Silent

Silent
Takut?



Benar saja, Dora menepati kata-katanya. Membiayai kedua wanita itu untuk melakukan rehabilitasi ketergantungan pada narkotika. Jemari tangannya gemetar hari ini dirinya harus menemui Chery. Hari kepulangan suaminya benar-benar sudah dekat.


Dua tahun tidak bertemu, membuat sang pinguin plin-plan lebih mudah memutuskan untuk pergi. Wajah mengerikan dari senyuman menyeringai suaminya selalu terbayang beberapa hari ini. Bagaimana jika Yoka kembali? Dirinya masih bingung hingga saat ini.


Chery yang memang sudah dihubungi lebih awal oleh adiknya, tersenyum menatap Dora yang datang dengan membawa koper."Kakak boleh aku ikut pergi ke Las Vegas?" tanyanya.


"Boleh, apa suamimu berselingkuh?" tanya Chery mempersilahkan adiknya masuk, sekaligus berlari ke dalam mengemasi barang-barangnya. Sebelum adik kecilnya berubah fikiran lagi.


"Tidak, tapi dia benar-benar protektif, posesif, aku..." kata-kata Dora disela.


"Kamu kenapa?" Chery mengenyitkan keningnya.


"Aku takut, dia pernah memukul ayah tiri kita hingga tidak sadarkan diri, kemudian menarik rambutnya, menyeretnya. Tapi aku segera menghentikan tindakannya. Ada lagi, dua orang mahasiswi yang membicarakanku sebagai wanita murahan, dijerat untuk menjadi wanita penghibur olehnya. Aku...aku, dia benar-benar mengerikan!" Dora menutup matanya sesaat ketakutan.


Seorang kakak yang mungkin sama posesifnya mengenyitkan keningnya. Sifat protektif dan posesif yang serupa, mungkin dirinya dapat memahami perasaan adik iparnya.


Namun, dirinya ingin membawa Dora bukan? Karena itu dirinya harus menjelek-jelekan adik ipar yang mungkin sepaham dengannya.


"Sangat mengerikan, pantas saja kamu ingin pergi." gumam Chery meraih box koper kecil miliknya. Memeriksa ada berapa stok peluru dalam koper miliknya, untuk melindungi adiknya nanti.


"Iya, awalnya dia kesulitan bicara. Tapi setelah dapat bicara sifat mengerikannya jauh lebih terlihat. Kakak, jujur saja aku bahkan tidak berani bertemu dengannya setelah mendengar cerita dari dua mahasiswi yang menjadi korbannya," komat-kamit mulut Dora berucap, sambil memakan setoples cemilan kacang milik kakaknya.


"Iya, sifat protektifnya lumayan mengerikan," ucap Chery memasukan obat bius ke dalam koper. Sekali lagi dengan tujuan melindungi adiknya.


"Kakak tidak tahu saja, berapa mata-mata yang mengawasiku. Bahkan dua pelayan yang bagaikan ajudan untuknya. Aku setiap hari hidup dalam ketakutan, bahkan untuk melangkah sekalipun." Komat-kamit mulut itu bicara sambil mengunyah.


"Chery mengangguk, mulai duduk di samping adiknya tersayang. Suamimu sudah keterlaluan. Mulai hari ini hanya akan ada kakak yang melindungimu." Ucapnya memeluk pinguin kecil yang tengah mengerami telur.


Chery mengenyitkan keningnya, dirinya lupa membawa semprotan cabai dan alat kejut listrik. Dengan tujuan yang sama untuk melindungi adiknya.


*


Sore menjelang, benar-benar membuat kejutan itulah yang dilakukan Yoka. Pulang dua hari lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Kembar? Dirinya akan menjadi ayah dari sepasang anak kembar?


Menarik kopernya di area kedatangan penumpang. Benar-benar melangkah dengan cepat.


"Yoka! Tunggu!" teriak Samy datang dari belakang mengikuti langkahnya.


"Kamu kembali ke kediaman utama bersama Arsen. Aku akan menjemput Dora di kampus," ucapnya pada Samy, menadahkan tangannya meminta kunci pada Arsen yang datang hendak menjemputnya. Kemudian melajukan mobil Arsen dengan kecepatan tinggi.


"Kita pulang naik apa?" tanya Samy benar-benar berusaha tersenyum.


"Aku akan memesan taksi online," jawab Arsen meraih phonecell di sakunya.


"Kakak sialan," teriak Samy membanting koper miliknya. Tidak dapat menerimanya, pemuda yang segera berjalan cepat ke tempat penyewaan mobil dekat bandara.


Menyewa sebuah mobil sport, kemudian mengikuti mobil Yoka, menggunakan GPS phonecell sang kakak yang terhubung dengan phonecellnya.


"Bar-bar! Sifat mereka benar-benar mirip," Arsen yang mengikuti Samy ke tempat penyewaan mobil, mengenyitkan keningnya heran.


*


Apa yang terjadi hampir tiga tahun ini? Dirinya membuat jaringan finansial yang kuat di luar negeri. Melalui jalur investasi pada beberapa perusahaan yang memiliki kestabilan.


Bahkan mengikuti investasi infrastruktur melalui beberapa perusahaan besar. Seperti jalan tol, dan tower apartemen. Cukup menghabiskan banyak finansial, namun bagaikan sepadan, segalanya akan kembali perlahan.


Ayah kandung Malik? Mereka selalu berhasil menghindar dengan berlindung pada aparat penegak hukum atau perusahaan yang akan menjadi tempat mereka berinvestasi.


Kini sudah sudah saatnya kembali, tidak ada yang perlu ditakutkan hingga harus bersembunyi di dalam cangkang lagi. Mobil yang dikemudikan Yoka berhenti di depan area kampus. Pemuda yang menunggu di dalam mobil selama beberapa saat.


Namun setelah melewati 20 menit waktu kepulangan istrinya. Wanita yang tengah hamil tua itu belum juga terlihat.


Hingga pada akhirnya Yoka memutuskan untuk turun dari mobil. Berjalan melewati area parkir, beberapa mata menatapnya tanpa berkedip. Seorang pemuda rupawan yang melangkah dengan cepat.


Ada yang berbisik-bisik ingin mengetahui sang pemuda yang terlihat high quality dari jurusan mana. Ada juga yang mengira pemuda itu dosen baru atau model yang diundang untuk mengiklankan kampus mereka.


Namun entahlah, pemuda yang terlalu fokus mencari keberadaan istrinya. Hingga pada akhirnya, setelah menemukan ruangan class yang diikuti istrinya telah bubar. Dirinya mendatangi ruangan dosen, usai bertanya beberapa kali tentang ruangan dosen muda bernama Tantra.


Ruangan yang dibukanya tanpa mengetuk pintu."Anda dokter Tantra?" tanyanya berusaha tersenyum, mengingat bagaimana sang dosen muda meyakinkan istrinya untuk bercerai beberapa bulan lalu. Kala dirinya bersembunyi di kamar mandi rumah sakit.


"Iya ada apa? Anda siapa?" tanya sang dokter melepaskan kacamata bacanya.


"Aku Yoka, suami sah Dora. Aku ingin menjemput istriku. Apa kamu meminjamnya untuk dijadikan asisten lagi?" tanya Yoka menatap sang dosen idola.


Tantra berusaha tersenyum, kemudian menghela napas kasar."Jangan mengaku-ngaku, suaminya adalah Narendra. Pengusaha yang cukup disegani,"


"Aku anak Narendra. Ayahku yang mengurus istriku selama kepergianku ke luar negeri," jawab Yoka mengenyitkan keningnya mulai tidak sabaran.


"Menitipkan istri pada orang tua saat kamu pergi ke luar negeri? Benar-benar suami yang tidak bertanggungjawab," sindir Tantra.


"Aku hanya perlu jawaban Dora dimana," gumam Yoka.


"Sedang ada di rumahku. Memasakkan makanan untukku. Seperti pasangan suami-istri hangat yang lainnya," jawabannya.


Yoka melangkah matanya menelisik, berjalan membelai sebuah pisau bedah yang tajam.


"Terkadang sebuah candaan dapat menjadi imajinasi yang buruk bagi orang lain..." Yoka meraih pisau bedah.


"Aku menyukai Dora, kamu meninggalkannya selama..." kata-kata sang dosen muda terhenti.


Srash!


Pisau yang sebelumnya ada di tangan Yoka kini menancap di rak kayu. Tepat di samping wajah Tantra. Pemuda yang jatuh dari kursi putarnya. Ketakutan, cemas, itulah yang terlihat saat ini.


"Pernah mendengar psicopat? Aku pernah didiagnosis memiliki ciri kecenderungan prilaku seperti mereka ketika kecil. Tapi ibuku membawaku ke psikiater, merubah kepribadianku pelan-pelan. Tapi mungkin ada beberapa sifat yang tidak berubah, Egois...aku ingin memiliki sesuatu yang aku suka hanya untuk diriku sendiri..." Bisiknya pada telinga dokter Tantra yang masih duduk ketakutan di lantai. Bau Pesing tiba-tiba tercium, benar-benar pemuda yang lebih mengerikan daripada melihat setan sekalipun.


"Dora tidak ada di sini! Dia ijin pulang lebih awal..." jawaban jujur dari Tantra