
Samy tersenyum, tinggal dalam kamar hotel yang terletak dekat bandara seorang diri. Tidak sabar rasanya mengatakan pada kakaknya tentang ibu mereka. Sebuah rahasia yang masih dijaganya hingga sekarang.
Namun, dirinya harus fokus pada satu hal, menemukan keberadaan saksi kunci atau mungkin pelaku yang masih hidup, Siti. Benar-benar sulit menemukan informasi tentangnya. Kini hanya satu informasi dari e-mail anonim yang didapatkannya.
Pelaku pembunuhan Reksa adalah Salsa. Ada beberapa bukti yang dikirimkan, jejak darah Reksa di kamera milik istrinya yang menghapus semua foto, selain foto Salsa. Sebuah kamera yang ditemukan saat kecelakaan, bagikan sebuah pesan kematian.
Di tambah lagi keterangan tertulis dari salah satu mantan pelayan bahwa satu hari sebelum kecelakaan, Salsa meminjam mobil Reksa. Tidak ada bukti langsung, dirinya tidak dapat menjebloskan Salsa ke penjara.
Hanya pesan kematian yang ambigu, dan satu orang saksi pelayan almarhum Reksa yang entah keberadaannya dimana. Jemari tangan Samy mengepal benar-benar menyebalkan. Pecahan puzzle berceceran, serta banyak bagian yang menghilang.
Tapi semuanya terlihat jelas kali ini. Semakin jelas, kala Salsa mengutus orang untuk membunuhnya dan Yoka. Namun, tetap saja dirinya ingin mendapatkan bukti yang benar-benar jelas agar dapat melepaskan ibunya dari rasa trauma dan bersalah.
Ayahnya? Samy menganggap Narendra sebagai musuhnya. Hanya Martin ayahnya. Sekaleng minuman isotonik ditenggaknya, mungkin selama-lamanya merahasiakan keberadaan Melda dari Narenda, adalah keputusan yang baik.
Membiarkan pria itu terpuruk dalam rasa bersalahnya. Samy mengepalkan tangannya, wajahnya tersenyum. Membayangkan dirinya dapat hidup dengan Yoka, Martin dan ibunya. Tapi ikatan darah? Setetes air matanya mengalir, entah kenapa.
Ayah kandungnya, hanya seorang pria yang keji, setidaknya itulah anggapannya. Seseorang yang menginginkan kematian istrinya sendiri.
Perlahan dirinya mengambil phonecellnya. Menghubungi sang kakak, mengingatkan tentang keberangkatannya besok sore.
*
Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini, ingin itu banyak sekali. Semua, semua dapat dikabulkan. Dapat dikabulkan dengan kantong ajaib. Aku ingin terbang bebas di angkasa. Hei, baling-baling bambu...
Suara phonecell Yoka berdering, membuat sepasang suami-istri menghentikan pangutan mereka, diiringi dengan beberapa kecupan.
Yoka menghela napas kasar, mengangkat panggilan Samy.
"Ada apa?" tanyanya terdengar malas.
"Yoka aku mencium wanita tadi pagi. Ternyata tidak buruk. Boleh aku mencium istrimu? Aku ingin tahu apa rasanya sama?" suara Samy terdengar dari seberang sana.
"Jika kamu ada di depanku..." kata-kata Yoka disela.
"Aku tahu kepalaku akan dipukul," Samy tertawa kecil cengengesan."Sekarang kita serius,"
"Iya ada apa?" Yoka kembali menyenderkan punggungnya di senderan tempat tidur. Sedangkan Dora berbaring menjadikan paha Yoka seperti bantalnya. Benar-benar manja, mumpung suaminya ada di dekatnya. Maklum sudah dua tahun berstatus perawan bukan janda juga bukan.
Salah satu tangan pemuda itu membelai rambut istrinya. Sedangkan satu tangannya lagi memegang phonecell. Dora yang mulai merasa nyaman memejamkan matanya. Benar-benar anak baik yang manis, tidak peduli pada apapun lagi.
"Kamu sudah sempat membuka e-mail mu? Ada e-mail anonim yang memberikan bukti tidak langsung. Kecelakaan kakekmu adalah kesengajaan dari seseorang," jelasnya.
Yoka terdiam sesaat, masih ingat di benaknya tentang kematian sang kakek dan neneknya. Terlebih lagi bukan hanya kakek dan nenek dari ibunya tapi juga dari ayahnya. Kematian orang tua Melda dan Narendra. Mobil yang teronggok di jurang terjal. Bahkan mayat mereka sulit untuk dievakuasi.
Kasih sayang penuh yang didapatkannya? Dirinya cucu tunggal dari kedua belah pihak. Hingga begitu dimanjakan, berlomba menginginkannya untuk menginap. Bahkan hampir setiap hari datang membawakannya mainan. Keempat orang yang mati dalam sebuah kecelakaan mobil.
Benar-benar tahun yang penuh dengan rasa duka. Setelah kematian mereka, disusul dengan kematian ibunya. Mereka mati di hadapannya, air matanya tiba-tiba mengalir. Tangannya gemetar ketakutan, masih berusaha membelai rambut istrinya.
Ketakutan? Saat ini dirinya dihampiri ketakutan. Kala mobil itu teronggok di lantai Yoka hampir melompat ke jurang, ingin menyelamatkan keempat orang yang mencintainya. Melda yang juga menangis terisak, menghentikan putranya, memeluknya erat.
Hal yang sama terjadi saat Martin mengatakan Melda sudah tidak ada. Dirinya terdiam tidak dapat bicara, hanya ayah yang mengkhianati ibunya yang dimilikinya.
Sakit? Benar-benar begitu sakit. Yoka menjauhkan phonecellnya sejenak."Aku akan melindungimu. Walaupun harus mengorbankan tubuhku," gumamnya. Kata-kata yang tertuju pada istrinya.
Pemuda yang kembali terdiam, masih mengelus rambut istrinya yang telah memanjang, menjaganya agar tetap tertidur.
"Yoka, kamu masih di sana?" suara Samy kembali terdengar dari phonecellnya.
"Em?" hanya itulah jawabannya.
"Salsa yang berkemungkinan besar berkaitan dengan kematian kakekmu. Ada juga beberapa data jika Reksa menghentikan penyelidikan kasus kematian Viona. Hingga berakhir menjadi kasus kebakaran, akibat ketidak sengajaan," Samy kembali menjelaskan. Bukti yang dikirimkan entah siapa pada e-mail Yoka.
"Jadi?" Yoka terdiam tanpa ekspresi, rasa dendam bercampur, menumpuk menjadi satu. Entah apa yang ada di fikirannya saat ini.
Samy tersenyum, lebih tepatnya menyeringai."Mau berburu siluman denganku? Aku juga punya dendam pribadi yang sama besarnya denganmu."
Yoka menatap ke arah jendela, masih tidak beranjak dari tempat tidur. Membelai pelan rambut istrinya."Kita belum bisa memakannya. Ada yang akan melindunginya."
"Kamu menyerah?" Samy yang duduk di balkon hotel mengenyitkan keningnya masih setia tersenyum.
Yoka merapikan anak rambut istrinya, masih terdiam di ruang rawat rumah sakit."Jangan membunuhnya, setelah menebas orang yang melindunginya. Lebih baik menjadikannya mainan, membuat hidupnya lebih buruk dari kematian. Agar dia memohon untuk bisa mati, tapi nyawanya tidak dapat terlepas dari tubuhnya."
"Aku menyayangimu..." Samy tersenyum, tidak merasa ketakutan sama sekali dengan kata-kata mengerikan dari Yoka.
Bagikan kakak beradik yang sepaham, memiliki pandangan dan pemikiran serupa. Dua sosok yang mengerikan bersembunyi di balik wajah pemuda baik hati dan seorang pemuda humoris.
Terdiam di tempat mereka masing-masing. Menatap ke arah cermin. Dua monster yang ketika kecil ditekan oleh Melda. Mereka masih memiliki hati, namun hati yang rapuh. Hanya dapat terpaku pada orang-orang yang mereka cintai dan mencintai mereka saja.
Selebihnya? Tidak ada nyawa yang berharga. Dua pemuda berwajah rupawan. Dengan tangan yang benar-benar gemetar. Menekan kepribadian mereka yang tempramental, obsesi serta protektif.
*
Hari kini sudah mulai pagi, Chery menarik kopernya. Setelah turun dari mobil yang baru dibelinya. Rumah itu terlihat lagi, rumah dari suami Vera. Mengapa mereka tidak berpisah saja? Mungkin itulah yang ada di hati terdalamnya menahan rasa kesal. Tapi yang terpenting saat ini adalah adiknya.
Anak presiden? Atau pangeran dari negara monarki sekalipun tidak pantas untuk adiknya. Seorang adik yang manis dan terlalu baik. Pria mana yang berani-beraninya menikahi adiknya tersayang. Apa raja minyak?
Hingga seorang pemuda berpakaian dokter ada disana. Seorang dokter desa yang dipanggil Vera untuk mengobati suaminya yang sakit. Benar-benar terlihat akrab dengan Vera.
Apa ini adalah adik iparnya? Chery melangkah cepat, hanya seorang dokter desa yang tidak sederajat dengan adiknya yang bagaikan malaikat kecil.
Brak!
Dengan satu lompatan, wanita itu menendang sang dokter desa."Kamu iparku?" tanyanya menatap tajam, pada pria yang telah dirobohkannya dalam satu gerakan. Tidak begitu jago beladiri, hanya memiliki temperamen yang buruk, menyangkut sang pinguin kecil manis.