Silent

Silent
Saran



Dora membulatkan matanya tertegun. Tangannya menghentikan Yoka. Entah kenapa ada firasat aneh dalam dirinya, suaminya adalah pemilik setengah yayasan kampus.


Hal yang dilakukan Arsen 2 setengah tahun lalu saat dirinya mulai kuliah di kampus ini. Tujuan? Tentu saja menunjukkan otoritasnya dan agar Dora tidak dapat melarikan diri suatu hari nanti.


Apa suaminya akan mengancam rektor untuk mengeluarkan mereka dari kampus? Apa suaminya dapat sekeji itu? Seperti kebanyakan CEO dalam novel online?


Dora memeluknya dengan erat dari belakang."Jangan keluar," pintanya sambil menangis.


Yoka menghela napas kasar mulai tersenyum. Benar-benar terlalu baik, dan menggemaskan, sifat yang mirip dengan ibunya.


"Jangan apa?" tanya Yoka melepaskan pelukan istrinya, kemudian menatap wajahnya.


"Jangan keluarkan mereka dari kampus. Mereka tidak bisa kuliah jika..." kata-kata Dora terhenti, suaminya mendekat kemudian berbisik.


"Sesuai perintah istriku..." gumamnya menyeringai.


Aura yang lebih dingin dan menakutkan. Gerakannya bagaikan terhenti, wanita itu kini benar-benar gemetar. Aura membunuh yang intens, bagikan iblis? Bagaimana bisa dalam beberapa detik pemuda di hadapannya kini bagaikan memiliki karakter berbeda.


Tidak dapat bergerak sama sekali. Sifat dingin yang bagaikan dapat dikendalikan oleh sang pemuda.


Punggung itu ditatapnya keluar dari bilik kamar mandi. Dora hanya terdiam sesaat, benar-benar masih gemetar. Bagaimana kondisi psikologisnya dapat seperti ini?


Dengan mudah didominasi dan dipengaruhi oleh Yoka. Pria yang takut akan gelap bagaikan tidak ada lagi, masih teringat di benaknya kala Yoka menyeret Warto, dengan menarik rambutnya. Apa ini sifat tersembunyi dari suaminya?


*


"Hai..." Yoka berdiri di sana sembari tersenyum ramah.


Kedua orang wanita menoleh bersamaan. Seorang pemuda rupawan tiba-tiba ada di toilet wanita.


"Ini toilet wanita. Kamu!" kata-kata mereka dipotong. Pemuda itu hanya tersenyum ramah.


"Aku mahasiswa baru disini, jurusan bisnis dan manajemen. Ada yang mengerjaiku mengatakan ini toilet pria. Lalu aku melihat kalian..." jelasnya masih setia tersenyum ramah.


"Toilet pria ada di sana. Omong-ngomong namamu siapa?" tanya Lala, sang mahasiswi.


"Kouga..." dustanya.


"Aku Lala dan ini Mela, bagaimana jika kami mengantarmu keliling kampus?" tanya Lala, memperkenalkan sahabatnya.


"Aku tidak punya waktu. Setelah ini aku harus bekerja part time di ZO Company. Gajinya lumayan untuk biaya kuliah. Selain itu masih ada banyak lowongan, apa kalian tertarik?" tolak Yoka, entah apa yang ada di fikirannya.


"Gajinya berapa?" tanya Mela antusias.


"Mungkin puluhan juta jika lembur. Kalian dapat menunjang penampilan dengan hanya bekerja part time. Hanya bekerja sebagai translator artikel. Mudah, gunakan Google untuk menerjemahkannya, jika tidak lancar berbahasa asing," jawab Yoka penuh senyuman.


Kedua orang itu saling melirik, membayangkan kehidupannya sebagai wanita karir. Memakai barang-barang branded dengan hasil kerja part time, yang begitu mudah.


"Tapi, jika ingin bekerja disana..." Yoka menghentikan kata-katanya sejenak.


"Tapi apa?" tanya Lala.


"Kakakku kebetulan dekat dengan manager HRD. Jadi dia memasukkanku. Setahuku orang baru... sebaiknya tidak, kalian tidak bisa..." Yoka lagi-lagi menghentikan kata-katanya.


"Kami dapat melakukan apa saja!" Mela bertambah antusias.


"Manager HRD disana menseleksi pegawai wanita dengan cara yang berbeda. Habiskan satu malam dengannya, maka kalian dapat bekerja disana. Ini hanya penawaran, maaf membuat kalian tersinggung," Yoka tersenyum canggung hendak melangkah pergi.


Hingga senyumannya menghilang kala pemuda itu berbalik, kata-kata yang mereka ucapkan tentang istrinya terus terngiang. Tidak setia? Dirinya mengawasi Dora di setiap waktu, walaupun tidak menggunakan matanya sendiri. Anak campuran dengan pria lain? Bagaimana bisa anaknya yang belum terbentuk dikatakan anak berdarah campuran dari beberapa pria? Dikeluarkan dari kampus tidak pantas untuk mereka. Hal yang lebih baik baginya menjadikan dua orang itu wanita bayaran.


Mela dan Lala saling melirik, hanya sekali. Lagipula hanya sekali, tidak akan apa-apa. Pacar atau orang tua mereka tidak akan tahu. Lagi pula berhubungan dengan pacar mereka bukanlah hal yang tabu bagi mereka.


Setelah ini mungkin mereka dapat menyaingi kepopuleran Dora. Hanya itu tujuan mereka saat ini.


"Dora pasti juga menjadi istri simpanan pengusaha tua. Kita hanya tidur sekali. Ini bukan perbuatan salah..." bisik Mela pada Lala. Hingga akhirnya.


Yoka menghela napas kasar. Sudah diduga olehnya dua orang ini sama saja dengan Anggeline yang telah mencampakkannya. Pemuda itu berbalik, kembali menampakan wajahnya yang bagaikan malaikat penolong berhati baik.


"Baik, tapi aku hanya memberi tawaran. Setelahnya terserah pada kalian," ucapnya, mengambil phonecellnya, menghubungi salah satu mantan partner bisnis yang Samy, yang sempat dikenalnya di luar negeri.


Benar-benar pria dengan tempramen buruk. Sering berbuat kekerasan di ranjang. Setiap hal yang dilakukannya akan diabadikan. Dijadikan ancaman, agar sang wanita bersedia menemaninya lagi.


Memberi pekerjaan? Tentu saja, namun kebebasan mereka akan dikekang. Gaji tinggi dengan pekerjaan ringan? Juga sama saja. Ini hadiah sebuah pilihan dari Yoka untuk mereka yang ingin mengetahui apa itu wanita murahan.


*


Tempat pertemuan? Sebuah club' malam dekat kampus. bau alkohol tercium menyengat, diiringi dengan bau asap rokok.


Dua orang wanita yang menelan ludahnya, memikirkan pria seperti apa yang harus tidur dengan mereka. Perlahan Yoka membuka pintu.


"Lama tidak bertemu? Kamu ingat denganku, aku temannya Samy," ucap Yoka tersenyum.


Seorang pria berkebangsaan asing, usia mungkin hampir lima puluh tahun. Namun, memiliki badan yang tegap, dan gagah.


Kedua wanita itu mulai menghela napas lega. Tidak harus melayani pria tua gemuk seperti dalam pemikiran mereka.


"Mereka Lala dan Mela, kenalanku. Mereka ingin pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Kamu bisa memberikannya? Mereka, hanya mahasiswi dari keluarga biasa. Bahkan tidak memiliki mobil," Yoka menghela napas kasar, tersenyum pada pria yang dikenalnya.


"Bisa, mereka tahu apa persyaratannya?" tanya sang pria berkebangsaan asing.


Yoka mengangguk, kemudian tersenyum."Aku tidak mendapatkan apapun. Aku hanya perantara saja."


"Masih muda dan belum berpengalaman. Minum ini..." ucap sang pria, bermata coklat, memberikan dua gelas minuman beralkohol, dengan campuran satu butir obat. Entah apa isinya.


Dua orang itu saling melirik, mereka sudah bertekad jadi harus melakukannya hingga tuntas.


Kala mereka minum, saat itulah senyuman di wajah Yoka memudar. Iblis adalah makhluk paling berdosa? Apa benar? Tapi manusia tidak akan akan mengikuti ajakan iblis, jika tidak serakah menginginkan jalan mudah.


Apa iblis yang harus dipersalahkan? Manusia akan menyalahkan iblis setelahnya. Walaupun itu jalan yang sejatinya mereka pilih, bukan jalan yang dipilihkan sang iblis.


"Ikut aku..." ucap sang pria paruh baya, menuntun kedua wanita itu ke lantai atas. Untuk memesan kamar, dalam club'malam yang menyatu dengan hotel.


"Bersenang-senanglah," Yoka tersenyum, melambaikan tangannya. Kini mereka akan tahu apa yang disebut wanita murahan.


Benar-benar sulit ditebak dan mengendalikan emosinya. Wajahnya tersenyum, menyenderkan dirinya pada sofa ruangan VVIP club'malam.


"Aku harus mandi..." gumamnya dengan amarah yang lenyap.


*


Apa yang akan terjadi sebenarnya? Setiap tindakan akan direkam sang pria. Borgol, cambuk, berbagai alat yang benar-benar tidak lazim ada di sana. Dengan lembut? Jangan bermimpi. Pengaruh obat bercampur alkohol membuat kedua wanita itu hanya pasrah, kala setiap inci tubuh mereka difoto bahkan dinikmati dengan kasar.


Hingga pagi menjelang, barulah mereka terbangun. Dengan beberapa bekas luka.


"Hanya sekali," gumam mereka, tidak ingin mengingat peristiwa yang terjadi semalam.


Hingga wajah mereka menatap ke arah cermin. Beberapa foto terlihat di sana, bahkan memperlihatkan bagaimana penyatuan mereka dengan sang pria.


'Foto dan video akan ada untuk koleksiku, kalian diterima bekerja. Layani aku setiap aku menginginkannya. Maka aku tidak akan menyebarkan betapa liarnya kalian,'


Itulah isi kertas yang ada dia atas meja, beserta sebuah cek dengan nilai yang tidak sedikit. Tangan mereka gemetar.


"Kita harus melakukannya lagi?" tanya Mela.


"Tidak apa-apa, hanya sesekali tidak akan ada yang tahu. Uang yang diberikan juga lumayan, kita bisa pindah ke tempat kost yang lebih elite." Lala tersenyum, menganggap itulah mencari uang dengan cara mudah.


Dua orang yang tidak menyadari, saat ini merekalah wanita murahan.


Iblis hanya memberi saran, manusia yang memutuskan untuk melakukan dosa atau tidak. Melanjutkan dosa atau menghentikannya.