Silent

Silent
Ayah



Meira terdiam ketakutan jemari tangannya gemetar."A... aku, tapi yang ada di kandungan Dora anak Jovan, bukan anakmu. Kamu sudah hampir 3 tahun pergi ke luar negeri jadi..."


"Jadi? Kamu fikir aku tidak bisa kembali dan mengunjungi istriku. Aku mengawasi istriku hampir 24 jam, walaupun bukan dengan mataku sendiri. Dia mempunyai kesempatan berselingkuh?" gumam Yoka tertawa, sementara Meira hanya terdiam saat ini masih benar-benar ketakutan.


"Bagaimana jika aku menjadikanmu hadiah bermain poker?" tanya Yoka tersenyum menyeringai.


"Aku hanya menyebarkannya di media sosial. Tolong aku..." pinta Meira.


"Aku mempercayai dan mengawasi istriku dengan baik. Tapi bagaimana jika yang menjadi suami sahabatmu orang lain bukan aku? Dora akan dianggap berselingkuh kemudian ditinggalkan. Anak yang lahir setelah perceraian kedua orang tuanya. Apa kamu fikir kesalahanmu tidak fatal?! Selain itu tidak puas dengan Jovan, berharap mendekatiku?" cibir Yoka tersenyum menghina.


"Dora aku tidak..." kata-kata Meira disela.


"Ini pelajaran untukmu. Menjadi wanita murahan selama satu malam..." ucapnya meringankan hukuman. Mulut Meira dicekoki paksa dengan obat."Jika kamu mengganggu anak atau istriku lagi. Maka, tidak akan ada ampun lain kali,"


Kata-kata dari Yoka, meninggalkan Meira pada pemilik tempat perjudian. Menjual satu malam tubuh Meira. Apa akan jera? Entahlah namun hanya ini yang dapat dilakukannya.


Meira hanya dapat meronta, perlahan kesadarannya lenyap oleh pengaruh obat. Tubuhnya dibawa oleh sang pemilik tempat perjudian, sebagai hadiah satu malam.


*


Dora terdiam mengelus perutnya berkali-kali. Dalam perjalanan pulang mereka menuju villa.


"Kenapa?" tanya Yoka pada istrinya.


"Bisa kamu berhenti menggunakan cara buruk untuk balas dendam?" Dora menghela napas kasar menatap ke arah suaminya yang tengah konsentrasi menyetir.


"Ini pelajaran untuknya," jawab Yoka tersenyum lirih dengan air mata yang mengalir. Pemuda yang tiba-tiba menghentikan laju kendaraannya di tepi jalan sepi.


"Tapi..." ucapan Dora disela.


"Karena orang naif sepertimu, orang-orang yang kamu cintai akan terluka. Kamu tidak ingat tentang ibuku? Hanya karena informasi dari Salsa, ayahku membunuh wanita yang dicintainya. Sama seperti hari ini, Meira menyebarkan berita bohong tentangmu. Bagaimana jika aku tidak mengawasimu dan menganggapmu berselingkuh? Maka kita akan berpisah seperti kedua orang tuaku..." gumamnya menunduk, menghela napas berkali-kali dalam tangisnya.


Dora memeluknya erat, kini dirinya mengetahui betapa rapuhnya suaminya. Mengapa Yoka berniat buruk pada kedua mahasiswi dan Meira. Pria yang terluka akibat masa lalunya. Dibesarkan tanpa keberadaan ayah dan ibunya. Menjadi remaja bisu yang terdiam di villa seorang diri.


"Jangan begitu lagi, anak kita sepasang, laki-laki dan perempuan. Bagaimana jika ada yang melakukan perbuatan serupa pada putri kita?" tanyanya masih memeluk tubuh suaminya.


"Maaf..." hanya itu yang diucapkan Yoka, tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Memberikan Meira pelajaran? Latar belakang Meira sudah diketahuinya pernah menjadi wanita simpanan. Mungkin kali ini wanita itu akan jera.


*


"Sial!" umpat Salsa membanting phonecellnya. Malik bersedia tinggal dengan ayah kandungnya tanpa syarat.


Benar-benar putra yang tidak dapat diandalkan olehnya. Orang-orang yang diam-diam menjaga dan mengawasinya atas suruhan ayah kandung Malik juga telah ditarik kembali ke luar negeri.


Bingung harus bagaimana, apa rencananya saat ini? Surat gugatan cerai ditatapnya. Narendra tiba-tiba juga mengajukan perceraian padanya. Benar-benar membuatnya jenuh hingga seorang pemuda mendekat, memeluknya dari belakang.


"Maaf aku tidak bisa menahan diri lagi, aku sudah mengagumimu dari lama..." ucap Hudson, membuat wanita itu menutup matanya sendiri kala bibir pemuda rupawan itu, tiba-tiba mencium lehernya.


"Lepas," Salsa melepaskan tangan Hudson.


Wajah Hudson tersenyum, membelai pipi Salsa."Aku tidak berani mendekatimu karena Narendra. Tapi sekarang Narendra sudah menceraikanmu. Apa kamu mencintaiku?" tanyanya penuh harap.


Salsa hanya terdiam, tidak menjawab. Namun, Hudson tiba-tiba mencium singkat bibirnya."Kamu tidak menolak, selepas dari perbedaan umur kita. Aku mencintaimu,"


"Kamu mabuk?" tanya Salsa mengamati keadaan, tidak ada satupun pelayan yang menyaksikan.


Hudson menggeleng."Aku tidak mabuk, sudah lama aku mengagumimu. Bagaimana jika kita bekerjasama untuk menyingkirkan Yoka. Tapi sebelum itu, aku ingin menikahimu. Mengantarmu tinggal di villa pribadi milikku,"


"Vila pribadi?" tanya Salsa, pemuda rupawan yang lebih muda darinya. Siapa yang dapat menolak, mungkin ini kesempatannya. Wanita itu mengangguk menyetujui.


*


Mobil melaju membelah jalan di daerah pelosok. Tepatnya hutan yang cukup lebat, tidak ada penerangan sedikitpun disana.


"Apa villanya sudah dekat?" tanya Salsa. Hudson hanya tersenyum kemudian mengangguk.


Namun tidak ada jalan beraspal lagi. Hanya jalan setapak, perlahan mobil Jeep menembus ke arah sungai kecil.


Salsa mulai mengenyitkan keningnya curiga. Namun memang benar ada bangunan yang perlahan terlihat. Seperti gudang pabrik kayu tua yang sudah tidak terpakai.


"Dimana villanya?" tanyanya.


"Ikut saja..." Hudson mulai bicara dengan nada dingin. Dengan bodohnya Salsa kembali mengikuti langkahnya.


Sebuah ruangan terlihat, hanya berpenerangan lampu tua. Tidak ada tempat tidur atau apapun hanya kursi kayu tua dan satu galon air.


"Ayo kita bermain hidup dan mati, jika Tuhan menyayangimu kamu akan hidup jika tidak kamu akan mati..." ucap Hudson tersenyum, menatap Salsa yang mulai gemetar mengeluarkan phonecellnya hendak menghubungi kepolisian merasa ada hal yang tidak beres.


Namun dengan cepat phonecell itu direbut Hudson, menumpahkan air pada smartphone.


Salsa beringsut mundur hendak melarikan diri.


Dor!


Kakinya ditembak, hanya ada jeritan minta tolong dan ketakutan disana. Bersamaan dengan pintu yang dikunci Hudson.


"Akui kejahatanmu maka kamu tidak akan aku bunuh..." ucapnya tersenyum. Mulai menyalakan alat perekam kecil yang ada di sakunya.


"Aku tidak melakukan kejahatan!" teriak Salsa.


"Aku putra Warka, katakan semuanya," gumamnya tersenyum. Ingin memperbaiki kesalahan almarhum ayahnya. Mungkin akan membuat sang ayah tenang di sisi-Nya.


"I...iya! Aku yang membayar Siti untuk meletakkan obat tidur di makanan ayahmu. Kemudian menyuruh Siti memberi obat penggugur kandungan untuk Viona, membakar rumah Viona! Tapi aku tidak terlibat kematian ayahmu..." ucapnya.


Hudson tersenyum kecil, menyayat sedikit lengan Salsa."Mulai sekarang setiap kebohongan yang kamu ucapkan aku akan mengoyak tubuhmu,"


"Sakit!" teriak Salsa.


"Lanjutkan pengakuanmu," ucap Hudson.


"Aku menyewa orang untuk membunuh Warka karena Siti mengatakan Warka sudah mencurigai segalanya. Aku juga merusak rem mobil ayah angkatku. Membayar pembunuh Melda untuk melecehkannya sebelum kematiannya. Beberapa kali berusaha membunuh Yoka. Aku yang melakukannya..." kata-kata dari mulut Salsa.


Hudson mulai berdiri."Bagus! Aku sudah merekam segalanya. Tidak punya uang, kaki yang terluka. Aku sarankan kamu tinggal di hutan. Jangan pernah muncul di hadapan manusia. Karena aku merekam pengakuanmu, kepolisian akan segera mencari keberadaanmu,"


"Sial!" teriak Salsa menjerit.


*


Sedangkan Hudson hanya tersenyum, melajukan mobil Jeepnya. Apa yang terjadi pada Siti? Wanita itu dilepaskannya setelah menderita gangguan jiwa akibat siksaannya.


Sedangkan Salsa? Wanita sepertinya tidak akan bertahan hidup lebih dari dua minggu di hutan. Memberikan hal yang lebih buruk dari kematian. Menjalani kematian perlahan.


Matanya menatap ke arah bintang."Ayah, setelah ini aku akan tinggal di penjara selama beberapa tahun," gumamnya, akan menyerahkan dirinya pada pihak kepolisian.


Menebus kesalahan ayahnya, memberikan bukti kebenarannya pada Narendra dan pihak kepolisian.