
Assalamualaikum temen temen, Alhamdulillah bisa up lagi nihhh.... Siapa yang kangen Raluna??? Yukkk langsung aja scroll kebawah.
.
.
Vote sama komen dulu jangan lupa wkwkwkwk
.
.
Happy Reading ♥️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Saidah dan Raluna terdiam, kemudian Saidah menghirup nafas pelan. "Maaf Bu, raluna masih ingin meneruskan pendidikan dan mencapai cita citanya. Jujur, Raluna masih belum kepikiran untuk bertunangan sebelum lulus SMA."
Senyum di bibir mami Edgar pudar, kemudian dia kembali tersenyum. "Saya faham, dia masih belum bisa menerima hal ini karena memang belum waktunya."
"Saya akan menunggu Raluna sampai dia bisa mencapai cita citanya, kemudian kita nikahkan anak kita Bu Saidah." lanjut mami Edgar.
Raluna agak tidak setuju mendengar penuturan mami edgar dia mengangkat kepalanya, "Allah maha membolak balikkan hati manusia. Jangan berharap kepada manusia, karena manusia akan dengan mudahnya mematahkan harapan itu."
"Pesan saya, kak Edgar dan Raluna adalah manusia yang akan dengan gampangnya Allah membolak balikkan hati kami. Jangan terlalu berharap Raluna akan menerima kak Edgar walau Raluna sudah mencapai cita cita Raluna. Raluna tidak mau kalian kecewa karena menunggu Raluna." Lanjutnya.
'ini alasan gue milih Lo Raluna.' batin Edgar.
-'gue akan berjuang demi dapatin permata seperti Lo raluna.' batin Edgar. "Dan gue akan berusaha nunggu Lo sampai waktu itu tiba."
Setelah mengatakan itu Raluna pergi, ia ingin pergi kerumah Zara. Sebelum hal ini dikamar tadi Raluna dan Saidah sudah membicarakan sesuatu yang membuat Raluna merubah keputusannya.
Flash Back On
Setelah pelukan, Saidah menyeka air mata putrinya. "Nak, umi tidak memaksa karena kebahagian kamu adalah perioritas umi. Jangan buat kamu menyesali keputusan ini, karena umi tau kamu sedang menunggu seseorang."
"Umi, jujur Raluna mengingat seseorang tapi Raluna tidak ingat wajahnya. Dia selalu Raluna ingat disaat senang dan sedihnya Raluna. Tapi Raluna melupakan dia siapa."
"Umi tau orang yang kamu maksud siapa. Tapi biar Allah mengalirkan takdirnya mempertemukan kalian berdua, jika memang di Lauhul Mahfudz tertulis nama nya untuk kamu nak."
"Jangan paksakan, jika hati kamu menolak. Karena itu akan menyakitkan."
"Umi, beneran Raluna boleh menolak?" Saidah mengangguk. Dia mendukung putrinya.
Flash Back Of
****
Dilain tempat, disebuah rumah sederhana. Seorang laki laki yang hidup sendirian kini tengah terbaring diatas kasurnya. "Kapan waktu yang tepat aku harus melamarmu?"
Drtttt...
Suara dering hp diatas meja belajarnya berbunyi, pria itu kemudian bangkit berjalan menuju benda pipih yang berdering itu. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Zein! Aku dapat kabar papah kamu kecelakaan!" Suara orang panik diseberang sana, lantas Abram juga ikut khawatir. Biar bagaimanapun papahnya tetap adalah papahnya, yang membuatnya lahir didunia ini orang tua satu satunya.
"Astaghfirullah. Iya saya segera kesana, papah ada dirumah sakit apa?"
"Green Flower Hospital Zein, cepat kesini!"
"Iya iya, assalamualaikum."
Abram dia dulu dikenal sebagai Zein, waktu ia belum kabur dari rumahnya. Abram Zahir Zein Maulana itulah namanya. Pria yang menyandang sebagai seorang ustadz itu kini langsung mengendari Scoopy hitam nya menuju green flower hospital.
Setelah berkendara lama, Abram sampai dirumah sakit. Ia segera menuju kamar papahnya berada, dari kejauhan dia bisa melihat mamah tirinya berdiri, bersama dengan kakak tirinya.
Abram hendak mundur, traumanya kembali teringat. Namun dengan sekuat tenaga Abram kembali melangkah maju.
"Assalamualaikum mah. papah-"
"Hehh!! Kamu ini ya! Anak gak tau diri! Udah pergi dari rumah. Gak pernah pulang! Kelayapan kemana kamu?!" Bentak mamah tiri Abram, bukannya menjawab salam malah nyerocos.
Hati Abram berdesir, "maafin Zein, Zein tidak punya pilihan lain. Andai mama bisa perlakuin Zein sama seperti Athalla, tidak akan ada yang namanya kepergian."
"Berani kamu jawab mamah! Kamu tau?! Semenjak kamu pergi! Papah kamu kena serangan jantung Zein! Dan tadi papah kamu waktu mau pulang dari penjara, kamu tau apa yang terjadi? Mobil yang membawa papah kamu kecelakaan! Dimana rasa kasihan kamu sebagai seorang anak?!"
Hati Abram sakit, mendengar penuturan mamah tirinya. Mamah tirinya memang jahat terhadapnya, namun sangat perhatian kepada papahnya. "K-kenapa papah dipenjara mah?" Tanya Abram dengan nada sendu.
"William Groups, ya William Groups yang penjarakan papah kamu. Karena tuduhan korupsi."
"William Groups?" Sejenak Abram berpikir, perusahaan William Groups? Bukannya itu adalah nama perusahaan pak David? Yang sudah membantu pembangunan di pesantrennya? Ahhh ada apa dengan semua ini.
"Iya. Lima tahun Zein! Papah kamu dipenjara. Perusahaan papah kamu juga dirampas sama William Groups!" tambah nya.
-'astaghfirullah ada apa ini! Kenapa saya tidak bisa berpikir jernih!' Abram menyeka keringat yang berlinang di keningnya.-"mah, kita bicarakan nanti. Sekarang bagaimana keadaan papah?"
"Papah kamu masih dioperasi." amarah mama tiri Abram sudah mereda. Dia kini duduk di kursi rumah sakit, disampingnya ada Athalla yang juga duduk terdiam.
Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang operasi. Mereka bangkit dan menghampiri dokter itu. "Dok gimana keadaan suami saya?" Tanya mamah tiri Abram.
"Alhamdulillah, operasi nya berhasil. Setelah ini pasien akan dipindahkan keruang rawat inap, kita tinggal menunggu pasien siuman, kalau begitu saya tinggal. Permisi."
Setelah dipindahkan dari ruang operasi, Abram menemui papah yang sudah beberapa tahun tidak melihat wajah itu. Seperti apapun sikap Alex terhadap dirinya Abram tidak bisa membenci Alex. Rasa sayang Abram terlalu besar dari rasa kecewanya.
"Pah, maafin Zein. Zein pergi dari papah, Zein tau papah masih sayang Zein walau itu hanya sedikit." Abram duduk disebelah ranjang Alex. Memegangi tangan Alex dan menatapnya sedih.
"Zein sudah besar. Zein yang dulu sudah hilang, kini Abram sudah menjadi orang yang baru. Tapi apa papah bisa menerima Abram kali ini?"
"Andai papah tau, Zein sangat sayang sama papah. Tapi Zein belum siap untuk kembali lagi kedalam keluarga ini."
"Minggir kamu!" Mamah tiri Abram mengusir Abram. Abram hanya bisa pasrah, tapi yang paling menyedihkan ia bahkan tidak tau kalau papahnya dipenjara. Bahkan sumber informasi tentang keluarganya yang ia dapat dari teman SMA nya dulu, tidak bisa mendapatkan informasi kalau Alex di penjara.
"Kenapa papah dipenjara? Apa yang mamah bilang tadi benar?" Abram duduk sendiri di luar. Dia menatap bulan yang bersinar sangat terang, perasaan nya kini bercampur aduk. Antara sedih, kecewa terhadap dirinya sendiri dan memikirkan sesuatu.
Abram melihat bulan itu, bayangan seseorang tergambar dalam ingatannya. Gadis yang membuatnya tersenyum, gadis yang membuatnya mempunyai warna dalam hidupnya, walau dia jarang bertemu.
.
.
Keesokan harinya, Abram berniat untuk pergi ke perusahaan William Groups. Dia kini sudah berjalan menuju ruangan direktur utama perusahaan ini. Abram membaca nama yang tertera di pintu, 'David Naufal Azhar William'
Abram mengetuk pintu itu, tak lama kemudian dia mendapatkan jawaban dan mempersilahkan dia masuk. David mengangkat pandangannya, terkejut melihat siapa yang datang.
"Assalamualaikum pak David."
"Waalaikumsalam, nak Abram? Silahkan duduk."
"Maaf pak, saya kesini ingin menanyakan sesuatu."
"Ahh iya, tunggu sebentar ya." David menelfon seseorang dan menyuruh membawakan minuman keriangannya.
"Maaf pak, seharusnya tidak usah repot repot."
"Tidak repot kok. Oh iya kamu mau bertanya apa?"
"Ini perusahaan William Groups kan pak? Perusahaan pak David."
"I-iya, ini perusahaan saya. Kenapa nak?"
"Saya, mau bertanya sesuatu. Tapi saya minta maaf sebelumnya jika pertanyaan saya membuat bapak tersinggung."
"Alex, kenapa dia dipenjara pak? Dan apa benar tentang kasus korupsi bapak Alex?"
"Iya, memang benar. Kenapa kamu menanyakan hal ini?"
"Tidak papa, saya hanya ingin tau saja."
"Dulu, saya, Usman, dan Alex adalah tiga bersahabat. Kami mulai merintis karir dalam dunia bisnis bersama sama, berjaya bersama sama. Tapi suatu saat Alex berhianat, dia memanipulasi keadaan dan merebut perusahaan Ahkam groups milik Usman. Usman bangkrut sekali waktu itu, semua aset disita, bahkan semua ruang Usman disita. Usman masih bertahan karena bujukan saya, tapi setelah itu Usman memilih untuk pergi bersama istri dan anaknya menghilang dari dunia bisnis. Saya mencarinya, tapi nihil tidak menemukan Usman."
"Saya tidak terima karena ketidak Adilan menimpa sahabat saya Usman, saya mengumpulkan semua berkas bukti dan menjebloskan alex kepenjara. Waktu itu Alex juga sempat terkena serangan jantung, namun hukum tetap berjalan. Alex dipenjara dari lima tahun lalu, karena saya baru mendapatkan semua bukti bahwa semua itu tidak benar. Dan Alex lah yang bersalah, dia dihukum atas pencemaran nama baik, dan kasus korupsi."
"Saya mencari Usman kemana mana, tapi tidak ketemu. Alhamdulillah beberapa bulan lalu, kita dipertemukan lagi. Saya sudah mendapatkan Ahkam groups lagi, dan itu adalah hak Usman. Dan sekarang Usman kembali menjalankan perusahaan itu, bersama William Groups." Jelas David. Abram mendengarnya seakan tak percaya, papahnya melakukan semua ini? Yaallah, kenapa Abram tidak tau.
"Pak, Usman yang dimaksud bapak. Usman abinya Raluna?" Abram memberanikan diri untuk menanyakan hal itu. Jujur, tadi waktu David membicarakan bahwa Usman menghilang bersama keluarga nya, Abram langsung teringat tentang Raluna.
David bangkit menuju lemari dibelakangnya. mengambil sebuah map, dan memberikannya kepada Abram. "Semua buktinya ada disini. Oh iya, kenapa kamu ingin tau perihal ini?"
"Karena saya mendengar, kalau William Groups menangkap Alex karena Alex tuduhan korupsi."
David tersenyum, "bukan tuduhan. Tapi kenyataan baca isi di map itu, dan kamu akan percaya." Abram menuruti David, dia membacanya. Benar papahnya yang bersalah, dia merasa bersalah, karena papahnya Usman, Saidah dan Raluna harus hidup seperti itu didesa.
Abram kini berada dalam dilema besar, disisi lain ia ingin melamar Raluna yang ternyata adalah anak dari orang yang papahnya jahati. Disisi lain, papahnya memang bersalah tapi apa Usman akan menerimanya nanti?
Abram menarik nafasnya dalam, "terimakasih pak. Sudah menjelaskan ini."
"Iya sama sama." Pembicaraan berlanjut, namun Abram masih tidak membocorkan diri kalau dirinya adalah putra Alex.
Hingga disuatu pembicaraan membuatnya harus jujur siapa dirinya. "Oh iya, kenapa kamu sangat ingin tau mengenai Alex?" tanya David.
"Tidak papa pak, saya cuma penasaran."
"Memang kamu ada hubungan dengan Alex?" tanya David lagi. Abram diam sejenak, mungkin diberitahu saat ini kepada David akan meringankan pikirannya. Tapi suatu saat nanti Abram juga akan jujur kepada Usman ketika akan melamar Raluna. Bagaimanapun papahnya salah, dia harus mewakili papahnya untuk meminta maaf.
"Iya."
"Kamu siapanya Alex nak?"
"Anaknya kandung." Deg, David terdiam ternyata. Abram adalah anak kandung Alex, pantas saja Abram menanyai perihal tadi.
"Saya mewakili papah saya, minta maaf karena kesalahan papah saya."
"Iya, sudah saya maafkan. Tapi Usman lah yang menerima akibat tindakan papah kamu, sebaiknya kamu juga meminta maaf kepadanya."
"Iya pak, saya akan meminta maaf kepada pak Usman. Terimakasih atas semuanya pak."
"Iya sama sama."
Abram keluar dari ruangan David, setelah sesi percakapan antara dua pria itu. Ohh bagaimana tidak tadi Abram kesini jam sembilan tak terasa sudah mau dhuhur saja.
'cakep amat si. Pasti itu calon imam aku.'
'mana cool gitu, duhh jadi pengen sekantor sama dia.'
'walau pakai gamis, cakepnya gak ilang malah nambah cakep.'
'ishh, Lo jangan liat dong. Dia udah masuk list gue.'
Kira kira begitulah bisikan bisikan yang Abram dengar, padahal ia berpakaian seperti ini agar tidak menjadi pusat perhatian. Memang kalau orang cakep pakai apa aja tetep cakep.
Gamis abu abu, sepatu putih, sorban putih dan peci putih. Kali ini menjadi baju yang Abram kenakan.
Mana mana penggemar cogan angkat tangannya Bestie!! Wkwkwkw canda.
Abram menginjakkan kakinya kembali ke rumah sakit, mengunjungi papahnya yang kini tanpa sepengetahuannya sudah kritis. Abram meneteskan air mata disebelah Alex yang kini matanya terpejam.
Mata itu, Abram ingin mata ini melihatnya sekali saja. Abram ingin Alex melihatnya, anaknya kini sudah besar. Tidak seperti dulu lagi. Abram menyeka air mata yang sesekali turun dari matanya.
Tetes bulir bening lolos jatuh dari kedua matanya, tak kala ia mendengar alat pendeteksi detak jantung berbunyi lurus tidak berbunyi seperti biasanya.
"Pah.." suara lirih, dan tatapan sendu itu dia lontarkan pada sosok papah didepannya.
"Hiks.. Pah... maafin Zein. Papah bangun.. Zein gak akan ninggalin papah lagi."
"Innalilahi wa innailaihi rojiun.. hiks.. Zein menyesal ninggalin papah hiks..." pelukan terakhir yang sangat erat dia haturkan untuk sang ayah. Ia masih tak menyangka, papahnya akan pergi secepat ini.
"Papah yang tenang disana, Zein bisa jaga diri disini. Zein tau Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya. Maaf pah." tak kuasa menahan tangisnya, bulir bening tanpa jeda kini mengalir di pipinya yang sudah basah.
"Maafin Zein, belum bisa menjadi anak yang baik untuk papah. Maafin Zein belum bisa banggain papah, maafin Zein karena ninggalin papah.-" tangannya bergetar hebat, tak berani menyentuh tubuh papahnya.
Abram menundukkan kepalanya, mengusap air mata dengan sorbannya. "Maaf." jari kekar berhias cincin kayu hitam bermata dua itu, perlahan menutup selimut hingga menutupi seluruh tubuh yang dipakai papahnya.
Mata sendu, itu kemudian memalingkan wajahnya mencari seseorang. Dimana mamah dan adik tirinya? Abram berjalan gontai membuka pintu, dan mengabari mamah tiri dan kakak tirinya. Mereka ternyata tengah makan, dan meninggalkan Alex sendirian. Sungguh mereka sangat tidak berperasaan.
"Assalamualaikum, mah."
"Waalaikumsalam." jawab keduanya sewot.
"Papah, meninggal." Mamah dan adik tiri Abram yang asik menyuapkan bakso ke mulutnya tiba tiba terhenti, menatap Abram tak percaya.
"Apa?! Kamu jangan bercanda Zein!"
"Saya tidak pernah bohong! Sebaiknya kalian temuin papah, karena saya akan segera memakamkan almarhum papah saya." cara bicara Zein kini berubah, dulunya dia menyebut dirinya Zein. Kenapa sekarang berubah menjadi saya?
Mereka berdua lantas lari meninggalkan Zein yang kini berdiri dengan tatapan kosong. Hidupnya tidak berhenti, namun Allah tengah mengujinya dengan mengambil separuh hatinya. Dulu ibu, sekarang papahnya?
Abram berjalan kembali menuju ruangan papahnya, mamah dan adik tirinya menangis tersedu sendu. Namun hal inilah yang sebenarnya mereka tunggu, menunggu Alex tiada. Karena dengan begini semuaa harta milik Alex akan jatuh ke tangan dalion. Kakak tiri Abram.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Assalamualaikum temen temen, hikss udah nyampe bab segini aja. 24!!! Gak nyangka Nana bisa sampe bab 24.
.
.
Sebagai rasa bahagia Nana, Insyaallah besok Nana up lagi ya kawan kawan Nana. Love you sak kebon deh sama temen temen yang udah ngikutin cerita silent love sampe sini.
.
.
Jangan sedih, Nana gak bakal gantungan cerita Nana kok. Mentok paling gak up sampe dua Minggu lebih, kenapa? Karena Nana lupaan. Nihh bab ini aja, mau di up tadi malam, eh keasikan nonton Rara Nusa, jadi lupa. Wkwkwkwkk.
.
.
See you next bab, babayyyyyy!!!
.
.
Jangan lupa!! Nana love you sak kebon loh sama kalian!!
.
.
Happy selalu!! Insyaallah ketemu besok yahhhhhhhh,,, dadahhhhh....
.
.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh 🙏
.
.
.
18 April 2022