
Assalamualaikum temen temen, Alhamdulillah aku bisa up lagi yang ke 12 kali nya. Huhuuu gak nyangka bisa sampe 12 bab yeyyy.
.
.
Kalau kalian suka langsung Vote dan komen sebanyak mungkin ya, karena itu bagaikan pecutan buat aku selalu up cepat. Makanya vote sama komen dan jangan lupa racunin teman teman kalian kawan.
.
.
Udah siap baca cerita hidup Zara???.
.
.
Oke bismillah dulu, satu dua tiga. Yuk! Scroll kebawah.
.
.
Happy Reading ♥️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sini." Panggil Zara agar Raluna duduk di sofa. Raluna menghampiri Zara dan menduduki sofa berwarna abu abu putih itu.
"Nih makan, bentar lagi buk Jum bawain makanan." Zara mengulurkan Chitato kepada Raluna.
"Ini juga makanan."
"Maksudnya nasi." Koreksi Zara.
"Kalau mau baca, ntar aku rekomendasi in cerita horor yang seru." Lanjutnya sambil mendudukkan dirinya disamping Raluna.
"Boleh, Raluna suka sama cerita horor." Zara beranjak, dan berjalan sebentar menuju lemari tinggi berwarna putih. Membuka pintunya dan mengambil salah satu dari deretan buku yang berjejer rapi.
"Ini, bagus bet ni cerita Raluna." Zara memberikan buku tebal yang diketahui sebagai cerita horor itu.
Raluna melihat cover buku itu 'Kisah Tanah Jawa, Tikungan Maut' judul tertera di cover buku itu.
"Oh iya, aku juga ada sesuatu buat kamu." Zara meraih kotak putih didalam laci meja, mengeluarkannya dan membuka kotak itu.
"Ini." Zara memberikan gantungan domba putih untuk raluna, sebenarnya ada dua satunya lagi untuk Zara.
"Makasih Zara. Oh iya Raluna juga ada sesuatu buat Zara." Raluna membalikkan badannya membuka tas yang berada di sandarannya, mengambil sebuah kertas dan didalamnya berisi tuspin Flaminggo.
"Iya sama sama. Apa tu?" Zara sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang Raluna ambil.
"Ish jangan liat Zara."
"Oke aku tunggu."
"Nih, buat Zara. Nanti kalau kita mau kemana pakai ini ya, pakainya kalau sama Raluna." Raluna memberikan tuspin Flaminggo berwarna pink itu, lucu dan manis dua kata yang mewakili benda kecil tapi indah ini.
"Makasih ya Raluna. Oh iya gantungan kuncinya mulai besok harus dipakai. Oke?"
"Okee."
Beberapa saat setelah mereka bertukar hadian satu sama lain, terjadi keheningan sesaat. Karena Zara dan Raluna sama sama membaca buku.
"Raluna." Panggil Zara, sepertinya dari raut wajah Zara ada yang ingin ia sampaikan.
"Hmmm, kanapa?" Suara lembut Raluna membuat Zara tenang.
"Sebenarnya, ak-u-" Zara menghentikan Kalimatnya.
"Kanapa?" Penasaran kenapa Zara menghentikan Kalimatnya.
Tiba tiba saja Zara langsung memeluk Raluna dan langsung menangis diperlukan Raluna, Raluna yang tidak paham kenapa Zara begini ia berusaha menenangkan Zara Raluna menyapu punggung Zara agar gadis itu bisa mendingan.
"Nangis aja, nanti ceritain sama Raluna. Raluna siap kok jadi keluh kesah Zara." Raluna tetap mengusap punggung Zara yang masih berbalut seragam putih abu abu, disertai kerudung yang menempel di kepalanya begitu juga Raluna.
Dirasa sudah mendingan Zara perlahan melonggarkan pelukannya dan melepaskan pelukan itu.
"Aku mau cerita." Zara menyapu air matanya.
"Iya cerita aja."
"S-."
"Assalamualaikum. Non, makannya." Belum sempat mengucapkan satu kata suara pembantu Zara memanggilnya.
"Waalaikumsalam. Sebentar buk." Zara bangkit menuju pintu putih bergambar domba itu. Dan membuka pintunya. 'waalaikumsalam.' jawab Raluna pelan.
"Ayo masuk buk Jum, buk Imah." Kedua pembantu paruh baya itu memasuki perpustakaan Zara, takjub melihat putri bos besar ternyata sangat suka membaca hingga dibuatkan perpustakaan pribadi yang sangat luar ini.
Raluna yang tengah duduk, langsung berdiri menerima nampan dari buk Jum sedangkan Zara mengambil nampan dari buk Imah.
"Terimakasih buk." Raluna membungkukkan badannya berterimakasih.
"Sama sama, kalau begitu kamu pamit keluar non. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab Zara dan Raluna.
"Zara mau cerita apa, Raluna bakal dengerin. Tapi kalau ini soal privasi Zara, dan Zara belum siap ceritain gak papa kok. Tapi kalau Zara butuh teman cerita Raluna siap selalu kok."
"Makasih Raluna, kamu emang baik. Gak pernah dari dulu aku dapat teman seperti kamu. Dan ya akhirnya aku memilih melampiaskan kesedihanku ke tawuran, balap, bolos, dan berkelahi."
"Semenjak ada kamu hidup aku jadi lebih berwarna. Aku gatau lagi harus berterimakasih gimana sama kamu, dulu aku memang sangat jauh dari yang namanya agama. Tapi perlahan karena bimbingan kamu aku keluar dari dunia gelap itu." Isak Zara kembali menangis. Raluna merangkulnya lagi. Menenangkan gadis itu.
"Aku udah gak sanggup mendam semuanya sendiri. Aku mau cerita sesuatu sama kamu."
"Dulu-
Flash Back On
Plakk!
Suara tamparan keras menggemma didalam kamar David, ya dia tengah bertengkar hebat dengan istrinya. Ia khilaf dari dulu ia tidak melakukan kekerasan kepada istrinya sama sekali. Kini ia marah karena sang istri tercintanya menuduhnya telah berselingkuh dibelakngnya. Selama ini ia sabar menghadapi istrinya dengan segala kecurigaan dan kecemburuan yang selalu istrinya lontarkan padanya.
"Astaghfirullah, Balqis maafin mas." David mengacak rambutnya frustasi, ia sangat marah kepada dirinya sendiri karena telah menampar istri tercintanya.
Buliran bening kini sudah cepat berkumpul di kelopak mata Balqis istri David. ia semakin yakin bahwa foto yang ia lihat foto David dengan seorang wanita, wanita itu sedang memegang dada David. 'astaghfirullah' apakah ia harus percaya kepada suaminya? Tapi jika ia percaya nomer tidak dikenal selalu mengirim foto foto David dengan wanita lain. Tapi hal ini tidak diketahui oleh david.
"Mas. Tega buat Balqis selalu nangis tiap hari, mas udah buat hati Balqis sakit setiap kali Balqis lihat mas sama perempuan lain. Balqis cemburu." Balqis berkata sambil gemetaran tak kuasa menahan sedihnya.
"Astaghfirullah, Balqis mas gak pernah hianatin kamu." David memegang kedua bahu istrinya tangan kanannya mengangkat dagu istrinya agar menatapnya.
"Mas yakin?. Tapi Balqis selalu yakinin hati Balqis kalau itu semua salah dan gak bener. Tapi apa kepercayaan Balqis perlahan terkikis oleh perubahan sikap mas. Mas jarang sekali dirumah bahkan mas gak pulang kerumah, dan semua itu diperkuat oleh adanya bekas lipstik disendok makan mas." Jelas Balqis gemetaran.
"Aku takut mas pergi dari aku."
"Tapi semakin aku percaya sama mas, ada saja bukti yang bikin kepercayaan aku getir mas. Jujur aku sangat sangat percaya sama mas, tapi kali ini Balqis udah sakit melihat semuaaa foto mas sama wanita lain."
"Yaallah Balqis foto apa yang kamu maksud, bahkan mas gak pernah foto sama wanita lain dan mas gak pernah ketemuan sama wanita lain. Kalaupun mas ketemu sama wanita itu di meeting, rapat dan itu mas gak berdua ada karyawan yang juga ikut sayang." Jelas David sambil memeluk istrinya yang tengah terisak.
Diluar seorang anak berusia lima tahun ya dia Zara melihat dan menyaksikan bagaimana keduanya bertengkar sampai papahnya menampar mamahnya. Zara yang tidak tau apa apa menyimpulkan kalau papahnya jahat, ditambah lagi setelah itu mamahnya pulang kerumah neneknya. Lama mamahnya tidak ada dirumah ini, hingga akhirnya papahnya membawa kembali mamahnya. Mereka baikan, tapi mereka berdua terus masih suka bertengkar.
Hal ini membuat Zara depresi, karena papah dan mamah nya selalu bercekcok walaupun akhirnya mereka baikan tapi setiap hari mereka akan tetap mempersalahkan hal hal kecil. Itulah membuat Zara muak dirumah tak ada tontonan lain selain kedua orang tuanya bertengkar, mamahnya yang cemburuan dan David yang selalu diam tak menanggapi Balqis jika sedang marah membuat Balqis tambah marah.
Sampai detik ini papah dan mamah Zara masih suka bertengkar.
Flash Back Of
😪
"Dan tadi malam, papah sama mamah bertengkar hebat. Mamah nemuin surat di tas papah, surat itu adalah surat cinta dari seseorang. Dan mereka bertengkar lagi, mamah capek sama kelakuan papah. Aku gatau mana yang bener mana yang salah, tapi dulu aku liat papah keluar dari mobilnya sama seorang wanita dan sejak saat itu aku ragu sama papah." Jelas Zara.
"Kamu sampai sekarang masih ragu sama papah kamu?" Tanya Raluna diangguki oleh Zara.
"Zara, semua yang kita lihat dan kita saksikan itu belum tentu benar dan-"
"Jadi maksud kamu aku sama mamah aku salah?" Zara memotong pembicaraan Raluna.
"Bukan begitu maksud Raluna, Raluna bisa lihat papah sama mamah kamu orang yang baik. Mamah kamu itu cemburu sama papah kamu dan papah kamu gabakal ngelakuin hal itu. Raluna bisa lihat kalau papah kamu cinta banget sama mamah kamu."
"Jadi aku harus gimana, aku takut papah sama mamah cerai." Zara mengusap sisa air matanya.
"Papah kamu orang yang baik, cerdas, Sholeh, dan bonusnya tampan. Gak semua orang suka sama hubungan papah sama mamah kamu, pasti ada kan 1 atau 2 orang yang gak suka sama hubungan papah dan mamah kamu. Bisa saja ada orang yang memang berniat hancurin rumah tangga papah sama mamah kamu." Jelas Raluna.
"T-api siapa?"
"Ini cuma pendapat Raluna, tapi kalau Zara mau cari tau ini benar tidaknya Zara cari tau orang yang mencurigakan untuk zara. Buat hati mamah kamu tenang dan berikan bukti buat mamah kamu."
"Raluna gak bisa bantu banyak, karena ini memang masalah kedua orang tua kamu. Dan merekalah yang harus menyelesaikan, tapi Zara coba dulu usul Raluna tadi." Zara mengangguk.
"Aku bakal cari tahu dan kalau benar ada yang berniat hancurin keluarga ini aku gabakal diam."
Ting!!
'zara, anggota Scorpion tadi ngusik lion. Kita gak bisa diem kita harus balas anggota kita dibawa kerumah sakit karena scorpion.' Zara mengeraskan rahangnya membaca pesan itu.
'tempat biasa, nanti gue kesana.' balas Raluna.
"Kenapa?" Tanya Raluna melihat Zara yang sepertinya marah. Zara masih berkontak dengan sohibnya dulu, sohib nakal, sohib bolos, tawuran dan balapan.
Zara menolehkan kepalanya kearah Raluna, "Enggak papa, ayo aku antar pulang. Maaf ya kalau aku kebablasan tadi nangis lagi."
Raluna tersenyum. "Enggak papa kok."
Zara menoleh kearah meja putih didepan sofa yang mereka duduki, dua porsi makanan masih utuh belum mereka makan.
"Hehehe, Zara lupa makan dulu Ayuk." Kemudian mereka makan setelah selesai Zara mengantarkan Raluna ke rumahnya, setelah adzan magrib mereka berdua sampai dirumah raluna.
"Assalamualaikum umi." Raluna mengetuk pintu kayu yang rapuh itu, sedangkan Zara berdiri gagah disamping Raluna. Memang Raluna lebih pendek dari Zara.
"Waalaikumsalam, makasih ya Zara udah anterin Raluna pulang. Ayo masuk dulu." Ajak Saidah.
"Iya sama sama umi. Tapi mohonn maaf sekali ya umi, aku harus buru buru ada sesuatu yang masih Zara lupa tadi."
"Eh Zara?" Heran Raluna, kenapa dengan Zara biasanya ia ngebet sekali untuk selalu tinggal disini. Yang akhirnya akan menginap.
"Kalau gitu Zara pamit dulu ya umi, assalamualaikum." Zara mencium tangan Zara dan kemudian langsung berjalan menuju mobilnya kembali, memasukinya dan membuka jendelanya melambaikan tangannya kepada Raluna.
Raluna masih tak bisa mengerti kenapa Zara?
Mobil sport hitam memasuki pekarangan luas dengan rumah mewah didalamnya yang tampak terbengkalai, tapi didalamnya terdapat ruang khusus Zara yang ia sulap menjadi hotel bak bintang lima.
"Lama Lo!" Zara masuk kedalam rumah itu dan mulai memasuki kamar belakang, melewati pintu rahasia dan langsung menampilkan ruang utama yang sangat mewah.
"Assalamualaikum." Salam Zara tak menjawab ucapan seorang gadis brandal didepannya ini.
"W-waalaikumsalam."
"Tau salam kan?, Mulai sekarang kalau ketemu gue ucapin salam dulu." Tegur Zara sambil mendudukkan dirinya di sebuah sofa biru. Dia adalah sohib Zara dulu dari sekolah sebelah, mereka berdua sama sama anak browken home. Ya perkumpulan anak browken home.
"I-ya."
"Mana yang lainnya?" Tanya Zara.
"Udah gue hubungin, udah gue suruh bawa balok sama tongkat."
"Ngapain?" Tanya Zara.
"Mau tawuran lah." Jawab gadis itu enteng.
"Siapa bilang gue kesini mau tawuran?" Zara menaikan sebelah alisnya, ya dia sekarang berbaju tertutup dan memakai kerudung.
"Yahh, ngapain lagi?. Lagian Lo kenapa pake baju kayak itu mau tawuran juga."
"Ngaco! Udah gue bilang gue Dateng kesini gak mau tawuran."
"Lah terus mau ngapain pengajian?"
"Bagus tuh. Biar itung itung penghapus dosa." Jawab Zara.
"Ish yang bener ah gak ngerti gue."
"Sayangnya gue udah gak mau ngumpat, atau ngatain orang lagi. Makanya gue tahan kalau enggak udah gue umpat dari tadi."
"Terus Lo bilang ngaco tadi itu ngatain gue lah, Yah abisnya otak gue gak 4G jadi lemot." Jawab gadis itu.
"Gue mau akhirin semua ini." Ucap Zara. Gadis itu diam tak bisa mencerna apa perkataan Zara.
"M-maksud Lo?"
"Gue mau bubarin semua ini, dan kita minta maaf dulu sama Scorpion. Karena gue udah gak mau berurusan lagi sama hal ini. Cukup masalalu kelam gue yang tau hal ini" Ucap Zara. Selama ini urusan gengnya dengan yang namanya geng Scorpion itu ia tak pernah turun tangan sendiri. Sebab ia dapat kabar jika yang namanya geng Scorpion itu adalah geng dari sekolahnya sendiri.
"Whatt!!! Lo bercanda?!!"
"Muka gue berjanda?"
"Bercanda kali." Koreksi gadis itu.
"Lo seriusan mau minta maaf dulu?, Yakali Zara. Mereka udah buat salah dulu!"
"Minta maaf lebih baik dari pada memaafkan."
"T-api-"
"Gausah tapi tapian, keputusan gue udah bulat. Balik kedunia kalian masing masing, gue yakin bakal ada orang yang buat hari kalian akan lebih berharga." Jelas zara.
"Tunggu kita tunggu yang lainnya." Ucap gadis itu masih tak percaya.
Setelah beberapa menit menunggu segerombolan cowok berjaket lion datang.
"Hello Zar-----a!" Sapa semua cowok itu, ada yang menjatuhkan balok yang mereka bawa, tak percaya akan pemandangan didepannya. Zara si browken home sultan, katanya mau tawuran tapi kenapa berpakaian seperti mau kepengajian?. Berbagai pertanyaan dari mereka melayang layang di otak mereka.
"Assalamualaikum." Salam Zara.
"W-a-alaikumsalam." Jawab mereka semua. Siapa didepannya ini mereka heran semua, kenapa mereka seperti melihat bidadari? Zara yang dulu sudah tidak ada kini berganti Zara yang baru.
"Ini Lo zar?" Tanya salah satu cowok tidak percaya.
"Iya."
"Wah gila, Lo cakepan gini Zar." Ucap salah satu cowok.
"Bilang fan yang gue bilang tadi." Perintah Zara gadis yang bernama Fani itu pun langsung memberitahu semua percakapan nya dengan Zara.
"What! Lo serius Zar?" Tanya mereka semua, Zara hanya mengangguk.
"Yahh padahal Zara yang dulu udah berubah jadi bidadari. gagal nih Pepet si Zara." Bisik salah satu cowok tamfan di belakang bersama temannya.
"Yah gagal deh."
"Udah tau kan, sekarang kita ke Scorpion biar gue yang bilang, selama ini sudah lama kan cekcok sama mereka?" Mereka semua mengangguk.
"Yaudah ayo." Zara menyuruh merek untuk keluar terlebih dahulu.
Setelah itu disusul Zara dan sohib cewek Zara, mereka berdua menaiki mobil sport Zara. Perlahan jejeran mobil mewah yang terparkir keluar satu persatu dari halaman itu dipimpin oleh Zara.
Mereka semua sampai di jalan sepi, di depannya sudah ada geng Scorpion yang sudah siap dengan segala perlengkapannya untuk tawuran.
Zara tak bisa melihat jelas siapa lawannya, yang jelas ia akan berdamai dan membubarkan lion.
Zara meraih masker hitam di dalam tasnya dan memakainya agar mereka tak tau siapa dia sebenarnya. Zara keluar diikuti seluruh anggotanya. Zara dengan gamis yang sangat besar dan longgar berjalan menuju arah lawannya.
Betapa ia sangat terkejut ternyata lawannya musuhnya Scorpion itu adalah geng Edgar, sia dingin es kutub dan Deanno sweet nya ternyata inti Scorpion tau gitu dia tidak akan bermasalahan dengan Scorpion ini. Tapi ini adalah tanggung jawabnya menyelesaikan semua ini.
Zara terus melangkahkan kakinya hingga 5 langkah terakhir. Betapa Edgar dan Deanno terkejut melihat gadis didepannya ini, siapa dia kenapa ada disini?.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum temen temen, udah sampai di penghujung aja nihhh. Kesel banget sama orang yang udah fitnah David, sebenernya David itu difitnah ya sama seseorang yang gak suka sama hubungan David dan Balqis. Nanti aku kasih titik penyelesaian nya.
.
.
Aduh Zara cakep gini gak cocok ya disituasi kaya gini, mending ikut pengajian sama Raluna. Hehehehe.
.
.
dan ya Raluna bakal apa yaa????. (Selamat kepo! Hihi)
.
.
Oke sampe dulu sini ya bab 12 nya, insyaallah aku bakal cepet up. Kalau tugas tidak menumpuk seperti gunung Krakatau mwehehehh.
.
.
Sampai ketemu di bab berikutnya, see you!!.
.
.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏
.
.
.
10 Maret 2022