Silent

Silent
Pengganti



"Tante?" Amanda mengepalkan tangannya membentak Salsa, melihat kepergian Yoka.


Sedangkan Narendra menghela napas kasar, matanya menelisik. Hanya foto masa kecil Yoka yang ada di sana sedangkan foto masa remaja putranya hanya foto tanpa senyuman sedikitpun.


Foto almarhum Melda ditatapnya dari jauh. Pernikahan karena perjodohan tanpa cinta pada awalnya. Hingga berakhir saling mencintai, kebahagiaan singkat yang hanya berlangsung selama 11 tahun bersama putra mereka.


Wanita cantik yang selalu berusaha membuatnya tersenyum. Terkadang memarahi dirinya dan Yoka, merawatnya saat sakit. Wanita karier yang memiliki sifat keibuan, seakan tidak pernah lelah untuk dirinya dan Yoka. Wanita yang menyembunyikan sifat aslinya, kejahatan yang disimpannya selama 11 tahun.


Narendra berusaha menetralkan emosinya. Pria yang mulai bangkit dari sofa. Tapi tanpa diduganya Salsa memegang erat tangannya. Pria itu tersenyum lalu menepisnya.


"Sudah aku katakan, uang bulanan yang aku berikan cukup untuk menyewa pria muda. Sewa mereka," kata-kata darinya, melangkah pergi.


Kapan terakhir kali dirinya berhubungan dengan Salsa? Saat mabuk, 16 tahun lalu setelah dirinya kembali dari luar negeri. Ingin mengantar kepergian Melda. Namun terlalu cepat, Martin telah mengkremasi jenazahnya, menebarkan abu Melda ke laut, pria yang menatapnya penuh dendam. Berkata padanya, jika dirinya tidak pantas walaupun hanya untuk meminta maaf pada Melda.


Meminta maaf? Apa yang diketahui Martin? Dirinya hanya dapat tertawa dalam tangisannya saat itu. Membunuh istrinya sendiri, menyesali tindak menghentikan, tapi juga menginginkan kematian Melda.


Saat itulah dirinya meminum terlalu banyak alkohol. Berhubungan dengan Salsa, sesuatu yang tidak sengaja terlihat oleh Yoka. Mengatakan hal yang bodoh, tentang betapa menyenangkannya kematian Melda. Kematian yang pantas didapatkan istrinya yang sama berdosa nya dengan dirinya.


Dirinya berjalan beberapa langkah, menatap foto besar Melda yang memeluk Yoka kecil. 11 tahun terindah di hidupnya, sesuatu yang tidak akan kembali. Setelah kematian Yoka, tinggal kematian dirinya. Segalanya sudah diatur olehnya, memberikan seluruh warisan keluarga mereka pada yayasan amal. Bahkan tidak menyisakan sedikitpun pada Salsa dan Malik.


Sudah cukup dirinya membayar informasi yang diberikan Salsa tentang Melda. Setelah semuanya habis, tidak ada yang tersisa. Mungkin dirinya dapat meminta maaf, atas perbuatannya dan Melda.


Bertemu dengan Melda di kehidupan selanjutnya. Bukan dalam keadaan seperti ini, dapat mencintai dan menyayanginya tanpa rasa bersalah.


"Maaf..." satu kata yang berkali-kali tertahan di lubuk hatinya. Membawa anak dan istrinya mati bersamanya, setelah melukai hati mereka.


"Aku berjanji, di kehidupan yang akan datang, aku hanya akan mencintaimu. Melindungimu dengan nyawaku, hal yang di kehidupan ini tidak dapat aku lakukan. Akan aku lakukan di kehidupan yang akan datang. Tidak peduli kamu meludahi dan menghinaku, aku hanya akan mengejarmu di kehidupan yang akan datang. Bagaimana pun kamu membenciku, aku akan tetap mencintaimu. Maaf..." batinnya menatap foto besar seorang wanita cantik yang tersenyum. Ruang ada kosong di hatinya, benar-benar luka yang menganga.


Dilecehkan lalu dibunuh? Bahkan dirinya menyiksa Melda dari satu bulan sebelum kematiannya.


"Maaf..." kata-kata yang tertahan dalam tangisan berselimut tawa. Berjalan meninggalkan villa milik putranya.


Kebahagiaan yang tidak pantas didapatkan keluarganya. Setelah mengetahui Melda menginjak empat mayat hanya karena rasa iri.


Penebus dosa? Apa itu ada? Bukankah semua dosa sejatinya akan diminta pertanggungjawabannya oleh Tuhan? Entahlah.


Namun cinta pertama belum tentu cinta yang terakhir. Hanya satu hal yang diketahuinya, Melda adalah cinta terakhir untuknya. Cinta yang dibunuh dengan tangan sendiri, karena perasaan bersalah.


*


Sedangkan Salsa terlihat kesal, menunjukkan hubungannya dan Narendra baik-baik saja hanya dihadapan semua orang. Sejatinya? Dirinya bahkan tidak pernah disentuh.


Hanya dua kali dirinya di sentuh oleh Narendra. Pertama untuk menyiksa Melda, mengikatnya di kamar, berhubungan di hadapan wanita itu. Kedua, saat Narendra mabuk setelah kepulangan dari luar negeri. Karena tidak dapat melihat pemakaman istrinya.


Hanya dua kali, itupun yang pertama Narendra sengaja meminum afrodisiak agar dapat berhubungan dengan dirinya di hadapan Melda. Sedangkan yang kedua dalam keadaan mabuk, entah ini pernikahan macam apa.


Wajahnya tiba-tiba tersenyum, mengambil sesuatu di tas miliknya.


Amanda menghela napas kasar, dirinya sudah terbiasa dengan ini. Namun, menggunakan trik hanya untuk berakhir menjadi istri seorang pemuda bisu? Yoka seharusnya bersyukur dapat menikah dengannya.


Tapi tidak ada jalan lain, pemuda yang terlalu jual mahal. Matanya menelisik, villa luas bernilai puluhan milyar rupiah belum lagi aset lainnya. Semuanya adalah miliknya setelah kematian Yoka. Senyuman terlihat di wajahnya, menghela napas kasar.


Tidak menyadari Samy belum pergi, berada di area dekat tangga. Wajahnya tersenyum, entah apa yang ada di fikirannya. Permainan yang semakin menyenangkan untuknya. Mengendalikan boneka tali, mengendalikan alur seusai keinginannya.


Apa dirinya harus membiarkan Yoka berakhir menikahi Amanda? Pion mana yang lebih baik baginya Amanda atau Dora?


*


Sedangkan di tempat lain, Dora menatap tajam ke arah Yoka. Pemuda yang hanya tersenyum tanpa rasa bersalah padanya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dora geram, pada Yoka berusaha tersenyum.


Yoka menulis dengan cepat, kemudian menunjukkannya pada Dora.


'Kamu adalah nyonya-nya mulai sekarang. Dia adalah wanita yang menumpang hidup padamu. Jadi kamu bisa menghina, menendangnya, bahkan menyuruhnya mengikir kuku kakimu,'


"Mengikir kuku kaki?!" tanya Dora tertawa, menatap ke Yoka.


"Aku tidak mau menjadi nyonya villa ini," tegas Dora.


'Kenapa?' tulisan yang terlihat di papan putih Yoka.


"Karena kamu terlalu lembek! Bisa aku bayangkan memiliki anak kemudian nyawa anakku selalu terancam. Memiliki suami yang tidak dapat membela istri dan anaknya. Satu kesimpulan yang bisa diambil. Aku lebih baik menikah dengan pengawal di gerbang depan!" bentak Dora dengan nada tinggi.


Sejenak gadis itu menghela napas kasar, duduk di tepi tempat tidur di samping Yoka. Menatap pemuda yang tertunduk bagaikan kecewa.


"Dengar! Setiap wanita memiliki tipe ideal yang berbeda. Begitu juga denganku, aku hanya ingin hidup dengan tenang. Miskin juga tidak apa-apa. Tapi melihat keluargamu, suatu saat nanti kamu akan dipaksa menikah. Selain itu, fikirkan ini baik-baik. Kamu benar-benar mencintaiku atau menganggapku sebagai Anggeline?" lanjut Dora, sedikit menunduk, menahan perasaan sakit yang menghujam hatinya.


'Kamu adalah Dora, Anggeline adalah Anggeline,' Yoka menunjukkan papan putihnya.


"Bukan itu yang aku tanyakan?! Dasar bisu kamu tidak mengerti juga!" bentak Dora tiba-tiba menangis, air matanya mengalir, bahkan hidungnya memerah, pertanda ingus yang tertahan. Akibat menahan perasaannya sendiri.


'Jadi apa?' pertanyaan yang benar-benar berbelit-belit dari Yoka.


"Kamu menyukaiku atau Anggeline! Kamu lebih mencintaiku atau Anggeline?! Mungkin suatu hari kamu akan meninggalkanku karena Anggeline mengemis ingin kembali!" bentakan lebih keras lagi dari Dora.


Yoka tersenyum, menjatuhkan tubuh Dora dengan cepat. Mengunci pergerakannya di atas tempat tidur.


"Ka... kamu mau apa?" tanya Dora gelagapan. Yoka hanya tersenyum, terlihat lebih dingin dari biasanya.


"Aku ingin membuatmu tidak dapat keluar dari villa ini. Dengan cara yang dikatakan Arsen," isi fikiran pemuda yang mulai mendekatkan wajahnya.


Jantung Dora berdegup cepat, wanita yang bukannya memberontak, tapi malah memejamkan matanya.