
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Yoka lagi, semakin mendekatkan wajahnya. Harum aroma parfum yang selalu dikenakannya benar-benar tercium, hembusan napas yang kini menerpa kulit Istrinya.
"A...a...aku," Dora benar-benar gugup saat ini, ketakutan? Tentu saja, dirinya takut hal yang sama akan terulang. Rasa perih yang membuatnya berjalan seharian bagaikan pinguin.
Tapi memang ini musim kawin bagi pinguin bukan?
"Kamu ingin aku bagaimana untuk membuktikannya?" pertanyaan yang benar-benar mendebarkan dari Yoka. Aliran darah yang semakin cepat, detak jantung yang memompa tidak teratur. Hingga bibir pemuda itu menempel di lehernya.
Ini gila! Sungguh benar-benar gila, bukankah seharusnya Dora merasa jijik, kala lidah pemuda itu berada di lehernya. Tapi tidak, dirinya tidak jijik sama sekali, memegang kain kemeja yang dipakai suaminya erat.
Insting sebagai wanita normal benar-benar berfungsi saat ini. Peredaran darah yang terlalu cepat ke otaknya, mungkin melumpuhkan syaraf dan logikanya.
"Aku harus bertahan, atau akan hanya menurut seperti sebelumnya. Itu sangat menyakitkan..." batinnya berusaha mengontrol tubuhnya.
Hingga Yoka menghentikan gerakan di lehernya. Menatapnya lebih intens, mata mereka bertemu sesaat.
"Tenang Dora, tahap pertama kamu sudah berhasil bertahan. Sekarang tinggal melarikan diri ..." fikiran penuh semangat darinya, berusaha keras mengontrol detak jantungnya.
Tapi apa bisa? Dirinya tidak yakin Yoka benar-benar mencintainya. Tapi entah kenapa dirinya tidak dapat mengendalikan diri kala bibirnya dipangut. Dua pasang mata yang terpejam, ini sungguh sulit dijelaskan olehnya. Seperti sihir atau mantra yang mengikatnya bagaikan boneka, untuk bergerak menyesuaikan diri dengan pemuda yang menuntunnya.
Bahkan lengan kemeja Yoka dicengkeramnya erat. Sebuah ciuman yang begitu memabukkan, hanya sesaat ciuman itu terlepas.
Siapa bilang Dora dapat mengontrol dirinya, benar-benar wanita yang saat malam pasrah, saat siang menyesal. Dirinya bahkan berjinjit menyesuaikan tingginya dengan tubuh Yoka. Pemuda yang merangkul pinggang dan bagian punggungnya. Sentuhan tubuh dengan jarak nol centimeter, mungkin hanya bersekat dua helai pakaian. Dapatkah menjadi minus kala tubuh mereka menyatu?
"Kamu mencintaiku?" tanya Yoka menghentikan segalanya sejenak. Hanya mengangguk, Dora hanya menjawab dengan anggukan. Melupakan sejenak tentang keberadaan Anggeline diantara mereka.
Bibir yang kembali menyatu, pemuda yang tersenyum disela ciumannya. Membimbing istrinya menuju kamar mandi.
Benar-benar perbuatan tercela dari dua pinguin yang tidak berpengalaman. Dari pintu kamar mandi yang setengah terbuka, terdengar suara kucuran air shower, menutupi suara laknat, yang membuat para singgel, melarikan diri dengan wajah memerah.
Video ilmu pengetahuan alam tentang bagaimana manusia memperbanyak diri, mungkin tidak begitu mereka perlukan. Jangan tanyakan apa saja yang terjadi di kamar mandi. Pastinya suaminya akan memberi pelajaran lebih banyak lagi pada istrinya.
*
Wanita itu membuka matanya, menatap ke arah jam dinding. Waktu kini menunjukkan pukul 2 dini hari. Sepasang jubah mandi masih tergeletak di lantai. Air di bathtub bahkan belum terkuras.
Selimut menutupi tubuhnya dan pemuda yang tengah tertidur. Tidak sesakit saat pertama kali melakukannya, dirinya menghela napas kasar, masih saja tergoda oleh bujuk rayu Yoka.
Wanita itu perlahan meraih jubah mandinya, berjalan menuju bathtub guna menguras air sekaligus kembali kembali membersihkan diri.
Suara mesin hairdryer terdengar, mengeringkan rambutnya. Matanya sedikit melirik ke arah cincin pernikahan yang tersemat di jemarinya.
Dirinya benar-benar sudah menikah, bahkan lebih dulu dibandingkan dengan Jovan dan Meira. Semua masih terbayang di benaknya kala mengikuti alunan suara piano di area belakang villa seorang pemuda yang merebut ciuman pertamanya.
Hari dimana dirinya mengetahui kenyataan hubungan Jovan dengan Meira. Pemuda itu juga ada di sana, menghabiskan malam dengannya di tengah hujan lebat dan deru suara petir.
Hanya beberapa bulan dirinya mengenalnya, hingga terjerat untuk menikah dengannya.
Mencintai Yoka? Apa dirinya sudah benar-benar mencintai Yoka? Mungkin iya, wajahnya tersenyum. Mulai berjalan duduk di atas tempat tidur, punggungnya menyandar di sandaran tempat tidur berukuran king size.
Membuka aplikasi menonton video, namun ada yang aneh, gambar suaminya terlihat di sana. Tangannya gemetar mulai memutar video.
Suara piano yang terdengar, membuat dirinya tertegun. Suara teduh yang penuh ketulusan, bahkan pemuda itu terlihat hampir menitikkan air matanya dalam senyuman, kala suara indah keluar dari bibirnya.
Lirik demi lirik lagu didengarkannya, meletakkan phonecellnya diatas bantal, kemudian kembali berbaring menghadap ke arah suaminya yang tengah tertidur.
Jemari tangannya terangkat, menyingkirkan anak rambut yang sedikit menutupi wajah Yoka.
"Kamu mencintaiku?" tanya Dora, air matanya mengalir, potongan video acara ulang tahun salah satu stasiun televisi itu masih terdengar.
Pemuda bisu yang ketakutan menunggu dirinya di depan rumah. Pemuda yang menjatuhkan diri, berenang memeluk tubuhnya, mengorbankan tubuhnya untuk menyelamatkan dirinya. Benar-benar seorang pemuda yang lembut, inilah suaminya.
*
Tapi apa benar? Pagi menjelang, saat itulah sosok itu berubah.
"Yoka nanti sore teman-teman sekampusku ingin mencari beberapa materi kuliah di toko buku. Aku akan pulang sedikit terlambat, ikut pergi dengan mereka," ucapnya memakan sarapannya.
"Buku-buku di perpustakaan villa lebih lengkap dari pada di toko buku. Jika ada yang kurang beritahu Arsen," tegas Yoka, tidak dapat dibantah sama sekali.
"Tapi hanya sampai jam 9 malam. Hanya satu jam, aku kuliah sore hari ini, pulang jam 8. Jadi hanya sebentar, lagipula teman-temanku wanita." Pinta Dora memelas.
"Terlalu berbahaya keluar pada malam hari. Jika temanmu wanita, kalian tidak akan dapat melawan jika ada orang yang ingin berniat buruk pada kalian." Yoka menghela napas kasar, memukul kepala wanita yang telah berstatus istrinya dengan sendok. Hanya pukulan pelan.
"Kalau begitu, kami akan mengajak seorang laki-laki!" bentak Dora.
"Laki-laki, kamu tidak akan dapat mengerti fikiran picik dari laki-laki. Mungkin dia akan membawamu, menghubungi teman-temannya untuk menggilirimu," kata-kata dari mulut Yoka, jemari tangannya mengepal, benar-benar mengingat detik-detik kematian ibunya.
"Kaku! Menyebalkan! Memang kamu bukan laki-laki?!" bentak Dora, berjalan pergi, diikuti dengan Arsen yang akan mengantarnya ke kampus.
Ini adalah hari pertama setelah pernikahan, namun Yoka tidak bersikap manis sedikitpun. Pemuda yang terus-menerus berusaha mengekangnya. Mungkin lambat laun, dirinya tidak akan diperbolehkan melangkah dari kamar.
Digiliri? Apa suaminya menganggap dirinya wanita murahan?
Tidak menyadari suaminya hanya ketakutan, ketakutan hal yang dialami almarhum ibunya terjadi pada istrinya.
*
Hingga mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju kampus. Dora terlarut akan fikirannya, dirinya tidak banyak memiliki teman sebaya. Sebagian besar teman sebayanya di desa sudah menggendong anak.
Apa salahnya memiliki teman? Teman-temannya juga tipikal orang-orang yang menyenangkan.
"Arsen, boleh aku pulang malam sekali saja. Hanya sampai jam 9, aku tidak akan menemui laki-laki lain. Hanya sekedar membeli buku," pintanya. Seorang gadis yang tidak pernah mengetahui pergaulan perkotaan.
Arsen menghela napas kasar, kemudian mengangguk. Selama masih dalam batas wajar mungkin dirinya dapat menjaga rahasia dari Yoka. Tidak tega mengekang wanita yang berstatus sebagai nyonya mudanya.
"Aku akan menunggu jam 9 malam di depan gerbang kampus. Pastikan kamu kembali tepat waktu, sebelum tuan muda menyadarinya..." jawaban Arsen penuh senyuman.