
Malam semakin larut, Yoka sama sekali tidak menemui Anggeline dan keluarganya. Lebih tepatnya tidak ingin menemui mereka. Sedangkan Samy hanya menghela napas kasar mengantar kepergian tiga orang yang mengendarai dua mobil berbeda itu.
Sudah diduga olehnya, Anggeline akan melakukan hal ini. Menginginkan yang terbaik untuk masa depan anaknya, tentu saja itulah yang paling diinginkan setiap orang tua.
Apalagi Wilson dan Caterina yang tidak dapat tinggal dengan Anggeline lagi, atau memberikan terlalu banyak pada putri mereka. Bukan karena tidak mampu, namun setelah usia 18 tahun, sang anak sudah seharusnya mandiri.
Saudara Anggeline yang lain, sudah semuanya dapat berdiri sendiri tanpa bantuan orang tuanya. Menjadi petinggi di salah satu perusahaan, salah seorang dari mereka bahkan mengelola sebuah kapal pesiar. Dua lainnya masih kuliah, menyewa apartemen sendiri, membiayai kuliah tanpa bantuan mereka sedikitpun.
Semua kecuali Anggeline, untuk kuliah kedua orang tua angkatnya lah yang membiayai, dirinya tidak sungkan sedikit pun. Bahkan jika mereka tidak meminta Anggeline belajar hidup mandiri akan masih tetap tinggal di kediaman mereka.
Hingga putrinya memutuskan untuk kembali ke negara tempatnya diadopsi. Ingin mencari pekerjaan, perlahan menjadi pianis terkenal. Mengapa harus kembali? Dirinya tinggal di California, bukan hanya satu namun banyak teman-temannya yang lebih cerdas memainkan piano dibandingkan dengan dirinya.
Berharap mungkin dengan kembali, dirinya dapat mengembangkan karirnya. Mengingat piano merupakan alat musik kalangan atas di negara tempatnya berasal. Mungkin tidak begitu banyak memiliki saingan untuk terkenal.
Berawal dari menjadi guru privat dari beberapa anak kalangan atas. Hingga berakhir menjadi guru privat seorang pemuda bisu yang tinggal di sebuah villa. Hanya dengan kata, aku mencintaimu, bersedia menerima kekuranganmu. Segalanya didapatkannya, termasuk memiliki sebuah gedung teater impiannya.
Mengetahui segalanya? Sejatinya Wilson tidak mengetahui apapun, sepengetahuannya gedung teater adalah hasil kerja keras putrinya sendiri. Sedangkan tiba-tiba menggelar pernikahan dengan Malik tanpa meminta restu darinya.
Hingga pada akhirnya Anggeline menghubunginya sembari menangis mengatakan gedung teater hasil kerja kerasnya digadaikan suaminya, Malik. Membuat cerita bohong tentang Yoka, yang dijerat seorang wanita yang mirip dengannya. Hingga dirinya ditinggalkan di hari pernikahan dan berakhir dengan Malik.
Skenario yang benar-benar sempurna. Yoka tidak dapat menyerang maupun menghindarinya, mengingat dirinya yang bagaikan seekor semut di hadapan Wilson. Dirinya hanya memiliki uang dan aset, tidak memiliki kemampuan dalam berbisnis atau memulai satu perusahaan. Jika dalam finansial dirinya mungkin mengimbangi mereka mengingat setengah perusahaan keluarga yang dimilikinya.
Tapi tetap saja, seseorang hanya dengan uang tanpa kekuasaan dan koneksi hanya omong kosong.
Karena itulah diam menjadi pilihannya, berpura-pura membuat pertengkaran dengan Dora. Hingga Wilson tidak sempat mengambil celah untuk bicara tentang dirinya dan Anggeline.
Hal yang selanjutnya dapat dilakukannya adalah menghindar. Tinggal terpisah dengan istrinya, mencari kekuasaan, relasi dan kestabilan finansial. Salsa? Malik? Keduanya tentu menginginkan nyawanya.
Ditambah dengan Narendra dan Wilson yang entah akan berpihak pada siapa. Dirinya tidak melarikan diri, namun mengumpulkan kekuasaan. Menjaga istrinya dengan cara yang berbeda. Itulah yang dilakukan Yoka.
Samy menonggakkan kepalanya, menghela napas kasar menatap ke arah jutaan bintang."Kapan keperjakaanku akan direnggut secara keji? Saat itulah aku akan pasrah..." gumamnya, menghibur dirinya sendiri yang kesepian.
*
Kesepian? Tentu saja berbeda dengan kakaknya. Tidak ada henti-hentinya meracau dalam kamar berpenerangan minim. Tidak ada kata berhenti malam ini.
Hingga lelah itu tiba, memeluk tubuh istrinya, usai berusaha menghadirkan jemari tangan kecil diantara mereka.
"Apa aku hanya pengganti?" tanya Dora tiba-tiba dalam pelukan suaminya.
Yoka menggeleng pelan, mendekap tubuhnya erat."Yang perlu kamu ingat hanya, aku mencintaimu. Tidak perlu mengingat atau memikirkan apapun,"
Wanita itu terdiam tidak mengerti dengan sifat suaminya yang berubah-ubah. Terkadang menjadi begitu dingin, sangat sulit untuk didekati. Namun terkadang juga menjadi begitu hangat.
Hingga.
"Apa kamu sudah tidak lelah lagi?" tanyanya mengecup pelan leher Dora.
"Jangan, besok saja lagi...Aku..." Kata-kata Dora terhenti mulutnya dibungkam, bibir pemuda yang bergerak perlahan. Membuat dirinya yang sudah lelah menjadi agresif.
Yoka hanya tersenyum, mendekap tubuh Dora yang tiba-tiba menjadi agresif. 3 tahun? Dora tidak menyadari ini adalah malam perpisahan mereka.
*
Hawa dingin terasa pagi mulai menjelang. Sarapan telah terhidang di atas meja, samping tempat tidurnya.
Pemuda yang kini memakai topi, sweater dan celana jeans hitam. Mengecup pelan kening istrinya, koper besar berada di sampingnya.
"Aku mencintaimu, tidak akan ada pria lain yang mencintaimu seperti caraku mencintaimu. Aku akan mengikatmu mulai hari ini sebagai istri yang tidak dicintai. Jadilah bunga liar..." lanjutnya enggan untuk meninggalkan istrinya.
Namun, ini harus dilakukannya. Menginginkan dirinya menjadi lebih baik lagi. Lebih dapat melebarkan sayap, untuk melindungi Dora. Sebuah nama yang akan diingatnya untuk menemukan jalan pulang.
Koper ditariknya, meninggalkan kamarnya, tepatnya meninggalkan villa. Cangkang teraman yang ditempatinya belasan tahun.
Ketika dirinya memikirkan segalanya kembali. Mungkin sebuah keajaiban yang membuat dirinya bertemu dengan Dora. Pedagang kue yang lebih dari dua tahun menjajakan dagangannya pada pelayan villa.
Seseorang yang sering melintas tapi tidak pernah ditemuinya. Penerbangan pukul lima dini hari. Pemuda yang kini duduk berdampingan dengan Samy. Pergi meninggalkan istrinya untuk waktu yang lama.
*
Matahari sudah semakin meninggi perlahan Dora membuka matanya, merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Tubuh yang dipenuhi dengan bekas keunguan, kini kulit putihnya bagaikan macan tutul.
Wanita itu, meraba area sekitar tempat tidurnya. Namun hanya kartu ATM dan sepucuk surat yang ditemukannya di atas tempat tidur, tempat dimana seharusnya Dora masih ada.
'Jika hamil, maka sudah takdir. Jika belum hamil jangan kecewa." Itulah isi surat, lebih tepatnya catatan yang tertinggal.
Tangan Dora masih menegang kartu yang ditinggalkan suaminya. Hasil pesugihan dirinya semalam.
Kesal? Tentu saja, entah dimana suami br*ngeseknya berada saat ini. Tidak peduli apapun, berlari membersihkan dirinya, bersiap untuk berangkat ke kampus dengan sebuah tas ransel di punggungnya. Mengambil dua helai roti tawar diatas meja, berjalan sembari memakannya.
"Yoka, aku mau berangkat!' teriak Dora mencari keberadaan suaminya, mengingat mobil yang masih ada di tempat parkir, suaminya mungkin belum meninggalkan villa.
Hingga Arsen menghentikan langkah Dora, berdiri di hadapannya.
"Tuan muda sudah berangkat ke luar negeri, pagi tadi," ucapnya.
...Bunga liar? Aku ingin seperti itulah kamu akan berkembang....
...Tidak ada yang menyirami atau mengasihi. Tidak ada yang memuji. Namun tetap tumbuh dengan tegar. Berkembang semakin indah, tanpa disadari dan disentuh semua orang....
...Bukan mawar yang indah, bukan melati yang harum. ...
...Aku hanya mencintaimu apa adanya....
...Bunga liar, itulah keinginanku....
...Hingga kamu menunggu kepulanganku, tanpa mencari perhatian siapapun untuk menyentuhmu......
Yoka.