Silent

Silent
14 # Lula (Kucing Kecil Raluna)



Assalamualaikum temen temen, yeyy Alhamdulillah aku bisa up lagi. Gimana kabar kalian semua?? Semoga sehat selalu ya, yang sakit semoga lekas sembuh dan yang sehat semoga selalu sehat. Aminn


.


.


Lansung masuk aja ya ke bab 14, gak nyangka udah sampai bab 14.


.


.


Yey Happy Reading ♥️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Pagi ini Raluna libur setalah membantu ibunya memasak tak lupa ia juga sudah sholat subuh sebelum membantu ibunya. Selesai sarapan Raluna langsung masuk ke kamarnya untuk bertempur dengan buku bukunya. Dan Alhamdulillah nya sekarang tidak ada pr yang harus ia kerjakan, Raluna bisa bersantai dan mengisi pagi harinya dengan menggambar dan menulis dibuku diarynya.


Hobi Raluna sejak kecil, sangat tertarik dan sangat suka dalam menggambar dan melukis. Hobi lainnya adalah menulis hobi ini datang ketika ia duduk di bangku kelas 2 SMP. Raluna mulai tertarik dengan buku buku yang ia baca, dan dari situlah Raluna jadi hobi dan gemar menuliskan kata kata dan menceritakan hari harinya dibuku diarynya.


Beberapa saat setelah menuangkan hobinya, ketukan pintu kamar Raluna menghentikan aktifitas gadis itu.


"Assalamualaikum Raluna sayang." Panggil Saidah.


"Waalaikumsalam, umi. Sebentar Raluna buka dulu." Raluna berjalan menuju pintu kayu yang sudah rapuh dan agak reyot itu, dikunci dengan bongkah bambu kecil sebagi pengganjal.


"Umi, ada apa?" Tanya Raluna.


"Belikan bahan dapur di warung ya nak."


"Oke, beli apa aja umi."


"Beli beras 2 liter, minyak 1 liter, gula setengah kilo, garam satu bungkus, terasi 2 bungkus, sabun mandi 2 batang, teh Sariwangi 1 kotak, kopi setengah kilo, ladaku merica bubuk 2 bungkus. Ini uangnya ya." Saidah memberikan 6 lembar 10.000 an dan 1 lembar 5000 an.


Raluna diam, mengingat apa yang uminya bilang tadi, astaghfirullah kenapa otaknya tidak bisa mengingat ucapan uminya tadi. Apa uminya tadi kecepatan menyebutkannya?.


"Udah itu aja. Inget kan?" Tanya Saidah, Raluna melongo kemudian menggeleng.


"Raluna tulis aja ya umi, takut kelupa an." Raluna mengambil kertas note warna biru muda miliknya, dan meminta Saidah menyebutkan kembali pesanannya.


"Boleh diulang umi?"


"Boleh lah. Tulis ya, beras 2 kilo, minyak 1 kilo, gula 1/2 kilo, garam halus 1 bungkus, terasi 2 bungkus, sabun mandi 2 batang, teh Sariwangi 1 kotak, kopi setengah kilo. Kopinya kopi mentah itu, nanti umi sangrai sendiri lebih wangi dari yang kemasan." Kata Saidah.


"Iya umi."


"Kalo gitu Raluna berangkat dulu ya umi." Raluna meletakkan penanya diatas meja, Saidah mengikuti putrinya keluar rumah.


"Assalamualaikum, Raluna berangkat umi." Pamit Raluna seraya mencium punggung tangan Saidah.


"Waalaikumsalam, hati hati."


"Iya umi!" Raluna mengayuh sepedanya, jarak toko dari rumahnya agak jauh. Jadi disepanjang perjalanan Raluna. Nikmati dengan suara kicauan burung dan sejuknya udara yang masih asri.


"Hebat banget umi, bisa inget gitu. Padahal segitu banyak macamnya, kalau Raluna nyampe warung jangan ditanya pasti ada yang lupa." Kekehnya sambil mengayuh sepedanya.


"Assalamualaikum, buk.. buk..." Panggil Raluna, ia sudah sampai di toko tempat ia akan membeli barang belanjaan umi nya. Toko ini agakk jauhh dari rumah Raluna karena ada didekat perbatasan antara desa sebelah.


"Waalaikumsalam nak, mau apa?"


"Mau beli beras 2 kilo buk."


Sekejab ibuk yang punya warung itu menanyai Raluna lagi, "Apa lagi nak."


"Minyak 1 liter." Ibuk itu meraih minyak goreng literan disampingnya.


"Apa lagi?" Raluna kemudian memberikan catatan itu kepada pemilik toko.


"Ditulis toh kirain di inget." Ucap pemilik toko itu.


Raluna tersenyum, "Enggak buk, Raluna gak inget kalau gak ditulis." Pemilik toko itu kemudian tersenyum juga.


"Kamu anaknya siapa?" tanya pemilik toko itu.


"Anak Bu Saidah." Jawab Raluna. Mendapat jawaban dari Raluna pemilik toko itu lantas mengingat ngingat Saidah? Ohhhhh.


"sekarang sudah kelas berapa nak?" tanya pemilik toko itu lagi.


 


"Alhamdulillah sudah kelas 2 SMA buk." Jawab Raluna.


"Sekolah dimana nak, saya juga punya anak perempuan loh. Anak saya sekolah di SMA faforite desa ini, dan anak saya juga sering ikut lomba dapat beasiswa buat lanjutin ke kampus mana aja di kota. Anak saya sudah kelas 3 SMA." Jelas ibuk itu, Raluna tersenyum.


"Oh iya kalo kamu? Pasti di swasta ya." Tanya ibuk itu.


"Bukan." Jawab Raluna.  


"terus dimana?"


"SMA Bunga Bangsa." Pemilik toko itu melototkan matanya, untung tidak melompat.


"SMA Bunga Bangsa?, Sekolah faforite dikota?" tanya ibu itu tak percaya.


"ah masak, kan jauh gimana kamu sekolahnya coba lagian biayanya disana pasti mahal kan?" tanya ibuk itu.


Raluna tersenyum ramah. "kalau ada usaha niat dan do'a apa yang tidak mungkin buk. Alhamdulillah saya dibiayai pemerintah. Dalam kata lain beasiswa." Jawab Raluna.


Ibuk itu memberikan belanjaan Raluna, Raluna menerima nya sembari tersenyum.


"Terimakasih buk, assalamualaikum."


"W-waalaikumsalam."


Raluna pergi dari toko itu, kembali mengayuh sepedanya. Di jalan Raluna mendengar suara kucing yang berbunyi.


"Miawwww.... Miaawwwww." Raluna menghentikan Kayuhan sepedanya. Berhenti dan mencari sumber suara itu, Raluna menelusuri semak semak dan ilalang. Ia mencari suara yang sudah pasti ini adalah suara kucing.


"Masyaallah, ihh lucu banget kamu cing." Raluna mengambil dua anak kucing disekitar semak itu, mereka berbulu putih bersih. Dengan wajah yang imut satu sama lain.


"Miawww.. miawww." Kedua kucing itu terus bersuara, pasti mereka lapar. Dikarenakan Raluna paling tidak bisa menolak kucing, dan sangat suka kucing apalagi anak kucing, akhirnya kedua anak kucing itu Raluna bawa pulang.


Sangat kebetulan baju yang Raluna pakai adalah gamis hitam dan memiliki saku yang sangat dalam, keranjang sepedanya juga sudah penuh akhirnya Raluna memasukkan satu persatu anak kucing imut itu kedalam dua saku jaketnya.


"Ihhh lucunya. Ayo kita kerumah Raluna." Raluna. Kembali melajukan sepedanya, tak sabar ingin memberi makan kucing imut ini dan memandikannya.


🌼🌼


"Yaallah kucing sudah saya bilang jangan nakal, malah lompat lagi dari keranjangnya." Seorang laki laki bersarung memakai peci tengah menggerutu sebal, pasalnya kucing pemberian sohibnya hilang entah meloncat kemana dari tempatnya.


"Apa mungkin jatuh didesa sebelah, kan disana jalannya agak rusak. Bisa saja kucingnya jatuh pas kena batu tadi. Astaghfirullah aku harus segera cari." Laki laki itu menghidupkan kembali motor Scoopy nya.


Menuju desa sebelah desa dimana Raluna tinggal dan tempat dimana sohibnya juga tinggal. Laki laki itu tak lain tak bukan adalah abram dia mengambil jalan pintas agar segera sampai dirumah sohibnya dan dari sana ia memulai pencarian kucingnya.


Abram melewati jalan yang menuju rumah Raluna karena tadi ia lewat sini, dan tepat didepan jalan rumah Raluna, Raluna juga datang dari arah berlawanan.


"Miaawwwww.. miawww." Abram mendengar suara kucing ia menoleh kanan dan kiri tidak ada, sedangkan Raluna semakin mendekat dan pada akhirnya Raluna melewati Abram yang berhenti di jalan depan rumahnya.


"Miawww." Bunyi kucing itu lagi langsung menolehkan pandangan Abram kearah Raluna tak sengaja melihat kepala kucing yang berada di saku Raluna didekat tangannya.


Abram menuntun sepedanya, dan memasuki halaman rumah Raluna.


"Assalamualaikum." Salam Abram, melihat Raluna yang sedang sibuk mengambil belanjaannya.


"Waalaikumsalam." Raluna kemudian berjalan menuju rumahnya.


"Eh permisi." Kata Abram.


"Ada apa?" Tanya Raluna.


"Apa disaku anda itu kucing?" Tanya Abram.


"Iya."


"Kalau begitu anda menemukan dimana?" Tanya Abram lagi, ia sangat kenal betul kucing disaku gamis Raluna adalah anak kucing miliknya.


"Saya akan menjawab pertanyaan anda. Tapi ini berat saya tidak bisa menahannya lebih lama. Permisi." Raluna buru buru masuk kedalam rumah dengan mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Waalaikumsalam. Eh eh nak. Sini kenapa tidak dibawa 2 kali saja kalau berat nak." Ucap Saidah mengambil alih belanjaan yang dipegang Raluna.


"Ada hantu umi Raluna takut." Jawab Raluna, alasan kenapa Abram ia sebut hantu, karena disemua tempat ada dia. Tiba tiba ada saja.


"Ohh, yasudah makasih ya nak." Ucap Saidah.


"Iya umi sama sama."


"Assalamualaikum." Seseorang mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam. Siapa ya?" Tanya Saidah kepada Raluna.


"Enggak tau umi."


"Miawww."


"Eh Astaghfirullah. Kok ada suara kucing?" Tanya Saidah. Raluna mengangkat sedikit saku gamisnya menampakkan dua kepala anak kucing berwarna putih yang sangat imut.


"Tadi Raluna Nemu-"


"Nanti aja ya nak ceritanya kayaknya ada tamu." Potong Saidah. Saidah menuju pintu dan membukakan pintu kepada tamu itu, tak lain tak bukan adalah abram orangnya.


"Waalaikumsalam, nak Abram?, Kok kesini?" Tanya Saidah.


"Raluna sayang.." panggil Saidah.


"Iya umi?" Raluna menghampiri uminya dan berdiri dibelakang uminya.


"Miawww." Kucing itu berbunyi lagi.


"Maaf itu kucing saya." Ucap Abram.


"Dari mana saya bisa yakin kalau kucing ini kucing anda?"


"Saya kenal kucing ini karena tadi teman saya memberikannya pada saya. Saya cek tidak da di tempatnya jadi saya ceri mungkin jatuh. Ternyata ada di anda."


"Saya menemukan kucing ini di suatu tempat jika anda tebak benar maka saya akan memberikannya." Jawab Raluna, ia sudah terlanjur sayang dengan kedua anak kucing disakunya ini.


"Kalau saya tau jatuh dimana, tidak mungkin saya keliling cari."


"Saya ingat betul wajah kucing saya." Lanjut Abram.


"Tidak ini punya saya." Kekeh Raluna toh bisa saja kan punya kak Abram ini jatuh ditempat lain.


"Kalau tidak salah kucing saya pasti jatuh di kubangan besar dan berbatu jalan didekat toko." Jawaban Abram tak bisa Raluna pungkiri memang benar tapi ia sudah sangat sayang kepada dua anak kucing ini.


Abram melihat Raluna tidak Tega pasti Raluna sudah terlanjur sayang kepada kucing ini.


"Yasudah kalau anda mau, ambil satu kucing buat anda dan satunya untuk saya." Raluna masih tak bergeming, dia melihat kedua wajah menggemaskan anak kucing itu, tidak rela harus menyerahkan salah satunya.


"Raluna, yang dikatakan Abram benar, berikan satu anak kucing itu kepadanya, jika kau ikhlas berikan dua duanya." Ucap Saidah.


"Raluna berat hati, jadi Raluna kasih satu anak kucingnya. Nih." Raluna menyerahkan salah satu anak kucing itu.


"Terimakasih." Raluna langsung masuk kedalam. Dengan perasaan kesalnya harus memberi kucing imut itu. Kini ia memegang satu anak kucing kecil itu.


"Lula, ini nama kamu ya. Jangan nakal, jadi kucing betina yang baik, selalu nurut sama Raluna kalau udah besar nanti jangan tinggalin Raluna kalau Lula udah mau nikah. Oke." Raluna berbicara gemas dengan kucing ya, sesekali Raluna menguyel pipi kucing itu.


"Miawwww." Seakan mengerti ucapan Raluna kucing kecil itu menjawab.


"Bagus anak pintar. Yaudah ayo makan nanti Raluna mandiin."


"Kalau begitu saya pamit buk, assalamualaikum." Abram melangkahkan kakinya menuju motor Scoopy miliknya setelah mendapat jawaban dari Saidah.


"Waalaikumsalam." Saidah menutup pintu kayu yang rapuh itu.


Didalam kamar Raluna memberi makan kucing itu nasi dan ikan asin, ia tertawa senang melihat kucing kecil miliknya yang sangat lahap memakan makannya.


"Pelan pelan, nanti keselek." Raluna mengelus ngelus kepala kucingnya.


"Miawww."


"Makannya dihabisin yah, nanti Raluna mandiin."


Setalah beberapa saat menemani kucingnya Lula makan, ia akhirnya membawa Lula untuk mandi.


"Kucing jangan cakar Raluna, soalnya Raluna cengeng."


"Miawwww." Seakan mengerti ucapan Raluna Lula menjawab.


Perlahan Raluna mengusap punggung kucing kecilnya dengan tangannya yang sudah ia basahi. Itu agar si kucing tidak terkejut jika kena air. (Ini menurut Nana aja, soalnya kalau nana mandiin kucing gini.)


"Miawww." Lula masih diam tak berkutik, membiarkan bulu putihnya Raluna siram, dan ia beri sampo agar wangi.


"Huhh, Lula pinter udah mandinya." Raluna meraih handuk putih yang ia bawa, dan ia gunakan untuk membungkus kucing kecil itu agar tidak kedinginan.


Setelah mandi Raluna lihat Lula kembali, dia sangat bersih bulunya yang putih jadi lebih bersih dari tadi. Hidung pink nya, dan matanya yang bulat serta postur wajahnya yang sangat menggemaskan, membuat Raluna rasanya ingin meremas kucing ini. Tapi kasian. Mwhehehehhw.


"Andai tadi gak ketemu sama siapa dah namanya Lula?, Emmm Kak kak... Abram.. nah iya, mungkin sekarang kamu main ada temennya." Sembari menulis Raluna mengelus ngelus Lula yang ada di pangkuannya.


.


.


.


.


Keesokan harinya Raluna bersiap hendak berangkat sekolah setelah selesai sarapan. Tiba tiba saat ia mau berpamitan kepada orang tuanya Lula mencengkeram rok Raluna.


"Miawwww...."


Raluna berjongkok, dan mengelus pucuk kepala Lula. "Lula, Raluna mau sekolah, Lula disini dulu sama Abi sama umi. Abi sekarang libur gak ke sawah."


Lula menduselkan kepalanya ke tangan mungil raluna. " Miawwww."


Raluna mendongak, "umi, bagaimana Lula. Sepertinya Lula tidak ingin Raluna tinggal."


Saidah tersenyum. Kemudian mengambil Lula yang berada dibawah, Raluna juga ikut berdiri menghadap Saidah dengan Lula dipangkuan tangannya.


"Miawww.." Lula menatap Raluna memelas, agar dirinya bisa ikut Raluna.


"Umi, Raluna gak tega liat wajah Lula."


"Kalau kamu bawa Lula, apa guru kamu tidak akan memarahi kamu?" Tanya Saidah.


"Insyaallah, kalau guru Raluna gak tau, pasti gak papa." Usman tersenyum, kemudian ia membiarkan putrinya membawa Lula kesekolah. Kucing kecil ini sudah bagaikan anak dari Raluna dari kemarin Lula tidak bisa jauh jauh dari Raluna.


Raluna mengambil alih Lula dan menaruhnya di saku tasnya, tubuh mungilnya mampu untuk diselipkan kesaku tasnya. Tapi tenang Lula baik baik aja kok, gak kesakitan, ataupun tidak bisa bernafas karena kepalanya keluar dari lobang saku itu.


"Kalau begitu, Raluna berangkat dulu ya Abi, Umi. Assalamualaikum." Pamit Raluna sembari menyalami punggung tangan Saidah dan Usman.


"Waalaikumsalam, hati hati."


"Iya Abi, umi."


Raluna mengayuh sepedanya membelah jalanan yang mulai agak ramai. Kucingnya sedari tadi duduk manis di saku tasnya, sesekali berbunyi membuat Raluna gemas sendiri.


Sampai disekolah raluna menaruh sepedanya, dan langsung memasuki kelasnya, menaruh tas dipangukannya kucing kecilnya seakan mengerti jika ia tidak boleh banyak bersuara, Lula dia Raluna mengelus ngelus perut buncit Lula.


Zara yang baru sampai mendapati Raluna yang senyum senyum sendirian agak horor, tidak heran sih karena Raluna memang suka menebar senyum tapi tidak untuk laki laki.


Tapi kali ini Raluna menunduk dan tersenyum senyum, Zara bergidik dan langsung menghampiri Raluna.


"Duarrr!!" Zara mengagetkan Raluna, Raluna terpelonjat kaget untung Lula tidak kena lempar.


"Astaghfirullah!" Raluna menoleh Zara lah pelakunya.


"Assalamualaikum." Ucap Zara, lupa tadi memberi salam karena ngagetin Raluna dulu.


"Waalaikumsalam. Zara boleh tidak ngagetin nya dilakukan setelah salam."


"Kalau udah salam nanti kamu gak terkejut." Raluna menghembuskan nafasnya pelan.


"Insyaallah, Zara bakal salam dulu deh nanti. Lagian kamu kenapa senyum senyum sendiri, mau dijodohin?" Tanya Zara.


"Bukan Zara, nih." Raluna menyodorkan Lula di genggaman kedua tangannya kecil sekali, tapi imut dan lucu sekali.


"Ayam, ini kan kucing." Kaget Zara.


"Iya, Raluna kan gak bilang ayam."


"Maksudnya kok kamu bawa kucing kesini?"


"Lula tadi mau ikut jadi Raluna bawa."


"Ohh, itu kayak boneka yah, aku remas boleh gak?"


"Gaboleh, nanti mati kalau Zara remas." Raluna menarik kembali kedua tangannya, menjauhkan Lula dari Zara.


"Berjanda kali, mana tega aku remas ni anak kucing, lucu amat. Dapat dari mana? Kok aku gak dikasih." Tanya Zara.


"Awalnya sih gitu tapi gajadi Raluna kasih ke Zara."


"Lah kok, kenapa gak jadi?"


 


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Assalamualaikum temen temen, yey udah nyampe di penghujung aja nihhh.


.


.


Siap siap ya karena di bab berikutnya Nana mau kasih surprise buat kaliannn!!!.


.


.


Pantengin terus ya, dan cek notif dari Nana. See you next part.


.


.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏


.


.


.


3 April 2022