
Malam pengantin seharusnya menjadi malam yang indah bukan? Tapi tidak dengan mereka, sepasang suami istri yang tidur saling memunggungi.
Meira benar-benar kesal kali ini, Jovan meninggalkannya hingga acara pernikahan berakhir. Sedangkan Jovan terdiam merasa harga dirinya terluka, harus dibentak di acara pernikahannya.
"Kamu membuatku malu," geram Meira. Namun, Jovan hanya terdiam tidak ingin harga dirinya dilukai lebih banyak lagi.
"Aku merendahkan diriku untuk menikah denganmu, seharusnya kamu bersyukur! Berusaha lebih banyak lagi agar setidaknya menjadi pengusaha atau direktur Bank. Tapi bukannya bersyukur kamu malah pergi dan mempermalukanku." Meira kembali mencibir tidak puas sama sekali dengan karier suaminya. Menjadikan suami Dora yang memang kaya sejak dilahirkan menjadi patokan.
"Bersyukur? Haruskah aku bersyukur sekarang," batin Jovan hanya terdiam enggan menatap ke arah istrinya.
Tempat tidur ditaburi kelopak bunga mawar, wine yang tidak pernah diminumnya, bahkan hidangan mewah. Memesan kamar terbaik di hotel bintang lima, sebagai persiapan bulan madu. Tapi apa yang terjadi? Bahkan setelah menikah pun tetap sama. Setelah menemukan pria yang lebih baik, Meira menjadikannya patokan, untuk standar pria yang patut dipujanya.
Mengabaikan perasaan suaminya yang terluka dengan kata-katanya. Apa ini cinta yang dicarinya sejak awal? Dikejarnya hingga mengkhianati Dora?
"Seharusnya aku lebih pintar! Tapi karena cinta aku merendahkan diriku untuk menikah denganmu! Saat Dora naik mobil mewah dengan supir, aku malah harus memesan taksi online. Saat Dora makan setiap hari di restauran tanpa memikirkan harga menu. Aku hanya dapat makan ke restauran elite sebulan sekali, memesan menu paling murah, itupun menunggumu gajian. Kesabaranku sebagai seorang istri juga ada batasnya!" bentaknya masih berbaring membelakangi suaminya.
"Harga diriku juga ada batasnya." Kata-kata yang tidak terucap dari bibir Jovan tersimpan dalam benaknya. Tangannya mengepal air matanya mengalir. Dirinya sudah lelah beberapa bulan ini, awalnya dipuji-puji, namun mendekati pernikahan mereka, direndahkan seakan dirinya hanya pengemis yang menumpang hidup.
Bersabar? Itulah yang dilakukannya, ini masih hari pertama pernikahan. Mungkin Meira kelelahan, hal yang berusaha diyakinkan dalam benaknya. Walaupun dirinya mengetahui, mungkin inilah sifat asli wanita yang mati-matian dipertahankannya.
Membohongi diri sendiri selama beberapa bulan sebelum pernikahan. Menunda pernikahan pernah dilakukan Meira. Seharusnya pernikahan mereka berlangsung dua bulan lalu. Tapi wanita yang seperti enggan melangsungkan pernikahan dengannya.
Hingga pada akhirnya kata-kata itu terucap juga.
"Jika bukan karena malu sudah mengumumkan pada warga desa akan menikah denganmu! Mana mau aku melajukan pernikahan ini! Ibuku bilang jika tidak jadi menikah akan memalukan! Karena itu, mulai sekarang bekerjalah lebih keras lagi! Menjadi suami yang sesuai denganku, setidaknya setara dengan suami Dora," cibiran dari mulut Meira.
Jovan bangkit, duduk di tepi tempat tidur, dirinya tertunduk diam sejenak.
"Kalau begitu kenapa merayuku dengan datang ke tempat kostku setiap hari? Kenapa mencium bibirku? Kenapa mengatakan jika melakukannya sekali Dora tidak akan tahu tentang ini? Kenapa mengatakan mencintaiku, lebih dari Dora mencintaiku? Kenapa kamu tidak datang ke villa itu saja, merangkak ke ranjang pemiliknya?" tanyanya dengan nada suara bergetar, berusaha tersenyum dalam air matanya yang mengalir, menertawakan dirinya sendiri.
"Seharusnya memang itulah yang aku lakukan! Tapi kita sudah terlanjur menikah, jadi seharusnya kamu berusaha naik jabatan lagi! Sebelum aku terlalu lelah menunggu dan menceraikanmu!" Meira ikut bangkit berteriak menatap kesal ke arah suaminya.
Seharusnya dirinya yang sekarang marah, ditinggalkan di acara resepsi seorang diri. Seharusnya dirinya yang menuai pujian, namun Dora-lah malah yang dielu-elukan. Benar-benar emosi, segala perasaan kesal dan irinya dilampiaskannya pada suaminya.
"Lebih baik kita fikirkan tentang kelanjutan pernikahan kita nanti," hanya itu kata yang keluar dari bibir Jovan. Melangkah pergi, tidak peduli dengan apapun lagi.
"Dasar pria tidak berguna!" bentak Meira, wanita yang merasa rugi telah menghabiskan malam dengan Jovan, menghabiskan waktu yang banyak untuk menyakinkan pemuda itu meninggalkan Dora. Kini dirinya menemukan kenyataan, seharusnya dirinya bisa mendapatkan yang lebih baik lagi dari suaminya saat ini.
Sedangkan Jovan berjalan beberapa langkah, wine, kue berbentuk hati, lilin yang mulai meleleh, bahkan hidangan mahal yang tidak pernah dinikmatinya. Semuanya dipesannya untuk hari ini, hari yang seharusnya sempurna. Tapi sempurna dalam rasa sakit.
Melangkah keluar dari gedung hotel, sinar terang lampu perkotaan membuat bintang di langit tidak terlihat sama sekali. Berbeda dengan di desa, setiap malam dirinya akan melihat ke arah bintang. Tidak sabar menunggu hari esok tiba, menanti hal menarik apa lagi yang akan dilakukannya dengan Dora, sebuah kenangan masa lalu yang terbayang.
*
Sementara Dora yang tinggal di villa, dekat dengan daerah pedesaan, juga melihat ke arah bintang. Apakah merindukan saat bersama Jovan? Tidak, perutnya kram karena siklus bulanan yang tidak lancar.
Besok pagi seharusnya Yoka pulang, dirinya harus terlihat baik-baik saja. Mencari perhatian suaminya, menjadi istri yang baik dan tidak menyusahkan.
Sinar bulan menembus jendela kamar, wanita itu masih terbaring di tempat tidurnya. Terdiam seorang diri, hari ini hujan tidak turun sama sekali.
Sudah pukul 3 pagi, namun matanya belum juga terpejam. Hingga bau teh jahe hangat tercium, tangan seseorang terulur memeluknya dari belakang.
"Perutku sakit..." keluh Dora, menepis pelukan suaminya.
Yoka menariknya, membuatnya terbaring terlentang. Menyingkap pakaiannya, mengoleskan minyak kayu putih di perutnya, kemudian memijat perutnya pelan.
"Apa seperti ini akan terasa lebih baik?" tanya Yoka pada istrinya. Wanita yang mengangguk pelan, menahan rasa malu.
"Kamu tahu ini dari mana?" tanya Dora menatap ke arah suaminya yang tersenyum lembut.
"Arsen mengatakan kamu terlihat pucat dan terus memegangi perut. Jadi aku fikir ada hubungannya dengan siklus datang bulan. Aku sempat mencari di internet cara meredakan rasa sakitnya. Tapi tidak yakin, bagaimana caranya memijat perut," jawab Yoka, masih konsentrasi pada kegiatannya.
"Apa ini benar?" tanya pemuda itu lagi, hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Dora. Pemuda yang membantunya duduk, meminumkan teh jahe padanya. Merasa dicintai? Itulah perasaannya saat ini. Benar-benar terharu, ingin rasanya memeluk suaminya.
Hingga.
"Kamu harus segera sembuh, besok pulang dari kampus, ikut denganku. Kita makan malam bersama di sarang penyamun..." Kata-kata penuh senyuman dari suaminya.
Dora mengenyitkan keningnya, rasa kagumnya hilang seketika. Ingin rasanya dirinya membanting suaminya ke tempat tidur kemudian menduduki pinggangnya. Tunggu dulu, menduduki pinggang? Apa ingin menanam jagung?
Maaf salah ingin rasanya membanting tubuh suaminya ke lantai, karena menghilangkan rasa kagumnya seketika.
Makan malam ke sarang penyamun? Kemana dirinya sejatinya akan dibawa.
Wajah pemuda yang tersenyum itu, ingin menyatakan perang terhadap keluarganya. Rumah utama menjadi tujuannya. Jika dirinya yang dilukai ibu sambungnya mungkin tidaklah mengapa. Namun bagaimana jika suatu saat nanti istrinya yang dilukai atau diracuni, seperti yang pernah dialaminya.
Karena itu sebaiknya memberikan peringatan, menyatakan perang secara terang-terangan.