Silent

Silent
Kurung



"Ka...kamu benar-benar melakukannya?" tanya Jovan dengan bibir bergetar, menatap ke arah wanita di hadapannya.


"Aku melakukannya, aku tidur dengan pria kaya demi biaya kuliah," jawaban dari Dora mulai tersenyum.


Jemari tangan pemuda itu mengepal, lubang di hatinya terasa semakin dalam. Mengapa wanita di hadapannya ini bisa berubah. Matanya mulai memerah, air mata yang tertahan di pelupuk matanya, bagaikan menanti untuk dapat mengalir, merasakan dadanya yang dihujam rasa sakit.


Mengapa dapat seperti ini? Entahlah.


Dora yang tersenyum, membawa motor tua, terkadang berkeliling desa bersamanya. Mengenakan seragam SMU, berteriak bersama di hari kelulusan mereka. Sebuah awal dari kerenggangan hubungannya.


"Kenapa kamu menjual diri! Jika perlu uang untuk kuliah katakan padaku!" bentak Jovan dengan nada tinggi.


Tapi wanita dihadapannya hanya tersenyum. Menatap sinis padanya.


"Kalian akan menikah, memerlukan biaya yang besar, tempat kost yang kamu sewa bayaran juga tidak murah. Jika kamu mempunyai uang untuk membayar kuliahku tiga semester saja, aku pertimbangkan untuk berhenti meniduri pria kaya." Kata-kata dari Dora menahan malunya. Dirinya tidak boleh kalah berdebat melawan mantan. Harga dirinya benar-benar dipertaruhkan.


Jovan terdiam, tertunduk, mengapa Dora berubah menjadi seperti ini? Gadis desa yang baik hati, kini menjual tubuhnya demi uang kuliah.


"Aku akan memberikanmu uang kuliah, walaupun harus meminjam di tempatku bekerja. Berhentilah menjual diri..." ucap Jovan, menahan amarah dan air matanya. Untuk pertama kalinya dirinya merasa terluka dan kecewa pada wanita di hadapannya.


"Itu bukan memberikan uang kuliah, tapi mengembalikan yang aku berikan padamu," Dora tersenyum, air matanya tiba-tiba mengalir tidak dapat dikendalikan olehnya.


Mengapa dapat seperti ini? Dirinya sudah bersusah payah mengumpulkan uang untuk mengejar cita-citanya. Namun, impian pemuda ini lebih penting baginya, tidak ada tempat berbagi mengingat ayahnya telah lama meninggal dan ibunya menikah lagi. Hanya pemuda ini yang dulu dianggapnya keluarga, tapi Jovan tidak menganggapnya keluarga.


Mungkin hanya sedikit sisa perasaan yang tertinggal. Perlahan telah lenyap. Ini mungkin tangisan terakhirnya mengatakan segalanya.


"Dora, aku..." kata-kata Jovan terhenti, tidak tahu harus mengucapkan apa lagi. Tidak ada kalimat yang dapat diucapkannya.


"Mencintai sahabatku? Kita sudah berakhir, aku akan menjalani kehidupanku. Dan kamu juga akan menjalani kehidupanmu bersama Meira, wanita pilihanmu. Semua yang dulu aku lakukan untukmu, anggap saja tidak ada. Agar ketika bertemu, kita dapat hanya berpapasan seperti orang asing." Dora melangkah pergi, menghapus air matanya.


Ikhlas? Sesuatu yang melegakan, menyimpan dendam mungkin menjadi hal yang menyakitkan.


Jovan menatap ke arah punggung Dora yang melangkah anggun penuh percaya diri. Wanita yang dikhianati olehnya. Bagaimana sejatinya perasaannya? Entahlah, menyakitkan membayangkan wanita yang tanpa sadar begitu melekat di hatinya pergi dengan pria tua kaya.


Bermanja-manja layaknya beberapa mahasiswi yang dikenalnya. Memanggil Dady, pada pria yang menjadikan Dora wanita simpanannya. Begitu cantik dan anggun, dirinya baru menyadari segalanya. Gadis itu berubah karena dirinya.


Tapi apa yang sekarang tengah difikiran Dora? Wanita yang berusaha keras berjalan normal memasuki koridor kampus, menahan rasa sakit pada pangkal pahanya akibat perbuatan pria kaya yang semalam menidurinya. Ingin pergi dengan keren di hadapan mantan. Benar-benar perih dan menyakitkan.


Semalam mungkin untuk pertama kali, rasanya begitu menyakitkan. Selebihnya jauh berkurang, terhanyut akan perasaannya, hingga membiarkan Yoka melakukannya lebih sekali.


Pemuda yang tidak memiliki modal rayuan sama sekali. Hanya bermodalkan kata, aku mencintaimu. Dan Dora adalah wanita bodoh yang mau-maunya saja terkena bujuk rayuan Yoka. Kini dirinya menyesal, benar-benar menyesal.


"Yoka br*ngesek!" gumamnya dengan suara kecil, mengapa perihnya dapat begitu lama. Entahlah, namun dirinya tidak ingin berhubungan lagi. Benar-benar tidak ingin, berhubungan layaknya suami-istri, terutama dengan Yoka.


Tapi apa yang akan terjadi jika dirinya kembali dibujuk oleh pemuda itu? Mungkin kembali pasrah saat malam, menyesal saat siang.


*


Jovan terdiam, dirinya memang ijin libur hari ini. Menghela napas kasar, menunggu di depan kampus ingin bicara kembali dengan Dora. Entah apa yang ingin dikatakannya. Tapi hanya ingin, hanya ingin, pemuda yang masih membawa kelengkapannya guna akan menempuh S2 di universitas yang sama dengan Dora.


Apa itu pria yang menjadikan Dora wanita simpanan? Seorang pria yang bahkan berusia lebih tua dari ayah tiri Dora. Memakai kacamata dengan setelan jas rapi. Benar-benar seorang pria yang menyukai daun muda.


Kesal? Tentu saja, dengan cepat dirinya bergerak, menggedor kaca jendela mobil tempat sang pria paruh baya duduk saat ini.


"Siapa dia? Kenapa mengetuk jendela mobil?" tanya Yoka, masih konsentrasi pada beberapa gambar desain untuk pembukaan salah satu cabang restaurannya.


Arsen menatap ke arah kaca jendela mobil satu arah.


"Gawat!" batinnya, dirinya sudah terlanjur berbohong pada Yoka mengatakan rupa Jovan benar-benar jelek. Tidak ingin membuat Yoka cemas, jika Dora kembali ke mantan kekasihnya.


"Dia?" kata-kata Dora terhenti menatap kode dari Arsen agar dirinya tetap diam.


Tapi entah mengapa, suara ketukan jendela mobil kembali terdengar.


"Hidung belang br*ngesek! Aku ingin bicara denganmu!" bentak Jovan penuh amarah.


"Bukakan jendela mobil!" Perintah dari Yoka.


Tapi Arsen dan Dora hanya terdiam, tidak beranjak sama sekali. Pemuda yang mengenyitkan keningnya curiga.


"Buka!" teriak Jovan lagi.


Perlahan jendela mobil sebelah pengemudi terbuka, menampakkan sang pria paruh baya yang duduk tenang di kursi pengemudi.


Matanya menelisik, Dora berada di sana dalam keadaan tertunduk.


"Kamu siapa?" suara seorang pemuda terdengar, pemuda yang kini duduk di samping Dora.


"Aku? Namaku Jovan! Mantan pacar Dora! Lepaskan Dora! Biarkan dia pergi! Jangan mentang-mentang kamu orang kaya, jadi dapat membeli hati seseorang!" bentaknya dengan nada tinggi.


"Membeli? Aku memang terlahir kaya, itu bukan kesalahanku. Termasuk bukan kesalahanku, saat aku merasa bibirnya enak," jawaban dari Yoka menarik tengkuk Dora, mencium bibirnya di dalam mobil.


Jovan terdiam, jemari tangannya gemetar, menatap perlahan Dora membalas pangutan bibir sang pemuda.


"Naik ke pangkuanku! Kita lakukan yang lebih agresif! Atau aku akan mengira kamu masih menyukainya," bisik Yoka membuat Dora memejamkan matanya membiarkan pemuda yang cemburu setengah mati itu, membimbingnya naik ke atas pangkuannya.


Berciuman dengan lebih agresif, tidak menganggap keberadaan Jovan yang melihat segalanya dari kaca jendela samping pengemudi.


Hingga Arsen melihat kesempatan, melajukan mobilnya meninggalkan kampus, menatap sang pemuda yang terdiam dalam derai air mata yang mengalir. Entah apa yang diinginkannya, bukankah ini ending yang diinginkannya? Dirinya dapat hidup bahagia bersama Meira?


*


Sedangkan di dalam mobil, ciuman itu terlepas, Dora turun dengan cepat dari pangkuan Yoka.


"Kamu adalah milikku, jika ada pria yang mendekat lagi, aku benar-benar akan menguncimu di dalam villa bersamaku," ancaman dari Yoka, membuat Dora mengeluarkan keringat dingin.