
Dora mengerem laju motor matic yang dikendarainya. Menatap ke arah pemuda di hadapannya. Pemuda yang masih mengenakan setelan jas, namun dasi yang terlihat longgar. Wajah rupawannya terkena sorotan lampu depan motor.
Wanita yang menunduk kemudian mulai menitikkan air matanya. Menangis sesenggukan, masih mengenakan helmnya. Yoka sengaja memarkirkan sepedanya, dengan posisi masih menghadang motor istrinya.
"Jangan menangis..." pintanya menghapus air mata Dora.
"A...aku..." Wanita yang sesegukan terbata-bata menatap ke arah mata sang pemuda.
Yoka menggeleng."Jangan mengatakan untuk meninggalkanku. Aku hanya sehelai daun kering..." ucapnya ambigu, perlahan memejamkan matanya, mengecup pelan bibir istrinya.
"Sudah tidak marah lagi?" tanya Yoka, dijawab dengan gelengan kepala oleh Dora.
"Mau aku membuat jalan lahir lagi?" Satu pertanyaan penuh senyuman dari suaminya. Membuat Dora memukul bahu Yoka.
"Dengar, aku mencintaimu. Hanya ingin memilikimu. Karena itu aku ingin kamu menjadi wanita yang kuat. Hadapi Salsa dan Anggeline seperti tadi. Karena itulah aku tidak langsung mengatakan ini anak kita," lanjut Yoka, menyentuh dagu istrinya, agar hanya menatap ke arahnya.
Dua pasang bola mata yang bertemu. Saling menatap menebak isi hati satu sama lain.
"Aku mencintaimu," Dua kata yang selalu melumpuhkan syaraf istrinya.
"Aku... Aku ..." Dora masih terbata-bata.
"Aku akan membawamu bersenang-senang malam ini," ucap suaminya tersenyum, merebut kunci motor dari Dora. Kemudian membonceng istrinya.
Dora hanya terdiam mengikuti instingnya memeluk pinggang suaminya. Wajahnya bersandar di punggung Yoka. Walaupun fikirannya menentang, namun ini tetap terasa hangat baginya.
"Ini rem? Ini gas? Benar begitu bukan?" tanya Yoka pada istrinya.
"Kamu tidak pernah menaiki..." belum habis kata-kata Dora, Yoka sudah mulai melajukan kendaraannya. Berkelok ke kiri dan ke kanan.
"Yoka hentikan!" pinta Dora ketakutan. Namun pemuda itu tetap berusaha hingga dapat melajukan motor secara normal.
"Beberapa kali belajar langsung bisa?" Dora mengenyitkan keningnya.
"Tentu saja, seharusnya kamu bangga memiliki suami sepertiku. Pria yang kaya dan tampan dari sejak dilahirkan," jawaban dari suaminya.
Dora hanya tersenyum, memeluk pinggang Yoka semakin erat. Hingga gedung tertinggi di kota tersebut terlihat, lantai satu merupakan restauran dan lobby hotel.
Pemuda yang masuk tanpa memesan kamar. Tidak ada yang mencegahnya selaku pemegang tiga perempat saham hotel.
Tombol lantai lift paling atas ditekannya.
"Kita mau kemana?" satu pertanyaan dari Dora.
"Membuktikan bahwa aku hanya daun kering," Jawaban ambigu Yoka. Entah apa yang ada di fikirannya saat ini. Menuntun istrinya menaiki tangga besi yang telah berkarat setelah keluar dari lift.
Cahaya lampu di ruangan terbuka yang kosong terlihat, atap gedung pencakar langit. Tidak ada kejutan atau apapun disini hanya ada sosok suaminya.
Perlahan angin malam menyisir rambut hitam pemuda yang berada di sampingnya. Pemuda yang mulai mengambil balok kayu besar meletakkannya sebagai alas duduk.
"Maaf, kamu ingin mengetahui segalanya bukan? Aku hanya daun kering..." gumamnya menitikkan air mata. Untuk pertama kalinya Dora melihat Yoka yang telah dapat bicara dengan air mata mengalir.
"Kamu bukan daun kering. Kamu adalah dahan kokoh yang melindungiku." Dora menggenggam jemari tangannya.
"Apa kamu akan menemaniku? Atau seperti ibu dan Anggeline kamu tetap akan pergi. Tapi aku tidak dapat melepaskanmu. Aku sudah gila..." ucap Yoka tersenyum pahit.
Dora mengangguk, menatap ke arah suaminya. Perlahan menarik kepala Yoka, membuat Yoka menyender di bahunya.
"Jangan meninggalkan aku, karena aku hanya sehelai daun kering," ucapnya menatap ke arah depan. Perlahan goresan air hujan terlihat, bagaikan menerpa cahaya lampu. Bukan hujan lebat, hanya deru hujan gerimis.
"Em," Dora hanya mengangguk, menyanggupi.
Namun apa yang ada di hati manusia tidak diketahuinya. Wanita hamil yang tiba-tiba memeluknya erat.
"Aku mencintaimu..." ucapnya.
Perlahan tersenyum menahan tengkuk Dora kembali menyatukan bibir mereka. Bagikan tidak mempedulikan angin malam yang berhembus diselingi air hujan yang turun.
Mengapa? Bukan mulut mereka yang berbicara namun hanya sepasang hati. Hati seorang wanita yang menginginkan tempat perlindungan dan hati seorang pria yang rapuh.
Dapatkah mereka bersama? Air mata yang mengalir bercampur air hujan yang mengalir.
Jika Yoka mati maka Dora hanya dapat tertunduk menangisinya. Memeluk kedua orang buah hatinya.
Namun jika Dora mati, tidak akan ada tempat untuk berpijak bagi suaminya. Tidak memiliki apapun, hanya kelurga kecilnya saja.
"Jika suatu saat aku mati terlebih dahulu aku akan bahagia, karena mengetahui hujan akan menghapus air matamu perlahan," batin Yoka, melepaskan ciumannya sesaat menatap wajah istrinya.
"Jika suatu saat aku mati terlebih dahulu aku akan meminta pada Tuhan agar memberikan kebahagiaan padamu. Pria kesepian yang aku cintai..." Kata-kata tertahan yang tidak diucapkan Dora.
Hanya dua kata yang terucap di tengah deru air hujan."Aku mencintaimu,"
Sebuah takdir yang tidak dapat dielakkan. Pemuda yang mati-matian melindungi istrinya dan seorang istri yang tidak ingin dilindungi. Hanya menginginkan kebahagiaan suaminya. Sebuah takdir yang tertulis dari awal kala, sebuah kalimat yang mungkin sempat diucapkan Samy. Membuat Dora jatuh cinta pada Yoka, hingga rela mengorbankan nyawanya untuk suaminya.
Sebuah tujuan konyol yang terwujud. Bukan karena perhatian namun, perasaan iba pada pria yang dicintainya. Pria yang dianggapnya selalu kesepian.
...Daun kering? Kamu bukan daun kering. Kamu adalah pohon tua ratusan tahun....
...Sebuah pohon tua yang berdiri sendiri, terlihat kesepian. Menatap orang-orang yang berteduh di bawahnya....
...Tidak ada yang tinggal hanya sekedar untuk menyentuhnya....
...Karena kamu adalah pohon tua .Menyaksikan satu persatu orang bahagia dan menangis....
...Kamulah pohon tua, yang bahagia, kala seekor kupu-kupu kecil putih terbang berlindung dari hujan pada tubuhmu....
...Merasa tidak kesepian lagi, kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya yang rapuh. Perlahan mencintai sang pohon tua ratusan tahun....
...Namun, kupu-kupu putih kecil yang hanya dapat hidup beberapa minggu. Melupakan waktu hidupnya yang singkat....
...Terbaring di tanah pada akhirnya, dengan sayapnya yang rusak....
Dora.
*
Sementara itu di kediaman utama.
Narendra menghela napas berkali-kali, menetralkan dirinya agar tidak tertawa. Mata semua orang tertuju pada Anggeline yang berusaha bangkit dari lantai setelah dibanting dengan kencang oleh Yoka.
"Bodoh..." gumam Martin memakan makanannya dengan tenang, menahan tawanya.
Sementara wanita itu kembali berjalan seanggun mungkin, duduk di kursinya.
"Paman menertawakanku?" tanya Anggeline.
"Apa hakmu melarangku tertawa. Wanita yang tidak ingat dengan statusnya," gumam Martin.
Anggeline entah kenapa benar-benar kesal dengan kedatangan Martin yang dari awal hanya dapat mencibirnya. Wanita yang meraih sebotol anggur, menyiram tubuh Martin menggunakannya.
Sungguh benar-benar berani, Narendra kali ini mendapatkannya tontonan yang benar-benar menyenangkan.
"Dasar perjaka tua!" teriak Anggeline, pada Martin.
"Kamu berani menyiramku..." tanya Martin mengeluarkan aura mengintimidasi.
Entah kenapa keberanian Anggeline tiba-tiba lenyap, menelan ludahnya sendiri."Maaf, paman..." teriaknya kabur menuju kamarnya.