
...Merindukanmu? Aku merindukanmu seperti air hujan....
...Setetes air yang jatuh memeluk bumi walaupun hanya sesaat....
...Aku merindukanmu seperti air hujan....
...Bau tanah yang menyengat bagaikan mengatakan kamu merindukanku juga....
...Aku merindukanmu seperti air hujan....
...Kemanapun kaki ini melangkah, tetap akan berakhir dalam dekapanmu. Menyatu untuk melepas kerinduan, walaupun hanya sesaat....
Yoka.
Mata Dora menatap kearah hasil pemeriksaannya. Dirinya benar-benar hamil? Pada akhirnya dirinya berhasil mengikat suaminya sepenuhnya. Anak pemuda yang berubah-ubah itu, kini ada di rahimnya.
Tengah berkembang perlahan, ada perasaan aneh dalam dirinya. Akan menjadi seorang ibu? Dirinya akan memiliki anak seperti para ibu muda di desa tempatnya tinggal.
Dengan cepat wanita itu berjalan menelusuri lorong rumah sakit, akan mengatakan segalanya pada Arsen dan Zou, agar dirinya tidak dipaksa menggugurkan kandungan. Tapi bagaimana caranya berbicara pada mereka tanpa diganggu?
Dora meraih phonecellnya, menghubungi Zou, menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit dan tidak boleh ada yang tahu. Sedangkan Arsen kini tengah ada dalam mobil di tempat parkir usai mengantarnya.
*
Sekitar 45 menit berlalu suasana tegang terasa, dua orang pria paruh baya yang duduk di hadapannya di kantin rumah sakit.
"Ada keperluan apa?" tanya Zou tersenyum ramah. Tapi sejatinya senyuman yang mengintimidasi.
Tangan Dora gemetar, menyerahkan buku kecil, berisikan logo rumah sakit. Beserta foto hasil USG didalamnya.
"Kamu hamil?!" tanya Arsen mengepalkan tangannya. Untuk kedua kalinya tuan mudanya dikhianati. Pinguin polos yang baik hati mengangguk, telur yang dibuahi pinguin jantan tidak berdosa bukan?
"Tenang Arsen, tuan muda tidak akan tahu jika kita tutup mulut. Aku tidak peduli siapa pria yang menidurimu. Gugurkan sebelum tuan muda..." kata-kata Zou terhenti, mengenyitkan keningnya menatap foto dengan latar belakang rumah sakit dan taman hiburan.
"Ini?" gumam Zou menatap foto Yoka dan Dora, yang tersenyum makan atau bergandengan tangan bersama.
Dora menunduk."Kalian mengawasiku hampir 24 jam, kecuali selama aku tinggal di rumah sakit. Tidak ada pria yang terlalu dekat denganku. 2 bulan yang lalu aku sengaja menyebarkan berita tentang gigitan ular. Agar Yoka pulang, Yoka diam-diam pulang selama tiga hari dan..." ucapnya bingung menjelaskan bagaimana.
"Jadi ini anak tuan muda?" tanya Arsen menatap tajam.
Dengan cepat Dora mengangguk."Jika tidak percaya kalian boleh melakukan tes DNA setelah Yoka pulang. Hasilnya akan tetap sama ini anak Yoka!"
Zou terdiam sejenak, dirinya berusaha mengingat-ingat. Salsa mengirim seseorang untuk membunuh Dora di malam kedua wanita itu tinggal di rumah sakit. Saat Zou menyingkirkan orang suruhan Salsa, dirinya memang sempat berpapasan dengan seorang dokter yang mengenakan masker dan sarung tangan karet.
Perawakan, tinggi, bahkan suara ketika pemuda itu menanyakan ruangan rawat kenanga pada salah satu perawat sama persis dengan Yoka. Suara yang menarik perhatiannya, namun tidak digubrisnya saat itu, menganggap itu hanya kebetulan. Sesuatu yang cukup berkesan hingga diingatnya sampai saat ini.
"Tapi jika tuan muda pulang..." kata-kata Arsen disela.
"Tuan muda tidak menghubungi kita satu setengah tahun ini, pasti memiliki alasan tertentu. Dan tentang dua bulan yang lalu, aku mungkin juga tidak sengaja bertemu dengannya di rumah sakit. Lagipula tanggal dan lokasi pengambilan foto juga tepat." Zou menghela napas kasar melirik perut Dora yang masih rata.
"Jadi itu benar-benar anak tuan muda?" Arsen mengenyitkan keningnya.
Zou mengangguk, dirinya memang mengawasi Dora, selama di kediaman utama. Di kampus pun, wanita itu selalu menepati jadwal kuliah. Tidak memiliki kesempatan dekat atau berkencan dengan pria lain.
"Aku akan mempersiapkan kamar dan peralatan bayi nantinya." Arsen mulai bangkit tersenyum terlihat antusias.
"Tunggu!" Dora menghentikan.
Kedua pria itu menatap ke arahnya, mengentikan tindakan Zou dan Arsen yang mungkin akan membuat perayaan kecil.
"Aku ingin kalian berpura-pura tidak tahu. Tuduh aku berselingkuh hingga hamil, jika tidak tindakan Salsa dan Anggeline akan menjadi lebih buruk. Biarkan aku mengandung dengan tenang. Oke?" pinta Dora penuh harap.
"Baik, tapi jaga kandunganmu dengan baik. Selama tuan muda belum kembali kami akan memperlakukanmu dengan buruk. Tutup mata dan telingamu mendengar semua cacian." Zou mengangguk menyetujui.
"Kenapa harus menjadi anak hasil perselingkuhan. Itu anak kandung tuan muda!" gumam Arsen tidak setuju.
"Kamu masih bisa diam-diam memasukkan bekal dan susu dengan menitipkannya pada supir. Lagipula Narendra terlihat tidak terlalu berbahaya saat ini. Dia tidak akan menyingkirkan Dora. Omong-ngomong kenapa kamu terlihat lebih dekat dengan Narendra daripada dengan kami?" tanya Zou tidak mengerti.
"Karena ayah mertua orang yang baik, pengertian, ramah, selalu mau membantuku untuk menghindari Anggeline dan Salsa. Dia ayah mertua idaman," ucap Dora tersenyum memakan sushi di hadapannya.
"Ayah mertua idaman? Dia mengacuhkan tuan muda selama bertahun-tahun. Membiarkan Malik merebut Anggeline, bahkan menghina putranya sendiri di acara pernikahan Anggeline. Wanita ini benar-benar terlalu polos..." batin Arsen terlihat iba pada sang pinguin kecil yang tidak henti-hentinya memakan ikan.
"Ayah mertua idaman? Dia membunuh putri tunggal tuan Reksa. Menikahi anak angkat hanya karena rasa dendam. Dia membunuh ibu mertuamu. Mungkin suatu hari dapat membunuhmu. Benar-benar lugu..." batin Zou, menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Bagaimana seekor pinguin kecil ingin berlindung pada raja rimba.
Mungkin suatu hari nanti pinguin lugu ini dapat dihabisi dengan mudah. Itulah yang ada di fikiran Zou dan Arsen, bagaikan menatap pinguin manis terjebak di pedalaman hutan Amazon.
Tapi apa benar demikian? Dora mengetahui dengan jelas, bagaimana sifat Narendra yang sebenarnya. Bahkan kakek dari janin yang dikandungnya itu mengetahui kepulangan Yoka dua bulan yang lalu.
Memakan makanannya saat di rumah sakit. Sejatinya dirinya mengintip ke kamar mandi. Narendra menitikkan air matanya, mengurungkan niatnya membuka tirai, mengetahui keberadaan putranya disana.
Wanita yang tengah makan dengan cepat itu telah beradaptasi cukup banyak. Bagaimana mengerikannya sarang penyamun yang ditinggalinya. Begitu banyak ranjau.
*
Satu bulan kemudian, tepatnya usia kandungannya menginjak bulan ke tiga. Wanita itu sudah tidak menyembunyikan kehamilannya. Memakan makanan asam terang-terangan. Beristirahat dan duduk bagaikan nyonya muda.
Anggeline melintas tepat di hadapannya. Mengenyitkan keningnya."Perutmu sedikit membesar apa mungkin kamu hamil?" cibirnya tersenyum, dengan maksud untuk mengolok-oloknya.
"Aku memang hamil," jawaban santai dari Dora, masih memegang remote TV, sepulang dirinya dari kuliah.
Angeline membulatkan matanya, mengepalkan tangannya. Dora hamil, sedangkan Yoka sudah 2 tahun tidak kembali. Wajahnya tersenyum menyeringai.
"Benar-benar pengganti murahan. Kamu berselingkuh dari suamimu?!" bentak Anggeline sebagai makhluk yang terlahir tanpa dosa.
Dora mengangguk."Aku tidak tahan pada godaannya. Kulitnya putih, bentuk tubuh seperti iklan pakaian dalam pria, jika bisa memberi nilai pada wajahnya aku akan memberi nilai 100. Aku ingin lagi..." gumamnya tidak tahu malu.
Sedangkan Arsen yang baru sampai memasang ekspresi wajah datar mengenyitkan keningnya. Mati-matian menahan tawanya.
"Arsen! Kamu dengar sendiri?! Yoka dikhianati dia hamil anak pria yang tidak jelas asal-usulnya!" Aduan Anggeline pada Arsen.
"Dora apa benar kamu hamil?!" bentak Arsen, terlihat murka tapi tertawa berguling-guling dalam hatinya.
"Iya..." jawaban polos dari Dora masih tetap makan yogurt yang sebelumnya dibelikan Arsen.