Silent

Silent
29 # Fitnah



Assalamualaikum temen temen, Alhamdulillah bisa up. yuk scroll kebawah.


.


.


Happy Reading ♥️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Oh, iya. Sudah?"


"Iya."


"Yaudah ayo bayar." Allard berusaha kuat tenaga menahan grogi dalam dirinya.


Rasa gelisah yang biasanya berkeliaran dalam dirinya seketika sirna, saat melihat Raluna.


"Mau makan?" Tanya allard. Keduanya sedang berada di mobil Ferarri hitam milik allard. Rencananya allard akan membawa Raluna makan, namun Raluna jarang sekali makan diluar oleh karena itu dia bertanya dulu. Kasihan kalau sudah terlanjur sampai di resto dan Raluna terpaksa makan.


"Enggak usah kak."


Allard tersenyum canggung, "oke."


*Awas lo Ranaa!, kapok gue!* Allard menggerutu dalam hatinya. Bisa bisa copot disini jantungnya. Entah sejak kapan dirinya menderita hal aneh ini, yang jelas semenjak Raluna ada dirumahnya.


Sampai dirumah, Raluna masuk kedalam kamarnya. Dia mengambil buku diary putih yang beberapa bulan lalu ia beli. Dia membuka satu persatu halaman.


Menemukan sebuah kata yang pernah ia goreskan dengan tinta diatasnya.


"Jatuh bisa bangkit lagi, jatuh cinta akan berakhir ditutup dengan sakit hati."__Raluna.


Dia terus membuka halaman demi halaman, sampai ke halaman dia menuliskan tentang kedua orang tuanya. Raluna menutup buku diarynya. Menyeka air matanya, rasa rindu akan umi dan abinya seketika menyeruak.


"Assalamualaikum Raluna!!" Raluna kaget, dan segera menyeka air matanya yang masih tertinggal di pipinya.


"Waalaikumsalam Ranaa. Ada apa?"


"Liat aku bawain kamu boneka Flaminggo."


Raluna tersenyum lebar menatap dua Flaminggo pink yang baru saja berpindah tangan dari Rana ke tangannya.


"Rana, dua lemari Flaminggo. Jangan nambah lagi ya. Raluna gak mau kasih sayang Raluna terbagi banyak, nanti anak anak Flaminggo Raluna kebagian sedikit."


"Gak papa, cinta Raluna sama Flaminggo kan sangat besar.... Dan baaanyyaakkk, jadi gak usah takut. Satu anak Flaminggo dapat kasih sayang Raluna sama dengan seluruh kasih sayang seorang ibu sama anak."


Raluna tersenyum, "makasih Ranaa. Rana sebelas dua belas sama Zara, jadi kalau Raluna kangen Zara tinggal panggil Ranaa."


"Iyalah, Rana gitu loh."


.


.


.


Malam hari berikutnya.


Disuasana malam, rumah Leon kini tengah ada acara makan malam bersama. Makan malam itu berjalan dengan hangat, hingga akhirnya allard teringat sesuatu.


"Pah."


"Hmm?"


"Aku mau ngomong."


"Langsung aja."


"Aku suka sama seorang gadis."


"Alhamdulillah. Bagus kalau begitu, papah kira kamu gak suka cewek."


Raluna berucap istighfar dalam hatinya, semakin hari semakin kelihatan sikap Leon terhadap allard. Tak heran jika allard menjadi pendiam, tidak suka basa basi, dan jarang tersenyum.


"Boleh aku nikahin dia?"


"Nikah?"


Allard mengangguk mantap, "kerja dulu, jadi dokter kalau gak papah kasih perusahaan. Jangan jadi pengangguran kalau mau nikahin anak orang."


"Dan ya, kalau modal cinta anak orang mau kamu kasih makan apa?"


Bagai ditimpuk belati karatan, allard hanya diam. Kemudian, "papah izinin?"


"Hmm. Memang siapa gadis yang mau sama aspal berjalan kayak kamu?"


"Ada. Nanti papah tau."


Ding dong.


Bel berbunyi, makan malam itu terhenti sejenak karena seorang perempuan menangis didepan rumah mereka. Mau tak mau mereka keluar melihat, karena kata penjaga perempuan itu ingin bertemu dengan allard.


Plakkk...


Bagaikan disambut petir siang bolong, baru saja keluar pipi allard sudah merah merona karena tamparan pedas tadi.


"Are you stupid Allard!!" perempuan itu langsung menampar allard.


"F***! who are you?!"


"bella! I'm bella, the girl you stained that night!"


"Damn it! I don't even know where you came from." Allard menghempaskan tangan perempuan itu.


Leon menggertakkan rahangnya. "Who is this girl?!"


"I don't know."


"I'm pregnant, Allard's child." ucap perempuan itu.


Allard mengacak rambutnya, "Pah dia bohong.. aku gak kenal dia Pah."


"Iya Pah kak allard gak mungkin ngelakuin itu, Ranaa tau kak allard gak pernah suka sama cewek." bela Ranaa.


Allard maju mendekati perempuan itu, dan menggerakkan bibirnya mengatakan sesuatu tepat ditelinga perempuan itu, tanpa menyentuhnya sedikitpun. "I don't know who you are, but what I do know is that you are a whore. hang out with someone and then accuse me."


Raluna terdiam, sedari tadi dia hanya diam. Melihat semua didepan matanya, walau tidak tau yang mana yang benar Raluna percaya kalau kak allard bukan orang seperti itu. Menurut hal yang diceritakan Ranaa panjang lebar kali tinggi. Allard tipe orang yang suka menyendiri, lebih baik sendiri dari pada ditemani.


Allard juga tak akrab dengan para perempuan, ataupun laki laki. Allard sangat dingin jika diluar rumah, dan sikapnya akan seperti batu berjalan. Orang akan yang berbicara padanya seakan berbicara dengan batu, tak berekspresi, diam dan hanya menyimak.


Allard tipe orang yang tidak mau mengalah, ataupun dikalahkan, dia sangat pandai memendam masalah dan juga berbagai perasaan dalam dirinya.


"Ayah, bunda. Kita bicarakan ini didalam, agar semua bisa diselesaikan dan agar terbukti. Minta gadis itu untuk memberikan bukti kalau ucapannya benar."


Semua orang menoleh, begitu juga Bella. Dia tidak menyadari kehadiran Raluna karena memang Raluna berdiri dibelakang Ranaa. Bella tersenyum dalam hati merencanakan hal buruk untuk menghancurkan keluarga ini.


"Baik. Ayo masuk."


Mereka kini duduk di sofa ruang keluarga, Bella dimintai bukti akan ucapannya. Bella mengeluarkan benda pipih dari saku baju seksoy nya, memperlihatkan foto dirinya dan allard yang bermesraan.


Allard yang melihat itu tak terima, jelas itu editan dirinya tidak pernah datang ke sebuah bar.


"Pah itu bukan aku, memang waktu itu allard pergi ke bar. Tapi allard tidak bertemu dia Pah."


"Kasih allard waktu dan allard akan buktikan, bahwa anak yang dikandung Bella bukan anak allard."


Akhirnya setelah allard pergi, Leon meminta Bella untuk pulang dulu. Leon tak bisa marah ataupun mengusir gadis ini, bisa saja anak ini benar mengandung cucunya atau jika bukan tak mungkin ia memperlakukan orang dengan buruk.


.


.


Hari ini allard berada dikamarnya, belum juga dia menyelesaikan perbicaraan dirinya dengan papahnya. Sudah kacau dengan cewek bernama Bella itu, padahal kenal saja tidak.


Allard bernafas lega, dia ingat waktu di bar dia bersama satu temannya. Dari situlah allard dan temannya mencari semua bukti, bahkan mengecek cctv. Akhirnya bukti mereka temukan.


Berkat kerja keras mereka berdua, akhirnya allard bisa mengumpulkan bukti bahwa dia tidak bersalah dan apa kata cewek bernama Bella itu, allard menghamilinya saat allard mabuk? Cihh bohong sekali. Untung allard tidak pernah menenggak minuman memabukkan itu sama sekali.


Ranaa khawatir melihat pintu kamar allard yang akhir akhir ini selalu terkunci, begitu juga Raluna. Mereka khawatir akan keadaan allard.


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menemui allard.


"Assalamualaikum kak allard." Ranaa mengetuk pintu kamar allard tak ada jawaban. Rana mencobanya sekali lagi, namun nihil masih dengan jawaban yang sama.


"Raluna coba deh kamu bujuk kak allard, dia keras kepala."


Tangan putih berhias cincin berlian dijari telunjuk gadis bernama Raluna itu menganggap tangannya mengetuk pintu kamar allard. "Assalamualaikum. Kak allard, tolong buka pintunya."


Allard yang tengah menyendiri, mendengar suara yang seketika membuat hatinya merekah. Jantungnya berdenyut kencang. Entah dasar apa dia kemudian bangkit ditengah kesibukannya menyusun bukti bukti yang akan ia tunjukkan ke papahnya.


Jujur allard takut jika papahnya semakin kecewa dengan dirinya. Ia bahkan tidak pernah menenggak bir seumur hidupnya demi menjadi dokter, yah entahlah Leon hanya melarangnya melakukan itu.


Pintu terbuka, menampilkan sosok allard yang kini serabutan. Rambut teracak, wajah tampannya yang kusut, dan baju hanya kaos oblong putih dengan celana training Abu abu.


"Apa?" tanya allard sewot kepada Ranaa.


"Kak allard nyebelin banget, pengen Ranaa dorong dari gedung pencakar langit." Balas ranaa, dirinya sudah khawatir tingkat tinggi yang di khawatirkan malah sewot.


Allard tak menjawab dia diam saja. Sejurus kemudian Raluna memberanikan diri untuk menyampaikan sesuatu yang sudah berterbangan diotaknya dari tadi.


"Kami percaya kak allard gak mungkin melakukan hal itu. Kami akan bantu kak allard untuk membuktikan kalau semua itu tidak benar." ucap Raluna.


Allard diam berdiri mengambil semua bukti dan memberikan ke Ranaa dan Raluna.


"Itu bukti yang sudah gue dapat, semua itu benar apaadanya. Gue hanya takut papah gak percaya sama semua bukti itu."


Ranaa dan Raluna melihat lembar kertas yang berisi bukti bukti itu, Ranaa cemberut dan memeluk allard. "Kak, ayo Ranaa bantu ngomong sama papah. Kalau kakak diem aja kayak gini, gimana masalah ini bisa selesai."


Allard mengusap punggung Ranaa, "thanks."


Ranaa bangkit dan menarik tangan allard, dia kesal bisa bisa nya cewek itu menuduh kakak nya yang tidak tidak. "Ayo kak, kita bicarakan sama papah."


"No, jangan dalam keadaan marah nanti masalahnya bukan selesai malah akan bertambah rumit. Tenang dulu, nanti malam kita bicarakan."


"Permisi assalamualaikum." Raluna keluar dari kamar allard. Kemudian dia masuk ke kamarnya, entah kenapa sejak tadi dia memikirkan Abi dan uminya. Walaupun hampir setiap hari Vidio call.


.


.


Malam hari tiba, sesuai perkataan allard. Saat ini mereka semua berkumpul untuk meluruskan masalah ini.


Semua bukti sudah allard berikan ke Leon, Bella juga melihatnya. Dia gemetaran, kenapa pikirannya tidak sampai saat ia menyadari allard tidak pernah menenggak bir sama sekali.


"From this evidence, I never knew you. let alone get you pregnant." ucap allard.


(Dari bukti ini, aku tidak pernah mengenalmu. apalagi membuatmu hamil.)


"No, this is just a trick!" teriak Bella tak terima.


(tidak, ini hanya tipuan!)


"No, this is not a hoax at all. you have deceived us." balas Raluna.


(tidak, ini sama sekali bukan tipuan. anda yang telah menipu kami.)


"Shut up! this is none of your business!"


(Diam! Ini bukan urusanmu!)


"not my business? Obviously this is my business. because you slandered my family, and now it's proven that allard is innocent." balas Raluna.


(bukan urusan saya? Jelas ini urusanku. karena Anda memfitnah keluarga saya, dan sekarang terbukti bahwa allard tidak bersalah.)


"Shut up!" bentak Bella.


(Diam!)


"you can read right? So all that evidence is enough to get you to the police station for defamation." ucap Raluna, Ranaa kagum Raluna bisa se tenang itu menghadapi Balla yang ber api api.


(kamu bisa baca kan? Jadi semua bukti itu cukup untuk membawa Anda ke kantor polisi karena pencemaran nama baik.)


"one more thing, when you said on September 16th you were with allard at the hotel. me and ranaa happily strolled around the mall, we played rides till night." ucap Raluna.


(satu hal lagi, ketika Anda mengatakan pada 16 September Anda bersama allard di hotel. saya dan ranaa dengan senang hati berjalan-jalan di sekitar mal, kami bermain wahana sampai malam.)


"Everything is clear, now you can get out of here before I report you to the police." kata allard.


(Semuanya sudah jelas, sekarang kamu bisa keluar dari sini sebelum aku melaporkanmu ke polisi.)


Bella tak bisa berkata kata, jelas dia masih sayang terhadap dirinya yang pura pura hamil. Dengan semua rasa marah dan tak terima dia akhirnya pergi dari ruangan itu. Tak berguna berdebat dengan gadis berkerudung itu, dia sangat keras kepala.


Bunda Allard memegang tangan Raluna, "makasih ya nak."


"Tidak bunda, semua bukti ini kak allard yang membawanya. Raluna hanya tidak setuju dengan perkataan Bella yang terlalu di lebih lebihkan."


"Huffft, akhirnya selesai. Kalau saja kamu tidak bawa buktinya, pasti papah sudah nikahkan kamu dengan gadis itu untuk bertanggung jawab."


"Maaf, aku tau papah gak pernah percaya sama allard."


"Heh, siapa yang gak percaya. Papah percaya, tapi sedikit ragu saja."


"Sudah sudah." lerai Ranaa.


••••


Pagi ini hari yang sejuk, sangat pas untuk joging disekitaran rumah. Ranaa dan Raluna kini duduk di kursi taman, mereka sudah melakukan joging tipis tipis tadi.


Ranaa membuka botol air mineral dan langsung menenggaknya, begitu pula raluna.


Ranaa menyenderkan badannya di kursi taman, "Raluna aku pengen ke Indonesia. Mau tinggal disana."


"Memang nya kenapa kalau kamu tinggal disini?"


"Gak papa, tapi aku pengen semua keluarga kita ada di Indonesia. Biar semuanya ngumpul."


"Oh iya aku juga mau bawa nenek, terus kita tinggal bahagia di Indonesia."


"Memangnya kamu tidak bahagia disini?"


"Bahagia, tapi aku pengen ke Indonesia."


"Raluna, kamu mau tau gak tentang kak allard?" tanya Ranaa, Raluna terkejut kenapa ia harus ingin tau tentang allard?


"Kenapa kamu menawarkan itu?"


"Yahh, karena kak allard, ahh lupakan saja. Lagian aku ngomongnya ngelantur."


Raluna hanya tersenyum. Benar, saat ini keinginan Raluna seperti Ranaa ingin sekali kembali ke Indonesia. Tinggal beberapa tahun lagi baru dia akan pulang.


Keseharian Raluna dan Ranaa disini hanya olahraga pagi, kuliah pulang, belajar, kadang mereka pergi ke perpus saat hari libur.


.


.


Malam hari disini memang sangat indah, kerlap kerlip lampu, hamparan bintang dan terangnya sinar bulan. Setiap malam seperti itu pemandangan yang Raluna lihat, sama seperti dulu.


Setiap ingin tidur, pasti cahaya rembulan akan mengantar tidurnya. Melihat bulan adalah hal yang paling disukai Raluna. Antara matahari dan bulan memiliki keistimewaan masing masing, matahari berdiri tegak di sistem tata Surya yang mampu menyinari bumi hingga menjadi terang.


Bulan, cahayanya dapat menyinari gelapnya malam, namun tak seterang siang. Namun cahayanya dapat mengantarkan tidur seseorang.


Raluna duduk di balkon, dengan pulpen yang ia pegang. Siap menuangkan sesuatu dalam buku dairy nya. Kerinduan, jarak yang memisahkan dari orang tuanya selalu menyeruak dalam hatinya.


Dikamar kedua orang tua allard kini mereka bertiga, Kayla, Leon dan allard sedang membicarakan sesuatu.


"Plakk, gila kamu?" Leon menampar allard mendengar pertanyaan yang dilontarkan putranya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Assalamualaikum temen temen, udah diujung. Jangan lupa jejak nya. See you next bab babayyyy.


.


.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh.