
Assalamualaikum temen temen, yey aku bisa up dan ketemu kalian lagi sini pelukʕっ•ᴥ•ʔっ
Enggak bisa ya? Yaudah deh pokonya Nana sayangg kalian semua.
.
.
Semoga kalian sehat selalu dimanapun kapan pun, selalu baca silent love ya. Oh iya aku mau selesain masalah Zara dulu, abis itu aku mau ke Raluna sama Abram.
.
.
Ekhem mana nih yang kangen sama Abram?? Unjuk tangan dehh.
.
.
Oke langsung aja ke bab 13, yuk baca kawan.
.
.
Happy Reading ♥️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Semakin dekat Zara melangkahkan kakinya hingga ia berhenti tepat didepan barisan lima cowok, Edgar, Deanno, Bryan, Ryan, dan Brendan mereka berlima lengkap dengan senjata mereka masing masing.
Ada yang membawa linggis, balok, tongkat baseball. Dan kelima cowok itu sama sama memakai ikat kepala berwarna hitam, dan Edgar dia juga memakainya tapi ikat kepala yang ia kenakan bergambar Scorpion emas.
Zara menghentikan langkah kakinya, dia diam sejenak. Bagaimana kalau mereka mengenalinya? Bagaimana kalau kak Deanno tau? Akhhh kenapa aku kesiniiii!!. Dah lah ini sudah tanggung jawab, dan aku harus akhiri semua ini. Zara merutuki dirinya bisa habis dia kalau ketahuan. Bisa dihukum dia kalau mulut cleper Ryan berbicara, bisa bisa satu sekolah tau kalau dia leader lion.
"Sitt, sitt." Bisik Bryan memanggil Ryan disampingnya.
"Apaan?"
"Cakep deh kayaknya dia, tapi dia Sandra apa gimana?" Tanya Bryan.
"Lo nanya gue, gue nanya siapa?"
"Ah salah tanya gue, Lo kan bodoh."
"Udah diem bacot ae Lo." Balas Ryan.
"Assalamualaikum." Salam Zara.
"W-a-alaikumsalam." Mereka semua menjawab salam dari Zara, dan ya pertanyaan demi pertanyaan melayang di kepala mereka masing masing, bertanya tanya siapa didepannya ini.
"Langsung ke intinya. Waktu gue berharga." Ucap Edgar dingin, ingin saja Zara mengatainya, mencakar dan menyikat muka Edgar ini. apa waktu dia juga tidak berharga?. Sudah bela bela ia ingin berdamai dengan Scorpion. Huhfttt sabar Zara sabar.
"Saya ingin berdamai." Kata Zara membuat suara lain agar suaranya tidak dikenali oleh tripel crocodile itu (Ryan, Bryan, dan Brendan.)
"What!, Jadi Lo leader nya? Buset gue kira Lo Sandra." Pekik Bryan.
"Diem ah bacot Mulu kerjaan Lo." Suruh Ryan.
Edgar tersenyum miring. "Kenapa?, Musuh gue kurang 1 kalau lo damai sama gue." Bukannya menerima perdamaian dari Zara Edgar malah akhhh rasanya ingin menabrak muka menyebalkan Edgar.
"Peaceful or no?" Tanya Zara.
"Yes, we are at peace." Jawab Edgar.
"Oke. Thanks. Assalamualaikum." Setelah mengatakan itu Zara membalikkan badannya hendak melangkah, sebelum suara menghentikannya. Suara yang ia kenal.
"Waalaikumsalam." Wajah mereka semu.
"Tunggu, siapa Lo?" Mampus, Deanno kenapa harus bertanya siapa dia sih.
Zara berbalik lagi. "Leader of lion, you don't need to know who I'am." Setelah mengatakan itu Zara berbalik lagi dan melangkahkan kakinya. Ia takut jika mereka menanyainya lagi.
"Kayak kenal gue suaranya tapi siapa ya?" Ryan menggosok gosok kepalanya berharap ingatannya kembali, tapi nihil tetap tidak ingat wkwkkwkwk.
"Alah sok Lo, berusaha nginget. Otak udang aja belagu." Cibir Brendan.
"Eleh, gini gini gue sultan."
"The Sultan goflok." Maki Bryan.
Gagal sudah Deanno mendapat samsak kali ini, kalaupun dapat mana tega ia gelud sama cewek. Dan Edgar ia sudah melangkah pergi dulu sepeninggalnya Zara tadi.
"Gimana zar?" Tanya Jolie.
"Mereka setuju, gue cabut dulu assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Zara menghilang dibalik pintu mobilnya yang menutup.
Meninggalkan anggotanya yang masih menganga tak percaya.
"Ini beneran kita kesini cuma begini?"
"Seperti yang Lo liat."
"Mending gue liat Rara Ama Nusa." Celoteh salah satu cowok.
"Diem Lo bocil!"
.
.
.
🏃🏃
Keesokan harinya Raluna sudah siap dengan segala perlengkapan sekolahnya, ia sudah sarapan dan tinggal memasang sepatunya saja. Raluna mengikat sepatunya yang sudah pudar warnanya, alas bawahnya juga sudah koyak, tapi itu tak menghalangi semangat Raluna untuk terus menimba ilmu.
Beberapa saat kemudian Raluna bangkit dari duduknya hendak mengenakan tas dipundaknya.
"Astaghfirullah." Raluna kaget tak kala tali tasnya putus.
"Kenapa nak?" Saidah keluar dari dalam rumah mendengar Raluna mengucap istighfar.
"Yaallah putus." Saidah berjalan mendekati Raluna dan melihat kondisi tas Raluna.
"Bisa gak ya diiket?" Saidah bertanya kepada dirinya didalam hati. Kemudian Saidah mencoba mengikatnya.
Hati Saidah meringis, melihat kondisi putrinya Raluna tidak pernah mengeluh ia selalu bersyukur. Meski pernah ia pulang menuntun sepedanya karena bannya tertusuk paku, dan menenteng sepatunya yang jebol.
Tapi bagaimanapun Saidah bangga kepada Raluna dia selalu bersyukur, mungkin karena Raluna berpikir jika saat ini ia seperti ini diluaran sana pasti akan ada yang lebih parah darinya. Itu sebabnya Raluna tidak mengeluh, Masyaallah ajarannya kepada putri tercintanya tidak berlalu begitu saja.
Diam diam Usman melihat wajah putrinya ia berada di dalam dekat jendela tak tega, apa harus bawa istri dan putrinya secepatnya seperti dulu?
"Sudah umi ikat. Berangkatlah nak, nanti kesiangan."
"Iya umi. Abi mana?"
"Didalam. Umi panggilkan dulu." Saidah bangkit dan memasuki rumah sederhana itu.
"Abi." Panggil Saidah.
"Iya sayang?"
"Raluna mau berangkat ayo." Mereka berdua keluar menuju Raluna.
Raluna tersenyum melihat dua malaikat penjaganya, ya Abi dan umi nya. Sosok pahlawan sekaligus guru Raluna. Raluna sangat bersyukur masih melengkapi hidupnya dengan dua malaikat didepannya ini.
"Abi, umi Raluna berangkat dulu ya." Ucap Raluna tersenyum. Kemudian ia beralih menyalami punggung tangan kedua orang tuanya, dan Usman? Raluna selalu mencium kedua pipi nya. Sedangkan Saidah dia mencium kening Raluna.
"Assalamualaikum umi, Abi." Pamit Raluna setelah itu mereka berpelukan.
"Waalaikumsalam sayang, hati hati ya. Belajar yang baik agar nanti bisa jadi orang yang berguna buat semua orang, oh iya jadi anak yang baik ya." Ucap Saidah.
"Iya umi aminnn. Kalo gitu pelukannya udahan dulu ya Raluna mau berangkat." Saidah dan Usman melepaskan pelukannya.
"Raluna berangkat dulu Abi umi dadahhh!"
"Hati hati nak."
Sama seperti hari hari sebelumnya, Raluna menghirup udara segar dipagi hari melihat rerumputan yang tertutup embun pagi. Ditambah semburat matahari yang menambah kesan indah didesanya.
Masuk area perkotaan, suara kendaraan tak henti. Banyak kendaraan lalu lalang. Raluna terhenti saat lampu merah, sambil menuggu lampu berubah menjadi hijau Raluna mengingat kilas balik, tentang tawa dan senyuman orang tuanya Raluna tersenyum. Melihat orangtuanya tersenyum itu sudah menjadi kebahagiaan yang tiada Tara untuk Raluna, tapi saat ia mengingat kilas balik lagi kenap muncul sosok lelaki yang pernah datang kerumahnya tapi mukanya buram. Astaghfirullah kenapa Raluna mengingat hal ini.
Lampu berubah menjadi merah, segera Raluna mengayuh sepedanya kembali. Kendaraan demi kendaraan menyalip Raluna, memang Raluna mengayuh nya santai saja wajar jika banyak yang menyalip karena ia memang lamban jalannya.
Sesampainya disekolah ia langsung menaruh sepedanya diparkiran.
"Astaghfirullah Zara." Raluna mengusap dada.
"Assalamualaikum." Raluna mengucap salam.
Zara menyengir. "Ehh hehehe lupa untung diingetin. Waalaikumsalam."
"Raluna, kemaren buku kamu ketinggalan dirumah. Untung aku inget tadi dan bawa."
"Nih." Zara memberikan buku Raluna yang ia beli kemaren, dan juga novel horor yang ia berikan. Serta buku bahasa Jawa yang harus mereka berdua pelajari.
"Makasih Zara. Raluna lupa."
"Yaudah masuk Ayuk." Ajak Zara.
"Ayukk." Mereka berdua berjalan menyusuri koridor, tak sedikit pasang mata yang melihat Raluna jengah malas bahkan benci. Tapi biarlah toh juga urusan mereka. Tutup telinga saja jika mereka mencibir.
Saat ini adalah jadwal untuk pelajaran olahraga, dimana seragam untuk SMA Bunga Bangsa sangat lah bagus desainnya. Warna seragam yang digunakan Raluna dan Zara adalah perpaduan warna hijau army, biru muda hitam dan putih. Ya empat warna.
Zara dan Raluna kini berada loker siswa. Raluna dan Zara sudah berganti baju baju mereka sama sama oversize ukurannya untuk orang yang pendek dan mengil seperti Raluna yang tingginya hanya 160. Berbeda dengan Zara yang tingginya 165cm.
Zara menutup lokernya agak sedikit kasar. "Kesel ah, nanti materinya basket." Gerutu Zara.
"Raluna juga kesel, mana Raluna pendek."
"Udah kelapangan aja, dari pada telat nanti dimarahin Bu guru." Ajak Raluna. Kedua gadis itu berjalan menuju lapangan basket. Disitu sudah ada teman teman sekelas Raluna dan Zara. Tapi anehnya kenapa ada Edgar dan kawan kawan disana ah sudahlah lagian buat apa cari tau alasan mereka ada disana.
"Anak anak, sekarang materi kita masuk ke basket. Dan berhubung pak Deni sekarang tidak ada jadi kelas 12 IPA 4 gabung ya." Jelas guru itu.
"Iya Buu."
"Oh iya, Edgar, Deanno, Bryan, Ryan Brendan kalian bisa main dulu contohkan ya sama adik kelas kalian. Sementara itu Zara pimpin pemanasan ibu tinggal dulu sebentar." Perintah guru itu.
"Baik Bu." Jawab Zara dan yang lainnya.
"Yuhu adek Zara, Abang main basket nih. Liat nanti bagaimana cool nya seorang Brendan main basket." Zara memutar bola matanya jengah, ada masalah apa sih ni Otong buaya ganggu aja.
"Bacot lu!, Mending main aja tunjukan pesona perut embulmu. Yang seperti bantal. Gak kotak! kayak dorayaki iya." Maki Bryan, mereka semua tertawa akan perkataan Bryan yang sangat real dengan keadaan Brendan.
Sekilas Edgar melirik kearah Raluna yang berada dibarisan belakang pojok, aduh ada apa dengannya kenapa melihat kearah Raluna, akibatnya teman sekelas Raluna yang berisi mengira Edgar melihat kearahnya. Ia tersenyum senyum saat Edgar melihat kearahnya nyatanya bukan! Edgar melihat Raluna jangan pede.
Selesai pemanasan Zara dan Raluna duduk di tempat duduk yang berbentuk pohon, bersih itulah keadaan sekarang yang mewakili tempat ini tak ada satupun sampah. Karena memang pak kebun yang ada disini lebih dari 10 orang maka tak heran jika disetiap tempat bersih kecuali gudang tempat penyimpanan bangku rusak.
"Panas banget." Zara mengipas ngipas wajahnya yang penuh dengan keringat.
"Sama Raluna juga, oh iya Raluna bawa air di tas. Raluna ambil dulu ya, Zara tunggu disini bentar."
"I-ku-." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya Raluna berlari kecil menuju lantai 2 gedung B.
"Yah sendirian." Gerutu Zara. Seperkian menit Raluna tidak kunjung datang tau gitu Zara membuntuti Raluna saja. Zara melihat kearah tumpukan batu berjejer rapih berwarna putih itu ditaman dekat lapangan basket. Zara mengambilnya satu dan memainkannya, merasa agak bosan karena Raluna lama. Ia sengaja melemparkan batunya itu asal asalan. Khilaf satu kata yang mewakili Zara saat ini.
"Astaghfirullah, kalau kena orang bisa abis nih." Zara menangkup kedua pipinya.
"Babi!" Edgar terpelonjak kaget, karena kepala tercinta tertumpuk oleh suatu yang sangat keras dan rasanya menyakitkan.
Mendengar umpatan dari Edgar semua nya seketika berhenti bermain basket. Mencari sumber yang berani melempari Edgar dengan batu.
"Siapa yang lempar ini?" Tanya Edgar marah, tidak mungkin kan batu ini melayang sendiri.
Mampus! Zara mendengar teriakan Edgar bergidik ngeri tapi jika dulu dimedan tawuran siapapun lawannya ia akan maju. Tapi ini kan sekolah tidak akan mungkin ia akan melawan Edgar.
"Udah gar, mungkin burung gak sengaja jatuhin batu itu." Ucap Bryan.
"Mungkin batunya pengen ketemu Lo gar, maka dari tu batu terbang nyamperin Elo." Kata Ryan santai.
Edgar mengeraskan rahangnya, meneliti setiap sudut lapangan, yah sosok gadis yang ia tangkap Zara. Dia kelihatan khawatir, Edgar menghampiri nya.
"Lo yang lempar batu ini?" Tanya Edgar. Zara yang sedari tadi menunduk mendongak melihat ada Edgar Deanno dan kawan kawan.
Mau jawab apa dia haduhh tangan sih nakal gerutunya dalam hati.
"Adek Zara yang lempar batu ini?" Tanya Bryan.
Zara mengangguk kecil. "Untung Lo cewek, kalo cowok udah gue seret Lo." Ucap Edgar lolos membuat Zara melototkan matanya.
"Maaf, Gak sengaja." Jawab Zara. Edgar tersenyum remeh. Melihat hal itu Zara ingin sekali menyikat wajah menyebalkan Edgar. Yah walaupun ia yang salah tadi. Toh sudah minta maaf dan gak niat melempar batu itu ke Edgar kan.
"emang kenapa kalo gue cewek?" Tanya Zara.
"Lemah." Jawab Edgar. Jawaban Edgar membuat Zara tersulut, mati matian ia menahan amarahnya tapi ohh tidak bisa. Harus ia penyokkan mulut menyebalkan si Edgar ketua Scorpion itu.
"Emang Lo tau selemah apa gue?"
"Dilihat dari segi penglihatan gue, Lo yang lemah. Kena batu segitu aja udah marah, yang Lo remehin cewek lagi. Inget ya gue bukan cewek lemah yang bisa Lo katain sembarang. Dan kalo Lo bilang cewek lemah, Lo keluar dari mana? Panci?. Ya perempuan lah." Lanjut zara.
"Geb-" Astaghfirullah Zara langsung beristighfar hampir saja ia mengumpat, nakal amat ni mulut Ama tangan gak bisa diajak kerja sama.
Dari kejauhan Raluna melihat Zara di geromboli oleh 5 cowok, Raluna berlari kecil menghampiri Zara. Raluna langsung menarik tangan Zara agar menjauh dari lima cowok itu.
"Mau kemana Lo?" Edgar mencengkeram tangan Zara. Sontak Zara langsung menghempaskan nya kasar hingga cengkraman tangan Edgar terlepas.
"Gausah Lo sentuh gue!" Kata Zara dengan penekanan, sorot matanya menggelap.
Raluna yang melihat itu tak tinggal diam,
"Mending kakak kebelakangin dulu ego kakak, jangan pegang perempuan seenaknya. Dan ya Zara udah minta maaf kalau Zara gak sengaja, kenapa masih kakak perpanjang?. Permisi assalamualaikum." Raluna menarik kembali tangan Zara, hingga sampai di taman belakang sekolah dengan dua botol air yang Raluna bawa tadi ia berikan kepada Zara.
"Tadi Zara ngapain?" Tanya Raluna agak marah.
"Gak sengaja lempar batu ke kepala Edgar gila." Jawab Zara.
"Astaghfirullah, pantesan dia marah. Tapi kamu gak di apa apain kan?" Tanya Raluna khawatir.
"Iya aku gak papa kok. Mereka aja lemah mainnya keroyok cewek." Gerutu Zara.
"Siapa yang Lo bilang lemah?" Suara bariton menghentikan percakapan kedua gadis itu, tertanya saat mereka berdua menuju taman belakang bola basket yang mereka mainkan lagi terlempar ke taman belakang dan yang mengambil adalah Edgar.
"Gue masukin got lu gar, ngejawab aja." Gerutu Zara. Muka pas Pasan gitu belagu, cakepan juga kak Deanno.
Edgar menghampiri mereka berdua. "Seperti yang Lo- kak Edgar dengar ya kak Edgar lah." Jawab Zara.
"Udah jangan berantem!, Lagian kak Edgar ngapain masih kesini?" Tanya Raluna.
"Ngambil bola."
"Udah ya, Zara udah minta maaf dan kak Edgar harus maafin kalau enggak mau harus dipaksa dan maafin, soalnya Zara gak sengaja." Edgar tersenyum kecil mendengar penuturan Raluna kesannya memaksa banget.
"Kalau gue gak mau?" Tanya Edgar.
"Raluna wakili Zara selaku sohib Raluna, Raluna minta maaf soal kejadian tadi. Udah?"
"Gue maafin." Jawab Edgar, entah kenapa ia rasa Raluna lucu sekali menggemaskan, tapi aduh apa ini 'kenapa gue bisa nge bug sih malah langsung jawab' gerutu Edgar dalam hatinya.
"Yehh giliran Raluna Lo maafin, gue sikat muka Lo tau rasa!" Ucap Zara kesal sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum temen temen, huhuuu udah sampe di penghujung aja nih, gimana menurut kalian aku udah mau kasih bumbu bumbu konflik nih.
.
.
Jangan bilang kalian gasabar liat Abram sama Raluna ketemu, tenang Nana bakal kasih hadiah nanti buat kalian. So pantengin terus ya notif dari Nana. Jangan lupa like komen and share ya temen temen.
.
.
Udah gasabar pindah ke bab selanjutnya, happy terus ya. Kalo vote nya nambah Nana janji bakal langsung up kalau nambah vote nya.
.
.
Gitu aja sampai ketemu di bab berikutnya, see you.
.
.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏
.
.
.
12 Maret 2022