Silent

Silent
Embun



...Aku tau kamu sudah tidak ada. Tapi aku begitu merindukanmu....


...Menunggu saat bertemu denganmu, saat kamu mungkin akan memakiku seperti dulu....


...Apakah akan ada? Tapi aku merindukanmu....


...Menghilang karenaku, seperti hujan malam ini. Aku tidak ingin hidup....


Narendra.


Pesan? Apa yang terjadi setelahnya? Salsa mengatakan segalanya. Melemparkan semua bukti dan saksi ke hadapan Narendra.


Namun, tangan pemuda itu mengepal tidak mempercayai segalanya. Melda bahkan sengaja meninggalkan beberapa makanan di dalam gang kecil untuk menjadi makanan *njing dan kucing liar. Istrinya tega membunuh Viona?


Memang sebuah keterangan berbeda dari mulut Salsa pada Narendra. Salsa mengatakan otak dari pembunuhan adalah Melda. Sedangkan yang dikatakannya pada Melda dalang dari segalanya adalah Reksa.


Seorang anak yang terlalu berbakti, mungkin akan mengakui kejahatan ayahnya sebagai kejahatannya.


Hingga malam tiba, keduanya tidak membahas kedatangan Salsa. Melda masih berusaha tersenyum menekan rasa bersalahnya. Sedangkan Narendra terdiam, dirinya lebih mempercayai Melda dari pada bukti yang ada di hadapannya.


Jemari tangannya memegang tangan istrinya.


"Bagaimana jika kita pindah, tinggal di luar negeri selama beberapa bulan untuk..." Kata-kata Narendra yang ingin melupakan bukti yang ditunjukkan Salsa, disela.


Tiba-tiba Melda meletakkan garpunya, air matanya mengalir, berlutut di hadapan suaminya.


"Salsa sudah mengatakannya bukan? Aku pembunuh...aku yang melakukannya dengan tanganku sendiri," ucap Melda dengan air mata yang mengalir. Menatap ke arah suaminya.


"Jangan bercanda! Apa Salsa mengancammu untuk mengakuinya?! Kamu bahkan menangis di depan makam Viona dan orang tuanya!" bentak Narendra tiba-tiba, air matanya mengalir tidak terkendali. Ikut berlutut dihadapan istrinya. Memegang kedua bahu Melda dengan kedua tangannya.


"Katakan kamu berbohong! Dia mengancammu!" teriak Narendra, di hadapan Melda.


Melda menatap wajah suaminya."Aku membunuh mereka karena ingin Yoka menjadi anak satu-satunya. Aku iri pada Viona yang mendapatkan banyak perhatian darimu,"


"Ayahku membunuh mereka, karena ingin cucunya menjadi anak satu-satunya. Dia tidak senang karena kamu membagi perhatianmu pada Viona. Maaf, ini salahku, ini salahku, aku yang akan menebusnya. Bukan Ayah yang terlalu mencintaiku..." Kata-kata yang tidak terucap dari bibir Melda.


Dirinya akan menebus segalanya seorang diri. Sebuah dosa yang dilakukan Reksa karena terlalu mencintainya.


"Maaf, aku yang membunuh mereka..." teriakan Melda, membuat Narendra terdiam. Pemuda itu tertegun.


"Apa kamu tahu mereka terbakar hidup-hidup? Apa kamu mendengar teriakan mereka?" pertanyaan dari Narendra, tubuhnya gemetar. Air matanya tidak ada henti-hentinya mengalir.


Melda terdiam sejenak, hanya mengangguk, penuh kebohongan.


"Katakan Salsa memaksamu mengakuinya! Jika tidak aku akan menidurinya di hadapanmu!" Kata-kata yang terucap dari mulut Narendra. Menginginkan istrinya untuk sedikit saja membantah. Menginginkan sedikit harapan, Melda tidak membunuh keempat nyawa yang terjebak dalam kebakaran.


Jemari tangan Melda mengepal, dirinya dididik dari kecil oleh kakeknya. Bertanggung jawab untuk segala kesalahan, wanita yang memiliki hati terlalu lembut. Kini menerima kenyataan tiga nyawa meregang karenanya.


Apa bodoh?


"Aku memang bodoh," batinnya yang terjerat oleh rasa bersalah.


"Aku melakukannya, aku membunuh mereka..." Dua kalimat yang kembali diucapkan oleh istrinya. Membuat Narendra tertawa, air matanya mengalir.


"Aku membencimu..." ucapnya untuk pertama kalinya pada istrinya. Kata-kata yang juga sejatinya menyakiti hatinya sendiri. Pemuda yang pergi meninggalkan Melda.


"Aku memang pantas dibenci..." gumam Melda seorang diri.


*


Sedangkan Narendra mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mati disini pun tidak mengapa baginya, memukul setir mobil.


"Agghh!!" teriaknya, matanya berkabut. Air mata yang mengalir tiada henti. Dua orang lansia yang baik hati. Seorang pria tua lumpuh dan wanita tua yang mengalami dimensia (pikun), sering memanggilnya kakak. Ditambah Viona yang tengah hamil tua.


Teriakan orang-orang itu bagaikan menggema di telinganya, terjebak dalam kobaran api.


"Melda!" pekiknya dalam tangisan.


Iri? Apakah istrinya memiliki perasaan iri? Melda terlalu baik, atau kebaikan yang hanya sebuah topeng.


"Aku mencintaimu..." teriaknya kembali, menyesali dirinya yang terlanjur mencintai Melda.


*


Namun Melda tetap diam. Termasuk saat dirinya dengan sengaja meminum afrodisiak, meniduri Salsa di hadapan Melda. Ancaman yang dengan gilanya, dilakukannya.


Tapi tatapan Melda tetap kosong. Mengatakan aku pelakunya, aku yang membunuh mereka.


Tidak pernah ada raut kegembiraan dalam wajah mereka lagi. Hingga mendekati hari peringatan 11 tahun kematian Viona. Narendra hanya terdiam dalam hujan, menatap ke arah makam Ghani.


"Dia wanita yang aku cintai. Apa aku harus membunuhnya?" air mata Narendra mengalir, jemari tangannya mengepal."Lebih baik aku mati saja..." gumamnya.


Tangannya menadah derasnya air hujan. Jika bisa dirinya ingin mati bersama Melda. Dua lansia yang dikasihinya, serta Viona. Bagaikan bayangan teriakan mereka dalam api terbayang terus-menerus.


Sebuah keputusan buruk yang diambilnya. Mati bersama istrinya, tepatnya setelah kematian Melda. Dirinya akan mengembalikan napas yang dipinjamnya.


*


Beberapa hari berlalu, tidak ada omelan atau tawa lagi. Besok adalah peringatan kematian Viona serta keluarganya.


Salsa membantunya menemukan pembunuh profesional untuk menghabisi Melda. Hanya menghabisi, tidak ingin istrinya mati dalam rasa sakit. Sedangkan Narendra sendiri, menyimpan senapan kecil, berencana mati setelah pemakaman Melda.


Istrinya hanya diam tidak mengatakan apapun, mengemasi koper menyiapkan perlengkapan Narendra untuk pergi ke luar negeri.


"Aku egois, aku membunuhmu. Tapi masih berharap dapat bertemu denganmu saat mati nanti..." batinnya menatap wajah Melda yang sedikit tertutup rambut panjangnya.


"Melda," panggilnya.


Melda menatap ke arahnya, senyuman terlihat di bibirnya."Sudah berbulan-bulan seperti ini, boleh aku menciummu?" tanya Melda tiba-tiba.


Narendra hanya terdiam, Melda sedikit berjinjit mengecup bibir suaminya.


"Jantungmu milik Ghani kan? Viona pernah menceritakannya padaku. Karena itu, berjanjilah tetap hidup, untuk Yoka. Sebelum putra kita mati. Kamu tidak boleh mati, karena aku terlalu bodoh untuk menjaganya..." ucapnya pada Narendra.


Narendra terdiam, jemari tangannya lemas. Menatap ke arah istrinya. Apa ini hukuman untuknya? Wajah yang mungkin hanya hari ini, yang akan ditatapnya masih bernyawa.


"Aku ingin menciummu. Kamu pasti jijik karena aku tidur dengan wanita lain kan?" kata-kata dari mulut Narendra.


"Menjijikkan, tapi aku lebih menjijikkan lagi, sudah tiga nyawa yang mati di tanganku. Besok hujan mungkin akan turun. Tetaplah sehat..." hanya itu kata-kata yang terucap dari mulutnya.


Narendra sedikit membungkuk, mencium bibir istrinya. Air mata yang mengalir, dalam sebuah ciuman terakhir, sebuah ciuman perpisahan.


*


Ada kalanya hatinya ragu, berangkat seorang diri ke bandara. Tidak boleh mati sebelum Yoka mati? Tidak bisa, pemuda itu berlari kembali ke rumahnya memesan taksi. Tidak ingin melihat jenazah Melda. Menyakitkan? Terlalu menyakitkan untuk membayangkannya.


Hingga dirinya sampai di rumah, Melda terlihat di sana seorang diri. Mengerjakan beberapa dokumen, wajahnya pucat, tubuhnya terlihat sedikit lebih kurus.


Pemuda yang melihat istrinya dari pintu belakang. Menutup mulutnya, tidak ingin isakan tangisannya terdengar.


"Aku ingin bersamamu, atau menyelamatkanmu, pergi bersama ke tempat yang jauh," batin Narendra yang ingin memasuki rumah melalui pintu belakang, membawa Melda pergi, ingin bersikap seolah-olah menutup mata dan telinganya tentang kematian Viona.


Namun, Melda tiba-tiba menangis seorang diri."Aku pembunuh..." gumamnya tidak menyadari keberadaan suaminya.


Narendra hanya terdiam, menyimpan segalanya, kembali melangkah keluar dari rumah. Seorang ayah yang tidak mengetahui putranya yang seharusnya menginap di villa bersama pengasuh, memberontak ingin kembali ke rumah.


Anak berusia 11 tahun yang pada akhirnya menyaksikan semuanya.


Sedangkan tatapan Narendra kosong. Suara petir terdengar. Diiringi dengan hujan yang turun, mengantarkan pada pertemuan terakhirnya dengan Melda. Matanya menatap ke arah kaca jendela pesawat yang berembun.


...Aku ingin memanggil namamu sekali lagi saja? Apa waktu dapat berhenti? Jika dapat aku ingin berhenti kala melihatmu tersenyum seperti malam tadi....


...Apakah hanya ketenangan yang tersisa dari sebuah kematian? Atau sama sepertiku, perasaan yang menyakitkan....


...Benci aku, jangan menyimpan cinta untukku lagi. ...


...Maaf, aku mencintaimu......


...Sebuah perasaan yang tidak akan aku hapus. Dalam derai air hujan yang turun....


Narendra.