Silent

Silent
Pemilik



"Pelayan!" Panggil Yoka, pada karyawannya.


Seorang pegawai restauran datang menghampirinya. Karyawan yang menunduk mengetahui status pemuda di hadapannya. Seseorang yang memberikannya gaji.


Ada dua peraturan dalam bekerja, jika ingin cepat naik pangkat dan tidak di PHK, peraturan pertama bos selalu benar. Peraturan kedua, jika bos salah maka harus kembali ke peraturan pertama.


"Tuan..." Sang pelayan yang menegang lap serta teko berisikan teh hangat, setelah menuangkan minuman pada salah satu pelanggan, segera menghampiri majikannya.


"Tuang tehnya ke badan pelanggan yang ada di meja sebelah sana. Dia haus..." Kata-kata penuh senyuman dari bibir Yoka.


"Kamu fikir dia berani?! Aku pemegang kartu pelanggan VIP premium. Siram dia, aku akan memberimu tip yang besar!" Perintah dari Malik, mengeluarkan lima lembar uang ratusan ribu.


Sang pelayan mengenyitkan keningnya, gajinya sekitar lima juta rupiah, belum tip, bonus dan uang tunjangan lainnya. Demi lima ratus ribu rela untuk dipecat? Tidak, perintah bos adalah mutlak.


Sang pelayan berjalan mendekat benar-benar menyiram wajah Malik dengan satu teko teh hangat, sisa dari pelanggan lainnya. Membuat semua orang yang ada di restauran menipiskan bibir menahan tawanya.


"Kamu belum mandi? Itu kelihatannya teh hijau, bagus untuk kulit..." Yoka menghela napas kasar, kembali membaca dokumen di hadapannya, sembari memakan spaghetti.


"Kamu!" geram Malik menunjuk pada sang pelayan restauran."Manager! Disini dimana managernya?! Berani-beraninya memperlakukan pelanggan VIP seperti ini!" bentaknya dengan nada tinggi.


"Sayang, tenang sayang. Sekarang kamu tahu kan? Adikmu benar-benar tidak tahu diri, kita bisa melaporkannya atas pencemaran nama baik, dan menyebarkan berita bohong di stasiun televisi beberapa minggu lalu..." pinta Anggeline, mengelap tubuh dan wajah Malik. Dirinya benar-benar ingin Yoka masuk ke penjara. Menginginkan Malik yang baik hati lebih tegas pada adiknya.


Melaporkan ke kepolisian? Tidak ada yang salah dengan kata-kata Yoka. Setengah saham perusahaan memang milik Melda. Anak tunggal antara Melda dan Narendra, itu juga bukan kebohongan. Hingga Malik hanya dapat berusaha tersenyum saat ini.


"Sayang, Yoka baru saja menikah. Jika istrinya menceraikannya karena masuk penjara, maka siapa lagi yang mau menemaninya. Kamu mau dia menjadi duri dalam pernikahan kita nanti..." Kata-kata manis dari bibir Malik, membuat Anggeline semakin kagum. Sungguh pasangan yang luar biasa.


Yoka hanya dapat menghela napas kasar, melanjutkan pekerjaannya. Menjelaskan? Untuk apa? Dirinya sudah tidak memiliki hubungan dengan Anggeline. Istilah lainnya, mantan yang tidak ada di fikirannya lagi.


Yang ada di fikirannya saat ini hanya bekerja dan kecebong. Maaf salah, bekerja dan istri juga anaknya. Walaupun Dora belum mengandung saat ini, tapi jika kecebong. Salah lagi, tapi jika mereka berusaha mungkin suatu saat bayi mungil akan hadir diantara mereka.


Hingga sang manager restauran yang mendengar keributan segera datang menghampiri mereka.


"Kamu managernya?" tanya Malik menatap name tag sang manager restauran.


"Iya, maaf jika karyawan kami berbuat kesalahan. Kami akan menghidangkan makanan penutup tambahan sebagai rasa permintaan maaf..." ucapnya tertunduk, manager profesional yang sudah sering menghadapi situasi seperti ini. Dari pakaian Malik yang basah, dapat diperkirakan olehnya. Karyawan pria disampingnya tidak sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Malik.


"Dengarkan?! Aku pelanggan VIP, sementara kamu mungkin baru pertama kali makan disini!" ucapnya dengan suara yang cukup keras, ingin mempermalukan Yoka.


Yoka tersenyum simpul, tertawa kecil."Pelanggan VIP? Tidak aku sangka standar restauran ini turun begitu rendah. Etika menjadi yang utama dalam menjalankan bisnis. Pelanggan yang berkata kasar, mengatakan istri pelanggan lainnya sebagai wanita penghibur, yang jika hamil harus dilakukan tes DNA agar yakin itu anaknya atau bukan."


Beberapa pelanggan berbisik-bisik, kata-kata kasar Malik masih mereka ingat. Bagaimana jika diri mereka yang dihina? Tentu saja akan pergi meninggalkan restauran dan memberikan ulasan buruk. Padahal pelayanan restaurannya begitu sempurna, namun hanya karena seorang pelanggan VIP bermulut rendah.


"Benar-benar cari mati," batin sang manager restauran. Kartu VIP memang hanya diberikan pada pelanggan tetap yang telah menghabiskan lebih dari 300 juta uangnya di restauran ini. Mendapatkan pelayanan khusus berupa potongan harga dan diutamakan jika berada di daftar list reservasi.


Tapi pemilik restauran adalah dewa di restauran miliknya sendiri.


"Maaf, karena anda telah melanggar privasi pelanggan lain. Dengan berat hati kartu VIP anda kami cabut. Tentang pelayan yang menyiram anda, kami hanya akan memberikan free desert sebagai permintaan maaf..." ucap sang manager masih senantiasa berusaha tersenyum. Walaupun dalam hati memendam kekesalannya, karena Malik telah menghina istri bosnya.


"Tidak bisa seperti ini, aku sudah cukup banyak menghabiskan uang di restauran ini untuk mendapatkan kartu ini! Kalian tidak bisa, memperlakukanku seperti ini hanya karena pelanggan biasa! Aku adalah putra Narendra! Kalian tidak kenal siapa ayahku?!" bentak Malik.


Sementara Yoka masih berusaha makan dengan tenang. Satu jam, waktunya hanya satu jam di restauran ini. Mengapa harus dihabiskannya dengan beradu mulut dengan Malik.


"Tuan maaf, anda belum memesan makanan. Boleh saya catat pesanan anda?" tanya seorang karyawan lainnya yang sedari tadi membawa buku kecil dan pena untuk mencatat pesanan. Menunggu Malik yang lebih banyak mencibir Yoka dari pada memeriksa daftar menu.


Plak!


Satu tamparan mengenai seorang pelayan wanita, hingga menimbulkan cetak merah dari tangan Malik. Cukup keras karena kemarahan Malik pada sang manager restauran dan Yoka, dilampiaskannya pada pelayan wanita yang menyela kata-katanya.


"Laporkan dengan kasus penganiyaan pada pihak kepolisian. Sewa pengacara ternama, hubungi Arsen agar mengurus segalanya," ucap Yoka meminum air putih, memberikan berkas yang baru disetujuinya pada manager restauran.


"Baik tuan muda..." ucap sang manager, menatap Yoka yang mulai meraih ranselnya. Bangkit dari tempatnya duduk, mengambil kotak kecil berisikan cup cake untuk istrinya.


"Yoka! Kamu tidak bisa seperti ini! Malik akan menuntutmu balik atas pencemaran nama baik!" bentak Anggeline, menatap kepergian Yoka yang baru berjalan beberapa langkah.


"Aku dapat merusak rem mobil kalian. Atau menyewa pembunuh bayaran, mungkin membayar pelayan di rumah utama agar meracuni makanan. Tapi aku tidak melakukan apapun, karena kesabaranku masih ada dalam batasnya," jawaban dari Yoka melangkah pergi.


"Aku akan menyuruh Malik untuk menuntutmu balik!" teriak Anggeline lagi, mengingat hal-hal yang dikatakan Yoka di stasiun televisi.


"Silahkan saja, jika Malik ingin dipenjara karena laporan palsu!" Kalimat dari Yoka yang mulai kembali melangkah pergi.


Malik mengepalkan tangannya kesal, pada akhirnya, ikut melangkah meninggalkan restauran. Sedangkan Anggeline mengenyitkan keningnya.


"Siapa dia? Kenapa kalian begitu tunduk pada perintahnya?!" tanya Anggeline pada karyawan yang menyiram Malik.


"Dia pemilik restauran ini,"