karena nasi yang dari tadi Saidah suapkan, Raluna yang melihat itu tersenyum kecil. Seperti seorang ibu dan anak saja.
"Abi nanti nasinya nangis, inget loh bi ini hasil jerih payah Abi. Kalau Abi gak abisin nanti nasinya nangis." Usman kembali membuka mulutnya mencoba sekuat tenaga mengunyah dan menelannya, mengingat orang orang diluar pasti ada banyak yang kelaparan.
"Aaaa lagi Abi, udah ini yang terakhir."
"Bentar umi, Abi masih mau ambil nafas dulu."
"Aaa, uhh Abi pinter. Umi tuangin air dulu buat Abi." Saidah menatap wadah nasi itu puas sekaligus senang nasi yang super banyak yang ia bawa untuk Usman kini habis tak tersisa.
"Ini Abi." Saidah menyodorkan segelas air putih yang tadi dibawa Raluna.
"Uhh enaknya disuapin umi." Goda Raluna.
"Enak tapi kelebihan. Tapi gak papa Abi suka walau perut Abi harus buncit." Mereka bertiga pun tertawa, jika sudah kenyang seperti ini Usman butuh waktu kira kira 15 menit untuk menurunkan nasinya. Kalau Usman langsung balik ke sawah, bisa bisa keluar semua nasi yang ia makan.
"Abi umi, Raluna boleh tanya gak?"
"Tanya apa sayang?" Saidah menoleh kearah Raluna yang duduk diantara Usman dan Saidah.
"Abi sama umi dulu bertemunya gimana?". Sontak Saidah dan Usman mendapat pertanyaan seperti itu langsung diam sejenak, harus memberitahu dari mana dulu.
"Dulu Abi sama umi dijodohin, kami gak saling kenal tapi Abi cinta dulu sama umi. Waktu tunangan Abi sering jemput umi kamu, umi kamu ngulur waktu lama banget masih nonton film. Berhubung Abi sudah cinta dulu jadi Abi setia nungguin umi sampai dia selesai." Jelas Usman.
"Tapi setelah itu umi ikut kok waktu Abi kamu jemput mau fitting baju." Tambah Saidah.
"Umi kamu dulu gak mau sama Abi, tapi selang beberapa Bulang tunangan kami menikah. Tapi umi kamu masih gak bisa terima Abi, tapi beberapa bulan setelah menikah Alhamdulillah cinta Abi tidak bertepuk sebelah tangan lagi."
"Buat umi kamu luluh dan jatuh cinta sama Abi butuh perjuangan sekali nak. dan alhasil setelah umi kamu jatuh cinta sama Abi, umi kamu jadi tergila gila sama Abi. Mungkin baru sadar kalau Abi itu idaman para kaum hawa." Lanjut Usman.
"Abi kepedean kalau umi jatuh cinta karena tampan Abi salah besar."
"Yang bilang umi jatuh cinta karena Abi tampan siapa?, Bisa Abi tebak umi jatuh cinta sama Abi karena Abi sabar, romantis, manis, peka, perhatian, posesif, dan banyak lagi sifat Abi."
"Nah itu baru bener, karena makin lama umi tau kalau Abi sebenernya baik, Sholeh rajin ngaji, selalu berbagi lagi. Makanya umi jatuh cinta. Bonusnya dulu Abi kamu juga tampan." Tutur Saidah.
"Waww, Raluna salut sama Abi, bisa luluhin umi yang awalnya gak mau jadi mau. Abi pakai Semar mesem ya?" Goda Raluna.
"Semar mesen Abi sendiri, yaitu cukup Abi nyatain perasaan Abi lalu hadiahin surah Ar Rahman buat umi. Gitu udah buat umi jatuh cinta sama Abi, karena Abi bacanya gak liat Al Qur'an."
"Abi." Saidah menepuk lengan Usman, kenapa harus dengan rinci sekali suaminya ini menjelaskan kepada Raluna.
"Waww, Raluna gak bisa bayangin masa muda Abi sama umi dulu. Pasti Abi sama umi romantis sekali. ditambah Bucinnya Abi sama umi. Gak luntur sampai sekarang." Kagum Raluna.
"Iya, Abi kamu dulu bucin banget sama umi." Bisik Saidah.
"Dapat pahala bucin sama umi." Mereka kemudian tertawa.
"Oh iya, Raluna lupa. Waktu itu Bu Veni nawarin Raluna buat ikut olimpiade. Tapi Raluna jawab masih mau tanya Abi sama umi." Jelas Raluna.
"Baru bulan lalu sayang kamu ikut, umi takut kamu kecapean." Kata Saidah.
"Bagus ikut olimpiade, tapi Abi lihat kamu terlalu monoton nak. Apalagi kalau kamu Persiapan buat olimpiade, kamu selalu tidur larut malam. Abi takut kamu kecapean terus sakit. Seperti dulu waktu kamu SD ikut olimpiade lari, kamu sakit. Makanya Abi gabolehin kamu ikut lagi." Jelas Usman.
"Kesimpulannya Raluna gaboleh ikut yah?" Saidah dan Usman langsung mengangguk.
"Yey, sebenarnya Raluna juga masih pengen istirahat, udah hampir setiap ada lomba Raluna ikut. Jadi Raluna mau cuti dulu hehhe."
"Iya, rileks in dulu." Usman menoleh dan mengusap pucuk kepala Raluna membuat Raluna tersenyum.
"Yasudah makanan diperut Abi sudah turun Abi mau lihat air dulu." Usman berdiri dari duduknya dan mengambil sendal jepitnya.
"Perlu Raluna sama umi tungguin Abi?" Tanya Raluna.
"Iya, soalnya udah mau Selesai nanti kita pulang bareng." Ucap Usman kemudian berjalan menuju sawahnya.
"Umi." Panggil Raluna sambil menolehkan kepalanya kepada Saidah.
"Hmm?" Saidah menolehkan kepalanya kearah Raluna.
"Apa sayang?"
"Setelah Raluna lulus sekolah, Raluna pengen kuliah di Turki pakai beasiswa. Tapi Raluna juga mikir itu biayanya ke Turki pasti gak akan murah."
Saidah tersenyum. "Kamu boleh punya mimpi setinggi apapun, tapi kamu juga harus berusaha dan berdoa agar mimpi kamu tercapai. Abi sama umi memang tidak bisa membiayai kalau kamu tidak pakai beasiswa. Lebih dari itu kalau untuk uang jajan sama biaya kamu ke Turki umi sama Abi juga akan ikut berusaha." Jelas Saidah.
"Yang penting kamu harus bersungguh sungguh, jangan lupakan akhirat jika kita hanya mengejar dunia. Ibaratkan seekor kucing yang mengejar ekornya, walau dekat tapi tidak akan pernah bisa ia gapai."
"Makasih umi, Raluna akan selalu ingat nasihat umi." Mendekat kepada Saidah kemudian Raluna peluk malaikat tercintanya itu.
"Tapi kalau Allah takdirkan kamu menikah setelah lulus bagaimana?"
"Raluna terima, karena ini semua sudah takdir Allah. Dan Raluna akan tetap mengejar cita cita Raluna umi ingat kan?"
"Dokter sekaligus ustazah bukan?"
"Nah itu umi, Raluna pengen jadi dokter karena Raluna pengen bantu semua orang, dan Raluna pengen jadi ustazah mau mencerdaskan anak anak dalam ilmu agama."
"Cita cita kamu bagus nak." Saidah mengusap pucuk kepala putrinya.
"Kalau semisal umi berpulang dulu ke Rahmatullah, 1 pesan umi buat kamu. Jangan tinggalkan sholat dan selalulah jadi orang yang berguna dalam kebaikan buat semua orang."
"Iya umi, tapi semoga saja kita semua masih diberi umur yang panjang dan barokah untuk keribadah kepada Allah."
"Amin.."
"Amin.." Saidah dan Raluna menoleh melihat Usman yang juga mengamini ucapan Raluna, ya Usman kini tengah berada di samping gubuk. Mengejutkan Raluna dan Saidah.
"Abi, udah selesai?" Tanya Raluna.
"Udah, kalian tadi omongin apa hm?"
"Masa depan. Yaudah ayo pulang takut Abi kedinginan." Ajak Raluna.
"Abi mandi?" Tanya Saidah melihat suaminya basah kuyup.
"Iya, tadi Abi kepeleset terus baju Abi kotor semua, jadi Abi siram sekalian sama air."
"Ada ada saja kenapa bisa kepeleset?" Tanya Saidah tertawa kecil.
"Licin lah. Yaudah ayo pulang bisa bisa Abi jadi ikan kering."
"Ayoo!" Mereka semua pulang melewati jalan setapak melewati hamparan sawah yang luas, ditambah panasnya saat ini yang masih belum reda cukup untuk membuat mereka kepanasan. Salah bukan kepanasan lagi tapi memang sangat panas.
Keesokan harinya. 🚴
"Assalamualaikum Bu Veni." Raluna membuka pintu lab kimia setelah ia mengetuk pintunya.
"Waalaikumsalam Raluna." Raluna berjalan masuk kemudian duduk didepan Bu Veni.
"Saya ingin menyampaikan perihal olimpiade waktu itu yang buguru bicarakan kepada saya."
"Iya, apa kamu bersedia?"
"Terimakasih sebelumnya sebab buguru telah memilih saya, saya mohon maaf sebesar-besarnya jika jawaban saya tidak seperti yang ibu harapkan. saya harus mematuhi permintaan kedua orang tua saya, mereka tidak memberikan izin saya untuk mengikuti olimpiade ini Bu." Jelas Raluna.
"Baiklah ibu mengerti, memang kamu tidak pernah absen ikut olimpiade. Tidak papa saya hargai keputusan orang tua kamu."
"Sekali lagi saya minta maaf Bu."
"Iya tidak papa."
"Terimakasih Bu, kalau begitu saya kembali ke kelas saya dulu Bu. Saya permisi assalamualaikum."
"waalaikumsalam."
bel pulang SMA Bunga Bangsa berbunyi seantero sekolah, semua siswa membereskan semua peralatan sekolah mereka. Setelah itu mereka semua pulang kerumahnya masing masing, menyisakan dua gadis yang diketahui sebagai sahabat itu kini tengah berada diparkiran.
"Raluna ikut aku ya ke toko buku, stok novel aku udah abis." Rengek Zara. Raluna menghembuskan nafasnya pelan.
"Iya. Iya Raluna mau kalau Zara janji sepulang sekolah kita belajar bahasa Jawa."
"Astaghfirullah, aku angkat tangan kalau b.jawa." wajah frustasi terlihat jelas di muka Zara.
"Raluna juga gak bisa, tapi apa salahnya kita coba."
"Kalau disuruh milih antara dijemur sama bahasa jawa, mending pilih jemur." Kata Zara.
"Yaudah Raluna gak mau."
"Yah Raluna, belajar yang lain deh jangan bahasa Jawa." Pinta Zara.
"Bahasa Jawa, biar kita bisa walau sedikit." Jawab Raluna.
"Plis ya bahasa Inggris aja." Tawar Zara.
"Kalau itu kamu sudah bisa, bahasa Jawa pokonya."
"Emm, biologi deh." Tawar Zara lagi.
"No, no. Bahasa Jawa tetep."
"PPKn deh."
"No, bahasa Jawa."
Zara berpikir sejenak ia harus mengambil keputusan yang sulit, dimana ia tidak ingin bertemu dengan Tembung dan lain sebaginya, dan ia juga tidak ingin dipusingkan dengan senyawa dan perhitungan fisika maupun matematika yang merepotkan.
Setau Zara, materi bahasa Jawa adalah Tembung Tembung yang sulit dicerna oleh otaknya, oleh karena itu dia tidak mau bertemu dengan yang lainnya yang akan menyulitkan otaknya.
Zara menghembuskan nafasnya kasar, kemudian ia memilih suatu keputusan yang amat sangat sulit. "Matematika deh."
"No, bahasa Jawa." Astaghfirullah, Zara menyebut dalam hati ternyata jika Raluna sudah membuat keputusan tidak bisa diganggu gugat.
"Emmm, fisika deh."
"No."
"Kimia."
"No."
"Yaallah Raluna, otak aku gak mampu."
"Kata siapa? Kita coba aja belum."
Zara menghembuskan nafasnya pasrah, demi sahabat satu satunya itu. "Iyadeh."
"Iya apa?"
"Iya aku janji kalau kamu ikut aku ke toko buku beli novel, aku mau belajar bahasa Jawa sama sahabat cantikku satu ini." Raluna tersenyum puas.
"Ayuk lah gas."
"Ehh eh bentar mau naik apa?" Raluna sadar dari lari kecilnya, saking senangnya ia berhasil membujuk Zara.
"Naik kereta api Tut Tut tuttt........................" Jawab Zara.
"Jalan kaki." Lanjut zara.
"Setau Raluna toko buku dekat sini gaada."
"Berjanda. Pake mobil aku nanti aku suruh pak sopir bawa sepeda kamu nanti pulangnya aku antar."
"Yaudah terserah Zara yang penting besok kita ke perpus ambil buku tebal aksara Jawa, dan semua buku berbau materi bahasa Jawa." Mendengarnya Zara bergidik ngeri.
"Ayukk!" Zara menarik tangan Raluna, mereka berdua berlari kecil menuju tempat mobil Zara parkir.
Sampai di toko buku, Raluna kagum. Ini mall apa toko buku besar amat!.
"Ayuk masuk, nanti aku beliin buku kesukaan kamu. Tentang atom." Zara menoel hidung Raluna.
"Ih Zara."
Mereka berdua berjalan memasuki toko buku jumbo itu, menelusuri setiap rak berisikan berbagai jenis novel yang menjulang tinggi. Untuk ukuran Raluna dan Zara sendiri yang memang pendek wkkwwkkwkw. Ralat Raluna doang kalo Zara mah 170.
Zara mengambil keranjang, berjalan disetiap rak buku membaca judul disetiap barisan buku yang berjejer rapih. Raluna kaget pasalnya bukan 2 3 buku yang Zara ambil dan masukkan dalam keranjang. Jika dihitung sudah ada 6 buku yang Zara taruh di keranjang itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum temen temen, udah sampai di penghujung bab aja, gimana nih ada juga gak yang modar kalau pelajaran bahasa Jawa??
.
.
Masih suka gak sama cerita ini??
Semoga selalu suka ya.
.
.
Oke gitu aja bab ini, and sedikit cerita Usman sama Saidah bucin banget yah, jadi kepo masa muda mereka dulu gimana. Wkwkwkkw.
.
.
Udah gitu aja, sampai ketemu di bab berikutnya sehat selalu kalian semua, jangan lupa untuk selalu vote, komen, sama share ya. Babayyy!!!
.
.
See you.
.
.
.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏
.
.
.
4 Maret 2022