Silent

Silent
Ular



"Yakin tidak akan pulang?" Samy mengenyitkan keningnya.


Yoka hanya mengangguk, kembali melanjutkan pekerjaannya. Membaca beberapa e-mail berbahasa asing dengan cepat.


"Jika tiba-tiba kamu diceraikan dan dia menikah dengan Malik karena tidak sengaja hamil akibat one night stand? Malik terobsesi merebut apa yang kamu miliki, bisa saja dia memaksa atau merayu Dora untuk..." kata-kata Samy terpotong.


"Sudah ada Zou dan Arsen yang menjaganya," jawaban dari Yoka yang sejatinya juga tidak yakin.


"Kejadian hari ini lebih parah lagi, Dora dijemput oleh ayahmu. Kamu pernah membaca novel dewasa, dimana ada hubungan terlarang antara ayah mertua dan menantunya?" Samy mengenyitkan keningnya, tangan Yoka masih menegang mouse dengan erat. Matanya berusaha keras fokus pada monitor di hadapannya.


"Tinggal di sarang penyamun. Yang baik padanya hanya ayahmu saja. Kamu pernah bercerita sifat Dora mirip dengan almarhum ibumu kan? Bagaimana jika ayahmu menjadikan istrimu, sebagai ibu tirimu. Aku akan mengetik naskah FTV, kisah nyata, mantan istriku menjadi ibu tiriku." Samy benar-benar berusaha mati-matian menahan tawanya.


Namun.


Plak!


Satu pukulan yang tidak begitu kencang mendarat di kepalanya.


"Sebaiknya bantu aku agar dapat pulang sebelum setahun," ucap Yoka berjalan, mengambil segelas air putih untuk menenangkan otaknya.


Istrinya berselingkuh dengan ayahnya? Apa benar-bebar bisa?


"Tidak mungkin..." gumamnya tersenyum, namun juga tidak yakin. Sejenak dirinya terdiam, meraih phonecellnya, beberapa foto Dora terlihat di sana.


Matanya tidak lepas menatap wajah yang dirindukannya. Perlahan segalanya terbayang, tepatnya malam pertamanya, kala Dora memeluknya dalam kegelapan. Pengaruh obat? Apa itu yang menguasainya saat itu? Tidak sepenuhnya, dirinya menginginkan Dora. Mencintainya entah sejak kapan.


Malam kala dirinya merenggut kesucian gadis yang dicintainya.


"Aku ingin ke kamar mandi," ucap Yoka tiba-tiba pada Samy meletakkan phonecellnya, berjalan dengan cepat entah apa penyebabnya.


Sedangkan Samy berjalan menuju meja. Meraih phonecell milik Yoka. Foto Dora terlihat di sana, wajah pemuda itu tersenyum, mengetahui apa yang sedang dilakukan kakaknya di kamar mandi.


"Yoka, dari pada membuang-buang kecebongmu! Lebih baik pulang dan habiskan malam yang hangat untuk beternak katak!" kata-kata dari mulut Samy, mengetuk pintu kamar mandi.


*


Sementara itu di tempat lain, Tantra menghela napas kasar, tidak konsentrasi sama sekali. Kesal? Tentu saja, seorang pria paruh baya yang muntah beberapa kali akibat baru pertama kali menyaksikan proses otopsi.


"Suruh pelayanmu pulang," ucap Tantra meraih pisau kecil, membuka tubuh mayat yang hampir membusuk.


"Dia hanya menjaga agar aku tidak berselingkuh," jawaban dari Dora penuh senyuman, melirik ke arah Zou yang kembali berlari ke kamar mandi memuntahkan seluruh isi perutnya.


Malam sudah mulai larut, barulah proses otopsi selesai. Seperti biasa Zou yang akan menjauhkan orang-orang yang berpotensi merusak rumah tangga majikannya.


Menyetir mobil, mengantar Dora kembali ke kediaman utama. Matanya menelisik, mengamati Dora yang beberapa kali tersenyum entah membaca pesan dari siapa.


"Tidak, aku ini tipikal yang setia. Tapi jika aku sudah melempar surat perceraian ke hadapan Yoka baru semuanya akan berubah," jawaban jujur dari Dora.


"Anda akan bercerai?" Zou tiba-tiba menghentikan mobilnya.


Dengan polosnya Dora mengangguk."Dia meninggalkanku selama satu setengah tahun tanpa kabar. Mungkin saja dia menemukan wanita yang dicintainya. Tidur beberapa kali dengan mereka, itu sudah biasa bukan? Beberapa mahasiswi kenalanku bahkan terang-terangan memberikan jasa pada pria kesepian. Terkadang klien mereka berpura-pura dinas ke luar kota pada istrinya. Padahal berlibur dengan kekasih barunya."


"Tuan muda tidak begitu dia..." kata-kata Zou dipotong.


"Dua tahun, apa kamu bisa tidak menyalurkan kebutuhan biologismu selama dua tahun. Di luar negeri bahkan sahabat dapat menghabiskan malam bersama ketika mabuk. Kamu bisa menjamin Yoka dapat tetap setia? Mungkin dia sudah menghamili wanita lain." Kata-kata dari mulut Dora. Tidak dapat dielakkan oleh Zou.


Dirinya juga meragukan, apa tuan mudanya dapat setia?


"Apa kamu setia?" tanya Zou pada Dora.


"Sekarang iya, tapi saat dia kembali aku akan langsung mengajukan perceraian. Aku tidak ingin terlibat dengannya lagi." Mungkin dalam ingatannya dirinya masih mencintai Yoka. Namun pada kenyataannya seorang istri yang ditinggalkannya tanpa kejelasan?


Dora menghela napas kasar melanjutkan kata-katanya."Ibuku menuntutku untuk memberinya empat orang cucu, sedangkan suamiku tidak pernah ada di rumah. Bagiamana aku bisa hamil? Aku juga ingin menjadi seorang ibu. Di desa tempatku tinggal, bahkan wanita seusia ku ada yang sudah mempunyai anak SMP."


"Pertimbangkan lagi! Tuan muda tampan, kaya, baik hati dan..." kata-kata Zou terpotong.


"Dan menganggapku sebagai pengganti? Uang kuliah yang dikeluarkannya akan aku kembalikan pelan-pelan setelah perceraian. Aku harap wanita yang dicintainya adalah wanita baik-baik. Wanita yang dapat membuatnya tinggal di luar negeri, hingga melupakan keberadaan istrinya. Dia mengejar kebahagiaannya, maka aku akan mengejar kebahagiaanku setelah bercerai nanti," ucapnya mengundang rasa iba.


"Tuan muda pasti punya alasan," Zou kembali melajukan mobilnya, menghela napas kasar. Membayangkan kejutan apa yang diterima Yoka ketika kembali nanti.


Sedangkan Dora menatap ke arah jendela mobil. Deretan pertokoan terlihat di sana, sepasang kekasih yang saling merangkul membawa ice cream corn, kepala sang wanita diusap sang pria kemudian membiarkan kekasihnya naik di punggungnya.


Ingin? Tentu saja, dirinya bahkan tidak pernah sekalipun berkencan dengan Yoka. Pemuda yang hanya fokus pada pekerjaannya saja. Banyak kesempatan telah dilewati Dora untuk menemukan seseorang yang benar-benar mencintainya. Hanya karena sebuah ikatan yang disebut dengan pernikahan.


Menunggu Yoka pulang? Jika pulang lantas apa? Akan membawa wanita lain lagi? Atau kembali mati-matian fokus pada pekerjaannya? Dirinya hanya boneka pajangan, sebuah pengganti yang tidak dicintai. Mungkin namanya sudah terhapus dalam hati Yoka atau namanya sama sekali tidak pernah ada di sana.


*


Tidak ada di rumah? Hampir semua penghuni rumah masih tertidur. Berbeda dengan seorang pelayan, menekan konde akses kamar Dora.


Kantung hitam berisikan benda bergerak dibukanya. Seekor ular dengan sekujur tubuh dipenuhi motif dan ekor yang berderik dilepaskan olehnya. Ular yang melatah mencari tempat untuk bersembunyi. Hingga akhirnya memasuki selimut.


Seekor ular yang dapat membunuh dalam waktu kurang dari satu jam. Kali ini Dora mungkin harus disingkirkan terlebih dahulu, agar Yoka datang ke pemakaman istrinya nanti.


Sang pelayan menutup pintu kamar seperti sediakala membiarkan sang ular menemukan tubuh Dora yang sebentar lagi akan pulang.


Tubuh membiru akibat efek racun akan terlihat. Sebuah acara pemakaman yang indah, sang suami akan menangisi istrinya. Berakhir mati dua hari setelah kematian istrinya. Rencana yang jenius bukan?