
"Melda..." panggilnya lirih.
Melda menoleh lalu berjalan mendekat. Masih menggendong bayi yang terlahir sesar dengan berat 2,8 kg.
"Ini putramu, maaf aku menyusuinya. Dokter mengatakan kamu kehilangan banyak darah, sebaliknya jangan banyak bergerak atau bicara..." ucap Melda menunjukkan bayi mungil yang tertidur dalam dekapannya.
Air mata Viona mengalir, berusaha tetap bicara dalam kesadarannya. Selang yang terhubung dengan kantong darah masih melekat di pergelangan tangannya, bahkan selang lainnya yang berisikan aliran oksigen terhubung ke kedua lubang hidungnya.
"Melda, apa kedua orang tuaku selamat?" pertanyaan dari bibir mengering, terlihat putih pucat. Dirinya sudah mengetahuinya, arah datangnya api terlalu dekat dengan kamar kedua orang tuanya. Namun, hanya berharap, hanya ingin. Itulah yang ada di fikirannya.
Melda terdiam, menahan air matanya yang hendak keluar. Hanya tersenyum, tidak berani menjawab pertanyaan Viona.
"Begitu ya?" tanya Viona seakan sudah mengerti, wajahnya berusaha tersenyum.
"Aku tidak dapat menjaga putraku, karena aku harus menjaga kedua orang tuaku. Tolong gantikan aku menjaganya. Katakan pada Narendra, putraku meninggal sebelum di lahirkan," pintanya.
Air mata Melda mengalir, kembali menunjukkan bayi yang baru dilahirkan Viona.
"Lihat dia begitu tampan, kamu jangan berkata seperti itu. Kita akan membesarkannya, melihat kedua putra kita bermain bersama," Kata-kata yang terucap dari bibir Melda.
Melihat segalanya? Sejatinya hanya sebuah kebetulan. Dirinya meninggalkan hard disk yang berisikan data-data penting dalam salah satu paper bag, hadiah untuk Viona dan bayinya yang seharusnya sekitar tiga atau empat minggu lagi lahir.
Namun ketika kedatangannya asap telah mengepul, dengan pintu depan yang terkunci. Mencoba mengintip dari kaca jendela, Viona terbaring di ruang tamu tidak sadarkan diri. Dengan cepat Melda dan supir pribadinya memecahkan kaca jendela, membawanya keluar. Sebelum pada akhirnya rumah terbakar habis.
Orang tua Viona? Mungkin sepasang lansia itu telah meninggal sebelum kedatangan mereka. Mengingat hanya ruang tamu yang belum terbakar.
Membawa Viona ke rumah sakit, hingga pada akhirnya wanita itu melahirkan secara sesar.
Viona kini, hanya menggeleng lemah.
"Ada yang berusaha membunuhku, lalu membunuh kedua orang tuaku. Hanya putraku yang tersisa, tolong jaga dia. Jangan katakan tentang kelahirannya pada Narendra. Agar putraku bisa tetap hidup dengan tenang. Dengar! Berhati-hati lah, dendam ini akan aku simpan, aku akan membalas orang-orang yang membunuh kedua orang tuaku. Jagalah dirimu, Yoka dan putraku Samy..." ucapnya menghentikan kata-katanya. Cahaya matanya menghilang, pertanda wanita yang baru saja melahirkan itu telah berpulang ke sisi-Nya.
"Viona! Viona! Viona!" Melda berusaha mengajaknya kembali bicara. Hingga pada akhirnya menyadari wanita di hadapannya telah pergi.
"Dokter!" pekiknya, meminta pertolongan, berharap Viona dapat diselamatkan. Namun kala pria ber jas putih itu tiba, hanya gelengan kepala yang dilihatnya.
"Nyonya Viona telah pergi..." ucapnya.
Bersamaan dengan suster yang menutup mata Viona yang terbuka berharap wanita itu dapat meninggal dengan tenang. Tubuh yang diselimuti kain putih. Tapi apa dapat tenang? Kala pembunuh kedua orang tuanya masih dapat hidup dengan bagaikan tidak melakukan hal yang salah.
"Vi... Viona," Melda tertunduk, air matanya mengalir mengenai wajah bayi prematur dalam dekapannya.
Mengurus pemakaman seorang diri, itulah yang dilakukan Melda. Tiga makam yang berdampingan, wajahnya berusaha tersenyum.
*
Sementara itu di tempat lain.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Salsa, meninggalkan bekas kemerahan.
"Kamu mencintai suami Melda, hingga membunuh 4 orang?! Dan sekarang meminta perlindungan kami?!" bentak Reksa, ayah Melda, menghardik putri angkatnya.
Jemari tangan wanita itu mengepal, sejak kecil memang seperti ini. Melda selalu mendapatkan yang terbaik. Pembunuhan Viona? Semua sudah direncanakan olehnya. Mengapa? Ingin menyalahkan kematian Viona pada Melda. Membuat wanita yang serba sempurna itu dicerca semua orang, termasuk dibenci suaminya.
Memiliki Narendra? Bukan itu tujuan utamanya. Hanya rasa iri pada Melda yang menumpuk dari dirinya sedari kecil. Pakaian? Segala yang terbaik dimiliki Melda, dirinya juga mendapatkannya tapi tidak pernah diutamakan. Benar-benar menjijikkan, Melda yang sok penurut, selalu belajar, mendapatkan pujian. Dirinya juga ingin dipuji, walaupun anak angkat, tapi apa itu salah?
Namun, tidak diduga oleh Salsa segala diketahui oleh Reksa secepat ini. Reksa, ayah kandung Melda, diam-diam mengetahui tentang pernikahan pertama Narendra, kala mengikuti menantunya di hari kelahiran Yoka. Tapi, Reksa masih memikirkan tentang cucunya jika pernikahan Narendra dan Melda berujung pada perceraian. Hingga memilih untuk diam.
Salsa tertunduk, alasan apa lagi yang dapat dikatakannya agar terhindar dari jeratan hukum. Wanita yang mengepalkan tangannya.
"Aku tidak menyukai Narendra! Aku melakukan ini untuk keponakanku, Yoka! Aku melakukannya untuk keluarga kita. Jika anak dari wanita murahan (Viona) di itu lahir, maka Narendra akan mewariskan saham miliknya pada anak sial itu. Dan Yoka, harus berbagi semua yang seharusnya didapatkannya sendiri!" ucap Salsa berlutut di hadapan Reksa.
Jemari tangannya mengepal, andai saja Reksa tidak mengetahuinya. Mungkin dirinya sudah merekayasa segalanya, membuat seolah-olah Melda, wanita paling menjijikkan baginya adalah pelakunya.
"Hukum harus berjalan..." tegas Reksa.
Namun tangan Salsa bergerak cepat, mencengkeram ujung celana panjang ayah angkatnya.
"Ayah, aku mohon, aku tahu aku salah! Tapi aku melakukan ini untuk Melda dan Yoka! Jika ini terbongkar adalah perbuatanku, Melda akan merasa bersalah seumur hidupnya. Karena aku melakukan ini untuk Yoka, keponakanku," lirihnya dalam tangisan, mengepalkan tangannya, berharap Reksa akan menyembunyikan segalanya, hanya membuat ayah angkatnya bungkam, hanya itu yang perlu dilakukannya.
Reksa lagi-lagi menghela napas, ini murni kesalahan Salsa. Namun jika Melda yang bahkan tidak tega melihat orang lain terluka, mengetahui Salsa melakukan segalanya untuk Yoka. Mungkin rasa bersalah seumur hidup benar-benar akan dirasakan putrinya.
"Berjanjilah jangan ulangi perbuatanmu! Jangan pernah katakan hal menjijikkan yang kamu lakukan pada Melda dan Narendra! Tutup mulutmu seumur hidupmu." Ucap Reksa berjalan pergi beberapa langkah. Bersamaan dengan senyuman yang terlihat di bibir Salsa. Setidaknya dirinya tidak akan dilaporkan pada pihak kepolisian oleh Reksa.
Namun, langkah Reksa terhenti. Kembali menatap tajam ke arah Salsa.
"Malik, anakmu yang terlahir tanpa tahu ayahnya siapa, aku sudah cukup lelah menyembunyikannya. Usianya sudah satu tahun, sudah saatnya kamu menikah, mencarikan sosok ayah untuknya,"
"Afta, pegawai administrasi perusahaan, cukup baik. Dia sudah cukup lama menduda. Dia bersedia menerima Malik dan masa lalumu yang terjerat pergaulan bebas di luar negeri..." lanjut Reksa, sebuah perintah yang tidak dapat dibantah. Pria paruh baya yang berjalan pergi meninggalkan anak angkatnya.
Jemari tangan Salsa mengepal, sosok itu terbayang, pemuda berkulit sawo matang dengan tubuh yang kurus jangkung. Dirinya harus menikah dengan karyawan biasa? Atas dasar apa Melda selalu mendapatkan segalanya tanpa perlu berusaha? Ini masih tidak dapat diterima olehnya.