
Pagi menjelang, mata Melda perlahan terbuka, menatap kearah Narendra yang tertidur di sampingnya. Dirinya benar-benar melakukannya? Mungkin itulah yang ada dibenaknya saat ini, merasa bodoh dan bersalah.
Apa Viona akan marah? Tapi ini memang harus dilakukan agar keluarga Narendra tidak mengusik Viona.
Sedangkan Narendra baru saja membuka matanya, tersenyum menatap ke arah Melda.
"Apa menyakitkan? Maaf..." ucapnya, mulai bangkit duduk di tempat tidur.
Senyuman terlihat di wajah pemuda itu. Darah yang sedikit mengering ada di atas sprei. Dirinya menghela napas kasar, benar-benar gadis yang menjaga diri. Pemuda yang tertunduk, Viona memang tidak lagi perawan saat pertama kali tidur dengannya. Mengapa? Viona dulu memiliki kekasih yang berjanji akan menikahinya, sudah tidur beberapa kali dengannya. Namun, berakhir menikah dengan wanita lain.
Tidak marah pada Viona? Tentu saja, almarhum Ghani ingin dirinya menjadi suami Viona. Menjaga adiknya dengan baik, karena itu dirinya akan tetap menjadi suami yang sempurna untuk Viona.
Bodoh bukan? Apa dirinya terlalu serakah? Entahlah, namun gadis menyebalkan ini benar-benar membuatnya nyaman.
"Aku wanita murahan..." Melda menghela napas kasar, mengusap-usap perut ratanya.
"Apa sudah ada anak di dalamnya?" tanyanya pada Narendra.
Narendra menggeleng."Mungkin perlu beberapa kali lagi melakukannya, agar anak itu tumbuh,"
Pemuda yang tersenyum, tidak menahan dirinya lagi, kembali menguasai tubuh Melda. Wanita yang nampak kaku, namun menikmati segalanya. Kala cairan tubuh mereka menyatu, menciptakan bayi mungil, yang entah kapan akan terlahir.
*
Hari sudah mulai siang, ini adalah hari Minggu. Narendra biasa membawa kedua orang tua Viona untuk terapi akupunktur. Sekedar untuk meredakan lelah mereka, membelikan beberapa kebutuhan rumah untuk istri pertamanya.
Hingga langkahnya terhenti...
Narendra mengenyitkan keningnya, entah kenapa tiba-tiba sosok pemuda ini begitu menyebalkan baginya. Pemuda yang tengah tersenyum, bergurau dengan Melda yang menikmati makan siangnya.
Anak dari seorang pelayan, kini telah lulus kuliah menjadi pengacara muda. Jika sudah mapan, mengapa harus tinggal di rumah majikan?
"Sedang apa disini?" tanyanya menatap tajam ke arah Martin.
"Sedang membicarakan tentang kantor baruku pada nona muda. Iyakan kan Melda?" Martin kembali tertawa, mungkin gurauan yang sebelumnya diucapkan Melda masih terngiang di dirinya.
Melda? Seorang anak pelayan memanggil majikannya dengan nama? Sungguh pemuda ini benar-benar tengil.
Hingga dirinya menghela napas kasar kembali melangkah. Suara Martin kembali terdengar.
"Kamu sendiri mau kemana? Apa menemui istri pertamamu? Jangan terlalu sering menemuinya, jika tuan dan nyonya besar (orang tua Melda) tau tentang keberadaannya, maka mereka akan membuat perusahaan keluargamu yang telah menyatu menjadi hancur total..." cibirnya.
"Martin, tidak boleh seperti itu. Aku yang salah saat ini, mengganggu mereka hanya untuk permintaan kakek," ucap Melda.
Terlalu baik? Memang inilah nona mudanya. Tidak menginginkan milik orang lain, bukan pula orang yang tega melakukan hal buruk.
Jemari tangan Narendra mengepal, dirinya tidak ingin pergi. Namun, dirinya memiliki hutang yang harus dibayarnya seumur hidup.
Pemuda yang melangkah pergi pada akhirnya, menyetir mobilnya meninggalkan rumah.
*
Bulan demi bulan berlalu, kabar yang baik? Melda telah mengandung, dan anehnya Viona juga mengandung di usia kandungan yang hanya berselisih beberapa bulan.
Iri? Mungkin terkadang, namun dirinya lah yang ada antara Viona dan Narendra. Melda menyadarinya, bahkan kala melahirkan Yoka, Narendra hanya menemaninya beberapa jam.
Itu tidaklah mengapa, dirinya sadar. Mertua yang baik, kedua orang tuanya, semuanya menyambut kehadiran Yoka ke dunia ini. Sedangkan Viona? Hanya memiliki Narendra, bahkan harus mencemaskan ibunya yang menderita alzheimer dan ayahnya yang tidak dapat berjalan.
Dirinya lebih beruntung, mungkin itulah yang ada di hati Melda mensyukuri segalanya. Menyerahkan kesuciannya? Dirinya tidak menyesal walaupun akan berakhir dengan perceraian yang entah kapan. Mengapa? Tentu saja karena kehadiran Yoka dalam hidupnya.
Bayi kecil dengan mata yang jernih, menggenggam jemari tangannya. Itu sepadan dengan kesuciannya.
Sedangkan usia kandungan Viona saat ini menginjak bulan ke 7. Iri pada Melda yang memiliki segala fasilitas? Tidak, dirinya iba pada Melda. Menatap ke arah Narendra yang terlihat lelah setelah menemani persalinan Melda. Narendra yang segera menemuinya, setelah mengetahui ibunya yang menderita alzheimer melarikan diri ke jalanan. Butuh sekitar beberapa jam untuk menemukan ibu kandung dari Viona.
Wajah sang wanita yang mengeluarkan air matanya. Tidak menginginkan kekayaan Narendra. Hanya menginginkan hidup dengan baik bersama anak dan kedua orang tuanya.
*
Satu bulan berlalu begitu cepat, kini Yoka tengah tertidur di kereta dorongnya. Melda tersenyum, mengelus perut Viona.
"Dia akan berteman dengan Yoka. Seperti kita, omong-ngomong Narendra pergi ke luar pulau selama sebulan. Apa kamu perlu aku temani?" tanya Melda.
Viona menggeleng."Sudah ada pelayan dan perawat,"
"Kalau begitu aku pulang. Yoka sudah tidur, jadi aku pulang dan mengerjakan tugas kantor dulu," ucapnya tersenyum.
Viona mengangguk, tersenyum pada Melda. Tumpukan peralatan bayi ada disana. Melda benar-benar tidak berbakat menjadi pelakor. Membelikan Viona segala kebutuhannya.
Namun, kala awan hitam menutupi cahaya matahari. Saat itulah hujan akan turun, bagaikan seorang ibu yang telah berada di sisi-Nya, turun menjadi tetesan air hujan untuk menemui anaknya.
ART yang dulunya bekerja pada Melda mulai menyiapkan lemon tea hangat untuk Viona. Botol kecil yang entah apa isinya dicampurkannya.
Mengapa? Apa ini perbuatan Melda?
Viona meminumnya tanpa rasa curiga sedikitpun. Sedangkan sang ART meraih kunci, mengunci sang wanita penderita alzheimer dan sang pria yang lumpuh.
Perawat yang ditugaskan Narendra? Perawat yang telah tidak sadarkan diri di warung dekat sana, setelah memakan nasi bungkus pemberian Melda yang diantar sang ART.
Hanya sebentar, tiba-tiba saja perut Viona sakit. Obat untuk mempercepat proses kelahiran, itulah yang dicampurkan pada minumannya.
Berjalan menuju pintu, tidak ada gunanya. Mengetuk pun tidak ada yang membukakan. Asap mulai terlihat dari bagian belakang rumah. Viona berusaha bergerak menyelamatkan kedua orang tuanya. Namun percuma, kobaran api telah meraih kamar itu, hanya benda jatuh dan suara teriakan terakhir yang terdengar.
Darah telah mengalir cukup banyak dari pangkal pahanya. Siapa yang berbuat seperti ini? Orang pertama yang ada di fikirannya adalah Melda. Mungkin Melda menginginkan kasih sayang Narendra atau cemas jika Yoka tidak akan menjadi pewaris tunggal nantinya. Namun, anak di kandungannya tidak memerlukan kekayaan.
"Melda?" lirihnya tidak sadarkan diri.
*
Tapi apa benar? Viona membuka matanya, tubuhnya benar-benar tidak dapat bergerak setelah mengalami pendarahan hebat.
Matanya menelisik, mengamati Melda yang tengah memberikan ASInya pada putra kecil Viona yang terlahir prematur.
Melda yang melakukan segalanya? Tidak, bukan Melda. Dirinya dan putranya tidak mungkin diselamatkan jika pelakunya adalah Melda. Air matanya mengalir, menatap ke arah wanita itu. Dirinya benar-benar egois kali ini hanya menginginkan keselamatan putranya sendiri.
Mengucapkan pesan terakhir sebelum kematiannya.