Silent

Silent
8 # Dipertemukan Oleh Tasbih



Assalamualaikum temen temen, haii!!, Gimana kabar kalian semua??, Semoga sehat selalu ya, dan yang kurang sehat semoga lekas sembuh ya.


.


.


Siapa ni yang nungguin??. Angkat emoji 🐣dong 🔥


.


.


Sebenernya aku udah gasabar lanjutin cerita ini, itu sebabnya aku up cepat. Oh iya, kalau misalkan ada kesalahan dalam adegan ataupun kejadian cerita ini atau penyampaian sesuatu, aku minta maaf sekali. Karena memang kita sama sama belajar begitu juga Raluna, ia tak sepenuhnya pintar dan lebih baik dari Zara. Sebenarnya Raluna dan Zara itu sama tapi yang membedakan Zara paling tidak bisa nahan emosi.


.


.


Oke gitu aja yang pengen aku sampai kan, yuk lanjut scroll kebawah.


.


.


Happy Reading ♥️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Raluna keluar dari kamarnya lengkap dengan kerudung. Raluna berjalan menghampiri kedua orangtuanya sembari menunduk. "Maaf Abi, Raluna dengar perkataan Abi. Dan Raluna minta izin untuk menjelaskan yang sebenarnya dengan detail." Kata Raluna.


"Baik, duduk disini nak." Usman menepuk tempat duduk disampingnya mengisyaratkan Raluna untuk duduk diatasnya. Melihat dan mendengar bagaimana kepedulian dan kasih sayang dalam keluarga itu membuat Abram seketika ingin dan kembali mengingat masa lalunya.


"Jadi sepulang sekolah Raluna pergi kerumah Bu Wulan mengantarkan tasbih yang Raluna temuin waktu Raluna dan umi ke pengajian, lalu saat mau pulang dari rumah Bu Wulan ban sepeda Raluna ternyata tertusuk paku. Bu Wulan menyuruh kakak ini untuk mengantar Raluna, tapi Raluna tidak mau dan Bu Wulan memaksa akhirnya Raluna mau diantarkan tapi tidak berboncengan kakak ini didepan pakai sepedanya dan Raluna dibelakang bawa sepeda Raluna." Jelas Raluna panjang.


"Kenapa sekarang dia ada disini?" Tanya Usman.


"Maaf Abi, tadi umi khawatir sama Raluna. Tapi akhirnya umi senang karena ada yang mengantarnya Raluna sampai dengan selamat. Sebagai tanda terimakasih umi suruh dia mampir sebentar Abi." Jawab Saidah.


"Yang dikatakan istri dan anak bapak benar, hanya itu tujuan saya kesini. Mengantar anak bapak karena saya diberi amanah untuk mengantarnya sampai kepada orang tuanya. Dan saya juga berterimakasih kepada anak bapak karena telah menemukan dan menyimpan dengan baik tasbih saya." Ucap Abram.


"Saya minta maaf jika kehadiran saya membuat bapak salah faham." Kata Abram.


"Saya percaya. Raluna kamu tidak usah sedih Abi tidak marah. Abi tau anak ini baik, dia menjalankan perintah Bu Wulan dengan tepat. Terimakasih ya nak." Suara Usman sekarang melembut, membuat Abram sedikit tenang dari tadi ia bagaikan dihadapkan oleh calon mertua yang mengintrogasi menantunya, ahh kenapa Abram bisa berpikiran seperti ini.


"Iya sama sama pak."


"Maafin Raluna Abi, beneran Abi tidak marah?" Tanya Raluna gugup.


"Iya sayang." Usman memeluk putrinya itu dengan penuh kasih sayang.


"Kalau begitu Raluna balik lagi kekamar Abi." Raluna pun beranjak menuju kamar. Ketegangan nya sudah usai. Mengingat Abi nya sangat cemburuan.


"Nak siapa namamu?" Tanya Usman. Entah kenapa suara usman membuat Abram merasa berbicara seperti seorang ayah meski tadi Abram sempat tegang.


"Abram pak." Jawabnya sopan.


"Kamu tinggal sendiri atau dengan orang tua?"


"Sendiri pak." Jawab Abram.


Abram mencoba sekuat tenaga untuk tetap tenang walau hatinya masih belum bisa move on dari scene masa lalu.


"Saya bisa lihat dari sorot mata kamu, sebuah luka. Masih belum hilang sampai sekarang." Ucapan Usman membuat Abram mengangkat pandangannya.


"Maaf maksudnya pak?" Tanya Abram memberanikan diri.


"Sudah, jangan pura pura. Bapak sudah anggap kamu seperti anak bapak. Walau kita baru ketemu bapak tau kamu anak yang baik." Kata Usman lolos membuat dunia Abram seketika berhenti begitu baik kedua orang didepannya ini, walau baru pertama kali bertemu entah mengapa rasanya sudah sangat mengenal satu sama lain.


Ini yang tidak Abram dapatkan dari orang tua kandungnya, kasih sayang kepedulian dan cinta dari orang tuanya. Abram menginginkan itu, hingga disetiap Sujud sholatnya ia meminta agar diberikan mertua yang menyayanginya lebih dari orang tua kandungnya.


"Nak, bapak tau kamu butuh sandaran. Sini." Usman merentangkan tangannya, mengisyaratkan Abram untuk datang ke pelukannya. Pertahanan Abram runtuh entah dorongan dari mana ia berhambur ke pelukan Usman. 'nyaman' satu kata yang mewakili seluruh perasaannya air mata menetes dari matanya.


Usman adalah orang asing, tapi kenapa ia merasa nyaman saat Usman memeluknya. Rindu akan kasih sayang seorang ayah kini telah terobati, dari dulu yang ia dapatkan hanyalah diabaikan.


Didalam kamar saat Raluna tengah menulis, samar samar Raluna mendengar percakapan mereka.


Tanpa Raluna sadari buliran bening mengalir dari kedua matanya, ada apa dengannya kenapa ia menangis seakan ikut merasakan. "Astaghfirullah, Raluna kamu kenapa?" Tanya nya kepada dirinya sendiri, Raluna segera menyeka air matanya.


"Kasihan kakak itu, Raluna tidak papa kakak peluk Abi. Tapi Raluna cemburu." Ucapnya.


Usman mengusap punggung Abram, sudah begitu lama anak ini memendam kesedihan, kesepian dan emosi hati dalam dirinya. Hingga akhirnya pecah dipelukannya. Usman senang jika dengan begini bisa sedikit membuat anak ini lega.


Abram meneteskan air matanya, walau tak bersuara air mata yang jatuh mewakili seluruh perasaannya, kecewa, sedih, kesepian, marah. Semua telah tertumpah kan, rasa sesak didada Abram yang sedari dulu tak sembuh sembuh kini sudah lega.


Seakan Abram mengadukan semua ini kepada Usman, beberapa saat kemudian ia tersadar dari tangis sedihnya. Ia segera melepas pelukannya.


"Maaf pak."


"Tidak usah minta maaf, kamu sudah bapak anggap seperti anak bapak. Sudah jangan sedih lagi. Insyaallah kalau saya ada waktu, saya akan kerumah kamu." Ucap Usman.


"Terimakasih pak, terimakasih karena sudah mengobati rindu saya akan sosok seorang ayah dan ibu." Ucap Abram.


"Iya sama sama." Saidah terharu, ia sangat kagum kepada Abram, ia mampu menutupi semua hal yang menyakiti hatinya dari orang lain. Tapi tidak dengan suaminya, Usman bisa tau hanya dengan melihat sorot matanya.


Sebenarnya Abram adalah seorang yang sangat pandai menyembunyikan apa yang ia rasakan. Tapi kali ini semua pertahanannya runtuh dihadapan Usman. Ada apa dengannya. Abram sendiri tidak tau mengapa ia bisa begini.


"Pak, sudah mau magrib saya izin pulang dulu." Kata Abram.


"Bagaimana kalau kamu sholat berjamaah sama bapak disini?" Tawar Usman.


"Abi, mengajak orang sholat berjamaah memang bagus. Tapi nak Abram rumahnya kan didesa sebelah, nanti pulangnya pasti malam takut nanti terjadi apa apa." Ucap Saidah.


"Insyaallah, lain waktu saya akan pergi sholat Jum'at dengan bapak." Jawab Abram.


"Baiklah kalau begitu, hati hati dijalan." Kata Usman.


"Terimakasih pak, Bu. Saya pamit pulang, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam hati hati."


"Iya pak, Bu. Saya pamit." Ustad Abram pun pulang dengan perasaan yang sangat lega tidak seperti biasanya. Ia merasa tenang, pikirannya menjadi lebih baik. Alhamdulillah selama diperjalanan pulang Abram tidak terhalang oleh apapun, ia selamat sampai rumahnya.


Abram adalah sosok yang penyabar, baik hati, ramah, sopan, jujur dan gigih. Dari kecil ia sangat dekat dengan almarhumah ibunya, sedangkan ayahnya? Dia selalu bekerja dan tidak memperhatikannya. Setelah ibunya pergi, ayahnya menikah kembali dan dari situlah luka luka yang sekarang bersarang di hati Abram sekarang ini masih belum bisa sembuh.


Mulai dari ibu tirinya yang selalu memarahinya, membandingkan dirinya dengan anak kandungnya, bahkan tak jarang campur tangan kekerasan yang dilakukan oleh ibu tiri dan ayahnya menyiratkan luka yang amat sangat mendalam. Membuat kerinduan akan sosok ibu yang sesungguhnya yaitu ibu kandungnya semakin bergejolak.


Dimana dari dulu yang ia dapatkan hanya tangis, belum lagi disekolah, ia selalu dibully dan penyebabnya adalah sodara tirinya. Walau dirinya berkecukupan dalam materi tapi Abram kekurangan dalam kasih sayang orang tua.


Abram terlalu kecewa dengan ayahnya, itulah mengapa Abram memilih pergi dan tinggal dikota dan kafe yang ia jalankan. Itu adalah pemberian almarhumah ibunya yang tidak diketahui oleh ayahnya.


Abram memutuskan pergi menjauh untuk menenangkan hati, dan perasaannya. Jika ia sudah membaik dan luka dihatinya sembuh ia akan kembali kepada ayahnya. karena ayahnya adalah orangtuanya bagaimana pun sikapnya terhadapnya Abram harus menjadi anak yang baik untuknya, Tapi usahanya tidak membuahkan hasil, luka itu masih belum bisa sembuh, dan trauma akan suatu hal masih membayang di ingatan Abram.


Ia ikhlas jika dulu ia sangat terluka, namun apa ia tidak bisa menyembuhkan lukanya?. Abram berdoa suatu saat nanti akan ada seseorang yang akan membuatnya bahagia hingga seluruh luka dihatinya hilang berganti dengan kebahagiaan yang selalu mengalir atas izin yang kuasa.


Setelah azan magrib Abram sampai dirumahnya, merebahkan tubuhnya yang lelah seharian. Perlahan tangan kanannya masuk ke saku baju nya dan mengambil tasbih itu.


'ibu ada apa denganku, kenapa aku begitu lemah dihadapan orang tua Raluna. Astaghfirullah kenapa aku menyebut nama gadis itu.'


'ibu Abram yakin, ibu sudah tenang di surga. Rasanya Abram lelah dengan semua ini, ingin rasanya Abram bertemu dengan ibu. Tapi ibu akan kecewa jika Abram melakukan hal itu (bunuh diri). Tapi tenang pemikiran Abram tidak sependek itu Bu, walau Abram lelah Abram yakin dibalik semua ini Allah tengah menyiapkan kebahagiaan untuk abram.' perlahan buliran bening turun dari kedua matanya, rindu akan sosok seorang ibu itu Abram rasakan kini.


"Astaghfirullah, saya belum sholat magrib." Abram kaget dan langsung berdiri dari tidurnya.


Secepat kilat ia kekamar mandi dan langsung menunaikan sholat magrib. Selesai sholat Abram berdzikir dan membaca Al Qur'an, kemudian berdoa. Ia senang karena tasbihnya sudah kembali tapi kenapa tersirat ingatan tentang gadis yang menemukan tasbih ini, Raluna ya gadis itu.


Keesokan harinya, ini adalah jadwal ia mengunjugi kafenya. Dan untungnya ia sudah izin untuk tidak mengajar karena ada kepentingan.


Abram mengendari motor Scoopy nya membelah jalan didesa yang sejuk nan indah, jarak kafe itu agak jauh dari desa ya namanya juga di kota.


Abram datang dengan sarung dan kemeja hitam yang ia kenakan, ditambah lagi sorban yang dikenakan dipundaknya. Tak lupa kacamata hitam yang ia kenakan. Ya 'nyaren' itu kata yang tepat untuk Abram sekarang (penyarung keren). *Wkwkkwkwk ini cuma karangan aku doang kok*


Tak lupa pula, kafe ini ia gunakan untuk santri yang sudah lulus agar mendapat pekerjaan, karena ukuran kafe ini yang terbilang besar dan ramai pengunjung.


Abram duduk disalah satu kursi yang tertata rapi dan bersih itu, sungguh karyawannya rajin semua. Abram memperhatikan setiap karyawannya, dan tak lama setelah ia duduk seorang karyawan datang membawa buku menu dan menawarinya dengan ramah.


"Ini tuan buku menunya."


"Terimakasih." Abram menelusuri setiap jenis menu makanan dan minuman yang ada disini.


"Saya pesan tiramisu." Ucap Abram.


"Baik tuan, ditunggu sebentar ya."


Minuman Abram datang, dan ia langsung meminumnya sembari memperhatikan bagaimana cara kerja karyawan nya. Selesai dengan minumannya ia berjalan menuju tempat kasir.


"Dimana Fendi." Tanya Abram pada kasir laki laki.


"Maaf ada apa ya tuan ingin bertemu dengan atasan saya."


"Saya mau bertemu dengannya saja."


"Maaf tuan tidak bisa, atasan saya sedang istirahat didalam."


Abram pun mengambil kunci dalam sakunya dan berjalan menuju lantai 2 kafe ini tempat yang hanya Abram bisa masuk dan karyawan yang ia pilih.


Melihat Abram yang menuju ruang atasannya kemudian menyuruh temannya untuk menghentikan Abram. "Tuan mohon maaf tapi anda tidak boleh masuk, ini ruangan khusus tidak ada yang boleh masuk selain atasan saya yang meminta." Karyawan itu menghentikan tangan Abram.


"Saya sudah bilang saya mau bertemu Fendi."


"Tapi tuan saya hanya menjalankan amanah untuk tidak membiarkan siapapun masuk."


"Kamu tenang saja, tidak ada yang marah justru kamu telah bekerja dengan baik." Setelah mengatakan itu Abram masuk menggunakan kunci yang ia pegang, memperlihatkan Fendi yang tengah tidur diluar ruangannya.


"Assalamualaikum." Ucap Abram pelan, sudah agak lama ia tidak kesini.


Fendi laki laki itu tengah tertidur tapi ia merasakan ada yang membuka pintu ruangan yang tidak boleh ada yang masuk. "Siapa itu? Kenapa masuk saya sudah beritahu kalian jangan masuk kesini kalau bukan perintah dari saya."


"Assalamualaikum." Suara Abram mengejutkan Fendi, kenap tidak terkejut pasalnya Abram berada disampingnya seperti hantu saja.


"W-waalaikumsalam. Pak Abram." Cicit Fendi, dia adalah orang kepercayaan Abram sekaligus muridnya yang sudah lulus 1 tahun lalu. Abram memilihnya karena ia jujur, tegas dan baik hati.


Namanya Ifandi Zhafran Karomi, anak muridnya yang menjadi sahabat kedua setelah Sholeh. Abram lebih sering memanggilnya dengan sebutan Fendi.


"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Abram.


"Alhamdulillah baik pak, bapak sendiri?"


"Alhamdulillah baik juga."


"Ayo bicara didepan, saya males diruangan itu." Ajak Abram.


Saat mereka berdua turun sudah ada beberapa karyawan yang menjelaskan kepada Fendi, mereka sudah mencegah Abram untuk masuk tapi Abram ngotot mau masuk.


"Pak maaf pak-"


"Ikut saya kita bicarakan disana." Perkataan Fendi membuat karyawan laki laki itu takut total ada 15 pegawai disini, dari mulai menjadi kasir, koki, barista, penjaga, pramusaji dan lainnya.


Abram, Fendi, dan beberapa karyawan tadi yang mencegah Abram masuk kini juga ikut  duduk di meja. Abram dan Fendi sengaja membuat karyawan itu takut, usil satu kata yang mewakili Fendi. Fendi mengajak Abram untuk melancarkan rencananya.


"Pak kami minta maaf." Cicit karyawan itu.


"Sebenarnya dia adalah pak Abram, pemilik sekaligus atasan saya. Saya hanya orang kepercayaan pak Abram." Ucapan Fendi lolos membuat mereka melototkan matanya.


"Tidak usah begitu saya bukan hantu." Ucap Abram.


"P-pak kami minta maaf, kami tidak tau kalau bapak adalah pemilik kafe ini." Ucap salah satu pelayan.


"Iya, kalian sudah bekerja dengan baik. Tidak membiarkan orang asing masuk, dan satu lagi kalian harus senantiasa ramah kepada pengunjung." Ucap Abram.


"Baikk pak." Jawab mereka.


"Oh iya, saya hari ini mau bagikan makanan dan minuman gratis, cepat siapkan 50 makanan dan 50 minuman. Sementara kita bagi bagi itu, kafe saya serahkan kepada Fendi dan 7 orang orang dikafe sisanya ikut saya." Perintah Abram.


"Bilang ke koki, buatkan makanan apa saja 50 bungkus jangan lama segera buatkan. Dan buatkan juga minumannya terserah minuman apa yang penting 50 juga." Lanjut Abram. Kebetulan hari ini adalah hari Jum'at dan sekarang masih jam setengah delapan. Masih ada waktu untuk membagikannya setelah sholat Jum'at nanti.


Semua sudah selesai tepat waktu, 50 makanan dan 50 minuman dikemas dalam bungkusan paper bag. Seluruh karyawan Abram suruh untuk menunaikan sholat Jum'at dan kemudian setelah selesai sholat mereka akan membagikannya.


Abram mengunci pintu kafe dan membalik tanda close untuk sholat Jum'at, mereka pergi menaiki kendaraan mereka masing masing. Abram yang memang sudah membawa baju ganti yaitu gamis putih sorban dan juga peci putih menjadi teman untuknya sholat Jum'at.


Tak lupa pula kacamata yang ia kenakan karena memang sangat silau cahaya matahari pada saat siang hari.


"Allahuakbar Allahuakbar, Allahuakbar Allahuakbar-" azan yang indah berkumandang, siapa pemilik suara ini? Ya Fendi dia memiliki suara yang amat sangat merdu.


Didalam masjid, ternya yang akan menjadi iman kenal dengan Abram lebih tepatnya guru Abram terdahulu. "Nak Abram?" Tanya seseorang itu.


"Inggih pak." Abram yang sedang duduk dibarisan paling depan disertai anak anak didiknya dulu yang kini menjadi karyawan, dan Fendi juga kini menjadi tukang azan. Karena suaranya yang sangat merdu mengumandangkan azan.


Abram berdiri dan membungkuk kemudian mencium tangan gurunya itu, tanpanya Abram tidak akan menjadi seperti saat ini. Ya Abram meneruskan perjuangan gurunya untuk mengajarkan ilmu agama kepada anak anak didiknya.


"Bagaimana kabarmu nak?" Tanya mantan guru Abram.


"Alhamdulillah baik, bapak sendiri bagaimana?"


"Alhamdulillah baik juga."


"Kaki bapak kenapa?" Tanya Abram.


"Bapak sudah sepuh, kaki sakit sudah biasa nak. Oh iya kamu tau kan cara ngimamin sholat?"


"Inggih pak."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Assalamualaikum temen temen, udah di penghujung aja nih. Gimana ceritanya seru??


.


.


Oh iya bagian ini aku kasih scene Raluna dikit, aku banyakin Abram dulu hehhe biar kalian puas.


.


.


1 kata buat Abram??


1 kata buat Fendi?? Diam diam jago azan.


1 kata buat Raluna??


.


.


Oke gitu aja, semoga kalian sehat selalu ya. Pantengin terus aku up nya, jangan lupa like komen dan share ya temen temen biar temen kalian tau sama ustadz Abram heheh.


.


.


Sampai ketemu di bab berikutnya, see you babayy.


.


.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏


.


.


.


1 Maret 2021