
Assalamualaikum temen temen, Alhamdulillah bisa up lagi. Siapa ni yang kangen sama Nana??!!!
.
.
Gimana kabarnya kalian??? Semoga sehat selalu ya aamiin.
.
.
Jangan lupa, kalian boleh share cerita ini ke temen temen kalian. Kesiapapun, buat mereka ikut baper sedih dan ketawa gak jelas. Wkwkwkwk.
.
.
Udah siap belum?? Baca bab 27?? Sesuai judulnya keberanian. Ada yang bisa tebak?? Pastinya enggak dong, yuk lah scroll kebawah temuin jawabannya.
.
.
Happy Reading ♥️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Detik, menit, jam, hari, Minggu, bulan berlalu kini Raluna dan Zara sudah menunggu acara kelulusan mereka di SMA Bunga Bangsa. Perjuangan mereka sudah selesai ditempat ini, kini tinggal menunggu keputusan kelulusan.
.
.
Hari ini tak ada jadwal untuk raluna, dia seharian dirumah. Dan tiba tiba hp nya berdering.
"Assalamualaikum Raluna!!"
"Astaghfirullah, waalaikumsalam Zara. Ada apa?"
"Nih aku kasih tau, entar malem kan kamu gaada acara. Kebetulan nih sekarang hari ulang tahun umi kamu. Aku nanti malem mau kasih kejutan, sama papah sama mamah. Jadi kamu jangan kemana mana ya. Babayyy assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Raluna mengerutkan keningnya. Heboh sekali Zara, ahh Raluna lupa kalau dia Zara. Zara tidak akan ada yang namanya tidak heboh, and kalem. So kalau Zara kalem hanya diluar saja. Biasa jaga image.
Kalau sudah dirumah, beuhh bobrok dan pecicilannya tidak bisa disembunyikan lagi, masih untung tidak lompat lompat seperti u.. akk!! UU akk.
°°°°
Dihari yang sama, tapi ditempat yang berbeda. Kini seorang pria tengah panas dingin gemetaran. Dia harus berani, dia harus bisa! Bisa pokonya bisa! Hasilnya serahkan sama Allah. Yang terpenting dia sudah berusaha sekuat tenaga.
****
Kiwww. Malam hari tiba. Raluna diminta untuk memakai gamis warna node, dengan kerudung senada. Dan sepatu coksu dengan kaos kaki senada Raluna kenakan.
Saidah masuk, dan dia membawa sesuatu. Bukankah ini hari ulang tahun uminya, lalu kenapa uminya yang membawa kado?
"Assalamualaikum, nak."
"Waalaikumsalam, umi."
Saidah mengambil posisi duduk disamping Raluna yang tengah duduk dipinggir kasur. Yang menghadap ke cermin besar. Saidah memegang tangan Raluna.
"Nak, kamu ingin jadi dokter kan?"
"Iya umi, Raluna mau jadi dokter plus ustadzah."
Saidah mengusap pucuk kepala Raluna, "Masyaallah, semoga cita cita kamu tercapai nak."
"Aamiin." Raluna dan saidah mengaminkan doa itu.
"Ada lagi umi, cita cita Raluna."
"Apa itu nak?"
"Raluna ingin jadi istri Sholehah untuk suami, dan jadi uma yang baik supaya nanti anak anak Raluna bisa meneladani Uma nya."
"Aamiin. Sekarang ada lagi gak cita cita kamu?" Saidah tau masih ada sesuatu yang sangat teramat Raluna inginkan.
"Emmm, ada."
"Apa itu?"
"Raluna, ....Raluna. ..Raluna mau-"
"Mau kenapa nak?"
"Raluna mau bangun sekolah khusus buat anak anak yatim dan piatu, dan itu hasil dari kerja keras Raluna sendiri."
"Aamiin, semoga semua cita cita kamu terpenuhi nak."
"Aamiin, terimakasih aamiin nya umi."
"Iya sama sama."
Setelah pembicaraan hangat antara ibu dan anak itu, Mereka berdua turun kebawah, dan berucap salam kepada semua orang yang berada disana.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Raluna dan Saidah duduk disebelah Usman. Abram gemetaran, namun ia harus berani. "Saya ingin mengatakan kedatangan saya kemari untuk suatu hal."
"Bapak Usman, saya ingin melamar sekaligus menikahi putri bapak yang bernama Raluna Zahra Azkayra binti bapak Usman Hafizh Ahkam."
Raluna tertegun, dirinya terkejut. Apakah laki laki ini benar benar akan melamarnya? Bahkan dirinya tak tau siapa laki laki ini. Walaupun kata Zara dia adalah Abram.
Ah sudahlah biar saja namanya siapa, tapi apa ini benar?? Dia melamar dirinya??
Usman tersenyum, dia menyetujui lamaran ini. Namun, "putri saya juga berhak memberikan jawaban sebelum saya." Mereka bertiga bangkit dan membawa Raluna untuk bertanya.
Raluna diam sejenak, apa secepat ini? Apakah cita citanya tidak akan tergapai? Bagaimana ini. Apa dia harus pergi seperti uminya?
Kembali lagi, ayah mana yang tak ingin anaknya bahagia dan mendapat seseorang yang tepat untuk putri satu satunya.
"Abi." Cicit Raluna.
"Bagaimana nak? kamu mau menerima lamaran pria tadi?" Tanya Usman.
Raluna terdiam sejenak, melihat sorot mata abinya yang berbinar menunggu jawaban.
Raluna menarik nafas pelan kemudian menghembuskan nya. "Bismillahirrahmanirrahim, raluna--- s-se-tuju."
Entah kenapa dengan ia menyetujui lamaran ini, hatinya tenang rasa gelisahnya hilang. Kilas balik muncul, betapa dirinya sangat mencintai pria itu. Raluna tersenyum, ini adalah sebuah keajaiban, dirinya bisa mengingat semua hal yang membuat nya jatuh cinta dengan pria tadi.
Pria berpeci, itulah sebutan Raluna untuk pria itu. Mereka berjalan kembali menuju ruang keluarga. Disana mereka yang sedang menunggu menunjukkan ekspresi senang melihat mereka bertiga yang telah kembali.
"Raluna setuju, tapi untuk pernikahan kalian. Akan dilaksanakan setelah Raluna lulus kuliah di luar negeri." Deg bagai disambar petir, dada Raluna tiba tiba sesak. Kuliah? Di luar negeri? Itu artinya akan jauh dari orang tua.
Bagaimana raluna bisa, dirinya harus menerima kabar gembira dan dilema disaat yang bersamaan. Seseorang yang ia cintai kini benar benar datang karena kekuatan sebuah doa.
Kini mereka diuji lagi dengan penghalang jarak yang memisahkan mereka, ia tak tau harus sedih atau bahagia. Dia sangat tidak ingin meninggalkan orang tuanya, 'kenapa Abi sangat tega membiarkan aku jauh dari umi dan Abi.' batin Raluna.
'kuliah, itu tidak lama. Tapi raluna harus bisa untuk mencapai cita cita Raluna. jika dia jodoh Raluna maka waktu, dan jarak bukanlah hal yang berat untuk menyatukan kita kembali. Namun tentang bagaimana kita akan mempunyai rasa yang sama setelah perpisahan cukup lama ini.' batinnya.
'biarlah takdir Allah yang membawa kita, aku yakin skenario Allah lebih indah dari rencana kita.'
"Maaf. kalau begitu saya juga ingin menyampaikan sesuatu." Semua orang menoleh kearah Fendi. Zara sudah gemetaran, ahhh kenapa laki laki yang ia kagumi ternyata teman abrammm.
"Sebenarnya. saya kesini bukan hanya menjadi bagian keluarga pak Abram, tapi saya juga ingin melamar Putri bapak David." David tersenyum, ini yang dia suka, bukan hanya laki laki yang modal aku cinta kamu beb. Aku sayang kamu beb. Eleh. Begini lah yang disuka David langsung melamar.
Perihal bagaimana Fendi, dia tidak perlu khawatir. Abram sudah menceritakan semua tentang Fendi kepadanya. Abram Abram tidak bisa diajak kerja sama, disuruh buat surprise malah diberi tahu seluk beluknya.
Fendi adalah anak yang baik, karena Abram adalah gurunya. Dan Fendi sendiri adalah anak didiknya. Dia orang yang jujur, suka menolong, sabar, tegas, dan sederhana.
David membawa Zara dan Balqis menjauh dari ruang keluarga, dan bertanya apakah Zara mau menerima lamaran ini atau tidak?
David menoleh kearah dara disamping Balqis, Zara mengangguk pelan. David bahagia. "Saya terima lamaran kamu, anak saya juga menerimanya."
"Alhamdulillah." Jawab Fendi.
"Anak kita sudah punya calonnya. Kini tinggal raluna lulus kuliah saja."
"Pak kalau saya menikahi Zara setelah kelulusan apakah tidak papa?"
"Boleh, lebih cepat lebih baik." Jawab David.
"Besok malam saya akan bawa orang tua saya kerumah pak David."
"Ohh bagus kalau begitu, saya tunggu fendii."
°°°°
Hari kelulusan tiba, dimana tema kelulusan ini adalah Sky Blue.
Acara ini berlangsung dengan lancar, Mc seger mengumumkan juara umum SMA Bunga Bangsa, "seperti biasa pemegang juara bertahan SMA Bunga Bangsa kali ini adalah. RALUNA ZAHRA AZKAYRA!! tepuk tangannya pada hadirin sekalian."
"Dan yang kedua, EXELLYN ZARA WILLIAM!! mari tepuk tangannya."
"Yang terakhir ______"
"Untuk Ketiga juara umum, boleh menaiki pentas untuk mengambil piala, piagam, dan hadiah."
Piala segede gaban diberikan kepada Raluna, canda! gak lah masak Segede gaban. Setelah menerima semua itu. David mengambil alih berpidato.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh."
"saya David Naufal Azhar William selaku pemilik SMA Bunga Bangsa mengucapkan selamat atas kelulusan kalian semua. Semoga nantinya keluar dari sini kalian akan menjadi anak anak yang sukses-"
"Aamiin.."
"Jadi anak yang dapat mengangkat derajat orang tua-"
"Aamiin."
"Yang dapat mengharumkan bangsa-"
"Aamiin."
"Perjuangan kalian masih belum usai, masih banyak perjuangan lebih berat yang harus kalian tempuh. Masih banyak hal yang harus kalian pelajari, jadilah muda mudi yang baik, sopan, menghargai orang lain saling membantu. Tanamkan jiwa nasionalisme dan patriotisme, tanamkan jiwa kemanusiaan, jangan lupakan-"
"Dibalik keberhasilan kalian pasti ada doa orang tua yang senantiasa mengalir untuk kalian. Dibalik keberhasilan kalian, pasti itu adalah takdir tuhan untuk kalian."
"Ingatlah, jangan mencoba sesuatu yang orang tua kalian tidak restui. Niscaya hal itu tidak akan berjaya."
"Sekian dari saya, wassalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh."
Dari awalnya Zara yang sangat malas untuk belajar, dari awalnya Zara yang suka bolos, tidak mengerjakan pr, sering dihukum. Siapa sangka saat ini, Zara berdiri dihadapan semua orang berdampingan dengan raluna. Siapa sangka saat ini Zara mendapatkan urutan ketiga setelah siswi perempuan, yang memiliki nilai lebih tinggi darinya.
Dan Raluna, dari anak seorang petani, sebuah kebenaran datang secara tiba tiba yang merubah hidupnya, namun perjuangannya tak usi disini. Raluna terus berjuang agar bisa mengharumkan nama kedua orang tuanya.
Saat kepala sekolah memberikan medali dan piala. Zara menitikan air mata, entah seperti apa hidupnya saat ini jika tidak bertemu dengan raluna. Raluna hanyalah seorang perantara yang membuat hatinya terbuka akan hidayah Allah.
Mungkin jika bukan karena hidayah Allah, ia tidak akan berada diatas sini, orang tuanya pasti sudah bercerai. Nasehat dan kesabaran Raluna membuat Zara seakan mempunyai sosok kakak yang menyayanginya.
Sorak dan tepuk tangan mengiringi turunnya lima siswi itu, dengan acara bertema sky blue ruangan ini, acara ini menjadi lebih cerah dengan pelengkap balon biru dan putih bertebaran dimana mana.
°°°°
Hari cepat berlalu, hari ini adalah hari dimana Zara akan menikah. Zara sudah dirias namun dia juga memakai niqab, Zara dan Raluna mendengar ijab kabul yang dilakukan dibawah.
Zara menitikkan air mata, tak kala ijab kabul itu berlangsung dengan lancar. Setelah ijab kabul Zara dibawa keluar dengan gaun putih, hijab labuh dan mahkota mutiara. Menjadi penambah kesan putri seorang Zara.
Hanya kerabat dekat saja yang diundang, kini Zara berada dihadapan Fendi. Sebenarnya nama Fendi adalah ifandi. Namun namanya diubah oleh Abram. Wkwkwkwk.
Tangan Fendi terulur, menunggu uluran tangan dari seorang Zara yang kini berdiri bak seorang putri dihadapan nya. Tak berhenti sedari tadi Fendi berucap Masyaallah melihat Zara yang kini sudah menyandang status sebagai istrinya itu.
Tangan putih Zara terulur menerima cincin yang Fendi ingin pakaikan. Tangan Zara bergetar hebat, tangannya menjadi dingin. Kemudian Zara menyalami punggung tangan Fendi.
Raluna melihat itu sangat bahagia. Abram tentu saja hadir, ini adalah pernikahan sahabat sekaligus muridnya. Aduh dilangkahin beneran sama Fendi wkwkwkwk.
Kang fotografer nya sendiri adalah Abram, dia sangat jago dalam hal foto memfoto, itu adalah hobi lain dari dirinya. Jebret jebret selesai.
°°°°
Lima hari setelah pernikahan Zara dan Fendi kini, berencana untuk pergi honeymoon. Zara baru tau kalau suaminya Zafran dia adalah anak seorang pengusaha tambang batu bara.
Yang sebenarnya terjadi adalah, dulu.
Flash Back On
Pranggg!!!!
Suara barang pecah terdengar nyaring dirumah sebesar lapangan sepak bola ini, seorang remaja laki laki yang mengenakan seragam putih abu abu berantakan itu pelakunya.
Dia datang dengan muka lebam kebiru biruan, bisa ditebak pasti dia habis berkelahi. " Ifandi! Kamu pecahin vas mama lagi?!"
"Iya mah!" Jawabnya santai sambil menyender di sofa.
"Ifandi, kamu mau apa nak?!"
"Aku mau bebas! Guru aku selalu hukum aku. Selalu nyuruh aku ngerjain tugas yang sulit, yang gak aku ngerti mah! Aku capek!"
Mamah Fendi mendekat, "kawin! Baru semua masalahmu dengan buku akan berakhir, tapi kamu harus menafkahi keluargamu."
"Mih, apaan sih. Aku gak mau nikah, aku mau-"
"Ifandi!!!" Teriakan keras mengalihkan atensi mereka berdua, anak dan ibu yang sedang beradu mulut. Si anaklah yang sangat nakal eits lebih tepatnya gaada akhlak..
"Ya kek?!"
"Kamu mau bunuh kakek?! Kamu kan yang sudah menukar pasta gigi kakek sama sambal?!"
"Seratus kek! Abisnya mulut kakek bau!" Pria tua yang menyandang status kakek itu melotot, keduanya saling saut menyaut dari kejauhan. Ini rumah sudah kayak pasar Minggu saja rame.
"Kurang ajar kamu! Kakek buang kamu ke pesantren! Nanti setelah lulus jangan kesini! Kerja! Setelah itu kembali setelah kamu menikah! Kakek mau punya cicit! Kakek tidak mau mati sebelum punya cucu, apalagi matinya kamu yang bunuh kakek!"
"Kakek ngusir aku?!"
"Iya! Sana! nanti kakek buang kamu ke pesantren!"
Ifandi melihat maminya lirih, "Mamih setuju sama kakek?"
"Yap, nanti sore mama buang kamu ke pesantren. Di D-E-S-A."
"Apa?! Didesa? No no, aku gak mau!!"
"Siapa yang paling berkuasa disini??" Mamih Fandi menarik naik turun kan alisnya.
"Mamih."
"Jadi jangan membantah."
Fandi menatap mamihnya lirih, "mihh, tolong Fandi."
"No, mamih sudah buat keputusan. Sudah dua puluh lebih vas bunga antik mami kami pecahin, plus kamu sudah kelewat nakal sama papah."
"Akhhh..." Fandi mengacak rambutnya pasrah. Wkwkwkwkk, senakal nakalnya ifandi. Walau dia pernah nebeng dan menyuruh gurunya mengantar dirinya dengan alasan tidak punya uang beli bensin, parahnya lagi dengan tidak tau diri Fandi menumpahkan oli di kursi mobil milik gurunya.
Kabarnya guru itu adalah musuh bebuyutan Fandi, mereka seperti tom and jerry. Berawal dari MOS, guru itu sudah cari gara gara dengan ifandi. Memotong rambut cedar badai miliknya, tentu saja ifandi tak terima. Yahh gurunya memang benar, potongan rambut ifandi kala itu seperti kuda poni. Sekolah mana yang mengizinkan potongan rambut seperti itu.
Saat tragedi itu, mulailah permusuhan antara ifandi dan guru dengan kumis setebal kemoceng itu.
Tapi Fendi tidak pernah menolak perintah mamihnya, untuk vas? Mamihnya tidak mempersalahkannya. Yang terpenting Fandi masih ada nurutnya walau hanya sedikit. Dan mami nya lah orang yang Fandi turuti.
Akhirnya, Fendi dibawa kesebuah pesantren. Lama kelamaan dia bertemu dengan Sholeh dan Abram, kakak kelasnya yang berada satu kamar dengannya. Akhlak nya mulai timbul, dari yang dulu minus akhlak. Dari waktu ke waktu mereka sudah seperti adek kakak, sangat akrab.
Dan akhirnya Abram menjadi ustadz yang mengajar di pesantren itu. Dan saat Abram menjadi ustadz dan mengajar ifandi mulai saat itulah perubahan yang sangat besar dan pesat terjadi dari norma kesopanan ifandi wkwkwkw.
.
.
.
Flash Back Of
Saat ini, mereka sudah bersiap. Menemui semua keluarga termasuk Raluna sebelum pergi honeymoon di Swiss. Setelah dari rumah Raluna, kini mereka kerumah ifandi yang terakhir.
Ifandi tersenyum lebar didepan kakeknya, "kek, Fandi sudah datang seperti yang kakek minta. Punya pekerjaan, walaupun sebagai atasan karyawan kafe. Dan yang terakhir, Fandi datang dengan membawa istri."
Kakek ifandi tersenyum, dan memeluk ifandi. "Cucu kakek sudah besar, sekarang cucu kakek sudah sedikit sopan. Tidak seperti dulu."
"Fandi sangat bersyukur kakek buang Fandi ke pesantren. Fandi jadi lebih nambah akhlak."
Kakek ifandi mendekat dan berbisik, "jangan lama lama, cepat berikan kakek cicit. Awas kamu, jaga menantu kakek dia sangat baik dan cantik."
Fandi berbalik berbisik, "kakek jangan liat istri fandi lama lama nanti kepincut, ingat kakek sudah tua. Ingat setia sama nenek."
Kakek Fendi menepuk Fendi, "masih gak berubah, sana sana pergi."
Zara tersenyum, kemudian mereka bersalaman. Dan pergi bersama menuju bandara, Raluna juga ikut. Karena hari ini adalah hari dia akan ke Mesir untuk kuliah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum temen temen, hiks... Udah nyampe diujung aja. Gimana bab ini?? Suka???
.
.
Nextt gakk???
.
.
Jejak jangan lupa.
.
.
See you next bab babayyyyyy!!!
.
.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏
.
.
.
Mei 2022