
Assalamualaikum temen temen, Alhamdulillah bisa up lagi nihhh... Udah siap baca bab 31???
.
.
Happy Reading ♥️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di tempat lain, seorang pria dengan jas putih yang terpasang rapi berjalan mendekati mobil Lamborghini hitam yang terparkir dia area parkiran khusus.
Dia adalah salah satu dokter di Rumah sakit Royal Hospital tepatnya dimana Raluna saat ini dirawat. Entah kenapa akhir akhir ini perasaannya terasa berat, seperti ada sesuatu yang mengganjal. Tapi ia juga tak tau apa penyebabnya.
Tangan itu hendak membuka mobil yang sudah tidak terkunci sebelum akhirnya suara telepon terdengar dari saku kemejanya.
"Assalamualaikum. Maaf sebelumnya mengganggu, saya ada keperluan mendadak tapi masih ada satu pasien yang belum saya tangani. Saya minta tolong boleh dok?" tanya orang diseberang telepon.
"Waalaikumsalam-" pria itu diam sejenak, kemudian melihat ke layar hp nya tidak ada nama di nomor ini.
"Maaf ini siapa?"
"Maaf dokter, saya dokter Vilia dokter spesialis syaraf. Kebetulan saya dengar dokter juga dokter spesialis syaraf, jadi saya minta tolong dokter. apakah boleh?"
"Tolong apa?" jawabnya datar.
"Tolong gantikan saya periksa pasien di ruang inap VIP 1A. Apa dokter bisa? Maaf sebelumnya jika merepotkan dokter."
Pria itu diam, menimang sejenak keputusannya sebelum menjawab. Terdengar tarikan nafas pelan dari pria itu, "baiklah."
"Terimakasih dokter!, kalau begitu saya tutup assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Pria itu memasukkan kembali benda pipih yang bisa dilipat itu kedalam saku kemeja abu abunya. Mengambil kunci disaku celananya dan mengunci kembali mobilnya. Dia kemudian berjalan masuk kedalam rumah sakit.
Mata elang pria itu melirik satu persatu tulisan diatas pintu, akhirnya pintu yang ia cari sudah ditemukan segera ia membuka handle pintu kemudian masuk kedalam.
"Assalamualaikum." pria itu tercekat, diam di tempatnya. Jantungnya seketika berdebar kencang, otot kakinya serasa lemas melihat pemandangan di depannya.
"Waalaikumsalam." Saidah, Usman juga ikut terdiam melihat kedatangan dokter itu. Sementara Reza dan nada mereka hanya bisa saling lirik satu sama lain karena heran akan ketiganya yang diam seperti patung.
Usman berjalan mendekat kearah pria itu, lebih tepatnya calon menantu. Mereka tidak memberitahu pria itu karena tidak ingin membuat dia khawatir.
Usman menepuk pundak pria itu, ya dia Abram Zahir Zein Maulana. "Nak.. maafkan Abi."
"Jadi ini penyebab saya cemas akhirnya akhir ini?"
"Abram. Abi tidak ingin kamu khawatir nak."
"Saya faham Abi, saya belum menjadi suami Raluna jadi saya belum berhak marah untuk hal ini. Namun saya sedikit kecewa karena Abi merahasiakannya." suara Abram terdengar bergetar. nampak sekali dia sedang menahan tangis.
"Temui Raluna tapi jangan pandangi dia. Abi akan marah jika kau terus memandanginya."
"Saya akan menikahi Raluna saat ini juga, kalau itu akan membuat saya terus memandangi Raluna bi."
"Saya akan berusaha menjaga pandangan saya, sampai nanti saya halal memandangi terus putri Abi." Usman tersenyum, ia mengerti Abram datang kesini untuk memeriksa putrinya sebagai seorang pasien.
Abram berjalan pelan menuju kasur tempat Raluna terbaring, matanya tertutup pria itu langsung memalingkan pandangannya. Menahan sesak, ia mencoba kuat.
Dengan tangan yang terbalut sarung tangan medis, pria itu mendekat dan hanya mengecek denyud nadi ditangan Raluna, mengecek mata dan mengatur infus. Matanya tak sengaja melihat memar ditangan Raluna yang sudah dibaluti perban, sepertinya plaster itu sudah harus diganti.
Abram mengambil gunting, membuka balutan perban dengan perlahan. Nampak luka yang sudah dijahit, dia akhirnya membersihkan dan mengobati luka itu kemudian menutupnya kembali dengan perban baru.
Secepat kilat dia menyelesaikan semua ini kemudian dia bergegas pergi dari ruangan ini. Usman paham mengapa Abram melakukan itu, dia kemudian duduk disamping Raluna dan menggenggam tangan putrinya itu.
"Nak.. jangan tidur lama lama ya." sebuah kecupan mendarat di kening Raluna. Rasa sayang seorang ayah, sekaligus rasa sedih melihat putrinya seperti ini.
Kini dua pasang manusia tengah duduk di sofa, orang itu Saidah dan Usman, Reza dan nada. Reza sengaja membawa mereka semua untuk duduk berkumpul disini.
"Saidah, papih sudah atur semua untuk acara nanti malam. Papih sudah undang satu panti asuhan dari desa____ untuk mendoakan Raluna." ucap Reza.
"Benar pih?" tanya Saidah nampak tak percaya.
"Iya."
"Yasudah, papih sama mamih pulang dulu ya. Mau nyambut anak anak yang bentar lagi datang." Reza bangkit disusul nada, Usman dan Saidah.
"Terimakasih banyak pih." Saidah berhambur ke pelukan Reza menyeka sedikit air matanya yang keluar.
"Mari saya antar." ucap Usman.
"Tidak perlu nak, sopir sudah menunggu kami dibawah. Kamu jaga saja cucu kakek. Kalau begitu kami permisi dulu ya-"
Sebelum benar benar pergi Reza mendekati Saidah dan membisikan sesuatu, "jangan cengeng papih mau pulang."
Muka masam langsung terbentuk karena bisikan papihnya itu, kemudian dua paruh baya itu bergegas untuk turun kebawah.
Setelah Saidah dan Usman menyalami punggung tangannya Reza dan nada segera pamit pulang, "Assalamualaikum nak. Besok kakek kesini lagi."
Saidah melambaikan tangannya, "Waalaikumsalam hati hati pih, mih.”
•
•
•
•
Tiga Bari Berikutnya.
"Lebih baik saya menunggu mu dipisahkan jarak, dari pada dipisahkan kesadaran. Hati saya hancur melihat kamu seperti ini Raluna." batin pria itu.
Reza, dan Saidah kini berbicara berdua. Tetes air mata jatuh ketika ia mendengar kalimat papihnya tadi.
"Papih bohong kan? Hiks.."
"Kedua ginjal papih sudah rusak parah. Tidak-"
"Enggak pih, cari donor ginjal. Saidah mohon cari donor ginjal... Hiks."
"Papih punya satu cita cita, sebelum pergi."
"Pih, Saidah mohon. jangan bicara seperti itu.. hiks."
"Papih pengen liat cucu papih, Raluna menikah."
Saidah terdiam, dia sangat bingung dilema macam apa ini? Disatu sisi papihnya mempunyai keingina melihat Raluna menikah, disisi lain apa ia harus menikahkan Raluna saat masih koma?
"Papih, Saidah dalam dilema besar."
"Maafkan papih, tapi jujur itu saja keinginan terakhir papih."
Saidah diam, ia akan sangat sedih jika keinginan terakhir papihnya tak bisa ia wujudkan. Tapi apa mungkin ia menikahkan Raluna saat masih terbaring koma.
"Kalau Raluna sadar, papih akan menerima donor ginjal."
Ahh ucapan papihnya kali ini membuat Saidah bahagia, disatu sisi Raluna sadar dan disisi lain papihnya bersedia menerima donor darah. Tapi bagaimana cara membuat Raluna sadar.
"Saidah harus bicarakan ini dengan suami Saidah dulu pih."
"Kalau kamu tidak mau tidak papa, papih egois meminta ini."
"Tidak pih, semua cucu papih pasti menikah."
"Apa kamu sudah ada calonnya?" tanya Reza.
"Calon?-"
"Papih ada calonnya, dia sepertinya sangat mencintai cucu papih. Nanti malam papih pertemukan kalian."
"Pih Raluna sudah punya tunangan."
"Itu sudah lama, tidak mungkin dia masih menunggu cucuku."
"Tapi pih kami belum memutuskan hubungan pertunangan ini bagimana bisa papih seperti itu?"
"Tenanglah nak, kamu tidak akan kecewa. Lihat saja nanti."
Damm.
bagaimana ia harus memberitahukan berita ini ke Abram?
.
Singkat waktu, malam hari tiba. Nada sekarang berada dikamar inap Raluna untuk menjaganya. Karena Usman, Saidah dan suaminya sedang rapat keluarga.
Mereka bertiga kini berada di kantin rumah sakit. Ketiganya duduk di sofa paling pojok. Aneh ini kantin tapi seperti kafe bintang lima saja.
Reza mengecek hp sedari tadi ia bertukar pesan dengan calon mantunya itu, "Ahh ini orangnya sedang menuju kesini."
Usman dan Saidah hanya tersenyum, bagaimana dengan Abram? Usman sedari tadi menelfon anak itu namun tidak aktif.
"Assalamualaikum." ketiganya menoleh betapa terkejutnya saat melihat calon mantunya adalah Abram sendiri. Usman bahagia. Pilihan papihnya ternyata Abram.
"Waalaikumsalam."
"Ayo nak silahkan duduk." ucap Reza.
"Jadi ini adalah calon mantu papih-"
"Sebelum papih pilih, beberapa tahun yang lalu dia sudah jadi menantu Saidah pih. Lebih tepatnya tunangan Raluna."
Reza syok, "benarkah? Ahh kamu ini tidak memberitahu papih."
"Yasudah biar tidak basa basi, kapan pernikahannya akan dilakukan?" tanya Reza. Sebelumnya Saidah telah memberi tahu soal ini ke Usman.
"Besok saja, lebih cepat lebih baik." usul Usman.
"Cakep besok papih liat cucu papih menikah."
Abram terlihat malu malu, kemudian dia berkata, "saya tinggal sendiri. Namun saya punya mamah dan saudara tiri. Ibu dan ayah saya sudah meninggal."
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, semoga semua amal baiknya diterima di sisi Allah aamiin." balas Reza, Reza kira dia masih bersama keluarganya.
"Aamiin."
"Kalau begitu papih telfon kyai dulu, untuk jadi penghulu besok." ucap Reza.
•
•
Keesokan Harinya.
Di ruang sebelah, VIP 1B. Kamar inap Raluna kini sudah ada Saidah, Nada, Balqis, dan Zara hanya ada empat itu. Sementara diruang sebelah. Abram tengah bersiap untuk melakukan ijab kobul dengan pak penghulu.
Dengan gamis putih dan peci putih, Abram duduk mendengar khotbah dari sang calon ayah mertua tak lain adalah Usman. Nasihat dan pembekalan Usman lontarkan.
"Kalau putri Abi marah jangan kau diam supaya amarahnya reda, peluk dia tenangkan dia kemudian jelaskan hal yang membuat dia marah, dia tidak akan marah lagi. Abi cinta pertamanya, jangan kau sakiti hatinya. Sungguh Abi tidak pernah memukulnya dari kecil sampai saat ini."
"Kunci rumah tangga bahagia, romantis, harmonis, dan awet sampai tua, saling percaya. Itu kuncinya, kalian satu sama lain harus saling percaya, dan harus berebut salah. Kalau berebut benar maka tidak akan ada habisnya."
"Abi serahkan tanggung jawab Abi ke kamu, Abi percaya kamu lebih baik dalam membahagiakan putri Abi. Jadi jangan kecewakan Abi."
"Iya Abi, saya akan berusaha menjaga Raluna sebaik mungkin. Terimakasih atas restu dan kepercayaan Abi terhadap saya, in syaa Allah saya tidak akan mengecewakan Abi."
Usman tersenyum, dia memeluk calon mantunya itu.
Kemudian Abram kini duduk berhadapan dengan pak penghulu (Kyai Ahmad). Pria itu menunggu untuk saling berjabat tangan, setelah dua tangan berjabat.
"Bismillahirrahmanirrahim, saudara Abram Zahir Zein Maulana apakah anda siap menikahi saudari Raluna Zahra Azkayra binti Usman Hafizh Ahkam?." tanya pak penghulu.
Tarikan nafas pelan kemudian dia hembuskan disertai basmalah dalam hati, di sambut dengan jawaban Abram, "Saya Abram Zahir Zein Maulana, siap menikahi saudari Raluna Zahra Azkayra binti Usman Hafizh Ahkam."
Mendengar jawaban Abram, kemudian melanjutkan kalimat sakral yang akan membangun sebuah hubungan baru, permulaan dari perjalanan dua insan yang berjalan menuju ibadah terpanjang dalam kehidupan yakni pernikahan.
"Bismillahirrahmanirrahim, Saya nikahkan dan kawinkan engkau Abram Zahir Zein Maulana bin Alexander Vilanno dengan Raluna Zahra Azkayra binti Usman Hafizh Ahkam dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang 811.817.000 rupiah dibayar tunai."
Bagaikan raper handal, pak penghulu mengucapkannya dalam satu tarikan nafas. Kemudian Abram mengambil nafas dan melanjutkannya, dengan mengucap basmalah dalam hatinya kemudian menjawab, "Saya terima nikah dan kawinnya Raluna Zahra Azkayra binti Usman Hafizh Ahkam dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu ke para saksi yang hadir tak lain tak bukan, Zhafran, David, dan Sholeh.
"SaHhh." mendengar itu, seruan Alhamdulillah terdengar. Dalam hati Abram juga mengucap Alhamdulillah kalimat sakral baru ia ucapkan telah memindahkan semua tanggung jawab orang tua ke pundaknya.
Lantunan doa langsung terdengar, semua orang mengaminkan. Setelah selesai Abram bangkit, menyalami punggung tangan Usman dan memeluknya.
Usman menepuk pelan bahu Abram, "Alhamdulillah. menantuku, ingat pesan Abi." air mata jatuh, perasaan nya bercampur aduk antara bahagia dan sedih. Dia bahagia karena putrinya telah menikah, disisi lain putrinya masih belum sadarkan diri.
"Iya Abi."
"Sekarang pergilah, temui putri Abi." Abram mengangguk pelan.
Setelah diberi ucapan selamat, Abram langsung berlari membuka pintu menuju kamar inap Raluna disebelahnya. Rasa rindu yang sudah lama ia pendam kini terbayarkan, bukan hanya bertemu bahkan dia bisa menggenggam tangan Raluna.
Pria itu berjalan pelan menuju tempat Raluna terbaring, Saidah dan yang lainnya perlahan keluar memberi waktu untuk Abram.
Tangan itu bergetar menarik kursi disebelahnya. Sebelum benar benar duduk tangannya bergetar hebat, tangannya kirinya terulur menyentuh pucuk kepala Raluna. Kemudian tangan kanannya menengadah.
Matanya perlahan tertutup, sunyi hanya alat alat medis yang terdengar.
Doa terucap pelan dari bibirnya, mendoakan istrinya dengan khusyuk. Basmalah terucap salam hatinya dilanjut dengan doa nya, "Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltahaa 'alaih." diakhiri tiupan pelan ke dahi Raluna.
Abram membuka matanya pelan, melihat wajah istrinya dari dekat. Masyaallah dia berucap dalam hati. Tak pernah Abram melihat wajah ini dengan sangat dekat, bahkan jika saat berbicara dengan Raluna dia tidak pernah mengangkat pandangannya.
Seulas senyum terbit dari bibirnya, kemudian tangan kanannya ter arah mengambil tasbih dalam saku gamisnya.
Tasbih indah, milik ibunya yang sempat hilang dan Raluna yang menemukannya sungguh skenario Allah sangatlah indah.
Dari awal mereka yang bukan siapa siapa, tak saling mengenal apalagi bertegur sapa dipertemukan oleh tasbih dipisahkan oleh jarak dan disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan.
Tangan yang terpasang infus diambilnya dengan pelan, memasukkan cincin berlian ke jari manis Raluna. Kemudian tasbih yang ia genggam ia letakkan dalam genggaman Raluna kemudian disusul dengan tangannya.
"Humaira.”
Tak ada respon, ya pria itu sudah tau. Namun ia akan berusaha membuat istrinya bangun dari komanya.
"Maaf saya tidak menanyakan acara pernikahan impianmu, kamu masih betah tidur? Tidak mau bangun?"
"Lihatlah, umi, Abi bahkan saya sedih melihat kamu belum juga sadar."
"Humaira.." air matanya jatuh, dengan segera ia menyeka air matanya.
Seperkian detik kemudian, jari Raluna tergerak tak lama kemudian disusul dengan raluna yang seperti orang sesak nafas.
"Astaghfirullah, Humaira.." Abram panik melihat Raluna yang kesulitan bernapas.
Saidah, Usman, Zara, Balqis, Nada dan Reza masuk mendengar suara Baram didalam. Mereka semua terkejut, melihat kondisi Raluna yang sesak nafas.
Saidah hampir tumbang jika tidak di tompa Usman.
Abram meneteskan air matanya, menggenggam erat tangan istrinya. Memejamkan matanya pelan kemudian bersholawat.
Semakin khusyuk dia bersholawat, suara diruangan ini perlahan redup dan seketika menghilang. Abram membuka matanya, dia berada disebuah tempat seperti taman sangaat indah.
Ia berjalan dengan perasaan sedih, kemudian matanya tak sengaja melihat objek yang tak asing di matanya. Gadis dengan gaun putih disertai kerudung putih dan karangan bunga bertengger menghiasi kepalanya.
Gadis itu berjalan pelan melihat tempat apakah ini, dengan gaun putih dan kerudung putih dia terus menyusuri tempat ini. Sebelum akhirnya terdengar samar suara memanggilnya.
Merasa tak asing dia pun memanggilnya. "Berhenti!" panggilan itu tak menghentikan langkah gadis itu yang perlahan menjauh.
"Jangan pergi!" panggilan itu kembali terdengar ditelinga gadis itu. Namun langkahnya belum juga berhenti.
"Berhentilah! Saya mohon!" nada rendah dan panggilan itu membuat si gadis menghentikan langkahnya.
Nafas pria itu tersengal-sengal, ia kemudian mengangkat pandangannya melihat gadis yang ia panggil ternyata menghentikan langkahnya. Dengan langkah cepat dia menyusul gadis itu.
"Assalamualaikum." salam pria itu, berhadapan atau sama lain namun tak saling menatap.
"Waalaikumsalam." jawab si gadis.
"Kamu mau kemana?" tanya pria itu masih menundukkan pandangannya.
"Entahlah. tapi saya tenang dan bahagia disini." jawabnya, dia tak berani menatap lawan bicaranya apalagi sepertinya dia berbicara dengan seorang pria.
Mendapat jawaban seperti itu, sejurus kemudian tangannya menggenggam tangan lembut gadis itu. Tentu saja gemetar tangan gadis yang ia genggam. "Maaf, tapi apa kamu tidak lihat umi, Abi sedih melihatmu."
"Bukan hanya mereka. saya hampir putus asa melihat keadaanmu."
.
.
.
.
.
Assalamualaikum temen temen, hiya hiya udah nyampe diujung aja nih. Mau up??
.
.
Oke see you next bab babayyyyyy!!!
.
.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏