
"Yoka?" wanita itu tertegun, menatap ke arah suaminya.
"Kita pulang," tegas Yoka menarik tangan Dora.
"Aku tidak melakukan apapun! Aku hanya membantu temanku," Dora melepaskan pergelangan tangan yang dipegang Yoka, berusaha menjelaskan.
Memang tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Jovan. Bukan pertemuan yang disengaja olehnya. Lagi pula hanya makan, dirinya tidak melakukan hal lain. Merasa tidak ada yang salah dengan tindakannya.
"Membantu temanmu dengan menemuinya? Kamu ingin meninggalkanku?" pertanyaan dari Yoka, mengepalkan tangannya. Semua orang yang disayanginya memang akan meninggalkannya bukan?
"Bukan begitu, kami..." kata-kata Dora terhenti, Jovan menyelanya.
"Dora memang dari awal tidak mencintaimu. Hanya bertahan karena uangmu." Jovan tersenyum menghela napas kasar.
"Yoka, aku tidak..." Dora masih berusaha menjelaskan.
"Aku mengerti, aku mengerti dari awal, yang membuatmu bertahan denganku hanya uangku kan? Aku tidak dapat membeli hatimu. Karena itu, aku membebaskanmu mulai hari ini. Jika ingin kembali, Arsen akan menjemputmu, pulanglah jam berapapun yang kamu inginkan. Aku tidak akan pernah melarang lagi." Yoka membelai rambut wanita di hadapannya. Berjalan pergi hendak meninggalkan cafe.
"Yoka tunggu! Yoka!" teriak Dora mengambil tas ransel serta beberapa buku yang dibelinya. Berlari berusaha mengejar suaminya.
"Yoka!" teriak Dora. Untuk pertama kalinya Yoka tidak peduli padanya. Wanita yang menatap mobil suaminya telah meninggalkan area cafe.
Jemari tangannya mengepal, bagaimana harus menjelaskan pada Yoka nantinya. Menyakitkan? Mungkin itulah perasaannya, ketakutan suaminya tidak akan mencintainya lagi. Hati yang kembali beralih pada Anggeline.
"Dora berhentilah menjual diri. Aku akan membantumu membayar uang kuliah. Sebagai permintaan maafku, sekaligus penebusan karena kamu dulu sudah membantuku. Agar tidak ada beban saat aku menikah dengan Meira nantinya." Malaikat baik hati bernama Jovan berucap, sumber utama masalah. Pemuda yang benar-benar sok baik bagi Dora.
"Br*ngesek! Aku tidak ingin mengenalmu seumur hidupku! Walaupun di kehidupan yang akan datang sekalipun!" bentak Dora, mengayunkan tas ranselnya, memukul tubuh Jovan berkali-kali.
"Sakit! Dora berhenti! Aku hanya tidak ingin kamu menjual diri! Ini niat baik dariku!" Jovan berusaha menghindar, menepis semua serangan membabi-buta.
"Menjual diri?! Dia menikahiku secara resmi! Bahkan tidak ada kontrak yang mengikat! Kamu fikir mudah menemukan pria sebaik dia! Dasar br*ngesek!" teriak Dora kembali memukul beberapa kali meredam amarahnya, kemudian berjalan cepat, meninggalkan Jovan menuju halte bus, berusaha menghubungi Arsen, untuk menjemputnya di halte dekat kampus.
Tidak cinta? Siapa bilang, wanita yang benar-benar bingung harus bagaimana lagi. Jemarinya berusaha menghubungi Yoka berkali-kali. Namun panggilannya tidak diangkat.
Hingga mobil yang dikendarai Arsen berhenti di hadapannya. Pintu mobil dibukakan oleh sang pria paruh baya. Melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang menuju villa.
"Bagaimana makan malamnya. Apa tuan muda tidak jadi membawamu dan teman-temanmu ke restauran miliknya?" tanya Arsen, memulai pembicaraan. Ingin mengetahui bagaimana perkembangan tuan mudanya yang mulai berinteraksi dengan beberapa orang.
"Dia ingin makan malam di luar denganku dan teman-temanku?" tanya Dora dengan air mata tertahan. Mengingat hal yang mungkin membuat suaminya kecewa saat ini.
Arsen mengangguk, menghela napas kasar.
"Tuan muda bukannya ingin mengekangmu. Hanya saja, ibunya meninggal dibunuh di depan matanya sendiri. Anggeline, orang yang dianggapnya kekasih meninggalkannya demi Malik. Tuan muda hanya tidak ingin hidup sendiri lagi. Memiliki, menjagamu dan anak kalian nanti," ucap sang pria paruh baya yang tengah konsentrasi menyetir.
Dora mengangguk, kemudian menangis sekencang-kencangnya. Dirinya tidak pernah mengecewakan orang yang dicintainya, termasuk dulu saat menjalin hubungan dengan Jovan. Tapi kini? Dirinya mengecewakan Yoka, suaminya sendiri.
Apa Yoka akan memaafkannya? Mendengar penjelasannya? Atau saat dirinya kembali ke villa koper miliknya sudah berada di halaman villa?
Rasa takut menghampiri dirinya, benar-benar ketakutan. Bukan karena akan kehilangan kehilangan kemewahan, tapi bagaimana jika janin sudah berkembang dalam rahimnya? Selain itu dirinya mulai bergantung pada Yoka, nyaman dengan kehadiran sosoknya.
*
Halaman villa terlihat, tidak ada koper disana. Dengan cepat Dora turun dari mobil, melewati area ruang tamu. Hasilnya juga sama, tidak ada koper disana.
Hingga dirinya sampai di kamar utama. Suara air shower terdengar, pertanda suaminya masih membersikan diri di kamar mandi.
Dora menghela napas kasar, jika dalam dua hari Yoka masih marah mungkin cara-cara laknat ini dapat digunakannya. Menekan harga dirinya sendiri.
Wanita itu mengganti pakaiannya dengan piyama berbentuk kimono. Bersiap-siap jika dirinya akan dimakan, bagaikan ayam geprek yang pasrah kala dilumuri sambal pedas.
Perlahan membaringkan dirinya, memejamkan matanya berpura-pura tertidur. Suara pintu kamar mandi terbuka terdengar, pemuda yang mulai mengganti pakaiannya dengan setelan piyama, duduk di tepi tempat tidur.
Kemudian membaringkan tubuhnya, memunggungi istrinya.
Perlahan Dora mengintip, dirinya tidak disentuh sama sekali? Apa sambalnya tidak enak. Maaf salah, apa ukuran 36 B yang telah sesak hampir menjadi 38 B akibat perbuatan suaminya kurang menggoda?
Perlahan dirinya memeluk Yoka dari belakang, jemari tangannya merayap ke balik setelan piyama, meraba otot dada dan perut suaminya.
Tapi tidak ada respon, pemuda itu hanya terdiam. Dora menyandar pada punggung suaminya, masih mendekapnya.
"Aku mencintaimu, jangan marah..." pintanya, tapi masih belum ada satupun jawaban. Hingga 30 menit berlalu, Dora yang kehausan meminum segelas air putih di atas meja. Setelahnya kembali memeluk Yoka dari belakang. Respon kembali tidak didapatkannya. Matanya mulai berat terlelap dalam tidurnya yang nyaman.
Sebuah mimpi yang indah, kala dalam mimpinya suaminya meracau menyebutkan namanya, menikmati tubuhnya.
"Aku mencintaimu," kata-kata dari Yoka dalam mimpinya penuh senyuman, berada di atas tubuhnya, bergerak berpacu tiada henti.
Brak!
Pagi menjelang, dirinya terjatuh dari tempat tidur, terbangun dari mimpi indahnya. Menemukan kenyataan suaminya masih marah, dirinya masih memakai piyama lengkap.
Matanya menelisik, Yoka sudah tidak ada di kamar. Dengan cepat Dora membersikan diri, hari ini dirinya harus meyakinkan suaminya. Menyakinkan Yoka, hanya pemuda itu yang kini ada di hatinya.
Berjalan cepat setelah mengeringkan rambut dengan hair dryer, memakai pakaian lengkap. Berlari menuju lantai satu menggendong ranselnya.
"Sayang! Aku ikut berangkat denganmu!" ucap Dora, menatap Yoka yang masih terdiam, tidak ingin bicara dengannya. Sedangkan Amanda berusaha lebih intens lagi mendekati sang pemuda. Meletakkan beberapa jenis makanan di piring Yoka.
"Kenapa kamu masih disini?" pertanyaan yang keluar dari mulut Dora, menatap pada sang selebriti.
"Karena aku calon nyonya muda di villa ini, saat kalian bercerai nanti." Kata-kata dari Amanda membuat sang nyonya villa sebenarnya meraih kemoceng dari salah satu pelayan.
"Aku sebagai nyonya di villa ini mengusirmu." Kata-kata penuh ancaman dari Dora.
"Kalau aku tidak mau? Ayah kandung Yoka yang ingin menjodohkan kami jadi kamu hanya orang kampung yang harus mundur." Jawaban dari Amanda, penuh tawa menghina.
Tapi apa yang terjadi pada akhirnya?
Brak!
Amanda didorong hingga terjatuh di pintu depan villa. Setelah dipukuli menggunakan kemoceng oleh Dora, beserta koper besar milik sang selebriti, juga tidak luput dilempar Dora.
"Dasar wanita murahan!" teriak Amanda.
Perlahan Yoka terlihat melangkah memasuki mobil tanpa mempedulikan keberadaan mereka berdua. Sedangkan Dora yang melihat suaminya akan berangkat pergi, berlari menempel padanya.
"Aku ikut, nanti pulangnya jemput aku ya?" pinta Dora memelas.
"Sudah aku bilang, kamu bebas melakukan apapun, pergi dengan siapapun. Arsen akan mengantarmu..." kata-kata dingin menusuk dari mulut Yoka.
"Aku mencintaimu, mulai sekarang 24 jam waktuku hanya untukmu," ucap Dora, menghentikan langkah suaminya. Menatap matanya pemuda di hadapannya, penuh harap, berusaha mengeluarkan aura manis tingkat tinggi.