Silent

Silent
Apa Kesalahannya?



Hujan lebat masih melanda, embun terlihat di kaca jendela mobil. Pasangan yang kembali memangut seakan tidak kenal lelah. Dalam ruang kecil di dalam mobil. Hanya sekali? Bukankah ibunya berpesan untuk memuaskan suaminya agar orang ketiga tidak muncul?


Hanya menikmati segalanya, menghangatkan tubuh mereka. Suara petir serta angin kencang terdengar. Dalam derai air hujan, tempat yang benar-benar sepi. Bersama mengeratkan tangan mereka, mata yang saling menatap, kesulitan mengendalikan dirinya.


Apa Yoka tidak marah padanya lagi setelah ini? Apa akan kembali memperhatikannya? Entahlah, namun melepaskan perasaan ternyata lebih menyenangkan baginya. Tidak ada beban atau ketakutan Yoka akan berpaling, namun hanya keinginan untuk memilikinya.


*


Hari sudah larut, pasangan yang benar-benar pulang terlambat. Hujan kini telah reda, mobil berhenti di garasi, matanya menatap mobil lain yang tidak asing baginya. Sudah diduga, oleh Yoka, Narendra cepat atau lambat akan datang untuk menemui dirinya.


Penyebabnya? Tentu saja karena dirinya muncul di hadapan media. Ayah yang malu mengakui putranya? Entahlah, dirinya merasa ini tidak sesimpel itu.


Dora meraih buku dan tas ranselnya, berjalan mengikuti langkah Yoka, masuk ke dalam villa.


"Apa Yoka masih marah?" mungkin hanya itulah yang ada di fikiran Dora saat ini, mengikuti langkah kaki suaminya yang bergerak lebih cepat, melewati pintu utama.


Jemari tangan Yoka mengepal, perlahan mendekati Narendra yang tengah duduk di sofa. Apa keinginan ayahnya sebenarnya? Bagikan tidak membiarkan dirinya bahagia. Bahkan dengan mudah menyetujui dan mendukung hubungan Anggeline dengan Malik dulu.


"Kamu sudah bisa bicara?" Bukan sapaan, Narendra hanya tersenyum menatap putranya.


"Iya, sudah," jawaban dari Yoka, mulai duduk berhadapan dengan Narendra.


"Bagaimana rencana pernikahanmu dengan Amanda? Status Amanda lebih tinggi dari wanita ini. Berhentilah seperti anak kecil! Bermain-main dengan seorang pengganti, hanya karena wajahnya menyerupai Anggeline." Kata-kata yang terucap dari bibir Narendra, menatap kearah putranya.


Dora tertunduk diam, statusnya memang lebih rendah bukan? Hanya bermain-main? Apa itu yang Yoka lakukan?


Yoka tertawa kecil."Bermain?" gumamnya, dengan tawa yang menghilang.


"Apa kesalahan ibu hingga ayah membunuhnya?" pertanyaan dari Yoka, dengan mata memerah, air mata yang tertahan, tidak ingin menangis lagi di hadapan pria keji ini.


"Kamu mengetahuinya?" Narendra memastikan pendengarannya.


"Bukan hanya trauma, tapi karena aku tidak ingin salah bicara dan memakimu. Karena itulah aku diam, tidak mengatakan apapun." Menyakitkan? Tentu saja, setelah semua ini, ayahnya masih ingin memisahkannya dengan Dora. Atas dasar apa Malik dan Salsa berhak bahagia, sedangkan dirinya dan ibunya pantas mati.


"Apa kesalahan ibu? Apa ibu berselingkuh? Apa ibuku mencuri? Atau ibuku membunuh?" Pertanyaan berturut-turut dari bibir Yoka.


Narendra tersenyum, air matanya mengalir. Jemari tangannya mengepal.


"Aku yang membayar orang-orang itu untuk membunuh Melda. Memberikannya kematian yang tidak menyakitkan, tapi mereka melecehkannya sebelum membunuhnya..." Perasaan yang benar-benar aneh, menyakitkan bagaikan menghujam dadanya kala mengetahui segalanya.


Kata-kata dari Martin masih teringat di benaknya hingga kini, kala dirinya menanyakan tentang pemakaman Melda, ingin mengantar istrinya dalam peristirahatan terakhir, menatap wajah rupawan itu untuk terakhir kalinya. Mati dalam penderitaan? Itu tidak pernah terbayang di benaknya. Namun, mungkin ini lebih baik, lebih baik, Melda menebus segalanya dan dirinya memenuhi janjinya.


Apa Melda akan memaafkannya jika bertemu di kehidupan yang akan datang? Dirinya masih tidak dapat melupakannya, mendiang istri yang membuatnya tersenyum selama lebih dari 12 tahun. Hingga mati di tangannya pada akhirnya.


"Aku bertanya apa kesalahan ibu?" pertanyaan yang kembali diulang oleh putranya. Pertanyaan yang bagaikan menghardik dirinya.


"Sebagian besar adalah kesalahanku. Jadi cepat atau lambat aku akan mati menyusulnya," jawaban ambigu dari Narendra.


Yoka bangkit, kemudian tertawa kecil, menatap sinis ke arah ayahnya.


"Inilah perbedaan antara aku dan ayah. Aku lebih egois, mewarisi sifat ibuku yang menganggap suaminya adalah segalanya. Karena itu, jika istriku salah, maka aku akan membuatnya benar. Bahkan jika istriku akan dibunuh karena perbuatannya, aku akan menggantikannya. Jika ada yang menyakitinya, maka aku akan membalas ribuan kali lipat." Pemuda itu berjalan beberapa langkah, menarik jemari tangan Dora.


Narendra tersenyum, menghapus air matanya yang menetes tiada henti. Menjadi iblis? Putranya memang dulu pandai bicara. Mungkin jika bisa egois dirinya akan egois, tetap hidup bahagia bersama Melda dan Yoka. Melupakan segalanya, itulah keinginannya. Keinginan yang menyakitkan untuknya.


*


Sebotol wine dibelinya, duduk seorang diri di atas terumbu karang tepi laut. Sinar lampu-lampu dari kapal nelayan tampak lalu lalang.


Meminum minuman yang dibawanya seorang diri.


"Kamu mau?" tanyanya seolah-olah Melda ada di sampingnya. Menuangkan minuman berwarna merah pekat ke atas air laut.


"Apa aku menyakitimu?" Narendra kembali bertanya, rambutnya terkena terpaan angin laut. Air mata yang tidak dapat dihentikan olehnya.


"Apa kamu akan memaafkanku? Kamu seorang pemaaf yang hanya mencintaiku..." gumamnya, mungkin dirinya mulai mabuk. Atau sekedar imajinasinya saja.


"Narendra, jangan minum terlalu banyak..." Kalimat yang didengar olehnya, Melda ada di sampingnya, mencium pipinya kemudian tersenyum. Fatamorgana yang kembali menghilang.


Segalanya masih teringat di benaknya, perlahan Narendra tersenyum. Mengingat sarapan pertama yang dibuat sang nona muda yang berlarian dalam kepanikan. Mengurus putranya yang baru berusia beberapa bulan.


Narendra hanya menertawakan istrinya yang masih mengenakan rol rambut. Berlainan kesana-kemari tanpa henti.


Wanita yang melempar dirinya menggunakan bantal penuh rasa kesal.


"Tau begini aku tidak ingin melahirkan anakmu!" teriak Melda kala itu, membuat Narendra kelabakan. Berlari membantu istrinya menyiapkan segalanya.


Sesuatu yang nampak bahagia, setelah rasa duka melanda. Duka yang telah diikhlaskan olehnya. Luka yang dikorek Salsa setelah 11 tahun berlalu, memberikan bukti bahkan saksi betapa keji perbuatan istrinya hanya karena rasa iri dan dengki.


"Apa aku terlalu jahat padamu? Aku mencintaimu, sangat... Melda maaf..." teriaknya, tiba-tiba membanting botol wine yang dipegangnya, botol wine yang hancur berantakan setelah menghantam terumbu karang.


"Aaaaarrgghh!" teriakan memekik, darinya.


Pria paruh baya yang membaringkan tubuhnya, diatas terumbu karang. Benar-benar merindukan mendiang istri yang mati di tangannya.


Jika bisa, dirinya ingin menyusul istrinya. Mati bersamanya. Matanya menatap ke arah jutaan bintang di langit. Hanya terdiam tidak tahu apa yang harus diucapkannya pada Melda.


Dirinya bukan malaikat, dirinya lebih keji dari iblis. Tapi itulah sebuah janji, janji yang membuat jantungnya masih berdetak hingga kini.


"Seharusnya aku mati sebelum bertemu denganmu. Agar kamu dapat hidup bahagia, mencintai orang lain, orang yang lebih baik dariku..." racauannya memejamkan matanya, air mata yang mengalir di sudut matanya terlihat. Sesuatu yang tidak dapat dihentikan olehnya.


"Aku ingin mati..." lirihnya lagi.


...Bintang? Seperti itulah dirimu terlihat....


...Setitik cahaya yang terang dalam kegelapan. Ketika aku menyadari pagi itu tiba, saat itulah aku tahu kamu tidak ada lagi....


...Berharap tubuh ini dapat tenggelam dalam kegelapan, hanya untuk menemanimu....


Narendra.