Silent

Silent
20 # Pindah



Assalamualaikum temen temen, Alhamdulillah bisa up lagi. Gimana puasa kalian??? Lancar?? Semoga lancar ya aminnn. Semoga kalian sehat selalu aminnn... Semoga yang sakit lekas sembuh aminnnn...


.


.


Yang hadir emot 🐣🐣🐣🐣 dong!!! Nana suka anak ayam. Wkwkkwkw, oh iya ada yang mau request?? insyaallah Nana kabulin.


.


.


Jangan lama lama ah, langsung scroll aja yuk kebawah. Eits yang mau vote sama komen dulu silahkan tyidak melarang wkwkkwkwk.


.


.


Happy Reading ♥️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Setengah jam lebih mereka sudah sampai, mobil putih ini kini memasuki gerbang utama yang menjulang tinggi. Didalamnya bisa Raluna lihat bangunan yang amat sangat besar dan mewah bernuansa Eropa.


"Alhamdulillah. Udah sampai." Usman turun melihat rumahnya yang ia tinggalkan selama dua belas tahun lamanya.


"Abi, ini rumah kita?" Tanya Raluna kagum melihat bangunan didepannya.


"Iya, ini rumah Abi, umi sama kamu."


Usman mengandeng tangan istri dan anaknya. "Ayo masuk." mereka melangkahkan kakinya mendekat ke bangunan besar didepan mereka.


Usman membuka pintunya dengan sidik jari, seketika sekelibat bayangan seorang gadis tengah membuka pintu muncul diingatannya.


"Abi, umi. Apa rumah Zara juga seperti ini cara buka pintunya?"


Usman menoleh, "iya nak, kamu dulu pernah kesana. Berarti kamu udah ingat sedikit?"


"Iya Abi, Alhamdulillah Raluna udah bisa ingat ingat walau tidak jelas."


Mereka masuk, didalam rumah itu sangatlah megah dan juga luas. Nuansa Eropa sangat terlihat di rumah ini. Mereka menaiki tangga yang berlapis karpet abu abu, dengan lantai marmer.


Setelah selesai melihat lihat, Raluna merapikan pakaiannya dilemari menata semua pakaiannya. Raluna berjalan mendekat kearah jendela besar disamping tempat tidurnya, taman yang sangat luas dan dihiasi dengan lampu warna putih, bisa Raluna dilihat dari jendela tanpa harus keluar ke balkon dikamarnya.


"Raluna gak nyangka, kalau Raluna harus ninggalin desa dan semua kenangan indah yang Raluna lupa." Raluna berjalan ke lemari buku, dimana semua buku pelajarannya sudah dijejer dan ditata rapi. Anaya beralih ke buku diary nya, duduk dikursi belajar, mengambil pulpen dan menggoreskan mata pena itu untuk menghasilkan sebuah tulisan.


Klek..


"Assalamualaikum. Raluna sayang." Saidah datang dengan segelas susu ditangannya, menghampiri Raluna yang tengah menulis sesuatu.


"Waalaikumsalam, umi."


"Sayang, diminum dulu. Nanti malam kita ada acara, jadi sekarang kamu istirahat dulu ya, biar kamu tidak kelelahan." Saidah mengecup kening Raluna.


Gadis itu mendongak menatap sang ibu, "umi, emang nanti malam mau kemana?"


Saidah tersenyum, "Ada surprise."


"Yaudah, umi keluar dulu ya, bentar lagi Abi kamu mau ada meeting." Raluna mengangguk. Saidah berdiri dan melangkah mendekati pintu.


"Assalamualaikum, istirahat Raluna."


"Waalaikumsalam, iya umi."


****


Dikamar Saidah, kini dirinya tengah menyiapkan baju untuk suaminya. Usman tengah mandi, Saidah menyiapkan segala keperluan Usman. Malai dari kemeja, jas, dasi, kaus kaki, sepatu, tas, dan lainnya.


Glepp.


Suara pintu ditutup membuat Saidah menolehkan kepalanya. Saidah tersenyum melihat Usman yang masih sehat lahir dan batin. Tubuh tegapnya masih tak luntur seiring berjalannya waktu. 


Kini Usman sudah rapi, tinggal dasi nya saja yang belum ia pakai. "Sayang, pakai kan dasi." Saidah yang menaruh handuk bekas Usman pakai tadi, melangkah kembali ke arah suaminya.


"Masyaallah cantiknya istri abi, gak luntur luntur." Usman tersenyum menggoda, melihat Saidah yang menunduk malu.


"Sayangnya Abi malu nih? sini cium dulu biar gak malu lagi." Usman menarik Saidah mendekat dan secepat kilat mencium sudut bibir Saidah. Saidah makin dibuat tersipu malu, pipinya sudah merah merona seperti kepiting rebus. Dari dulu suaminya ini senang sekali menggodanya.


"Jangan nunduk, Abi kalah ganteng sama lantai?" Mendengar itu Saidah melihat manik mata suaminya, hitam pekat dengan alis tebalnya ditambah jenggot yang menutupi rahang, dan dagunya, bulu mata lentik menjadi penambah ketampanan Usman.


Namun mau setampan apapun Usman dulu Saidah tetap menolaknya. Saidah yang waktu itu dijodohkan dengan Usman yang umurnya lebih tua delapan tahun dengannya. Saidah menolak perjodohan itu dengan alasan masih ingin meneruskan kuliahnya dan akan menjadi arsitek. Bahkan Saidah hampir kabur dari rumah.


Saidah yang berumur 19 tahun kuliah masih semester dua, dia kabur saat mengetahui dia akan dijodohkan dengan Usman. Tapi Usman menemukannya dirumah sahabatnya, lucu sekali kabur ia kira akan keluar kota, keluar negeri atau kerumah kerabat jauhnya. Ternyata kerumah sahabatnya.


Sekeras apapun Saidah menolak, sekeras apapun Saidah berlari tapi, jika Usman ditakdirkan menjadi jodohnya ia akan kembali berlari namun bukan menjauh tapi mendekat. Usaha dan kesabaran Usman membuahkan hasil, Saidah perlahan menerimanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya.


Waktu terus berjalan, rasa terpaksa Saidah perlahan merubahnya menjadi sebuah rasa yang bernama cinta. Dia kalah, dirinya menolak namun hatinya seakan terikat dengan Usman.


Bukan tanpa alasan Saidah menolak, saat Usman melamar disaat itu juga Usman akan menikahnya. Saidah belum siap, umurnya masih sangat muda untuk mengarungi rumah tangga. Ia masih belum tau harus bagaimana ia akan menjalani rumah tangga. Namun semua itu hilang saat dia sudah menyandang status sebagai istri Usman, Usman membimbing Saidah untuk menjadi istri yang baik dan istri Sholehah.


"Abi, umi malu. Kenapa Abi masih suka menggoda  umi."


"Karena itu hobi Abi, jadi sampai kapanpun Abi akan selalu suka menggoda umi."


"Eh lupa, Abi juga kan setia sama romantis. Itu juga akan berlaku sampai kita tua nanti." Saidah tersenyum, kemudian berjinjit dan...


Cupp..


Saidah mengecup bibir Usman agak lama. kemudian berlari keluar dari kamar, Meninggalkan Usman yang kini terdiam seperti patung, jantungnya berpacu kencang. Hal ini bukan hal yang asing namun Usman selalu dibuat terdiam oleh tindakan Saidah yang satu ini.


Usman melukiskan senyum di bibirnya, "tunggu nanti malam sayang, Abi akan balas."


Dibawah Saidah kini tengah duduk di sofa hitam, masih dengan kerudung panjang yang senantiasa ia pakai. Menunggu suaminya turun untuk memberikan tas yang lupa ia bawa tadi. Jujur Saidah masih malu bertemu Usman, namun ia harus mencium punggung tangan Usman ketika Usman ingin bekerja.


Beberapa saat kemudian, Usman turun dengan senyuman dibibirnya. Sampai dihadapan Saidah, Saidah langsung memberikan tas Usman dan dengan secepat kilat menyalami punggung tangan Usman.


"Assalamualaikum, Abi hati hati dijalan." Saidah hendak berlari pergi, namun Usman menggenggam tangannya.


"Waalaikumsalam, umi kenapa buru buru? Satu kewajiban masih belum umi lakukan." Saidah mengerti apa maksud Usman, dia kembali berhadapan dengan Usman dan Usman langsung mencium kening istrinya.


Setelah itu Usman pergi, kini saidah sudah berlari pergi ke kamarnya lagi. Saidah membawa langkah kakinya mendekat ke tas yang tadi ia bawa. Ia ingin mengambil tasbih yang tertinggal tadi.


Tak sengaja Saidah melihat sobekan kertas yang tadi ia ambil dikamar Raluna. Saidah membawa kertas itu duduk di tepi kasur. Perlahan membuka kertas itu dan membacanya.


Saidah tersenyum membaca isi kertas itu, "ternyata anak umi sudah besar." Saidah menyimpan kembali kertas itu di map dalam laci.


Tak terasa malam sudah tiba, Saidah, Usman, dan Anaya kini sudah siap. Anaya dengan baju warna hitam yang dibawa Abi nya sewaktu pulang meeting tadi, sedangkan Saidah juga warna hitam, Usman sendiri tak mau kalah juga memakai gamis hitam dengan peci senada.


Kini mereka duduk diruang tamu, dan menunggu seseorang yang akan datang. Selang beberapa menit kemudian bunyi bell rumah berbunyi. Usman segera bangkit dan membuka pintu utama melihat siapa yang datang.


Raluna terkejut, ternyata yang datang adalah Zara dan mamah papahnya. Raluna masih bertanya tanya mereka akan kemana. Mereka duduk sebentar, Raluna memberanikan diri untuk bertanya.


"Abi, kita mau kemana?"


"Ada, nanti kita pergi sama Zara dan David." Jawab Usman seraya tersenyum. Zara duduk bersampingan dengan raluna.


Zara menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan raluna. "Raluna, kamu Masyaallah cantik sekali."


"Zara Masyaallah cantik juga." 


"Yasudah, biar waktunya tidak terlalu lama. Ayo kita berangkat sekarang." Mereka bangkit dan keluar dari rumah Usman. Raluna dibuat heran kenapa ada dua mobil box dihalaman rumah ini.


Raluna hanya diam disamping Zara, entah kenapa akhir akhir ini Raluna menjadi pendiam. Selang setengah jam, mereka sampai disebuah bangunan yang dihalaman itu dipenuhi oleh banyak anak anak. Mereka turun dan memasuki rumah itu.


"Assalamualaikum." Mereka semua mengucap salam memasuki rumah itu.


"Waalaikumsalam, silahkan masuk." Usman, Saidah, Raluna, Zara, David dan balqis duduk disebuah kursi kayu.


"Begini pak, kami kesini ingin memberi bantuan kepada panti asuhan Permata Ibu. Saya harap bapak menerimanya dengan senang hati." Ucap Usman.


"Usman, dan David."


"Terimakasih sekali lagi, saya menerimanya dengan sangat bahagia. Semoga Allah yang membalas kebaikan kalian, semoga kalian diberi umur panjang yang barokah."


"Aamiin." Setelah itu kakek itu berdoa dan semua mengaminkan, serta anak anak yang ada disitu juga ikut mengaminkan. Raluna dan Zara turun duduk dibawah bersama anak anak itu, begitu juga Usman, Saidah, Balqis dan David.


"Jadi Abi ajak Raluna kesini?" Usman mengangguk. Usman sangat tau jika Raluna sangat suka dengan anak kecil ditambah lagi dia suka berbagi, jadi Usman memikirkan hal ini untuk dijadikan hadiah Raluna pindah dari desa ini.


"Raluna, Zara ayo kasihkan coklat coklat itu sama mereka semua. Abi sudah suruh orang buat menurunkan barang barang dari truknya."


"Iya Abi. Ayo Zara." Raluna menggandeng tangan Zara dan menariknya menuju dus dus coklat, dan dua dua makanan.


Raluna dan Zara duduk di halaman yang dipenuhi rumput, udaranya sangat sejuk. Mereka duduk membentuk lingkaran, Raluna dan Zara memberikan makanan itu satu persatu. Total ada 81 anak disini.


Raluna bangkit dan berjalan menuju anak kecil berumur sekitar lima tahunan, sepertinya dia tidak bisa melihat. "Adek, ini coklat buat adek. Dimakan ya, kalau udah makan coklat jangan lupa sebelum tidur harus sikat gigi dulu ya."


"Makasih kak, nama kakak siapa?" Tanya anak kecil itu.


"Raluna, nama adek siapa?"


"Nama aku Aruna kak."


"Wahh, beda dikit ya. Ayo ikut kakak. Kakak punya sesuatu buat adek." Raluna menggandeng tangan mungil itu menuju kearah Zara.


"Zara dimana buku membaca khusus itu?" Tanya Raluna.


"Ada, sebentar aku ambil dulu." Zara mengambil buku khusus didalam dus.


"Ini." Raluna menerimanya, mengajak Aruna untuk duduk.


"Sini kakak ajarin caranya ya." Raluna mengajarkan Aruna melihat senyum terbit di bibir Aruna membuat hati Raluna sangat bahagia, seakan Abi nya membuatkan kenangan indah dilembaran hidupnya kini yang tengah lupa ingatan.


Setelah lama bermain dengan anak anak dipanti, Usman mengajak Raluna dan Zara untuk pulang. Mereka semua berpamitan kepada pemilik sekaligus pengasuh anak anak disini.


Saat berjalan menuju mobil Saidah menghentikan langkahnya. "Abi, disebelah sana ada pesantren apa gak sekalian kita kesana juga?"


"Wahh, ide yang bagus. Ayo." Mereka semua berjalan menuju pesantren itu, memasukinya dan bertemu dengan pengurus pesantren ini untuk memberikan bantuan.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, silahkan duduk."


"Kami kesini ingin membantu proses pembangunan yang dilakukan dipesantren ini, saya lihat tadi masih ada penambahan bangunan."


"Ohh, iya. Waktu itu ada seseorang yang mendonasikan pembangunan itu, kalau tidak salah namanya David dia bersama nak Abram." Usman menoleh kan kepalanya kearah David, ternyata David diam diam memberikan hadiah ini kepada Abram.


Kyai yang sudah sepuh itu mengambil kacamata di atas meja itu, dan memakainya melihat ternyata orang yang bernama David itu ada disini juga. "Itu yang sudah membantu pembangunan disini."


Semua menoleh kearah David. Usman tersenyum. "Kalau begitu, ini mohon diterima. Semoga ini membantu buat pesantren ini." Usman memberikan sebuah koper berisikan uang.


"Terimakasih atas bantuannya, saya akan bangunkan tempat khusus untuk santri Tahfiz."


"Alhamdulillah, semoga nanti pembangunannya lancar."


"Aamiin."


Kyai itu tadi sudah memanggil seseorang, dan kini dua orang laki laki berpeci datang membawakan minuman dan makanan. Dia tak lain adalah Abram dan Fendi, Abram memutuskan untuk meliburkan kafe untuk beberapa hari karena ingin membantu pembangunan dipesantren ini.


Zara melihat kedua laki laki itu menunduk, Zara ingat siapa mereka Abram tapi satunya adalah laki laki yang Zara pengen imam seperti dia, tapi Zara tidak tau nama satunya.


Zara mengkode Raluna untuk mendekat. "Raluna, itu kak Abram." Bisik Zara.


"Kak Abram siapa?"


"Duh lupa lagi kalau kamu lupa ingatan, itu pemilik Lula yang ambil teman Lula. Itu alasan kenapa Lula sendirian." Raluna mengerti namun tak bisa mengingat. Saat kyai itu berbicara kembali Raluna mengangkat pandangannya, tak sengaja manik matanya bertabrakan dengan manik mata coklat milik Abram.


Dia? Bukankah dia teman anak Bu Wulan? Yang waktu itu Raluna lihat terus kepala Raluna sakit. Raluna merasa kepalanya sangat sakit, kilasan balik muncul. Kenapa setiap dia tak sengaja melihat kearah laki laki itu kepalanya sangat sakit.


Raluna tak bisa menahan sakit dikepalanya, setelah itu Raluna pingsan untung Zara cekatan dan langsung menompa tubuh Raluna.


"Astaghfirullah, umi Abi. Raluna pingsan." Mereka semua langsung panik, dan terus mengusap ngusap tangan Raluna.


Kyai sudah memanggil seseorang, tak lama kemudian seorang santri putri yang sangat cantik datang dengan sebuah tas yang dia bawa.


Ailin nama santri itu, kemudian mengoleskan minyak kayu putih dipelipis Raluna. Tak lama kemudian Raluna sadar, dihadapannya ada Abi, umi Zara David dan Balqis dengan wajah cemas mereka.


Tunggu. Siapa gadis cantik didepannya ini? Gadis itu pergi, dia tersenyum ke Abram namun Abram hanya mengangguk. Raluna merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya.


"Alhamdulillah, nak kamu sudah sadar?" Mereka semua pun berpamitan untuk pulang, sebenarnya mereka ingin segera pulang saat Raluna pingsan tadi. Namun ia tidak enak dengan kyai yang sudah memanggil seseorang untuk membantu Raluna.


Usman yakin, putrinya pingsan karena kepalanya sakit. Usman membawa Raluna ke rumah sakit. Di UGD, seorang dokter yang sudah memeriksa Raluna tengah berbicara kepada Usman dan Saidah.


"Anak kalian lupa ingatan?" Tanya dokter itu.


"Iya, dok."


"Anak kalian mengalami sakit kepala yang hebat saat mengingat sesuatu yang dia lupa."


"Apa sakit kepalanya berbahaya bagi anak saya dok?" Tanya Saidah.


"Alhamdulillah tidak, namun berbahaya ketika anak kalian berkendara kepalanya sakit kerena mengingat sesuatu. Itu akan mengakibatkan kecelakaan." Usman dan Saidah mengangguk paham. Kini mereka harus ekstra hati hati.


"Baiklah, anak kalian sudah boleh pulang. Saya permisi." Mereka semua pulang, kerumah mereka masing masing. Tapi Zara? Seperti dulu ingin selalu menginap dirumah raluna. David dan Balqis mengizinkan Zara untuk menginap, mereka mengikuti mobil Usman yang ternyata menuju rumah sakit.


Sesampainya dirumah raluna langsung dibaringkan ditempat tidur, Zara membantu Raluna untuk menggelar selimut tebal dan hangat milik Raluna yang bermotif Flaminggo.


"Zara baik sekali, terimakasih Zara." Keduanya berpelukan kemudian tidur disatu ranjang, seperti halnya seorang kakak yang menjaga adiknya yang sedang sakit.


Keduanya sudah berada didalam mimpi masing masing, mereka adalah dua gadis yang sama sama berjuang. Bedanya Raluna dulu berjuang untuk membanggakan orang tuanya, tapi Zara berjuang untuk menyatukan kedua orang tuanya dan menghilangkan segala kesalah pahaman yang terjadi diantara kedua orang tuanya.


Zara berhasil membuktikan kepada Balqis dan David, bahwa semua kecurigaan Balqis adalah ulah seseorang yang benci dan tidak suka dengan hubungan mereka.


Dua gadis itu kini tidur, seperti orang tanpa beban sedikitpun wajah damai terlihat jelas diwajah kedua gadis itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Assalamualaikum temen temen, Alhamdulillah udah nyampe dipenghujung aja nihh. Gimana kabar temen temen semua??? Semoga sehat selalu ya.


.


.


Heyooo, gimana puasa kalian??? Semoga lancar sampai hari raya nanti. Aamiin....


.


.


Oh iya, Nana mau kasih tau kalau nanti Nana bakal ada ujian jadi maaf ya temen temen kalau Nana bakal slow up. Tapi temen temen gausah khawatir, cerita ini gak bakal Nana gantung lama lama kok.


.


.


Udah gitu aja, sampai ketemu di bab berikutnya ya babayyyyyy!!!!!


.


.


.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏


.


.


.


8 April 2022