
Saswati tertawa kecil."Pelakor?" gumamnya, mengepalkan tangannya.
"Maaf aku salah mengatakannya, semoga mereka bahagia menempuh hidup baru. Omong-ngomong ini hadiah dariku dan suamiku," ucap Dora, bersamaan dengan pelayan yang membawakan bedcover berukuran king, serta sprei yang dibungkus kertas kado. Dirinya rasa itu cukup sebagai kado pernikahan untuk seorang sahabat. Bahkan belum termasuk amplop yang dimasukkannya.
"Bibi, aku dan ibuku lapar. Kami akan makan lebih awal dari tamu yang lain. Pelayanku juga boleh ikut makan kan? Isi amplop yang aku bawa sekitar dua setengah juta. Jadi satu orang anggap saja biaya makannya 100 ribu, bibi tidak akan rugi." Dora mengedipkan sebelah matanya, berjalan menuju meja prasmanan diikuti dengan beberapa pelayannya yang menipiskan bibir menahan tawa. Mengingat tingkah laku Dora, yang sejatinya sudah seperti sahabat bagi mereka, pedagang kue cantik yang ramah.
Saswati menghela napas kasar berusaha bersabar. Benar-benar berusaha bersabar di acara pernikahan putrinya, tidak ingin terjadi keributan di acara ini sedikitpun.
Para pelayan rupawan, yang sebagian besar memiliki tinggi dan rupa seperti pramugara dan pramugari. Sebelum mereka bekerja di villa menang menjalani seleksi yang ketat terlebih dahulu. Semuanya kini memakai seragam serupa, memakan makanannya, menjadi pusat perhatian pemuda dan pemudi kampung itu. Yang gelagapan ingin berkenalan.
Sedangkan Dora yang selesai makan lebih awal, tengah duduk dengan istri kepala desa. Entah apa yang mereka bicarakan, tertawa bersama.
Apa yang terjadi di hari pernikahannya? Meira mengepalkan tangannya. Melirik ke arah Jovan, menganggap suaminya yang menanggung penuh biaya pernikahan mereka tidak dapat diandalkan. Benar-benar pria tidak berguna dalam batinnya kini.
"Aku seharusnya sadar, kita tidak sesuai dari dulu. Dora yang tidak ada apa-apanya, bahkan menikah dengan anak konglomerat. Aku terlalu bodoh, seharusnya kamu lebih berusaha lagi," kata-kata yang diucapkannya dengan suara kecil ke suaminya.
"Bukannya kamu bilang menyukaiku karena sifat baik dan ketulusanku." Jovan menghela napas kasar masih berusaha bersabar.
"Iya! Tapi sebagai suami sekaligus kepala keluarga kamu seharusnya lebih berusaha! Aku tidak mau tahu, kamu harus bisa menyaingi suami Dora!" bentak Meira untuk pertama kalinya bagi Jovan. Bahkan di pesta resepsi pernikahan mereka, beberapa tamu undangan melirik, berbisik mencibir.
Pemuda itu tersenyum miris, dirinya mengkhianati Dora untuk bersama dengan Meira. Apakah itu tidak cukup? Sampai harus dipermalukan di hari pernikahannya oleh istrinya sendiri.
"Aku sebentar lagi menjadi manager, apa itu kurang?" tanya Jovan dengan air mata tertahan. Dirinya benar-benar berusaha bersabar, merasa tidak memiliki harga diri.
"Tentu saja! Andai saja aku tidak bodoh menyukaimu! Mungkin saat ini aku sudah menikah dengan anak konglomerat lainnya! Kamu bahkan pernah meminjam uang padaku, dan sekarang mana?! Belum kamu kembalikan?!" Sebuah makian dengan nada tinggi diucapkan Meira, membuat semakin banyak orang yang mencibir mempelai pria. Menganggap sang mempelai hanya menumpang hidup.
Pada akhirnya air mata pemuda itu mengalir, ini akhir batas kesabarannya. Hari pernikahan yang indah, berakhir menjadi cacian dari mulut Meira. Beberapa bulan ini Meira memang berubah, lebih sering mengeluh dan menuntutnya. Setelah acara selamatan kenaikan jabatannya yang bekerja di pabrik semen. Entah apa yang terjadi di acara selamatan, Jovan tidak mengetahuinya.
Mencoba menekan segalanya, mungkin karena acara pernikahan mereka yang semakin dekat, banyak terjadi perdebatan. Tapi kini, dipermalukan di acara pernikahan yang dibiayai Jovan sendiri?
"Aku meminjam uangmu lima ratus ribu rupiah untuk membayar kekurangan membayar tas yang kamu beli. Harga tasnya satu juta lima ratus ribu, aku hanya membawa uang satu juta saat itu. Jadi aku meminjam uangmu!"
"Baik! Jika kita perhitungan sekarang! Handphone, cincin, motor bahkan setengah biaya pernikahan seharusnya kamu yang menanggungnya. Apa kamu bisa mengembalikannya? Aku bisa mengembalikan uangmu yang hanya lima ratus ribu," Jovan tertawa kecil, menghapus air matanya, meninggalkan mempelai wanitanya. Tidak tahan lagi dengan semua cacian Meira selama beberapa bulan ini.
Sifat lembut yang berubah setelah acara syukuran yang diadakan Meira. Acara syukuran yang tidak dapat dihadiri Jovan.
"Jovan!" ucap Meira kesal, melirik ke arah para tamu yang mulai membicarakannya. Ditinggalkan pada acara resepsi pernikahan? Itu tidak pernah terbayang di benaknya.
Berjalan mengejar Jovan, meninggalkan tempat acara. Hingga sampai di tempat parkir, pemuda itu meminjam motor pada temannya. Mengingat dirinya yang ke tempat acara masih menggunakan mobil pengantin sewaan.
"Jovan! Maaf, ini karena Dora aku sedikit emosional. Ki...kita kembali ke tempat acara ya?" pinta Meira, menghentikan suaminya yang hendak menghidupkan mesin motor. Tidak ingin kehilangan muka di hadapan para tamu yang baru setengahnya saja hadir.
Saat siang harus bekerja dan kuliah kembali ketika malam, karena ingin mengejar jabatan yang lebih tinggi. Tapi akan diangkat menjadi manager pun, Meira tidak puas. Apa yang salah dengan Meira? Masih teringat jelas dibenaknya kala dirinya mendapatkan beasiswa dari kampus, Dora memujinya seharian, bahkan untuk pertama kalinya menaiki bus bersama keliling kota. Hanya sebagai kencan dengan biaya murah, untuk berhemat.
Tapi dirinya bahagia saat itu, hatinya hangat kala wanita itu tertidur, menyandar di bahunya, dalam bus yang melaju. Tanpa sentuhan fisik? Memang namun dapat membuatnya nyaman.
"Aku perlu menenangkan diri beberapa waktu, aku akan kembali," jawaban darinya. Melajukan motornya meninggalkan balai desa tempat acara diadakan.
Air matanya mengalir tiada henti, menyakitkan? Tidak dihargai? Itulah perasaannya saat ini. Banyak hal yang tidak dimengertinya sama sekali.
Angin menerpa wajahnya, ada lubang menganga dalam hatinya. Lubang yang baru disadarinya. Apa dirinya mencintai Meira? Jovan mulai ragu akan segalanya.
Hingga kala motor dihentikannya di pinggir jalan setapak, menatap ke arah kunang yang terbang di sekitarnya. Terduduk diam disana, kakinya terasa lemas. Ini adalah malam pernikahannya, apa yang salah?
Cahaya kunang-kunang dengan sinar kecil terlihat seperti memberikan harapan. Jovan menonggakkan kepalanya, bagikan bertanya apa yang membuat hatinya terasa sakit? Tapi tidak ada yang menjawab, hanya ribuan bintang yang terlihat disana.
Kedua orang tuanya sudah lama tiada, dirinya memang sebatang kara. Belajar mandiri sedari SMU, tapi inilah kenyataannya saat ini. Apa yang membuat hatinya terasa sakit? Semua telah dimilikinya, karier cemerlang, istri yang cantik dan sempurna.
Pemuda yang benar-benar tidak mengerti.
...Keajaiban? Mungkin itulah dirimu bagiku. Keajaiban yang aku abaikan....
...Kala sinar itu terbang lenyap seperti kunang-kunang, saat itulah aku sendiri dalam kegelapan....
...Tertunduk hanya memikirkan, mengapa......
Jovan.
*
Terdiam beberapa saat, sang pemuda itu menghapus air matanya, tangannya gemetaran. Menghidupkan mesin motornya dengan cepat. Benar-benar berusaha menghidupkan mesin motornya dengan cepat.
Dirinya sudah mengambil keputusan mutlak untuk segera pergi. Kemana tujuannya? Entahlah, namun motor itu melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kuburan.
Pemuda yang baru menyadari tempatnya merenung adalah area pemakaman yang luas. Wajahnya pucat pasi, tidak ingin ada nyi Kunti atau Poci yang ingin berkenalan dengannya.
Komat-kamit mulutnya membaca doa. Hingga tiba-tiba bulu kuduknya merinding, motornya terasa berat seperti ada yang membonceng.
"Bisa nggak kita nggak kenalan! Aku ogah kenalan sama kalian!" teriaknya tidak berani melihat ke arah spion yang tidak ada siapapun di belakangnya.