Silent

Silent
Aku Harus Belajar Darinya



Anggeline mengenyitkan keningnya. Menatap tajam ke arah sang pria paruh baya, sedikit melotot."Aku akan menjadi istri Yoka jadi ..."


"Jadi?" Martin menggeleng-gelengkan kepalanya, menghela napas kasar.


"Jadi kacung yang hanya pengacara keluarga dapat aku pecat kapan pun!" Wanita muda dengan raut wajah arogan, menatap tajam ke arah Martin.


"Zou tidak menjelaskannya padamu? Aku dan Zou mempunyai kontrak kerja khusus. Kami tidak digaji oleh Narendra ataupun Yoka. Tapi dari bunga deposit milik almarhum tuan Reksa. Kami tidak bisa dipecat, tapi dapat mengundurkan diri jika kami menginginkannya. Jadi, sebagai benalu kamu harusnya memberi hormat pada paman ini ..." Martin mendekat, membuat Anggeline menelan ludah, beringsut mundur sekitar tiga langkah ke belakang.


"Paman," ucapnya mengubah panggilan kacung.


"Pintar..." Martin tersenyum kembali duduk di sofa, membaca majalah menunggu acara makan malam dimulai.


Angeline mengenyitkan keningnya. Ingin rasanya mencaci perjaka tua yang duduk dengan tenang di sofa. Namun, dirinya harus tenang. Malam ini acara makan malam akan dimulai, saat-saat kedatangan Yoka.


Mungkin satu kesalahannya, mengapa dirinya dapat mempercayai kata-kata Malik. Yoka terlihat lebih sempurna dari sisi manapun, hanya mulutnya yang dulu tidak mengeluarkan suara.


Berpenampilan semenarik mungkin, barang original lebih menarik daripada barang tiruan bukan? Bagaikan sepatu merek Adidas bersaing dengan merek Adinda.


Suara mobil terdengar, Narendra baru saja pulang. Biasanya dirinya akan pulang bersama menantunya atau setidaknya Dora akan menyambut kepulangannya.


Tapi kali ini tidak, sang pinguin sudah dijemput oleh putra br*ngeseknya. Berjalan menuju kamar, sembari melonggarkan dasi, disaat-saat seperti ini dirinya merindukan Melda. Jika saja Melda masih hidup, jika saja Melda membela dirinya dengan mengatakan tidak membunuh Viona. Dirinya akan percaya walaupun ada bukti kuat.


Tidak melewati sore yang menyedihkan seperti ini. Kembali berdebat tentang masalah pekerjaan, itulah yang ada di benaknya. Dengan hati yang terasa benar-benar menyakitkan, menatap ke arah jendela yang menampakkan sinar kejinggaan.


Langkah demi langkah dirinya menaiki tangga.


"Narendra," suara seseorang didengarnya, benar-benar mengeluarkan aura yang kuat. Dengan senyuman tidak tahu diri, itulah suara Martin.


Pria itu menoleh padanya, berusaha tersenyum."Apa?"


"Bukan apa-apa, hanya saja aku ingin berkunjung. Sekalian mengambil barang-barang Melda yang kamu sembunyikan di gudang. Kenapa? Tidak mau aku mengambilnya karena itu kamu mengunci semua barang di gudang?!" Kata-kata penuh intimidasi.


Bahkan Martin tidak membiarkan Narendra memiliki satupun foto istrinya. Luar biasa dua orang pria paruh baya yang bagaikan anak kecil.


"Itu milikku, apa hakmu terus mengambil barang-barang dan foto-foto milik Melda?!" tegas Narendra, tidak ingin satu-satunya tempat tenangnya di gudang rumah direbut.


"Kita tidak bicara tentang hak. Tapi kamu sudah membunuh Nona Melda," ucap Martin mengintimidasi, bahkan untuk pertama kalinya pria itu datang dengan mobil pickup yang kini terparkir di garasi.


"Tidak ada barang-barang atau foto Melda!" dusta Narendra.


"Aku akan memeriksanya." Martin tidak mau kalah.


"Kamu tidak boleh menggeledah rumah orang lain! Lagipula kamu dapat informasi palsu darimana aku masih mempunyai barang-barang Melda?" tanya Narendra.


"Dora yang memberitahuku. Dia membujukku untuk berbaikan denganmu. Katanya hampir setiap hari kamu pergi ke gudang belakang, duduk berjam-jam menangis di hadapan foto besar Melda. Penjahat sepertimu tidak pantas mendapatkan simpati! Mana kunci gudang belakang?!" Martin menadahkan tangannya.


Tangan Narendra gemetar, meraih kunci dari tas kerjanya. Dirinya tidak mempunyai pilihan lain, menyerahkan kunci pada pria di hadapannya.


"Bagus!" Martin meraih kunci kemudian tersenyum. Hendak berjalan pergi menuju gudang belakang.


Narendra terdiam sesaat, kemudian mengejar langkahnya tepat di lorong sepi, yang berhadapan langsung dengan kebun tanaman mawar.


"Tunggu! Aku ingin mengetahui satu hal," pintanya.


"Apa?" Martin mengenyitkan keningnya.


Martin menggeleng."Samy adalah putraku dengan Melda. Itu yang Melda katakan..." ucapnya berjalan meninggalkan Narendra yang terdiam, tersenyum pahit.


Pada akhirnya air matanya mengalir."Martin sialan!" gumamnya menyadari dirinyalah yang bersalah. Istrinya membagi kasih sayang untuk Samy dan Yoka. Tidak memikirkan materi atau apapun.


Pria yang menghela napas kasar."Dapatkah aku melanjutkan hidup ini?" gumamnya, terdiam. Hamparan bunga mawar terlihat, kebun bunga yang masih dipertahankannya. Walaupun sang pemilik telah tiada.


Mungkin setelah Yoka bahagia, dirinya dapat beristirahat. Tidak akan menunggu kematian putranya. Hidup penuh rasa bersalah, bersembunyi menghibur diri di balik senyuman palsu. Mungkin itu lebih menyakitkan.


*


Mobil mulai terparkir, perlahan Dora melangkah turun ditemani suaminya.


"Hati-hati," ucap Yoka bagaikan malaikat pelindung yang rupawan.


Jantung Dora berdegup cepat, tidak dapat dikendalikan olehnya. Benar-benar perhatian.


"Aku tidak ingin kamu terjatuh, lalu berguling-guling seperti trenggiling. Ingat, sekarang perutmu bulat." Wajah dingin suaminya, berjalan meninggalkannya. Pemuda yang diam-diam tersenyum, melangkah mendahului istrinya.


Rasa kagum yang seketika lenyap hanya dengan beberapa kata. Dora mengepalkan tangannya, menghela napas berusaha bersabar."Aku lupa, betapa menyebalkannya si bisu..."


Mata Dora menelisik, mengelus perutnya yang membesar. Berjalan mengikuti langkah suaminya. Wajah yang menyerupai dirinya dilihatnya lagi. Benar-benar cantik dengan bentuk tubuh sempurna, tidak seperti dirinya yang tengah mengandung.


Hanyalah tertunduk dengan pemikirannya sendiri. Itulah yang dilakukan Dora.


"Yoka..." panggil Anggeline bangkit dari tempatnya duduk.


Wanita dengan perawatan tubuh sempurna luar dalam. Bahkan riasan yang benar-benar menawan. Berbeda dengan kulit Dora yang mulai berjerawat, hanya dengan sedikit produk perawatan wajah, bahkan tidak mengenakan make-up. Mengingat dirinya yang tengah mengandung, tidak ingin hal yang buruk terjadi pada janin yang dikandungnya. Hanya karena salah menggunakan produk.


Dora hanya menunduk, dirinya tidak memiliki apapun untuk mempertahankan suaminya, bukankah pada awalnya dirinya hanya pengganti? Tanpa diduga Yoka berbisik padanya, menggenggam erat jemari tangannya."Aku mencintaimu..."


Dora menahan senyumnya, sang pinguin plin-plan yang tengah mengerami telur, ingin rasanya tersenyum, tertawa berguling-guling di tempat tidur hanya dengan kata aku mencintaimu. Dua kata yang membuatnya tidak menunduk lagi.


"Ayo kita makan, pelayan akan mengemasi barang-barang Dora..." Narendra mulai bangkit, beranjak menuju meja makan.


Benar-benar tidak sabaran Anggeline segera duduk di kursi samping Yoka. Sedangkan Dora di sisi lainnya.


"Yoka, aku juga tidak tahu tiba-tiba saja Dora mengatakan dirinya hamil. Kamu tidak pulang dan entah pria liar mana yang menghamilinya," ucap dari wanita teraniaya, protagonis baik hati pada sang pemuda yang dikhianati kekasihnya.


"Pria liar?" tanyanya pada Dora.


Dora mengangguk bagaikan anak baik yang polos, memakan makanan pembuka tanpa menunggu Salsa dan Malik yang baru saja menuruni tangga.


"Bagaimana rasanya berhubungan dengannya?" tanya Yoka pada istrinya, sungguh pertanyaan yang tidak lazim, terucap dari bibir suaminya.


"Dia melakukannya di kamar mandi, rajang pasien, bahkan toilet kampus. Satu kata untuk menjabarkannya, ganas..." jawab Dora dengan mulut yang dipenuhi makanan.


Kini Anggeline tinggal menunggu amukan dari Yoka yang mungkin bagaikan Godzilla ganas. Mengusir sang istri pengkhianat.


"Aku harus belajar lebih banyak dari si pria liar. Agar berikutnya dapat menghamilimu," ucap Yoka, mulai ikut makan penuh senyuman.


"Apa Yoka menderita cacat mental di usia muda?" batin Anggeline, dengan perasaan yang benar-benar dongkol.