Silent

Silent
9 # Kak Abram?



Assalamualaikum temen temen, yeyyy aku up lagi!. Siapa ni yang nungguin silent love UPP?????


Oh iya kemaren kemaren ada yang nanya kak tanggal dibawah akhir bab itu tanggal kakak nulis cerita ini atau gimana??


Oke aku kasih tau jawabannya, yup bener itu tanggal selesai aku nulis babnya, bedanya aku nulisnya 2022 tapi kenapa aku tulis 2021?? Jawabannya aku gatau juga maunya ditulis 2021 hehhehe.


Tapi biar gak bingung aku udah ganti tanggal bulan dan tahun sebenarnya yang aku nulis cerita ini.


.


.


Oke, aku udah jawab sekarang scroll kebawah yuk!!


.


.


Oke langsung aja ya ke bab Kak Abram? Ohh tidak kenapa judulnya kayak gitu? Aku gatau juga tapi ayok lah baca aja.


.


.


Happy Reading ♥️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Kalau begitu kamu jadi imam gantiin saya. Ini perintah saya, saya tau kamu bisa. Karena dulu saya yang ajarin kamu." Kata mantan guru Abram.


"Inggih pak, saya mau."


Abram menjalankan tugas sebagai imam kali ini dengan baik, ternyata suara Abram jika membaca ayat ayat Alquran sangat merdu. Karena memang dulu Abram sangat pemalu, jangankan menyanyi mengaji dengan suara yang sebenarnya sudah sangat merdu saja tidak percaya diri jika dihadapan teman temannya.


Ia akan berani jika hanya bersama guru sepuhnya yang tadi bertemu dengannya, ia tau jika Abram mempunyai suara yang merdu bahkan jika disuruh azan suara Fendi pun kalah.


Tapi balik lagi, Abram memilih untuk menjadi imam saja, karena ia masih tidak percaya diri. Tapi insyaallah ia akan membuat rasa tidak percaya diri itu segera, dan ia akan memberanikan diri untuk azan seperti Fendi.


Di SMA Bunga Bangsa, Raluna dan Zara kini tengah bertempur di Medan ujian harian bahasa Jawa, ya kelemahan Raluna dan Zara. Heran sekali Raluna yang notabenenya sangat pintar fisika dan kimia bisa dilemahkan oleh bahasa Jawa, yah mau bagaimana lagi setiap orang pasti punya kelemahan.


"Modar modar, kok kayaknya lebih mudah kimia sih." Zara menggerutu kesal, untungnya guru bahasa jawanya sedang ke kamar mandi kebelet sekali mungkin.


"Raluna kamu tau yang no 17?" Tanya Zara, total semua soal itu ada 20. 15 pilihan ganda dan sisanya uraian, masa bodo dengan pilihan ganda jawab dengan bismillah pun jadi.


"Raluna juga tepar kalau bahasa Jawa." Jawab Raluna.


"Jawab apa ya, mana uraian lagi." Untung kali ini ada Raluna pengingat ya dari kelakuan khilaf nya, kalau tidak sudah Zara tinggal bolos ni ujian harian. Ditambah lagi, guru bahasa Jawa kali ini cakep jadi tidak terlalu membosankan menurut Zara. Zara adalah Zara si penggemar cogan, dengan roti sobek baris delapan.


"Aku ada ide." Zara menjentikkan jarinya tanda bahwa ada pemikiran brilian di otaknya, Zara. Segera mencorat coret lembar ujiannya dengan kata kata tapi entah apa itu.


Sedangkan Raluna hanya bisa pasrah, apalagi berhadapan dengan Tembung Tembung kelar Raluna. Gurunya pun datang bertempatan dengan itu waktu mengerjakan ujian telah selesai, selesai tidak selesai harus dikumpulkan. Untung Raluna masih bisa mengisi dengan sejumlah kata kata tapi entah itu benar atau tidak.


Dan bel pulang berbunyi memang jika hari Jum'at di SMA Bunga Bangsa akan pulang di jam 12.00


"Kenapa senyum senyum?" Tanya Raluna sambil mengenakan tasnya.


"Puisi cinta sudah ku tuangkan dalam jawabannya, pak galih bakal baca nanti." Ungkap Zara.


"Astaghfirullah Zara, kenapa kamu isi puisi, puisi cinta lagi. Kenapa gak pantun aja."


"Yah lagian sulit, mau gamau itu lembar jawaban kan harus ada jawabannya jadi aku isi puisi." Zara menyengir.


"Astaghfirullah. Zara." Luar biasa memang Zara jawabannya tidak bisa Raluna kira sama sekali.


"Yaudah ah ayo pulang, mood aku berantakan karena bahasa Jawa." Zara menggerutu.


"Sama, tapi bisa samaan gitu ya kelemahan nya." Kekeh Raluna.


"Gatau, se frekuensi sekali." Tambah Zara.


"Ayuk keparkiran." Ajak Raluna.


"Gass!."


Sampai diparkiran masih ada sisa kendaraan dari para siswa, dari motor sampai mobil.


"Aku pengen ikut kerumah kamu Raluna, tapi aku disuruh papah beli sesuatu di mall." Muka Zara cemberut.


"Yaudah gak papa, lagian Raluna bosen ketemu Zara terus." Canda Raluna sambil tertawa kecil.


"Ishh Raluna." Zara merengek seperti anak kecil.


"Yaudah kita pisah pulangnya, dada assalamualaikum." Zara terpaksa meninggalkan Raluna di parkiran sepeda pancal. Sedangkan dirinya ke base camp mobil SMA Bunga Bangsa.


"Waalaikumsalam hati hati Zara."


"Iya Raluna."


Raluna pun mengayuh sepedanya ditengah ramainya kendaraan berlalu lalang, kemudian ia mencari tempat yang rindang di tepatnya seperti taman tapi kini masih sepi. Raluna memarkirkan sepedanya di tempat sepeda. Ia kemudian duduk di salah satu kursi taman yang panjang. Dirasa tidak ada orang perlahan Raluna menyingkap seragam di tangannya memperlihatkan goresan yang berdarah. Tadi Raluna sempat tergores kaca pecah yang ada dikamar mandi SMA Bunga Bangsa entah kaca milik siapa.


Raluna ingin membereskan pecahan kaca itu, namun pecahan kaca itu melukainya tangannya. Ditambah masih dengan Raluna yang sudah menyingkap sedikit seragam di lengannya kemudian mengambil air mineral di tas nya kemudian membasuh nya, tadi ia tidak sempat membasuhnya waktu dia kekamar mandi karena sudah bel masuk. Dan ia hanya menyiramnya dengan air wastafel untuk menghilangkan darahnya saja.


Selesai membersihkannya Raluna mengambil kotak obat di tas nya, mengambil Betadine dan meneteskan pada lukanya.


"Auu." Raluna meringis perih sekali ternyata. Lalu dia mengambil kapas dan mengelap sisa betadine nya kemudian mengambil plester angsa yang ia lukis sendiri.


Menempelkan nya dengan hati hati dan taraaa, lukanya sudah ia obati. Kemudian Raluna membereskan kotak obatnya dan melihat ke sekeliling. Ada orang yang tengah membagikan makanan, Raluna menyipitkan matanya. Dan... Kak Abram?. 'Baik sekali' batin Raluna. Astaghfirullah Raluna segera istighfar melihat laki laki yang bukan mahram.


Alasan kenapa Raluna tidak mengobati lukanya disekolah karena jika Zara tau pasti dia akan panik 45, dan jika Raluna mengobatinya di rumah umi nya akan khawatir. Dan kenapa Raluna tidak mengobatinya di kamar mandi sekolah, itu alasan yang hanya diketahui Raluna.


Saat Raluna berjalan hendak mengambil sepedanya, ia tak sengaja melihat anak kecil berlari lari dan dia turun kejalan raya hingga terserempet motor.


"Astaghfirullah!" Raluna berlari menuju anak kecil itu, yang tengah tergeletak dibawah.


"Yaallah dek." Raluna menggendong anak kecil itu menepi di trotoar, Abram yang tengah membagikan makanan ikut berlari ke tempat dimana anak kecil dan Raluna berada.


"Cup cup udah ya gak usah nangis, ada kakak disini." Raluna mengusap dahi anak kecil itu untuk menenangkan kannya.


"Hiks hiks. Ss-akitt." Keluh anak kecil itu.


"Shhtt, udah ada kakak disini, mana yang sakit?" Raluna melihat kaki anak itu darah segar mengalir dari lutut anak itu, ya anak itu laki laki.


"Yaallah, kemana orang tuanya?" Abram yang harus sampai ikut duduk di dekat anak itu, tak menghiraukan ada banyak orang yang berkerumun.


"Aku juga gak tau." Jawab Raluna.


"Astaghfirullah, nak kamu kenapa. Heh! Kamu apain anak saya." Orang yang diyakini sebagi ibu dari anak ini datang datang langsung membentak Raluna.


"Seharusnya kami yang tanya sama ibuk, dari mana ibuk? Sampai anak ibuk keserempet motor ibu gak tau!" Bapak bapak yang sedang melihat keadaan anak ini nge gas melihat perlakuan ibu anak ini, justru Raluna membantu menenangkan anak ini.


"Gak, anak saya tadi duduk disana." Ibu anak ini sibuk berdebat dengan bapak bapak.


"Cupp udah tenang ya dek. Sini kakak obatin kakinya." Sudah merasa anak ini tenang perlahan Raluna mengobati kaki anak ini.


"Hehh kamu mau ngapain anak saya!?" Bentak ibuk itu. Abram muak melihat perlakuan ibuk ibuk ini, sudah salah meninggalkan anaknya sendirian hingga terserempet motor. Masih marah dengan Raluna yang jelas jelas menolong anaknya.


"Ibuk, apa perlu saya jelaskan apa yang sedang dilakukan dia?" Abram berdiri dan berusaha untuk tidak membuat ibu itu marah.


"Ini anak saya!" Ibu ibu itu nge gas lagi.


"Saya tau, tapi dia berusaha bantu anak ibuk." Jelas Abram.


"Halah bantu Gimana, kamu lihat tadi anak saya sempat nangis." Elak ibuk anak ini.


'astaghfirullah' Abram beristighfar didalam hatinya.


"Minggir." Ibuk anak ini mendorong Raluna yang sedang memangku anak ini, Raluna sendiri sudah menulikan pendengaran nya dari tadi, ia tak peduli ia hanya khawatir akan anak ini.


"Astaghfirullah, ibuk jangan kasar. Dia mau bantu anak ibuk." Kata Abram melihat perlakuan ibuk ini dengan Raluna, semua orang yang melihat pun juga geram dengan kelakuan ibuk anak ini.


Anak itu kembali menangis saat ibu kandungnya mengambilnya dari pangkuan Raluna, mau tidak mau Raluna harus membiarkannya.


"Kenapa ibuk tega buat anak ibu nangis lagi? Setidaknya obatin lukanya dulu. Kakinya pasti sakit." Raluna tak tahan mendengar Isak tangis anak itu. Begitu juga semua orang yang berkerumun dibikin geram sendiri.


"Tau apa kamu sama seorang anak, kamu aja gak punya anak. Oh atau kamu juga punya yah hasil hamil duluan makanya kami bisa tau."


"Astaghfirullah buk." Raluna tak bisa membendung buliran bening dimatanya, bukan karena dimaki ibu ibuk itu, karena tangis anak itu juga membuat Raluna menangis.


"Satu kali lagi ibuk bentak adik saya, saya akan laporkan ibuk kekantor polisi karena pencemaran nama baik." Abram tak tega melihat Raluna yang menangis.


"Heh buk, ibuk kok gak tau diri. Adek ini sudah bantu anak ibuk, malah ngatain sembarangan. Kalau gaada adek ini mungkin anak ibuk sudah kelindes kendaraan tadi." Bela salah satu ibuk ibuk.


"Sudah cukup, dari awal saya tidak mengharapkan kata terimakasih yang keluar dari ibu karena saya sudah menduganya. Setidaknya hargai dia karena telah bantu anak ibu." Abram juga ikut membela tak tega melihat Raluna yang juga ikut menangis.


"Kejam ibuk, gaada perasaan apa. Ibuk tuh sama sama perempuan, apa ibuk tidak punya anak perempuan. Gimana kalau anak perempuan ibuk diginiin heran saya." Tambah salah satu ibuk ibuk kemudian mendekat ke arah Raluna. Dan menenangkan Raluna.


Tak bisa berkata kata lagi ibu egois itu pergi menggendong anaknya yang masih menangis. Entah ada masalah apa ibuk itu mungkin gaada kerjaan jadi cari kerjaan bertengkar sama orang lain. 


"Udah ya nak gausah nangis lagi, kami tau kamu gak jahat kok. Malah kamu nolong anak itu, ibunya tadi yang udah sengklek gak bisa mikir. Udah ya jangan dipikirin." Ucap Ibuk ibuk yang tengah menenangkan Raluna.


"Makasih buk, tapi Raluna gak nangis karena ucapan ibuk itu. Raluna nangis karena anak itu nangis Raluna gak tega." Kata Raluna mengusap air matanya.


"Iya buk, terimakasih." Kerumunan orang orang itu bubar menyisakan Raluna dan Abram dan ibuk ibuk yang berbicara kepada Raluna.


"Sama sama, hey kamu kakaknya." Panggil ibuk itu kepada Abram. Abram menunjuk dirinya sendiri memastikan. 


"Iya kamu, kamu kan kakaknya. Antar adek kamu pulang." Suruh ibuk ibuk itu. Akhh Abram lupa bahwa tadi ia mengaku sebagi kakaknya.


"Iya buk."


"Kamu gak papa?" Tanya Abram. Raluna mengangguk dan berdiri dari duduknya.


"Saya antar kamu."


"Terimakasih, tapi kamu bukan kakak saya."


"Maaf, tapi saya melakukannya agar ibuk tadi tidak mencaci kamu."


"Iya tidak papa. saya bisa pulang sendiri."


"Saya tidak yakin, karena tangan kamu berdarah." Ucapan Abram langsung membuat Raluna melihat kearah tangannya, astaghfirullah seragam di lengannya terkena Betadine saat ia mengobati lukanya.


"Ini Betadine." Kata Raluna.


"Saya gak percaya."


"Siapa yang nyuruh kamu percaya?" Ucap Raluna.


"Gaada, tapi saya diberi amanah lagi untuk mengantarkan kamu." Ucap Abram.


"Astaghfirullah, kita ini bukan mahram saya gak mau boncengan sama kamu." Kesal satu kata mewakili Raluna, ternyata kak Abram menyebalkan.


"Kapan saya bilang mau bonceng kamu?" Dep malu Raluna malu. Salah mulutnya tidak dipikir dulu, karena ia kesal. Pipinya sekarang menjadi merah seperti tomat. Aduh rasanya jika menghilang itu nyata mungkin sudah Raluna lakukan.


"Seperti waktu itu, saya didepan dan kamu mengikuti saya dari belakang." Ucap Abram. Abram tau Raluna malu saat ini. Siapa suruh keceplosan. Sifat menyebalkannya sukses membuat Raluna malu. Ia tersenyum tipis melihat Raluna pergi mengambil sepedanya.


"Ayo." Ajak Raluna sudah siap dengan sepedanya.


"Sebentar saya ambil motor saya." Abram berlari kecil dengan sarungnya, menghampiri karyawan yang tak lain adalah anak didiknya.


"Lanjutkan, saya masih ada tugas." Abram kemudian pergi dengan sepedanya menghampiri Raluna.


"Tugas gak tuh?" Ejek muridnya sendiri yang menjelma menjadi karyawan nya.


"Kayaknya si balok es pak Abram, kembang kuncup jatuh cinta nih." Ucap salah satu dari mereka.


"Gimana siap kawal mereka sampai pelaminan gak?" Tanya salah satu dari mereka.


"Siaplah gas." Jawab mereka kompak.


"Ayo." Ajak Abram, kemudian Abram mengegas motor nya sedikit tanpa ba-bi-bu Raluna mengikutinya.


"Andai ibuk ibuk itu gak nyuruh kak Abram nganterin Raluna, pasti Raluna gak akan malu." Gerutunya.


"Akkhhh, Raluna malu." Masih tetap dengan dumellannya.


"Raluna lain kali jangan gr ya, kan kamu sendiri yang malu." Ucapnya.


"Jangan ngomong sendiri, nanti orang kira kamu orang gila." Raluna sukses melototkan matanya mendengar perkataan Abram.


Kalau saja Raluna laki laki sudah baku hantam dari tadi, seenak jidat aja ngatain orang gila. Raluna tak menanggapi nya, dan memilih mengoceh sendiri.


Sampai dirumah raluna langsung menaruh sepedanya disamping rumahnya. "Assalamualaikum umi." Tak lama pintu pun terbuka.


"Waalaikumsalam." Raluna mencium tangan umi nya dan kemudian masuk.


"Loh nak Abram, kok disini?" Tanya Saidah.


"Ia buk, tadi a-." Abram lupa Raluna meminta jika ia mengantar kan dirinya jangan bilang ke uminya tentang tadi.


"Kenapa nak?" Tanya Saidah.


"Enggak papa, tadi saya kebetulan lewat sini."


"Mau mampir dulu?"


"Enggak usah terimakasih buk, saya mau lanjut jalan. Ada bu saidah jadi saya berhenti." Jelas Abram meski bukan itu kebenarannya.


"Saya pamit dulu buk assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, hati hati nak."


"Iya buk."


Abram melajukan Motor nya, ada apa dengannya kenapa tadi dengan jantungnya berdetak tak karuan, akkhhh apa dia punya penyakit jantung?. Sudahlah ia harus segera kembali ke tempatnya tadi.


Abram kembali ketempat tadi, benar dugaannya masih belum selesai membagikan makanan itu. "Disini sudah diberi?" Tanya Abram.


"Sudah pak."


"Pindah di tempat lain."


"Baik pak." Mereka memasukkan kembali paper bag berisi makanan itu dan melakukan motor mereka ke tujuan mereka selanjutnya.


Ya kini tujuan mereka adalah tempat sampah, Abram berniat untuk membagikannya kepada para pemulung. Karena makanan yang mereka siapkan buka 50 paper bag melainkan 60 bungkus. Abram tadi berubah pikiran dan menambahkan nya 10 bungkus.


"Ini pak." Abram memberikan satu paper bag kepada pemulung yang usianya sudah terbilang tua.


"Makasih nak, semoga diberi umur yang barokah dan kebahagiaan yang selalu bersama mu nak." Karena senang kakeh tua itu mendoakan Abram.


"Aminn, terimakasih pak."


Mereka membagikan semua hingga tak tersisa, sampai anak kecil yang bermain juga mereka beri. Abram sangat bahagia melihat wajah bahagia di muka mereka, bukan tentang seberapa banyak yang ia beri dan apa yang ia beri. Melainkan kebahagiaan yang mereka yang membuat Abram juga ikut bahagia.


"Pak, sudah habis."


"Kalian sudah bagikan semua?"


"Sudah pak."


"Alhamdulillah, terimakasih sudah bantu saya."


"Iya sama sama pak."


"Kalau begitu silahkan kembali ke kafe, disana sudah ada Fendi dan yang lainnya."


"Baik pak, kami permisi. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Abram melihat beberapa pemulung yang langsung menyantap makanan pemberiannya, dan ada juga yang memilih menyimpannya terlebih dahulu mungkin akan diberikan kepada anak dan istrinya. Karena porsi makanan yang abram bungkus cukup untuk 3 orang.


Bahagia diwajah mereka sudah cukup untuk Abram. Setelah beberapa saat Abram menaiki motornya dan pergi dari tempat pembuangan sampah itu.


Abram memasuki kafenya dan duduk disalah satu bangku masih dengan gamis, sorban dan peci yang ia kenakan. Tak heran jika semua orang melihatnya saat masuk.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Assalamualaikum temen temen, aku happy banget nih makanya aku cepet nulisnya.


.


.


Ada pesan buat pak Abram?? Nyebelin yahh.


Huuu kasian Raluna sekarang malu. Udah ah nanti pengen pertemuin mereka versi terbaru. Wkwkkwkwk.


.


.


Gitu aja, semoga temen temen selalu sehat pantengin terus WP aku, jangan lupa like komen and share ya. Biar temen temen kalian tau pak Abram sama Raluna.


.


.


Semoga hari kalian menyenangkan sepertiku, dadahh sampai jumpa di bab selanjutnya babayyy.


See you....


.


.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏


.


.


.


3 Maret 2021