
Assalamualaikum temen temen, Alhamdulillah bisa up lagi. Gimana kabar kalian??? Semoga sehat selalu ya.
.
.
Gimana kabar kalian?? Semoga sehat selalu ya aamiin.
.
.
Gimana udah siap baca bab 26???
.
.
Yuk, scroll aja kebawah...
.
.
Happy Reading ♥️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kini Zara, Fandi, Raluna dan keluarga mereka semua berada di bandara. Zara dan Fandi akan pergi, sedangkan Raluna akan pergi kuliah.
Zara berdiri dihadapan Raluna, bulir air matanya sudah terkumpul banyak si pelupuk matanya, "Raluna, gimana nanti kalau aku kangen? Aku harus gimana? Kamu tau kan aku gak bisa main kalau gak ada kamu."
Raluna tersenyum, tangannya terangkat menyeka air mata Zara, "Zara. Raluna gak lama perginya, nanti kalau Raluna pulang kita bisa main lagi."
"Lagi pula, Zara bisa Kunjungi Raluna di US."
"Hiks.. na kapan kamu nikahnya?"
"Aku mau kita punya anak sama sama. Hiks.."
Raluna kembali memegang kedua pipi Zara, "Zara. Mungkin seperti ini jalan terbaik untuk kita, Raluna akan menikah tapi belum saat ini waktunya."
"Hiks.. jangan lama lama disana."
"Iya Raluna gak lama kok, nanti kalau Raluna sudah sarjana pasti pulang ke Indonesia."
Zara menyeka air matanya, sungguh ia tak sanggup berjauhan dengan raluna. Setiap harinya dia selalu bertemu bermain seperti adek kakak.
"Janji ya."
"Iya janji, udah jangan nangis."
Zara menoleh kearah Balqis. "Mama. Nama kampus Raluna apa?"
"Rahasia, kalau mama kasih tau bisa bisa kamu kabur ngejar raluna."
"Mama, aku gak bakal gitu."
"Yaudah nanti aku cari sendiri, jangan salahi aku hilang ke US nanti."
Fandi, yang diubah nama oleh Zara menjadi zafran. Biar jadi cupple Z. "Zara, gaboleh gitu."
Zara terdiam saat Fandi menyentuh bahunya. "Maaf kak."
"Minta maaf sama mama. Jangan sama saya."
"Iya."
"Ma, Zara minta maaf."
Balqis tersenyum, "iya gak papa."
Raluna menoleh kearah tunangannya Abram. dihadapannya seorang pria bergamis putih tengah menundukkan kepalanya. -"Jangan takut, Jika nama anda yang tertulis untuk saya. bahkan tembok penghalang anda menuju saya, akan hancur. Karena memang anda dituliskan untuk menghancurkan tembok itu untuk bertemu dengan saya."
Abram mengangkat keplanya. -"jika bukan nama saya yang ditulis untuk kamu?"
Gadis yang bersetatus tunangan pria itu, kini melepas genggaman tangannya dikoper hitam miliknya. "Jika saya kembali, maka saya milik anda. Jika bukan, pergilah. Sungguh Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hambanya."
Gadis dengan gamis sky blue itu menunduk, "maaf, membuat anda menunggu."
Pria itu menggeleng pelan, "kamu perempuan yang saya cintai setelah ibu saya. Kamu adalah pilihan ibu saya, tidak akan pernah saya mengingkari janji saya untuk menunggu kamu.";
"Ketahuilah, Allah maha membolak balikkan hati. jangan berharap kepada saya, tapi serahkan harapan anda kepada Allah. Bukan saya yang menulis takdir, hanya Allah yang menulis semuanya."
Pria itu mengangkat pandangannya, "insyaallah, saya adalah nama itu. Saya akan menunggu. Saya percaya bait alurnya yang mempertemukan kita nanti."
Hati Raluna teriris, pria yang dia cintai dari dulu. Saat sudah satu langkah untuk bersamanya, suatu penghalang menghentikan langkah itu. "Maaf, jika nanti saya mengecewakan anda. Tapi saya juga berharap nama itu adalah anda."
Tangan mungil itu kembali memegang kopernya, "assalamualaikum. kita akan melangkah, namun saya tidak tau, langkah itu mendekat atau menjauh." Gadis itu kemudian perlahan menjauh, setelah mendengar jawaban dari salamnya.
Raluna kemudian berpamitan kepada Saidah, Usman dan lainnya. Air mata jatuh saat dia berjalan menjauh, mungkin ini yang terbaik, sesuatu yang harus itu lakukan terlebih dahulu. Jauh dari orang tua dan harus tinggal dinegara orang.
Tangan yang masih dipegang oleh Raluna basah oleh air matanya, "Umi, insyaallah Raluna nanti akan pulang dengan cita cita Raluna yang sudah terkabul. doakan Raluna ya umi."
Saidah tersenyum, menyeka air matanya yang hendak jatuh. tangan nya mengusap pipi Raluna, "doa umi selalu terlantun di setiap langkahmu nak. jangan lupa, sholat lima waktu, sedekah dan terus belajar. hafalannya jangan ditinggal."
"makasih umi, jangan terlalu lembut melepas Raluna nanti Raluna gak mau pergi hiks.."
"yaudah umi usir kamu."
"aaa umi."
Saidah tersenyum menyeka kembali air mata putrinya, Saidah mengambil boneka beruang pink yang sengaja tadi ia bawa. memang boneka ini bukan boneka baru, namun ini akan sangat berarti untuk putrinya.
"ini, umi tau kamu gak bisa tidur kalau tanpa boneka ini." boneka ini memang tidak baru namun saidah mencucinya lembut dengan tangan. pink bersih, lucu mewakili boneka ini.
raluna menerimanya dengan senang, "makasi umii.. tunggu Raluna pulang ya, umi jangan sedih."
"insyaallah umi tidak akan sedih."
raluna menoleh kearah Usman, "Abi, Abi enggak sedih raluna tinggal?" Usman tersenyum, tak salah putrinya menanyakan hal itu. karena dirinya satu satunya orang yang tidak menangis.
"putri Abi pergi untuk menambah ilmu, jadi untuk apa Abi sedih."
"Abi enggak mau kangen Raluna?"
pertahanan Usman runtuh melihat wajah Raluna cemberut menahan tangis, Usman merentangkan tangannya disambut oleh Raluna. keduanya berpelukan.
"putri kecil Abi sudah besar, bagaimana Abi tidak merindukan putri abi saat jauh dari Abi dan umi. kami akan merindukanmu nak, namun doa kami akan selalu mendampingi dalam langkahmu."
"abii, Raluna sedih harus jauh dari Abi sama umi."
"cupp sudah jangan menangis, kamu sudah besar."
"hiks.. Abi Raluna masih kecil di mata kalian, Raluna enggak mau besar di mata kalian."
"iya putri kecil Abi. yasudah ayo Abi antar nanti kamu ketinggalan pesawat."
Usman mengantar Raluna menuju pesawat, mereka tadi sudah berpamitan. setelah memastikan Raluna siap berangkat, Usman mencium kening putrinya dan pamit untuk keluar dari pesawat.
°°°°
Setelah menempuh beberapa jam terbang yang sangat melelahkan, Raluna akhirnya sampai dirumah paman, lebih tepatnya kakak dari umi nya yang tinggal di US.
Raluna menaiki mobil menuju rumah pamannya, Usman sudah mempersiapkan segalanya untuk raluna termasuk keamanannya.
Tak lama kemudian, mobil yang Raluna tumpangi berhenti disebuah bangunan mewah nan megah. Raluna baru tahu kalau nenek dari uminya adalah seorang bilioner. .
Ding dong!!
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, who-"
"Ehh, non Raluna ya?" Tanya wanita yang berpakaian pembantu itu.
"Iya. Paman leon ada?"
"Ada non, mari masuk."
Raluna tersenyum, "iya buk."
"Oh iya non, saya harus berbahasa Inggris atau Indonesia?"
"Senyamannya ibuk, Raluna paham kok."
"Mari masuk."
Raluna masuk, didalam rumah ini sudah ada paman dan Tante nya yang sudah menunggu.
Mereka kayla, dan Leon.
"Assalamualaikum, ayah, bunda ." Anaya menyalami punggung tangan pamannya, kakak dari Saidah. Dan Kayla istri Leon.
"Waalaikumsalam, Alhamdulillah. Kamu sudah datang, maaf kami tidak bisa menjemput kamu dibandara. Ibu lagi sakit soalnya." Ucap leon, ibu Kayla sedang sakit, maka dari itu mereka tidak bisa menjemput Raluna.
"Gak papa yah. Bunda, Raluna boleh jenguk nenek?"
Kayla tersenyum, "boleh ayo bunda antar."
"Kayla sayang, nanti kamu langsung antar Raluna ke kamarnya ya. Pasti dia lelah." Ucap leon.
"Iya."
Kayla membuka pintu, didalam ada seorang wanita senja yang tengah terbaring lemah. Diujung kasur juga ada seorang pria yang menemani wanita itu.
Pria itu menoleh, dia adalah anak Leon. Namanya Ravindra Allardo Pratama, putra pertama Leon dan Kayla.
"Iya nak. Bunda Saidah mengirim Raluna kesini untuk kuliah sama kamu nak."
"Hai, gue Ravindra Allardo Pratama. Panggil aja allard. Mulai Minggu depan Lo udah bisa masuk ke Harvard University."
Raluna menyatukan kedua tangannya sebagai balasan dari allard yang tangannya terulur ingin bersalaman dengan raluna. Namun Raluna tidak menjabatnya.
"Maaf, Aku Raluna Zahra Azkayra." Tangan allard kemudian turun perlahan, ia tak masalah perihal jabatannya tak dijawab oleh Raluna.
"Bunda, Rana kemana?"
"Rana dia pergi sama temennya, dia bilang ingin beli buku."
"Ohh, allard permisi dulu bunda."
Setelah agak lama bertemu dengan ibu Kayla, Raluna diantarkan ke kamarnya. Fasilitasnya tak kalah beda dengan kamarnya yang di Indonesia.
Semua tema dikamar ini Flaminggo, Abi nya mungkin yang memberi tahu. "bunda. Terimakasih, sudah mengantarkan Raluna."
"Iya sama sama, kalau begitu. Bunda suruh pelayan masukin baju kamu ya."
"Engga usah bunda, Raluna bisa masukin sendiri."
"Yasudah, bunda permisi dulu ya mau suapin ibu. Nanti makanan kamu diantar kesini, kamu suka susu coklat kan?" Raluna mengangguk.
"Yasudah bunda permisi."
Raluna menutup pintu kamarnya, ia pikir dia akan ngontrak atau berada di asrama. Tapi nyatanya dia tinggal dengan ayah, asal usul Raluna memanggil Leon ayah.
Kembali lagi, Raluna sudah selesai menaruh pakaiannya. Dia duduk di meja belajar, membuka dairynya ingin menuliskan sesuatu.
"Assalamualaikum Raluna!!!" Seorang gadis yang umurnya mungkin sama dengan Raluna berlari mendekat dan langsung berpelukan.
"Waalaikumsalam."
"Akhirnya setelah kamu menghilang lama kamu kembali Raluna. Papi sudah mencari kalian tapi jejak kalian tidak bisa papi deteksi."
"Kamu tau? Aku kangen banget sama kamu, terakhir kali waktu kita bermain bersama saat umur kita empat tahunan, dan itu adalah kali terakhir kita bermain bersama."
"Kamu gak kangen sama aku?"
"Raluna kangen, gimana sekarang keadaan kamu?" Jujur Raluna mengingat masa lalu yang gadis didepannya ini katakan. Tapi kejadian itu hanya terlihat samar samar.
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri?"
"Alhamdulillah baik."
"Oh iya, kamu tau? Aku udah beliin kamu baju yang sama kaya aku. Nanti kamu sama kak allard kuliah di tempat yang sama kan?"
"Iya."
"Kamu kuliah dimana?" tanya Raluna.
"Aku kalau kuliah kedokteran, bisa modar. Aku gak suka, dan tambah lagi aku takut darah."
"Tapi kita satu kampus kan?" tanya Raluna.
"Hmm, tapi beda aliran."
Melihat Raluna yang tidak mengerti Ranaa tertawa sedikit "aliran aku arsitektur, kalau kamu sama kak allard aliran kedokteran."
"Oh iya, dari tadi ngomong banyak lupa perkenalan diri."
"Aku Ranaa Cessy Abellia. Kalo kamu?"
"Aku Raluna Zahra Azkayra."
"Sini aku bantuin beres beres." Ajak Ranaa.
"Udah Raluna beresin semua."
"Hehhe. Yaudah mau main dikamar aku gak?"
Gadis dengan gamis sky blue itu mengangguk, kemudian mengikuti Ranaa kekamarnya. Raluna bermain dengan Ranaa, tiba tiba Raluna teringat Zara. Sifat, tingkah, dan perilaku Ranaa sama persis dengan Zara.
.
.
.
.
Hari pertama ke kampus tiba, Raluna, Allard dan Ranaa sudah bersiap untuk kekampus. Mereka menaiki mobil bersama menuju Harvard university.
Satu hari dikampus, Raluna merasa senang. Akhirnya langkah demi langkah ia akan mendekat ke cita citanya.
Akhirnya bel pulang yang ditunggu tunggu datang, mereka kembali pulang. Tapi sebelum itu mereka mampir dulu ke sebuah restoran untuk makan.
"Kak." Cicit Raluna ke allard.
"Hmm?"
"Disini makanannya halal?"
"Hmm, gue tau Lo gak sembarang makan. Jadi gue bawa kesini."
"Makasi kak."
"Hmm."
Raluna duduk dengan Ranaa disamping Rana ada allard, Raluna merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Allard sadar, dia bangkit dan menuju orang yang dari tadi melihat kearah Raluna.
Raluna menghembuskan nafas lega, akhirnya orang itu tidak melihat kearahnya lagi karena allard tadi. Raluna melihat bajunya apa ada yang salah?
"Tenang, mereka gak akan macem macem sama Lo." Raluna mengangguk paham.
.
.
Hari hari berlalu, kini adalah waktunya libur. Ranaa dan allard mengajak Raluna untuk pergi kebioskop menonton film horor yang katanya akan tayang hari ini. Pas sekali.
Ranaa dan raluna duduk disebuah kursi menunggu makanan mereka. Tak lama kemudian allard datang dengan membawa tiga pop corn, lalu mereka berjalan memasuki bioskop.
.
.
Tak terasa waktu berjalan, sudah 2 tahun Raluna tinggal di Amerika. Hari harinya seperti bersama Zara, Raluna sangat merindukan sosok Zara.
Terakhir kali, Raluna berkomunikasi dengan Zara sekitar dua bulan yang lalu. Raluna sedih mendapat kabar kalau Zara belum hamil sampai saat ini, namun Raluna meyakinkan Zara. Bahwa jika waktunya tiba, malaikat kecil pelengkap keluarga kecil Zara akan datang.
Dikamar bernuansa abu abu hitam milik allard, pria itu tengah duduk di kasur dengan laptop yang sedari tadi ia pandangi. Dirinya dilanda pikiran absurd yang sedari tadi ber terbangan di otaknya.
Kenapa setiap melihat Raluna dirinya merasakan hal aneh, jantungnya selalu berpacu cepat. Kadang tangannya gemetaran, sampai sampai ia pernah menjatuhkan satu toples selai kacang, saat ia tak sengaja melihat Raluna tertawa.
Manusia kaku seperti allard bisa se gerigi itu hanya karena melihat Raluna tertawa (Raluna melihat kartun dengan Ranaa.)
"Stupid! Allard, Are you sure?!" Allard mengacak rambut hitam legamnya.
Tarikan nafas panjang membuat allard sedikit lega, dia kemudian membuka Google. Mengetikkan sesuatu yang dari dulu tidak bisa ia pahami.
"Cinta? Bodoh Lo allard, kenapa Lo bisa masuk ciri ciri ini!" Allard mengacak rambutnya lagi. Bisa dibilang perasaan yang allard rasakan saat ini hanya terjadi karena Raluna.
"Tenang, Lo gak mungkin punya rasa cinta. Lo udah buang rasa cinta itu jauh jauh!"
Brakkkkk
"Assalamualaikum kak allard!" Ranaa mendobrak pintu kamar allard. Suatu kebiasaan Ranaa yang tidak pernah hilang.
Allard diam, sedetik kemudian saat allard membalikkan pandangannya. Wajah Ranaa yang sangat dekat dengannya membuatnya terkejut.
"St-"
"Shuttt.. kak allard, jangan ngomong kotor, nanti aku cepuin ke bunda."
"Ngoceh aja Lo."
"Ishh kak allard, awas nanti aku-"
"Basi ancaman Lo. Mau apa?"
Ranaa menyengir lebar, "aku ada acara hari ini, sungguh." Ucapnya sambil membuat jarinya seperti huruf v.
"What?"
"Beneran, tolong anterin Raluna ke toko buku ya. Plisss, Raluna mau beli buku."
"Untungnya buat gue?"
"Dasar pelit. Kayak gak tau aja kak allard kayak gimana."
"Apaan?"
"Kak allard suka grogi kan kalau didekat Raluna." Ranaa tersenyum jahil, kemudian dia
"Shut up."
"Cie.. yang suka grogi.."
"Keluar atau gue timpuk Lo!"
"Kak allard berarti setuju?!"
"Iya."
"Yey, nanti jam 4 sore jangan lupa kak. Assalamualaikum."
Allard, menutup laptopnya. Ia kemudian berjalan mendekati cermin. Ia berkaca, melihat pantulan dirinya yang gagah tampan mempesona. Tapi satu hal yang kurang, tidak ada agama yang melekat dalam dirinya.
"Apa jalan gue selama ini salah?"
"Waktu gue lihat Raluna, kenapa ada dorongan untuk masuk?"
Allard memejamkan matanya, suatu hal besar yang sedari dulu ia sembunyikan. Ya dia non religius, dari waktu dia kecil sampai saat ini dia masih tidak mempercayai tentang adanya tuhan.
Allard besar dikeluarga yang berbeda agama, Kayla Kristen dan dirinya non religius. Adik dan papahnya Islam. Ia bingung harus mengikut siapa, jadi ia memilih non religius saja.
Namun dengan bertambahnya waktu ia merasa bahwa keputusannya salah, dulu Kayla meminta anak pertamanya dengan Leon akan ikut agamanya. Namun Leon menolak, biarkan anak mereka sendiri memilih agama apa.
Leon merasa gagal menjadi seorang kepala keluarga, ia masih belum bisa membawa istri dan anak anaknya menjadi seorang muslim.
alarm berbunyi, allard melihat jam weker itu. jam 04.38 PM. Sedetik kemudian ia menoleh lagi dengan ekspresi wajah tak bisa digambarkan.
"S**** gue telattt!!"
Dengan secepat kilat dia menyambar jaket kulit hitam dan mengambil topi beserta kunci mobilnya.
.
.
Allard berdiri menyender di lemari tempat buku buku berjejer rapi. Dia sesekali menepuk nepuk kepalanya kerena selalu mencuri pandang kearah Raluna yang tengah memilih buku.
Kebiasaan bisa juga disebut hobi Raluna dari dulu ada tiga. Membaca, menulis, dan menggambar. Gamis warna mint dan kerudung dengan warna senada sangat pas dikenakan Raluna.
Allard kalah, dia menjauh dari dekat Raluna. Bisa bisa meledak jantungnya, kalau bukan ancaman Ranaa allard tentu tidak akan mau mengantar Raluna. Tentu saja alasannya, dia grogi, dan selalu gemetaran saat didekat Raluna.
"Kak allard, sudah." Allard yang berdiri berpura pura sedang mencari buku, dikejutkan oleh Raluna yang sedari tadi mencarinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum temen temen, udah di ujung nihh. Maaf Nana gak bisa up setiap hari tapi insyaallah Nana usahain up setelah Nana nulis ceritanya. Karena biasanya yang buat Nana gak up tiap hari lupa gak di publish wkwkwk.
.
.
Jangan lupa happy selalu ya, sampai ketemu di next bab babayyyyyy.
.
.
.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏
.
.
Juni 2022